Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode17
"Tabib Agung, ini darurat!" potong Yan dengan suara gemetar, "Kondisi Tuan kami... Racun Esnya kambuh kembali lebih cepat dari dugaan! Sejak tadi pagi Saya mencoba mencari keberadaan Tabib. Tapi saya tidak tahu harus mencari kemana....Suhu tubuh Tuan kami kembali anjlok dan paviliun kami sekarang benar-benar membeku. Tak ada tabib lain yang berani mendekat!"
Li Zie menyipitkan matanya. Mata Dewanya berkedut, seolah merasakan tarikan energi dingin dari arah hutan bambu tadi. "Sial, sepertinya ada orang lain yang sengaja memicu racun itu," batinnya curiga.
"Hmph, sudah kubilang dia belum sembuh total," cetus Li Zie galak, lalu kembali berkata, "Tapi ini sudah larut malam. Tabib Agung butuh istirahat, Anak Muda."
Yan langsung berlutut di atas tanah yang dingin, lalu memohon dengan suaranya yang masih tegas, "Saya mohon! Jika Anda datang sekarang, Tuan saya berjanji akan memberikan apa pun yang Anda minta bahkan jika itu separuh dari kekayaannya!"
Mendengar kata Separuh Kekayaan, Li Zie merasa seolah-olah ada kembang api yang meledak di otaknya. Laparnya tiba-tiba hilang digantikan oleh haus akan batangan emas.
"Ji Yu, simpan kembali bakpao itu!" perintah Li Zie, meskipun Ji Yu baru saja mau menggigit bakpao terakhirnya. "Nyawa pria tampan maksudku, nyawa pangeran itu lebih penting daripada tidurmu!"
Li Zie berbalik arah dengan jubah hitam yang berkibar gagah, dan memberi perintah, "Bawa aku ke sana sekarang, Yan. Dan pastikan tungku penghangat di paviliun itu sudah siap, karena aku tidak mau jarum perakku membeku di tengah jalan!"
Li Zie melesat mengikuti Yan, sementara Ji Yu mengekor di belakang sambil menggerutu pelan karena makan malamnya tertunda lagi oleh Pangeran Es yang merepotkan itu.
"Ikuti aku!" perintah Yan singkat.
Yan melesat ke atas tembok setinggi tiga meter seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Tanpa membuang waktu, Li Zie mengencangkan sabuk Hanfu-nya. Meskipun tubuhnya kini adalah tubuh putri yang lemah, namun kini sudah berubah apalagi ingatan otot karate dan kendali qi barunya membuat koordinasi geraknya sangat efisien.
Tap!
Li Zie melompat dengan gerakan akrobatik yang jauh lebih stabil dari yang dibayangkan Yan. Ia mendarat di atas genteng tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ji Yu mengikuti di belakang, terengah-engah berusaha mengimbangi kecepatan mereka. Ia masih cukup payah jika mengikuti Li Zie dan Yan yang memang sudah terlatih.
Ketiga bayangan itu melompati atap demi atap di bawah cahaya bulan sabit. Angin malam menerpa wajah Li Zie, membuat janggut ekor kudanya berkibar-kibar, tapi matanya tetap fokus tajam ke depan.
Begitu mendekati hutan bambu, suhu udara mendadak berubah menjadi sangat ekstrem. Kabut putih yang keluar dari mulut mereka langsung membeku di udara.
"Ini tidak benar," gumam Li Zie sambil mendarat di depan paviliun.
Kondisi paviliun itu jauh lebih parah dari sebelumnya. Seluruh bangunan kini diselimuti lapisan es setebal satu inci. Li Zie segera mengaktifkan Mata Dewa-nya. Cahaya emas redup memancar dari pupilnya, menembus dinding kayu paviliun.
Langkah Li Zie terhenti. Ia melihat ke arah sudut-sudut ruangan di sekitar ranjang sang Pangeran. Ada sisa-sisa energi berwarna keunguan yang tidak alami, energi yang bukan berasal dari penyakit, melainkan pemicu.
"Yan, siapa saja yang masuk ke ruangan ini tadi?" tanya Li Zie, suaranya kini sangat dingin dan penuh selidik, tidak ada lagi nada bercanda.
"Hanya tabib istana senior yang membawakan teh penghangat, Tabib Agung. Mengapa?" Yan tampak bingung.
Li Zie mendengus sinis, dan berkata, "Teh penghangat, katamu? Hmph, itu bukan penghangat. Itu adalah minyak yang disiramkan ke dalam api es."
Li Zie mendorong pintu paviliun yang membeku itu hingga hancur berkeping-keping. Begitu masuk, ia melihat sang Pangeran si pria tampan itu benar-benar tertutup lapisan es tipis di sekujur tubuhnya, bahkan bulu matanya sudah memutih karena salju.
Li Zie mendekat, jemarinya menyentuh kening sang pria yang sedingin kutub utara. Namun, Mata Dewa-nya menangkap sesuatu yang mencurigakan di bawah bantal sang Pangeran, sepotong kecil dupa yang masih menyisakan sedikit asap tipis berwarna ungu.
"Sengaja dipicu. Seseorang ingin pria ini mati malam ini juga, dan mereka menggunakan aku sebagai kambing hitam jika pengobatanku gagal, " batin Li Zie begitu marah.
Li Zie melirik Yan dengan tajam dan berkata dengan tegas, "Jika kau ingin tuan mu hidup, geledah seluruh paviliun ini. Cari siapa pun yang menyimpan dupa 'Napas Iblis'. Dan jangan biarkan siapa pun keluar!"
Li Zie segera mengeluarkan jarum-jarum peraknya yang kini nampak bersinar kemerahan karena dialiri energi api murninya. Kali ini, ia tidak hanya mengobati, tapi ia akan bertarung melawan energi kiriman tersebut.