Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan Itu Berubah
"Leon, ini... ini cuma kecelakaan kecil saat adegan," bisik Alina lirih, suaranya parau menahan rasa sakit sekaligus takut menghadapi amarah pria itu.
Leon tidak menjawab. Dia tidak sudi mendengarkan alasan atau pembelaan diri yang keluar dari bibir pucat gadis itu.
Tanpa peringatan sepatah kata pun, Leon membungkukkan tubuhnya yang tinggi menjulang. Satu tangannya menyusup sigap ke bawah lipatan lutut Alina, sementara tangan lainnya menopang punggung ramping gadis itu dengan sangat kokoh.
Dalam satu gerakan mulus dan bertenaga, Leon mengangkat tubuh Alina ke dalam pelukannya.
"Leon! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Alina terkejut, refleks mengalungkan tangan kanannya yang tidak terluka ke leher Leon agar tidak terjatuh.
Tubuhnya mendadak tegang luar biasa ketika merasakan kehangatan dada bidang Leon yang menempel erat pada pipinya. Bau wangi kayu cendana dan tembakau halus dari tubuh pria itu seketika mengepung indra penciumannya.
"Diam." geram Leon rendah, tepat di samping telinga Alina. Suaranya penuh tekanan yang membuat bulu kuduk Alina berdiri.
"Satu gerakan lagi, aku pastikan tanganmu yang terluka itu akan terbentur dinding." ucapnya dengan penuh peringatan.
Alina membeku. Dia menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, membiarkan dirinya dibawa dalam gendongan jantan pria itu. Namun, kepanikannya kembali melambung tinggi ketika melihat arah langkah kaki Leon.
Pria itu tidak membawanya ke kamar tidur Alina di sayap kiri, melainkan melangkah tegas menuju sayap kanan menuju area privat paling personal di penthouse ini ialah Kamar Utama milik Leon Alexander.
"Leon, tunggu! Kamarku bukan di sana! Lepaskan aku, aku bisa berjalan sendiri ke kamarku!" pemberontakan Alina kembali membuncah.
Dia mencoba menggerakkan kakinya, berusaha melepaskan diri dari dekapan yang mengikatnya bagai rantai besi tersebut.
"Kubilang diam, Alina!" bentak Leon, menyetop langkahnya persis di depan pintu ganda kayu jati Kamar Utama.
Tatapan matanya yang menghujam ke bawah membuat Alina serta-merta menghentikan gerakannya.
Leon mendorong pintu berukir itu dengan kakinya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan raksasa bernuansa kemewahan gelap tersebut.
Kamar Utama itu jauh lebih luas dan megah daripada kamar guest house mana pun di penthouse ini.
Di tengah ruangan, berdiri ranjang super king size dengan kanopi modern dan sprei beludru berwarna hitam keabuan.
Leon membawa Alina ke tepi ranjang, lalu menurunkan tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati yaitu sebuah kontradiksi yang aneh dibandingkan raut wajahnya yang penuh amarah.
Alina segera menggeser tubuhnya ke belakang, menatap sekeliling kamar yang sangat asing dan dominan akan keberadaan Leon tersebut dengan pandangan penuh kewaspadaan.
"Kenapa kamu membawaku ke sini? Kamarku di sebelah kiri, Leon. Kita sudah sepakat dalam kontrak kalau kita punya area pribadi masing-masing!" sahut gadis itu.
Leon berbalik, mengambil kotak pertolongan pertama berukuran besar dari dalam lemari khusus di samping kamar mandi, lalu kembali melangkah mendekati ranjang. Pria itu mendaratkan satu lututnya di atas kasur, mengurung pergerakan Alina.
"Aturan itu berubah mulai detik ini." tegas Leon dengan nada bicara yang mutlak, dingin, dan tak terbantahkan.
"Apa?! Kamu tidak bisa mengubah kontrak sepihak seperti itu!" protes Alina, matanya membelalak lebar.
"Aku bisa, karena aku yang membayar seluruh isi kontrak itu!" tembak Leon tajam, menatap lurus ke dalam mata jernih Alina yang berkaca-kaca.
"Dengarkan aku, Alina Savina. Mulai malam ini, kamu akan tidur di Kamar Utama ini. Bersamaku. Di atas kasur yang sama." tegasnya tidak ingin fi debat lagi.
"Tapi kenapa?!" suara Alina melengking panik.
"Kita tidak perlu melakukan ini saat berada di dalam rumah! Tidak ada media di sini, tidak ada Kakek atau Nenekmu!"
"Tapi ada asisten rumah tangga dan tim pembersih yang datang setiap pagi!" potong Leon dengan suara yang dalam.
"Kamu pikir Kakekku bodoh? Dia menyiagakan orang-orangnya untuk memantau apakah kita benar-benar tinggal sebagai suami istri atau hanya berpura-pura! Jika mereka melihat kamarmu di sayap kiri terisi dan tempat tidurku di sini hanya terpakai untuk satu orang, dalam waktu dua puluh empat jam rahasia ini akan terbongkar!" sahut pria itu.
Leon menarik napas panjang, merapatkan rahangnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Aku sudah memerintahkan Jefri untuk menyuruh asisten rumah tangga memindahkan seluruh barang-barangmu dari kamar lama ke Kamar Utama ini esok pagi. Jadi, buang jauh-jauh pikiranmu untuk kembali ke kamar itu. Kamu adalah istriku di mata hukum, dan kamu akan berada di bawah pengawasanku di kamar ini." ujarnya bahkan tanpa berunding kepada Alina terlebih dahulu.
Kata-kata Leon bagaikan dentuman keras yang melumpuhkan seluruh argumen Alina. Mulutnya terkatup rapat, tak mampu menyanggah fakta bahwa posisi hukum dan kekuatan finansial sepenuhnya berada di genggaman pria ini.
Melihat Alina yang akhirnya bungkam dengan wajah pucat dan bahu yang gemetar, amarah meluap di dada Leon perlahan melunak, berganti menjadi sebuah konsentrasi yang dingin.
Pria itu membuka kotak obat, mengeluarkan cairan antiseptik, kasa steril, dan salep khusus luka bakar kelas medis tinggi.
"Ulurkan tanganmu," perintah Leon pelan, namun bernada instruksi yang harus dipatuhi.
Alina ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menyodorkan tangan kirinya yang gemetar.
Leon meraih jemari halus Alina. Sentuhan tangan Leon kali ini begitu lembut, sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang kasar beberapa saat lalu.
Dengan ketelitian seorang aktor yang terbiasa bersinggungan dengan detail adegan, Leon mulai menggunting kain perban lama yang sudah menempel pada luka melepuh Alina.
"Aww..." desis Alina tertahan saat kain itu terangkat, membawa rasa pedih yang menusuk.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pipi mulusnya begitu saja tanpa permisi.
Leon menghentikan gerakannya sejenak. Matanya melirik ke arah wajah Alina yang meringis kesakitan.
Tanpa mengutarakan kata-kata manis, Leon mendekatkan bibirnya ke arah punggung tangan Alina, lalu mengembuskan udara hangat secara perlahan di atas luka melepuh tersebut untuk meredakan rasa perihnya.
Sensasi hangat dari napas Leon yang menerpa kulitnya yang terluka membuat Alina tersentak kecil.
Jantungnya mendadak berdegup kencang secara tidak teratur, bukan lagi karena rasa sakit, melainkan karena keintiman yang teramat dekat dari sosok pria yang selama ini selalu memancarkan aura dingin dan tak tersentuh.
"Siapa yang menyirammu?" tanya Leon lagi, suaranya kini terdengar lebih tenang namun memiliki ketajaman yang berbahaya sembari tangannya dengan perlahan mengoleskan salep dingin di atas luka bakar tersebut.
"Jangan mencoba membohongiku lagi, Alina. Bekas luka ini bukan terkena cipratan air biasa. Seseorang sengaja menyiramkan cairan panas ke tanganmu dalam jarak dekat." ujar Leon yang soalnya benar sekali.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣