NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Sementara itu, di dalam sebuah mobil SUV hitam yang melaju tenang membelah jalanan utama Kota Bogor, Repan duduk di kursi penumpang dengan tatapan mata datar menatap panorama luar jendela.

Di balik kemudi, Adelia—gadis muda yang tampil elegan dan profesional—sesekali melirik ke arah pemuda di sampingnya.

Ia membenarkan letak kaca matanya yang sedikit melorot, lalu melirik Repan dari sudut matanya.

'Meskipun dia masih berseragam SMA... tapi pembawaan dirinya sama sekali kagak kayak anak SMA pada umumnya. Tenang, kalem, dan... raut wajahnya juga... hmm... maskulin. Lebih mirip sosok pebisnis muda ketimbang seorang murid sekolah.'

Adelia berusaha menahan desir debaran jantungnya yang mendadak berdegup aneh.

'Kenapa gue jadi deg-degan sendiri gini, sih?' batinnya heran.

Ini adalah kali pertama bagi Adelia bertemu dengan seorang klien semuda itu yang sanggup membuat fokus hatinya tak tenang.

Tak butuh waktu lama, kendaraan mereka akhirnya tiba di lokasi tujuan: sebuah gedung raksasa yang pengerjaannya belum rampung.

Material bangunan berserakan di sana-sini, tiang-tiang penyangga beton sudah berdiri kokoh, namun atmosfer di sekitar terasa sepi. Tak ada satu pun pekerja proyek yang beraktivitas di tempat itu.

"Gedung ini terbengkalai karena arus suntikan dana pembangunannya terhenti total, Tuan Repan," jelas Adelia seraya membuka pintu mobil.

Namun sebelum mereka sempat melangkah mendekati area pelataran gedung, dua orang pria berseragam loreng kombinasi hijau-hitam mendadak melangkah keluar menghadang jalan mereka.

Di bagian dada seragam mereka, terpatri lambang naga merah yang cukup mencolok—simbol khas milik Ormas Naga Timur (NT).

Sebuah organisasi kemasyarakatan yang kondang mengklaim wilayah timur kota dan kerap terlibat bentrokan berdarah demi perebutan lahan kekuasaan.

"BERHENTI LO PADA!" bentak salah satu preman ormas dengan suara kasar dan raut wajah berang.

Repan mengangkat sebelah alisnya.

"Ada apaan ini?"

Adelia bergeser mendekat di sampingnya, vokalnya bergetar cemas.

"Ma-maaf, Tuan Repan... Kadang oknum Ormas NT memang sering nongkrong di area ini. Mereka menuntut uang keamanan bulanan, dan gara-gara proyeknya mangkrak, mereka jadi emosi. Sekarang mereka menjaga tempat ini secara sepihak."

Repan mengepalkan jemari tangannya. 'Sampah masyarakat... Masih pada muda tapi udah biasa meras orang tanpa mau kerja keras.'

Ia melangkah keluar dari dalam mobil dengan gerakan santai, disusul oleh Adelia. Mereka berdua kini berdiri berhadapan langsung dengan dua personel ormas yang raut wajahnya dipenuhi amarah.

"Maaf, Mas-Mas sekalian. Kami datang ke sini cuma mau meninjau lokasi properti. Ada calon pembeli yang berminat mengambil alih dan melanjutkan proyek pembangunan ini," pukas Adelia dengan nada sopan.

"ANJING LO!" bentak pria bertubuh kekar buncit.

"Lo pada buta, hah?! Tempat ini udah kami segel! Pihak developer belum bayar uang jatah keamanan bulan ini! SEBELUM ADA YANG PELAS KAS, KAGAK BAKAL ADA YANG BOLEH MASUK!!"

Repan melangkah satu sudut ke depan, pas berdiri menutupi posisi Adelia, lalu menatap kedua preman itu tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Gue heran. Lo pada pikir bisa seenaknya memungut uang jatah di atas lahan yang bukan punya lo? Lo pada merasa siapa? Hukum?" pukas Repan dengan nada vokal dingin dan menusuk.

Pria kurus di samping si buncit langsung maju merangsek, lalu mencengkeram erat kerah kemeja seragam Repan.

"DASAR GOBLOK! Ini wilayah kekuasaan kami! Kami warga lokal di sini! Kalau kagak mau bayar uang keamanan, jangan harap bisnis lo bisa aman beroperasi di sini!"

Repan tak bergeming sedikit pun. Ia menatap lurus tepat di sepasang mata pria kurus tersebut.

"Bodoh. Itu namanya pemerasan. Pungutan liar. Kalau lo pada merasa jagoan, silakan coba aja. Tapi jangan sampai mewek saat polisi datang menjemput lo pada."

Mendengar gertakan itu, pria buncit malah tertawa kian melunjak.

"Hah?! Polisi?! Kagak usah sok tahu lo! Anggota internal kami aja ada yang POLISI! Mereka kagak bakal berani menyentuh kami! Hukum? Hahaha! Di area ini, kami yang jadi hukumnya!"

Repan menarik napas panjang.

'Otoritas yang korup... Bahkan preman ormas aja sampai bangga karena dibekingi oknum polisi korup. Benar-benar menjijikkan.'

Sorot matanya mendadak berubah sangat dingin. Ia sadar betul bahwa jika ingin membangun sebuah imperium bisnis yang raksasa, ia harus membersihkan kerak-kerak sampah jalanan ini terlebih dahulu.

'Kalau mereka kagak bisa ditindak pakai jalur hukum... berarti gue harus menyingkirkan mereka pakai cara gue sendiri.'

Repan secara perlahan mencengkeram pergelangan tangan pria kurus yang sedang mencengkeram kerah bajunya.

Lewat gerakan yang teramat cepat dan presisi, ia memuntir dan menghempaskan tangan pria itu ke bawah dengan bertenaga.

BRUK!

Pria kurus itu serta-merta tersungkur memegangi tangannya yang terkilir seraya menjerit kesakitan.

Pria buncit tersentak kaget.

"Berani-beraninya lo—"

BUAK! DUAK!

Repan menghantamkan lutut kerasnya tepat menyasar ulu hati pria buncit itu, lalu menyusulnya dengan uppercut telak mengincar dagu lawan.

Tubuh besar buncit itu seketika terpelanting jatuh dan langsung tak sadarkan diri di atas tanah.

Adelia refleks membekap mulutnya sendiri, terperanjat tak percaya menyaksikan pemandangan di depannya.

Repan berdiri tegap di antara dua tubuh preman yang terkapar, sorot matanya tajam.

"Kasih tahu sama atasan lo pada... Kalau mau cari uang, kerja yang benar. Jangan menyusahkan warga terus sok-sokan berlagak kayak pahlawan."

Ia memutar badannya menoleh ke arah Adelia.

"Ayo. Kita lihat bagian dalam gedungnya sekarang."

Dengan degup jantung yang masih berdebar kencang, Adelia mengangguk cepat dan mengekor di belakang langkah Repan.

Di belakang punggung mereka, dua preman Ormas NT berguling meringis kesakitan—sementara sebuah pelajaran berharga tertanam kuat:

Repan bukan sekadar murid SMA biasa. Dia adalah badai yang siap meratakan kerak-kerak busuk di kota ini.

Repan dan Adelia melangkah memasuki area dalam pembangunan gedung.

Di hadapan mereka menjulang sebuah konstruksi gedung sepuluh lantai yang berpenampilan megah meski pengerjaannya belum tuntas.

Tiang-tiang pancang besi dan tumpukan material bekas masih berserakan, menjadi bukti bisu bahwa proyek raksasa ini telah lama mangkrak.

"Tuan Repan, mari lihat ini," ucap Adelia seraya membuka map dan memperlihatkan beberapa lembar blueprint teknis.

"Ini adalah rencana gedung sepuluh lantai berkonsep arsitektur modern. Kalau pembangunannya dirampungkan, bangunan ini bakal jadi salah satu ikon gedung perkantoran paling megah di kota ini."

Repan menyapu pandangannya pada gambar-gambar rancangan tersebut—detail fasad kaca, desain area lobby yang mewah, hingga area rooftop yang luas—semuanya memang tampak menjanjikan.

Namun tatapannya tetap tenang, tanpa dihiasi impresi antusiasme berlebihan.

"Berapa harga penawaran gedung ini?" tanyanya pelan namun tegas.

Adelia menatapnya sejenak, lalu menghembuskan napas pelan.

"Sebenarnya... harga penawarannya jauh lebih murah dari estimasi awal. Gedung ini seharusnya bernilai di kisaran 100 miliar rupiah. Tapi karena adanya kendala di lapangan, pihak penyedia menurunkan harganya."

Repan menyipitkan sepasang matanya.

"Kendala?"

"Ulah dari Ormas NT, Tuan Repan," jawab Adelia dengan nada vokal pelan namun sarat akan tekanan.

"Sejak awal batu pertama ditanam, pihak ormas itu terus-terusan datang memeras uang jatah keamanan setiap bulannya. Berkali-kali. Para investor akhirnya angkat kaki satu per satu. Pemilik lama kehilangan modal besar hingga akhirnya menyerah dan memutuskan buat menjual aset ini."

Repan mendengus sinis. "Berapa harga yang ditawarkan sekarang?"

"70 miliar rupiah, Tuan Repan. Itu angka nett yang ditetapkan langsung oleh pemilik lama," jelas Adelia.

Repan menatap bentangan gedung raksasa itu sejenak.

Hawa udara di sekitar terasa cukup terik, debu-debu konstruksi masih menempel di beberapa sudut bangunan, namun di sepasang matanya, gedung mangkrak ini adalah sebuah ladang emas.

Tempat yang teramat sempurna untuk membakar uang tunai demi mendapatkan pasokan Points dari sistem.

"Kalau begitu," pukas Repan seraya menatap Adelia, "Aku bayar 100 miliar rupiah."

Adelia terbelalak kaget.

"A-A-Apa?! Tuan Repan... mohon maaf sebelumnya, tapi Saya tidak bisa menaikkan harga transaksi seenaknya begitu saja. Harga resmi yang dirilis pemilik memang hanya 70 miliar rupiah."

'Sialan, kalau bukan gara-gara ulah Ormas NT, gue bisa mengantongi 1.000 Poin Sistem,' batin Repan sedikit jengkel.

Repan hanya mengangkat kedua bahunya lempeng.

"Ya sudah, Aku bayar sesuai harga resminya."

Tanpa buang-buang waktu lagi, Repan merogoh ponsel jadulnya, menekan beberapa kali instruksi layar untuk mentransfer dana sebesar 70 miliar rupiah.

Beberapa detik kemudian...

[Pembayaran Berhasil!]

Di saat yang bersamaan, tablet kerja milik Adelia bergetar nyaring.

Sepasang matanya membelalak lebar tatkala melihat deretan angka yang baru saja masuk ke rekening perusahaan agennya.

"Tu-Tuan Repan! Dananya sudah masuk sepenuhnya! Saya akan segera menyiapkan seluruh berkas legalitas dan memproses balik nama kepemilikannya atas nama Anda!" ucap Adelia dengan raut wajah penuh decak takjub dan gairah antusias.

Repan hanya mengangguk pelan.

Sementara itu...

[Anda mendapatkan 700 Points!]

Jendela notifikasi sistem mengapung tepat di hadapan Repan, hanya dapat disaksikan oleh sepasang matanya sendiri. Ukiran senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.

'Bagus... Yang paling krusial adalah pasokan Points. Gedung ini cuma sekadar sarana perantara.'

Repan tahu persis apa yang sedang ia rencanakan. Ini bukan cuma perkara bisnis properti semata. Ini adalah perihal membakar uang demi memenuhi kalkulasi sistem demi meraih daya kekuatan absolut yang cuma bisa ditukar lewat Points.

'Gue bakal mendirikan holding korporasi. Yayasan badan amal, rumah sakit swasta, institusi pendidikan... Semua sektor itu bakal jadi mesin pembakar uang paling efektif buat mengumpulkan pasokan Points secara masif!'

Ia menatap sekali lagi ke arah gedung megah yang belum sempurna itu, kali ini dengan sorot mata yang sarat akan kalkulasi masa depan.

Rencana besarnya baru saja dimulai.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!