Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Zevanya masih setia duduk disamping ranjang, tak sedikitpun merasa mengantuk meski ini tengah malam, sudah sekitar tiga puluh menit ia menunggu namun dokter pribadi Aezar masih belum nampak.
Bosan dan khawatir, Zevanya hanya bisa mengganti kompres di kening Aezar berulang kali, dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana Aezar tadi sore masih bisa riang tanpa menampakan tanda-tanda kalau ia terluka.
Baru kali ini Zevanya merasa sedih karena menjadi buta, jika ia bisa melihat ia pasti akan langsung tahu bahu Aezar terluka, semuanya tidak akan terlambat seperti ini.
Betapa tidak berguna..
Gadis itu mendesah sedih, menyadari ketidakberdayaannya sendiri.
Suara langkah kaki mendekat, menyadarkannya sejenak.
"Apakah ini Nyonya Zevanya? Aku Ericko, dokter pribadi Aezar" dokter itu menyapa dengan ramah, suaranya menenangkan seperti membawa semilir angin musim gugur yang hangat, Zevanya bahkan terpana tanpa sadar
"Ya ini aku, senang bertemu denganmu" Zevanya menjawab dengan kikuk, tangannya masih memegang handuk basah yang telah diperas berulang kali.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanyanya penasaran, dari tadi Aezar sudah berhenti menggigil namun ia juga masih tidak sadarkan diri.
Dokter Ericko memeriksa denyut nadi Aezar, kemudian beralih ke luka yang diperban dengan rapih, ada sedikit rembesan darah namun itu tidak berbahaya, mungkin besok ia harus kembali dan melihat apakah luka itu perlu dijahit atau hanya diperban biasa.
Ia tersenyum sebelum menanggapi pertanyaan Zevanya, "Aezar? tenanglah, suamimu punya sembilan nyawa cadangan" gurau dokter Ericko mencoba mencairkan suasana.
Anehnya Zevanya tersenyum lebar, entah kenapa ia percaya pada candaannya meskipun ia tahu itu hanyalah omong kosong.
"Ini demam karena peradangan, dia mungkin tidak ingin kau tahu kalau dia terluka.. tapi jangan khawatir ini hanya luka tusuk biasa"
"tu.. tusuk? dia tertusuk?!!" pekik gadis itu kaget,
Tadinya Zevanya mengira Aezar hanya terluka biasa, tergores, atau mungkin terjatuh, "Jadi maksudmu ada yang coba membunuhnya?" tambahnya lagi.
Dokter itu menepuk bahu Zevanya, mencoba menenangkan "Mungkin saja, tapi jangan terlalu panik.. Aezar pasti senang sekali karena punya istri yang begitu mencintainya"
Perkataan Dokter membuat Zevanya terdiam sejenak, cinta? apakah dia mencintai Aezar?
Entahlah, dia hanya berfikir kalau orang itu tidak boleh mati atau terluka, masih banyak hal yang belum sempat ia tanyakan padanya, namun Zevanya tidak punya keinginan untuk berdebat dengan dokter itu.
Ruangan itu kembali menjadi hening setelah beberapa waktu, dokter Ericko duduk di sofa sambil mengamati perkembangan Aezar sedangkan Zevanya berkali-kali mengangguk karena mengantuk.
Tidak dapat menahan kantuk, ia ketiduran disamping ranjang sampai pagi, Ia bahkan tidak tahu kapan tepatnya dokter itu pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aezar bangun dengan sakit yang menyengat di sekujur tubuhnya, ia mencoba menggerakkan badan dengan tidak nyaman saat menyadari bahwa Zevanya duduk disamping ranjang, kepala gadis itu terkulai disamping tangannya dengan handuk kecil yang masih sedikit lembab, mirip bayi kucing yang mencari perlindungan.
Rambut panjangnya dibiarkan terurai, sedangkan dibawah matanya terdapat lingkaran hitam yang terlihat jelas.
Apakah dia merawatku sepanjang malam? hati Aezar menghangat, ia menepuk rambut berbau stroberi itu dengan lembut sambil tersenyum tipis.
"Biarkan aku tidur" Zevanya yang kelelahan hanya bisa protes ketika mimpi indahnya direnggut. Kesal, ia membenamkan wajahnya lebih dalam.
Aezar ingin sekali membaringkan gadis itu diranjang agar ia bisa tidur dengan nyaman, namun bahunya masih tidak bisa digerakkan dengan sembarangan, mau tidak mau ia hanya bisa menyuruhnya agar naik ke tempat tidur sendiri.
"Naiklah" ucapnya sekali lagi, kembali menepuk kepala Zevanya.
Tidak ada respon sama sekali, memikirkan sesuatu ia beringsut ke arah Zevanya hingga wajah mereka sejajar, tanpa aba-aba mengecup bibir itu pelan.
Kurang dari dua detik mata gadis itu terbuka lebar, melihat rencana nya berhasil Aezar tersenyum puas.
Zevanya sendiri merasa ada benda lengket aneh yang menempel di bibirnya, otaknya yang kosong segera menyadari kalau itu adalah benda aneh berbau mint itu adalah bibir Aezar, rasa kantuknya bahkan menguap entah kemana.
"Akhirnya kau bangun juga" ujar pria itu tanpa rasa bersalah,
"Aku begadang semalaman menjagamu, bisakah kau membiarkan aku tidur sampai siang?" gerutunya sambil mengucek mata,
Aezar tidak tahan untuk tidak tertawa, "Aku tidak menyuruhmu bangun, aku hanya menyuruhmu naik dan tidur disebelahku. Lehermu pasti sakit jika terlalu lama tidur seperti itu"
Zevanya masih belum mau berdamai meski Aezar sudah menjelaskan, ia naik ke ranjang dengan muka tertekan.
"Jangan cemberut, kau mau kuberi hadiah lagi?"
Kali ini gadis itu tidak menjawab namun sebaliknya menggeleng berulang kali.
Lagi-lagi ia hanya bisa mengutuk didalam hati, berniat ingin melanjutkan tidur, tapi mau bagaimana lagi matanya tidak lagi bisa terpejam, ia berbaring disamping Aezar untuk waktu yang lama, tidak tidur atau berbicara sepatah kata pun.
Apakah ini saat yang tepat untuk menanyakan hal yang kemarin Devi katakan? pikirnya diam-diam.
"Aezar" dia memanggil pria disampingnya dengan ragu, setelah berdeham beberapa kali.
"hmm?"
"Apakah aku harus percaya pada mereka atau percaya padamu?" Zevanya meracau tak jelas.
meski begitu ambigu namun Aezar bisa memahami maknanya hanya dalam hitungan detik, pertanyaannya mengacu pada berita yang mungkin Devi katakan padanya kemarin, Zevanya mungkin sudah mendengar berita tentang Ayahnya.
"Percaya padaku" jawabnya tegas, seakan tidak boleh ada yang menentang.
Zevanya mengerutkan kening sejenak sebelum kembali bertanya, " Kenapa aku harus percaya padamu?"
"Karena aku satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatimu" katanya sambil menarik tubuh Zevanya lebih dekat.
Ingatan Aezar kembali pada 13 tahun yang lalu. Saat itu ia diam-diam mengikuti gadis ini pulang kerumahnya setiap sore selama bertahun-tahun, melewati jalan yang gadis itu lewati, menyentuh bunga yang gadis itu sentuh.
Jika waktu bisa diputar ia tidak akan membuang-buang kesempatan lagi, tidak akan menjadi pecundang yang hanya bisa memandanginya jauh dibelakang, ia pasti akan menghampirinya dan bersumpah akan menikahinya ketika dewasa.
Memikirkan fakta ada pria lain yang telah mengisi hati Zevanya, mau tidak mau ia hanya bisa menerima nasib. Itu adalah harga yang harus dibayar pengecut sepertinya.
Jika dulu ia berani menyatakan perasaannya pada gadis ini, apakah mungkin dialah yang akan menjadi cinta pertama Zevanya?
Aezar menghela nafas, mengakhiri ingatannya di masa lalu. Bagaimanapun ia bersyukur bisa memeluknya di sebuah pagi yang cerah seperti ini.
Mereka menghabiskan seluruh pagi dengan saling memeluk, tidak ada satupun yang berniat untuk beranjak, sementara Zevanya akhirnya bisa kembali mendapatkan tidur nyenyaknya.
Semuanya terasa begitu nyaman sampai akhirnya suara ketukan pintu terdengar, disertai panggilan bibi yang mengingatkan mereka untuk makan siang.
Enggan, namun mereka masih tetap turun mencuci muka dan pergi untuk makan siang, bagaimanapun perut mereka memang sudah kelaparan..
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww