Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intan
" Intan, apa uang yang kamu kumpulan sudah banyak nak?. " Ucap Ami pada putri semata wayang nya itu.
" Allhamdulilah buk cukup untuk hidup kita berdua, setelah ini kita bisa hidup sendiri tanpa harus bekerja ya buk. Intan berharap semoga kita bisa berdiri sendiri di kaki kita ya walapun dengan usaha kecil kecilan. Lagian gaji Intan sama ibu lebih dari cukup kok. " Ami tersenyum dengan memperlihatkan kerutan banyak di wajahnya.
" Kita tunggu den Mahendra dulu pulang dari luar negeri dan setelah itu kita bisa minta izin pergi dari sini, nyonya sudah ada yang menemani kita sudah terlalu lama merepotkan mereka nak. "
Intan tersenyum, mengingat seseorang yang jauh di sana yang sama sekali belum pernah dia dan ibunya temui. Mahendra Wicana putra tungal sekaligus pewaris semua kekayaan keluarga nya, dulu Ratna pernah bercerita jika putra nya itu adalah anak yang sangat nakal dan pembangkang itu lah kenapa pemuda itu langsung di kirim ke luar negeri bersama paman dan bibik nya.
Di rumah itu juga hanya ada foto foto bayi dan kanak kanak Mahendra tidak ada foto sama remaja dan dewasa nya, usianya tidak begitu jauh dari Intan hanya berpaut 3 tahun lebih tua dari gadis itu.
" Kita beli rumah di desa dan membangun usaha kecil kecilan untuk menyambung hidup kita ya buk, jadi ibu gak perlu cape lagi. " Intan menggenggam erat tangan wanita 58 tahun itu.
" Iyaa, ibu berharap kamu juga menemukan pria yang baik yang bisa membawa kebahagiaan untuk mu nak. "
" Amin buk, setiap ucapan yang keluar dari mulut ibu adalah sebuah berkat untuk kehidupan Intan nantinya. "
***
Intan sudah selesai menyiapkan sarapan sedang Ami sedang sibuk menjemur pakaian di balkon rumah. Tak lama Ratna dan suami nya turun dari lantai dua sembari bercanda gurau seperti biasa, pemandangan yang selalu membuat Intan rindu akan keluarga nya yang utuh seperti dulu.
" Selamat pagi Intan?. " Sapa Ratna melihat gadis itu yang terdiam.
" Selamat pagi bu Ratna, selamat pagi juga pak Agung selamat sarapan. " Gumam gadis itu lembut.
" Intan, tolong kamu bersihkan kamar Mahendra yah hari ini dia akan pulang ke Indonesia dan kita akan segera melihat nya kembali. " Intan mengangkat kepalanya menatap Ratna dan Agung yang berbinar akan melihat kembali putra tunggal mereka.
" Ah, iya buk siap. Intan bersih kan sekarang yah, intan permisi. " Intan segera pergi ke lantai 2 di mana kamar Mahendra berasa, dia sudah biasa masuk ke dalam sana sejak 5 tahun lalu.
Kamar bernuansa putih hitam yang mewah selalu terlihat rapi dan harum seperti biasanya berkat Intan yang merawat nya, kamar itu Ratna serahkan pada Intan meski putra nya tidak ada tapi Ratna selalu meminta Intan merawat kamar itu seperti ada seseorang yang menempati.
Semua pakaian tertata rapi dengan tag harga yang masih mengelantung di sisi nya. Kamar itu benar-benar begitu luas, terkadang saat Intan lelah membersihkan nya gadis itu duduk dan sesekali berbaring menikmati lembut nya tidur di atas kasur mahal.
Intan menghela nafas dengan senyuman di bibirnya. Dia tidak menyaka jika sebentar lagi kamar ini akan kembali ke pemiliknya dan dia tidak hanya membersihkan kamar kosong lagi ya meskipun dia dan ibunya berniat untuk pergi dari keluarga Cendana dan memulai hidup mereka kembali.
" Ini saat terakhir aku bisa tidur di kasur ini, jika nanti den Mahendra pulang aku tidak akan berani melakukan nya lagi dan mungkin dia juga akan meminta pelayan baru untuk membantunya.
" Bik Amin, bibik tahu putra ku akan kembali setelah 8 tahun dia pergi. " Ratna memenghampiri Ami yang sedang menyiram tanaman di taman mini nya.
" Allhamdulilah nyonya, setelah sekian lama akhirnya dia kembali saya selalu berharap akan kebahagiaan nyonya Ratna dan tuan muda Mahendra. Dan siapa tahu Tuan Muda membawa gadis dari luar negeri nyonya... "
" Tidak bik, saya belum siap saat dia menemukan kekasihnya apa lagi saya belum tahu latar belakang keluarga nya. Mahen harus mendapatkan wanita yang sempurna dan dari keluarga yang beradap dan berpendidikan yang terbaik. " Ami yang tersenyum menanggapi ucapan dan keinginan sang majikannya itu.
" Nama nya jodoh kita gak ada yang tahu nyonya, tapi kalau nyonya Ratna sudah bisa di pastikan akan mendapatkan calon menantu seperti itu dan saya yakin itu. " Timpa Ami sembari terus menyirami tanaman bunga bunga itu.
" Iya tentu saja bik, lalu bagaimana dengan Intan? apa dia sudah menemukan seseorang dalam hidup nya."
Ami menggeleng sembari terkekeh pelan.
"Intan masih fokus nabung untuk masa depan kami nyonya dan dia belum ada fikiran ke arah yang lebih serius, anda tahu sendiri Intan selalu di rumah dan jarang keluar nyonya sulit untuk nya melihat dunia luar. " Ratna terdiam.
" Kamu benar bik, bagaimana bisa anak itu melihat dunia sedangkan dia selalu dirumah ini dan mengerjakan semua pekerjaan. Dia tidak menyelesaikan sekolah nya dan tidak pernah berada di luar lingkungan rumah ini. "
" Tidak mengapa nyonya, dia menikmati nya karena itu dia punya uang yang cukup untuk hidupnya dan dia bercita-cita memiliki sebuah usaha nantinya. " Ratna tersenyum mendengar impian Intan.
" Memang Intan ingin pergi kemana bik?. "
Ami mematikan airnya mengelap tangannya yang basa pada sebet yang selalu dia bawak kemudian duduk di samping Ratna yang menyambutnya dengan senang hati.
" Nyonya, Intan memiliki impian memiliki rumah sederhana di sebuah desa yang masih asri sembari membuka sebuah usaha kecil untuk menompong hidup kami. Dan jika nyonya berkenan saya juga mau minta izin untuk berhenti dari pekerjaan ini nyonya, saya dan Intan merasa sudah lama merepotkan keluarga Cendana. "
" Bik Ami tidak serius kan, saya mendukung impian Intan dan semua keinginan nya itu tapi jika kalian berfikir kalian merepotkan saya itu tidak pernah benar bik. Kalian itu keluarga bagi saya dan suami saya kalian tidak merepotkan kalian malah membantu kami. " Ratna tanpa sungkan menyentuh tanggan wanita tua itu dengan tulus.
" Nyonya, saya sudah tua dan Intan sudah mulai beranjak dewasa. Tentu saja saya ingin melihat dia menikah dan memiliki anak sebelum saya pergi nantinya nyonya. " Ratna diam nampak kekecewaan di mata nya yang tulus.
" Tuan muda sudah kembali dan saya yakin dia akan membawa kebahagiaan ke sini dan nantinya rumah ini akan ramai, saya mohon nyonya.. " Ratna melepas tangannya dia bingung harus berbicara apa.
Bukan karena dia tidak takut kehilangan pelayan nya tapi dia takut kehilangan seseorang yang sudah membuat nya nyaman selamat ini, kehilangan seseorang yang selalu mendengar keluh kesah nya dan juga guraunya tanpa canggung diantara mereka.
" 1 Bulan lagi bik, bertahan lah disini. Saya berharap Mahen melihat bibik dan Intan, agar dia mengenal kalian seperti keluarga nya sendiri sama seperti yang saya rasakan. " Ratna yang berdiri membelakangi Ami kemudian berbalik menatap wanita tua itu.
" Baik, nyonya. " Gumam nya pelan.