NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: tamat
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Malam mulai turun saat pesawat yang ditumpangi Saga akhirnya mendarat di Jakarta. Lampu kota terlihat terang dari balik jendela pesawat, tetapi berbeda dengan biasanya, kepulangan kali ini terasa jauh lebih berat bagi Saga.

Sepanjang perjalanan tadi, pikirannya terus dipenuhi wajah Sahir yang menangis di bandara dan Sahira yang memeluknya dengan mata penuh air mata. Tangannya tanpa sadar menggenggam ponsel yang berisi foto pertama dirinya bersama Sahir.

Foto yang diam-diam diambil Ririn sore tadi. Di foto itu, Sahir tertawa lebar di pelukannya sambil memegang ember pasir kecil. Saga merasa benar-benar takut jauh dari seseorang. Beberapa menit kemudian, pria itu keluar dari area kedatangan dengan langkah cepat.

Namun, baru saja tiba di luar bandara ponselnya berdering. Nama Revano muncul di layar. Saga langsung mengangkat panggilan itu.

[Udah sampai?]

“Baru keluar bandara.”

Revano terdengar menghela napas lega.

“Bagaimana Sahir?”

[Masih sedih,] jawab Revano jujur. [Tadi sempat nangis lagi nyariin lo.]

Langkah Saga langsung melambat.

“Aku bakal cepet balik.”

Revano terdiam beberapa detik sebelum berkata pelan,

[Saga…]

“Hm?”

[Kalau lo serius mau nikahin Sahira…] nada suara pria itu berubah lebih serius, [jangan setengah-setengah.]

Tatapan Saga langsung mengeras penuh keyakinan. “Gue nggak main-main.”

[Bagus, jemput mereka di Bali. Nikahi Sahira secara sah, dia butuh perlindungan ... Ibu tiri dan adik tirinya sudah dipastikan pasti akan mengganggu dia terus,]

Panggilan akhirnya terputus.

Saga menarik napas panjang sebelum masuk ke dalam mobilnya. Namun belum sempat pria itu menyalakan mesin, seseorang mengetuk kaca mobilnya.

Saga mengernyit lalu menoleh. Wajahnya langsung berubah dingin. Clara berdiri di luar mobil sambil tersenyum tipis. Entah bagaimana wanita itu tahu dia pulang.

Wanita itu mengenakan coat panjang berwarna putih dengan rambut tergerai rapi. Namun tatapan matanya terlihat jauh dari kata tenang. Saga perlahan membuka kaca mobil sedikit.

“Ada apa?”

Clara tersenyum kecil. “Kamu bahkan nggak ngabarin udah balik dari Bali.”

Nada suaranya terdengar lembut, tetapi Saga bisa merasakan sesuatu yang aneh.

“Aku capek, Clara.”

Pria itu terdengar dingin, Clara justru melangkah sedikit mendekat.

“Aku cuma khawatir sama kamu.” Tatapan wanita itu perlahan berubah sendu.

“Saga … apa kamu benar-benar mau kembali sama Sahira?”

Pertanyaan itu membuat suasana langsung berubah tegang. Saga menatap Clara beberapa detik tanpa ekspresi. Lalu dengan suara tenang namun tegas, pria itu menjawab,

“Dia ibu dari anakku.”

Jantung Clara langsung terasa dihantam keras. Sebelum wanita itu sempat bicara lagi, Saga kembali melanjutkan dengan tatapan tajam.

“Dan kali ini…” rahangnya mengeras, “aky nggak bakal ninggalin mereka lagi.”

Wajah Clara perlahan berubah pucat.

Sementara, mobil Saga perlahan melaju meninggalkan area bandara, menyisakan Clara yang berdiri diam dengan tangan mengepal kuat dan tatapan penuh kebencian.

Clara masih berdiri diam di area parkir bandara setelah mobil Saga menghilang dari pandangannya.

Angin malam berembus pelan menerpa rambut panjangnya, tetapi wanita itu sama sekali tidak bergerak. Tangannya perlahan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Ucapan Saga tadi terus terngiang di kepalanya.

Napas Clara mulai tidak teratur, selama ini ia selalu percaya Saga pada akhirnya akan kembali padanya. Tetapi, sekarang semuanya berubah. Sejak Sahira dan Sahir muncul kembali dalam hidup pria itu, Clara bisa merasakan Saga perlahan semakin jauh darinya dan itu membuatnya takut.

Perlahan Clara mengambil ponselnya dari dalam tas. Tatapan wanita itu berubah gelap sebelum akhirnya menekan sebuah nomor yang sudah sangat dikenalnya.

Panggilan tersambung cukup cepat.

[Ya?]

Suara pria di seberang terdengar berat dan asing. Clara langsung bicara tanpa basa-basi.

“Pergi ke Bali.”

Pria itu terdiam beberapa detik.

[Ada apa lagi?]

Tatapan Clara perlahan mengeras.

“Aku mau kamu cari Sahira.” Suara wanita itu terdengar dingin dan penuh tekanan.

“Dan pastikan…” Clara menggigit bibirnya pelan menahan emosi, “dia atau anaknya nggak pernah balik lagi ke pelukan Saga.”

Hening beberapa detik di seberang sana. Lalu suara pria itu kembali terdengar pelan,

[Kamu yakin mau sejauh ini?]

Clara menutup matanya sejenak. Bayangan Saga yang memeluk Sahir kembali muncul di kepalanya. Dan itu cukup membuat dadanya dipenuhi rasa iri yang membakar.

“Aku nggak peduli caranya.” Tatapan wanita itu berubah tajam.

“Yang penting mereka pergi.”

Beberapa detik kemudian, panggilan itu terputus. Clara perlahan menurunkan ponselnya. Lampu-lampu bandara memantul di wajah cantiknya yang kini terlihat begitu dingin dan asing.

Malam itu, suasana kediaman keluarga Mahendra terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu ruang tamu masih menyala terang meski waktu sudah hampir larut malam.

Tuan Mahendra duduk di sofa besar dengan wajah lelah setelah kembali dari rumah sakit sore tadi. Kondisinya memang mulai membaik, tetapi sorot matanya masih menyimpan banyak pikiran.

Sementara di sampingnya, Tatih duduk gelisah sejak tadi. Wanita itu terus memperhatikan arah pintu depan rumah seolah menunggu seseorang masuk. Namun, sampai malam semakin larut Saga belum juga kembali. Tatih akhirnya menghela napas pelan sebelum berkata hati-hati,

“Saga belum pulang ke sini…”

Tuan Mahendra hanya diam sambil menyesap teh hangatnya.

Tatih kembali melanjutkan dengan suara pelan, “Mobil yang dia bawa juga belum ada di garasi.”

Mendengar itu, Tuan Mahendra langsung menjawab datar tanpa menoleh sedikit pun. “Sudah pasti dia tinggal di parkiran bandara.”

Tatih langsung terdiam. Ia tahu benar maksud ucapan suaminya. Saga kemungkinan langsung kembali ke apartemen atau tempat lain karena masih marah padanya.

Suasana kembali hening beberapa saat. Tatih menundukkan wajah pelan sebelum akhirnya berkata lirih,

“Aku salah…” Suara wanita itu mulai bergetar.

Tuan Mahendra akhirnya menoleh menatap istrinya untuk pertama kali malam itu. Tatapan pria itu dingin dan penuh kekecewaan.

Tatih langsung menahan napas. “Aku benar-benar nggak tahu kalau Sahira hamil waktu itu,” ucapnya pelan dengan mata mulai berkaca-kaca. “Aku pikir … semuanya sudah selesai.”

Tuan Mahendra justru tertawa pahit. “Selesai?”bPria itu menatap istrinya tajam. “Buat kamu mungkin selesai.”

“Tapi buat Saga?” rahangnya mengeras. “Anak kita hidup bertahun-tahun dalam trauma.”

Tatih langsung menunduk semakin dalam. “Aku cuma mau masa depan Saga baik…”

“Dengan menghancurkan hidup anak sendiri?” Suara Tuan Mahendra meninggi untuk pertama kalinya malam itu.

Tatih langsung tersentak.

“Aku nggak pernah ngajarin kamu jadi perempuan sekejam ini, Tatih.”

Air mata wanita itu akhirnya jatuh.

“Aku takut…” suaranya melemah. “Aku takut Sahira bakal menghambat masa depan Saga.”

Tuan Mahendra justru memejamkan matanya frustrasi. “Dan sekarang lihat akibatnya.” Suasana ruang tamu terasa makin menyesakkan.

“Sahira menderita sendirian lima tahun.”

“Sahir tumbuh tanpa ayah dan Saga…” suara pria itu mulai melemah penuh kecewa, “hampir kehilangan akal sehatnya karena terus merasa dikhianati.”

Tatih menangis semakin keras. “Aku minta maaf…”

Tuan Mahendra langsung memotong dingin, “Kalau kamu sampai menyakiti mereka lagi…” Tatapan pria itu berubah tajam.

“Aku benar-benar akan menceraikan kamu.”

Tatih langsung membeku. Wajahnya pucat seketika. “M-Mas…”

“Aku serius.” Suara Tuan Mahendra rendah namun penuh penekanan.

“Karena aku nggak mau kehilangan anakku lagi hanya karena ambisi dan kesalahan kamu.”

Air mata Tatih terus jatuh tanpa henti.

1
Cesar Manuel Ris Costa
wanita
Cesar Manuel Ris Costa
tenang
Jamayah Tambi
Tq Athur.Ceritanya bagus.Teruskan berkarya
Aisyah Alfatih: terima kasih kakak 💞
total 1 replies
Jamayah Tambi
Lain kali jgn bg tumpang.Order jet taxsi online.Grab,uber kan banyak
Jamayah Tambi
Mesti gedok nak ganggu rumah tangga orang.Ada bau2 pelakor yg tercium di hidung ku
Ita Mei Lestari
/Sob//Cry/
Jamayah Tambi
Om Mario tak ada isteri ke.Duda terlajak.Ramai jer doktor dan peraeat yg suka kat Dr Mario.Mario ini kat nama watak dalam games .
Jamayah Tambi
Apa kau nak buat
мєσωzα
ceritanya cukup seru, konfliknya jg gak muter-muter 👍🏻
Jamayah Tambi
Utu la masalahnya.Asal ada masalah cari Alkohol.
Jamayah Tambi
Orang tak jangan paksa
Jamayah Tambi
Bodo punya sepupu
Jamayah Tambi
Tak ada CCTV ke
Jamayah Tambi
Kenapa Sahira tak lapor polisi saja .Toko bunganya habis berantakan kerana ulah pereman
Jamayah Tambi
Macam satu je toko bunga kat Bali tu.Suruh Rani cari ke toko bunga lain.Pulak/Sob//Sob//Sob/
Jamayah Tambi
Adakah berjaya Clara menyingkirkan Sahira.
Jamayah Tambi
Aldi jau nsk tolong Clara buat apa.Dia itu licik.Dia terlslu obsesi pada Saga.Aldi ,Saga itu darah daging kamu sendiri.Kalau kamu khinsti dia hubungan keluarga akan hancur terutama ayah kamu
Jamayah Tambi
Kalau punya hati dan petasaan jangan bantu.Beritau Saga niat jahat Clara
Jamayah Tambi
Nikahi Sahira dan mulai hidup baru bersama isteri dan anak mu
Adiba Azahra
Halo kak author izin promosiin novelku yang berjudul satu imam dua makmum yuk mampir Man teman 🙏😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!