Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Bom Mobil
Api menjilat malam di belakang mobil.
Orang-orang berteriak.
Klakson saling menimpa.
Di tengah kekacauan itu, suara Hendry Pratama justru menjadi sangat pelan.
"Bagus, kunci pintu."
Klik.
Semua pintu mobil terkunci.
Maya Devi duduk di kursi depan, wajahnya pucat. Kedua tangannya menggenggam tas kecil di pangkuan.
"Pak Hendry... itu..."
"Jangan bergerak."
Tiga kata.
Tidak keras.
Tapi membuat Maya langsung berhenti bicara.
Bagus Prasetyo menoleh ke belakang.
"Pak Hendry, kita pergi?"
Hendry melihat kaca spion.
Di sana, titik tempat mobil mereka berhenti beberapa detik lalu sudah berubah menjadi lingkaran api dan asap.
Sebuah kendaraan niaga yang tadi berada di sisi persimpangan hancur. Orang-orang berlarian menjauh. Beberapa pengendara jatuh karena panik, tetapi tidak terlihat ada kendaraan lain yang ikut terbakar besar.
Terlalu bersih.
Terlalu tepat.
"Tidak," kata Hendry.
Bagus menggenggam setir lebih kuat.
"Kalau ada ledakan kedua?"
"Maka orang yang menunggu ledakan pertama pasti sedang melihat hasilnya."
Mata Bagus langsung berubah.
Ia paham.
Hendry membuka pintu belakang.
Maya menegang.
"Pak Hendry, jangan turun. Bahaya."
Hendry menatapnya.
"Bu Maya."
Maya membeku.
"Tetap di mobil."
Bagus ikut turun.
Ia berdiri di samping mobil seperti tembok. Matanya menyapu gedung ruko, papan reklame, atap, gang sempit, dan jembatan penyeberangan.
Hendry berjalan beberapa langkah ke arah persimpangan.
Panas api menerpa wajahnya.
Bau karet terbakar dan asap tajam memenuhi udara.
Seseorang berteriak meminta ambulans.
Hendry mengeluarkan ponsel dan menelepon Adrian.
"Lokasi saya kirim. Hubungi Polres dan rumah sakit terdekat. Amankan CCTV dari ruko, lampu lalu lintas, dan toko sekitar. Jangan biarkan media masuk terlalu cepat."
Suara Adrian langsung berubah tajam.
"Anda terluka, Pak Hendry?"
"Tidak."
"Bu Maya?"
Hendry melirik mobilnya.
"Masih di mobil."
Jeda setengah detik.
Adrian memahami arti jeda itu.
"Saya kirim tim."
Panggilan selesai.
Bagus tiba-tiba berkata rendah, "Atap jam dua."
Hendry tidak langsung menoleh.
Di pantulan kaca toko yang pecah, ia melihat satu bayangan bergerak di atap ruko seberang.
Pria bertopi.
Tidak berlari seperti orang panik.
Bergerak seperti orang yang sudah tahu jalur keluar.
"Jaga mobil," kata Hendry.
"Saya ikut."
"Maya tetap hidup sampai kita tahu dia apa."
Bagus mengatupkan rahang.
"Baik."
Hendry bergerak.
Tidak cepat di awal.
Ia berjalan melewati kerumunan seperti orang biasa.
Lalu ketika masuk gang samping, tubuhnya melesat.
Bayangan di atap menyadari sesuatu.
Pria itu berlari.
Kakinya melompati pembatas ruko, turun ke tangga belakang, lalu masuk ke jalur sempit menuju area gudang lama.
Hendry mengikuti.
Hujan kecil membuat lantai beton licin.
Lampu gang berkedip.
Di depan, pria bertopi menendang pagar seng dan masuk ke kawasan pabrik kosong yang sudah lama tidak dipakai.
Hendry melewati pagar itu tanpa menyentuh bagian tajamnya.
Ia mendarat ringan.
Pria itu menoleh.
Matanya terkejut.
Mungkin ia mengira targetnya hanya pengusaha kaya.
Mungkin ia mengira ledakan yang gagal cukup untuk membuat target gemetar.
Ia salah.
"Berhenti," kata Hendry.
Pria itu tertawa pendek.
"Kamu harusnya mati di lampu merah."
Itu cukup.
Hendry tidak perlu pengakuan panjang.
Pria itu mengambil pisau lipat dari balik jaket.
Gerakannya cepat.
Lawan kali ini jauh lebih rapi daripada preman jalanan.
Terlatih.
Ia menyerang sisi perut Hendry dengan sudut rendah, lalu memutar pergelangan untuk mengincar rusuk.
Hendry mundur setengah langkah.
Pisau lewat kosong.
Telapak tangannya menekan pergelangan lawan.
Krek.
Pisau jatuh ke lantai.
Pria itu menggertakkan gigi dan menendang lutut Hendry.
Hendry menggeser tubuh, bahunya masuk, siku pendek menghantam dada lawan.
Buk.
Pria itu terlempar ke tiang besi.
Napasnya pecah.
Namun ia masih berusaha meraih sesuatu di saku.
Hendry sudah berada di depannya.
Satu tangan menekan lehernya ke tiang.
Tangan lain mengunci pergelangan.
"Siapa yang mengirim?"
Pria itu tersenyum dengan bibir berdarah.
"Kamu... tidak akan sempat..."
Hendry menekan sedikit.
"Nama."
Mata pria itu bergetar.
Ada rasa takut.
Hendry belum membuatnya takut.
Takut kepada orang yang lebih jauh.
Bibirnya bergerak.
"Santoso."
Setelah itu tubuhnya mengejang.
Hendry langsung melepaskan tekanan dan mencoba membuka mulutnya, tetapi pria itu sudah kehilangan kekuatan terlalu cepat.
Matanya kosong.
Di udara pabrik yang lembap, satu kata tertinggal lebih berat dari mayat.
Santoso.
Langkah kaki datang dari belakang.
Bagus muncul dengan napas berat.
"Pak Hendry!"
"Aku suruh jaga mobil."
"Saya kunci dari luar. Bu Maya tidak bisa keluar. Saya lihat Anda masuk pabrik sendirian."
Hendry menatap jasad di lantai.
"Dia mati sebelum bicara banyak."
Bagus melihat pria itu.
"Profesional."
"Terlalu profesional untuk Rudi Santoso sendirian."
Nama Rochmat Santoso melintas di pikiran Hendry.
Lalu berhenti.
Orang itu sudah mati.
Setidaknya dunia mengatakan begitu.
Hendry menatap lantai.
Kalau Rochmat sudah mati, siapa yang masih mampu menggerakkan orang seperti ini?
Rudi?
Atau ada tangan lain yang memakai nama Santoso sebagai umpan?
Ponselnya bergetar.
Adrian.
"Pak Hendry, polisi dan tim medis dalam perjalanan. Rekaman toko sudah kami amankan dari dua titik. Ada kendaraan yang mengikuti Anda sejak keluar dari kantor."
"Kirim ke Rizal."
"Sudah."
"Maya?"
"Bagus bersama Anda?"
"Ya."
"Kalau begitu jangan lepaskan dia tanpa catatan."
Hendry menatap Bagus.
"Kita pulang lewat jalur berbeda. Antar Maya ke rumahnya. Jangan bicara apa pun di depan dia."
Bagus mengangguk.
Ketika mereka kembali ke mobil, Maya masih duduk di kursi depan.
Wajahnya pucat.
Matanya tampak benar-benar takut.
Terlalu mudah untuk percaya.
Terlalu berbahaya untuk dipercaya.
"Pak Hendry," katanya lirih, "apa orang itu mengejar Anda?"
Hendry masuk ke mobil.
"Belum tahu."
"Saya... saya minta maaf. Kalau saya tidak menumpang..."
"Kalau Anda tidak menumpang, mungkin kami tetap berhenti di sana."
Maya menunduk.
Kalimat itu seperti terima kasih.
Juga seperti pisau.
Bagus mengemudi tanpa sepatah kata.
Ia mengantar Maya sampai depan rumah seberang Taman Indah Residence.
Maya turun dengan langkah sedikit goyah.
"Terima kasih sudah mengantar saya."
Hendry hanya mengangguk.
Mobil pergi.
Begitu pintu rumah Maya tertutup, wajah pucatnya berubah.
Ia berjalan cepat ke ruang kerja.
Ponsel terenkripsi dibuka.
Panggilan tersambung.
Layar tetap hitam.
"Laporan," kata suara Rochmat.
Maya menelan napas.
"Bom gagal."
Hening.
Udara di ruangan Maya seolah menjadi berat.
"Ulangi."
"Target selamat. Mobil bergerak sebelum ledakan. Hendry mencurigai saya."
Di seberang, suara benda keras menghantam sesuatu.
Maya memejamkan mata.
Rochmat sedang marah.
"Kamu menariknya keluar dari titik ledakan terlalu cepat?"
"Jika saya tidak masuk, Bagus mungkin tetap menahan mobil lebih lama. Tapi Hendry melihat waktu. Dia tidak bodoh."
"Aku bilang jangan remehkan dia."
"Saya tahu."
"Tidak. Kamu belum tahu."
Suara Rochmat turun.
"Mulai sekarang, setiap gerakanmu dihitung sebagai risiko."
Maya menunduk meski lelaki itu tidak bisa melihat.
"Baik."
Panggilan terputus.
Maya berdiri diam.
Dari jendela, rumah Hendry terlihat hangat.
Lampu kamar Daun menyala kecil.
Untuk pertama kalinya, Maya merasa tugas itu tidak hanya sulit.
Tugas itu mulai terasa kotor.
Malam yang sama, Puri Nusantara kembali membuka pintu.
Namun kali ini teh keluarga tidak ada hubungannya.
Di ruang belakang yang lebih tertutup, Hendry duduk bersama Eyang Karyo dan Budiman Suryadi.
Di meja, ada foto ledakan, potongan rekaman CCTV, dan satu catatan pendek.
`Santoso.`
Eyang Karyo membaca kata itu dengan mata dingin.
"Rochmat mati terlalu rapi," katanya.
Hendry menatapnya.
"Eyang juga curiga?"
"Orang seperti dia tidak hanya meninggalkan makam. Dia meninggalkan bau."
Budiman menambahkan, "Pak Hendry, bila Santoso bergerak lagi, ini bukan urusan keluarga lokal. Ada sumber daya yang lebih besar."
Pintu diketuk.
Pelayan tua masuk.
"Ada tamu dari Surabaya."
Eyang Karyo menatap Hendry.
"Masuk."
Seorang pria lima puluhan berjalan masuk.
Tubuhnya agak bulat, wajahnya ramah, senyumnya seperti pedagang tua yang mudah diajak minum kopi.
Namun jam tangan di pergelangan dan Cincin Pusaka kecil di jarinya membuat ruangan langsung tahu.
Ia bukan pedagang biasa.
"Hendry Pratama," katanya hangat. "Akhirnya kita bertemu."
Eyang Karyo berkata, "Benny Nugroho. Kepala keluarga Nugroho sekarang. PT Emas Nusantara Group."
Hendry berdiri.
Nugroho.
Salah satu dari Lima Keluarga Besar.
Benny tertawa kecil.
"Jangan tegang begitu. Badan saya memang tidak terlihat seperti orang yang bisa menjaga harta enam ratus tahun. Tapi emas tidak selalu dijaga oleh orang kurus."
Budiman batuk pelan.
Eyang Karyo tidak tersenyum, tetapi matanya sedikit melunak.
Benny duduk tanpa banyak basa-basi.
"Saya sudah dengar semuanya dari Eyang Karyo. Dua cincin. Hadiprana. Santoso. Dan ledakan malam ini."
Hendry menatapnya.
"Pak Benny datang untuk memberi nasihat?"
"Tidak."
Benny meletakkan sebuah map emas tua di meja.
"Nasihat murah. Perang mahal."
Ia membuka map.
Di dalamnya ada surat komitmen pendanaan, struktur pinjaman keluarga, dan cap PT Emas Nusantara Group.
"PT Emas Nusantara Group punya aset lebih dari Rp 2.000 Triliun. Tambang, logam mulia, logistik, cadangan luar negeri. Kalau perang ini hanya memakai uang Kota Biru, kamu akan lelah sebelum musuh utama muncul."
Hendry melihat angka di halaman pertama.
Rp 500 Triliun.
Bahkan ruangan Puri Nusantara yang tua itu terasa lebih sunyi.
Budiman menatap dokumen itu tanpa terkejut, tetapi tangannya berhenti bergerak.
Eyang Karyo menutup mata sebentar.
Benny mendorong map ke arah Hendry.
"Saya pinjamkan Rp 500 Triliun sebagai dana perang."
Hendry tidak langsung menyentuhnya.
"Syarat?"
Benny tersenyum.
Kali ini senyumnya tidak ringan.
"Satu."
Ia mengangkat satu jari.
"Lindungi Lima Keluarga Besar."
Hendry menatap Cincin Pusaka kecil di jari Benny.
Lalu ia teringat dua cincin di tangannya sendiri.
Warisan itu memuat harta, kuasa, dan janji lama.
Itu beban.
Dan malam ini, beban itu berubah menjadi angka yang bisa mengguncang pasar.
Hendry mengulurkan tangan.
Benny menyambutnya.
Genggaman pria itu hangat, tetapi kuat.
"Saya terima."
Di luar Puri Nusantara, malam Kota Biru masih berbau asap.
Di dalam ruangan, permainan baru saja naik tingkat.
Rp 500 Triliun.
Mulai sekarang, perang ini tidak lagi dimainkan dengan kartu kecil.