Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 26.
Shanaz masih menangis, tangannya mencengkram erat baju Arkana seolah ia takut pria itu akan pergi meninggalkannya.
“Semua salahmu...“ gumam wanita itu dengan suara serak.
Wajah Arkana terlihat lelah, ia tidak mencoba membela diri. Dia juga tak menenangkan dengan kata-kata manis. Karena ia mengerti, apapun yang ia katakan sekarang tak akan mengubah apapun.
Tak selang berapa lama, Dokter yang menangani Shanaz masuk ke dalam ruangan.
“Pak Arkana.“
Arkana menoleh, sang Dokter memberikan isyarat agar dia keluar sebentar. Ia perlahan melepaskan tangan Shanaz dari bajunya.
Wanita itu panik lagi. “Jangan pergi!“
“Aku nggak pergi, hanya keluar sebentar.“
Perawat segera mendekati Shanaz untuk menenangkan, Arkana keluar dari ruangan. Di lorong, dokter itu menatapnya dengan serius.
“Kondisi pasien belum stabil, dia mengalami trauma emosional cukup berat setelah keguguran. Secara fisik, pasien baik-baik saja. Tapi secara mental... dia butuh waktu.“
Arkana menghela nafas, ia mengangguk. “Saya mengerti, Dok. Berapa lama dia akan seperti itu?“
“Sulit dipastikan, bisa beberapa minggu atau mungkin bisa juga lebih lama. Pak Arkana, pasien sangat bergantung pada Anda.“
Arkana tersenyum pahit. “Sayangnya... saya bukan orang yang tepat untuk dia bergantung. Saya akan segera menghubungi orang tuanya.“
Dokter tidak menjawab, kemudian ia pergi.
Arkana menatap pintu kamar rawat Shanaz, dari dalam masih terdengar suara tangis pelan. Ia tetap berdiri di lorong, pikirannya terasa penuh, hidupnya runtuh dalam waktu yang sangat singkat.
Seorang perawat keluar. “Pak Arkana, pasien sudah lebih tenang.“
Arkana hanya mengangguk, namun ia tidak langsung masuk kembali. Ia tetap di lorong itu, kini ia benar-benar merasa sendirian.
Esoknya...
Suasana kantor Maskapai Penerbangan Nusantara hari itu lebih ramai dari biasanya. Selain kabar perceraian Arkana dan Leya yang jadi bahan pembicaraan karena perselingkuhan Arkana dengan Shanaz, kini muncul gosip baru tentang Kaisar.
Beberapa pilot dan pramugari berkumpul di sekitar ponsel salah satu pilot, mereka semua sedang melihat sebuah berita tentang Kaisar.
“Astaga, ini serius?“
“Aku kira cuma rumor.“
“Tapi fotonya jelas sekali.“
“Pantas saja...“
Leya yang baru datang merasa ada sesuatu lagi seperti hari sebelumnya.
“Kapten Leya, sini.“ Seorang pramugari yang sudah cukup dekat dengan Leya memanggil.
Leya mendekat, dia menatap layar ponsel yang disodorkan padanya. Di sana ada sebuah artikel internal perusahaan sedang beredar di berbagai grup kru. Ada foto lama, seorang pria berdiri santai sambil tersenyum. Di sampingnya seorang wanita yang lebih muda berdiri merangkul lengan pria itu.
Foto itu adalah foto Kaisar dan Kikan. Dan di belakang mereka berdiri pasangan paruh baya yang sangat elegan. Orang tua mereka, dan Leya langsung mengenali pasangan itu. Mama Kartika dan suaminya.
Ada tulisan di bawah foto itu membuat mata Leya membesar.
“Terungkap, Kapten Kaisar adalah pewaris Maskapai Penerbangan Nusantara sekaligus kakak kandung dari Wakil Presdir, Bu Kikan.“
Leya membaca kalimat itu dua kali, tatapannya kembali pada foto Kaisar dan Kikan yang sangat akrab, dan dadanya terasa aneh.
Kaisar, kakak kandung Bu Kikan? Dan dia adalah... pewaris Maskapai?
Leya seketika teringat banyak hal, pertemuan di akademi. Sikap Kikan yang kadang terasa berbeda saat menatap Kaisar. Namun selama ini ia tidak pernah berpikir sejauh itu.
Leya mengusap pelipisnya pelan, ia tak terkejut soal orang tua Kaisar. Namun, Kikan adalah adik dari pria itu. Hal itu benar-benar di luar dugaan. Tiba-tiba wajah Leya terasa panas, ia teringat sesuatu. Hari ketika ia melihat Kaisar tertawa bersama Kikan di lorong, dia merasa cemburu dan salah paham pada pria itu.
Leya mengusap wajahnya. “Malu banget.“
“Kapten Leya... kalian sudah akrab sejak di akademi, kamu nggak tau identitas Kapten Kaisar?“ Seorang kapten pilot, teman satu angkatan bicara pada Leya.
Leya menggeleng, “Tidak.“
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan pergi.
Di sisi lain gedung maskapai, Kaisar berdiri di dekat jendela lounge pilot. Ponselnya terus berbunyi, pesan demi pesan masuk. Sebagian pesan dari rekan kerjanya yang baru mengetahui indentitasnya. Bahkan, di grup pilot pun sangat ramai.
“Bro... kenapa lo nggak pernah bilang?“
“Gila! Selama ini kita kerja bareng anak pemilik maskapai!“
“Kapten Kaisar ternyata bos kita!“
“Untung pas di akademi, gue nggak pernah bikin Kaisar marah.“
Kaisar membuka obrolan di grup chat, matanya membelalak. “Sial! Aku belum jujur sama Leya! Aku harus pergi mencarinya...“
Namun belum sempat dia melangkah, suara langkah kaki terdengar. Kaisar menoleh, itu Leya. Ketika mata mereka bertemu, wanita itu sontak berbalik hendak pergi. Kaisar langsung berjalan cepat mengejar Leya.
“Leya, tunggu!“
Wanita itu berhenti, tapi dia tidak menoleh. Kaisar berdiri di belakang, suasana di lounge terasa tegang. Beberapa kru yang lewat sengaja melambatkan langkah mereka untuk menonton. Apalagi kini semua orang di maskapai, hampir tau siapa Kaisar sebenarnya.
Namun Kaisar tak perduli, ia hanya fokus pada Leya. Ia takut wanita itu marah dan membencinya.
“Leya, dengarkan aku.“
Leya masih membelakanginya, “Kamu tidak perlu menjelaskan apapun padaku, itu hak-mu.“
Nada suara Leya terdengar kaku, seperti saat pertama kali mereka bekerja satu tim di akademi. Ada jarak yang terlihat.
“Kalau kamu marah—“
“Aku nggak marah.“ Leya dengan cepat memotong.
Kaisar semakin bingung. “Kalau nggak marah, kenapa kamu menghindar? Berbalik lah, dan tatap aku.“
Beberapa detik hening, akhirnya Leya membalikkan tubuhnya menghadap Kaisar. Namun wajah wanita itu sedikit memerah.
“Ada apa dengan wajahmu? Kenapa memerah begitu? Kamu marah padaku, kan?“ Kaisar menyadarinya.
Leya menatapnya dengan kesal. “Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau Kikan itu adikmu? Jadi dia yang dulu masih dalam kandungan Tante Kartika... waktu kalian pindah, ya.”
Kaisar berkedip. Ia sempat membuka mulut, tapi akhirnya hanya terkekeh pelan.
Leya mendengus. “Aku sampai malu sendiri. Kemarin... bahkan aku sempat menyamakan kamu dengan Arkana. Kupikir kamu juga tipe pria yang suka wanita muda, tapi masih sempat menggombaliku. Aku benar-benar mengira kalian punya hubungan khusus. Dan, aku—“
“Kamu cemburu, kan?” Kaisar tersenyum lebar.
“Itu…” Leya tidak bisa menjawab.
Kaisar langsung tertawa, tawa yang terdengar sangat lega dan bahagia.
“Diam! Kenapa kamu malah ketawa? Aku jadi seperti badut saja!” gerutu Leya kesal.
Kaisar masih tersenyum. “Aku ketawa karena senang, Leya. Kalau kamu cemburu, berarti masih ada harapan untukku.”
Leya tidak membantah.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kaisar menggenggam tangan wanita itu.
“Kamu nggak harus buru-buru, Leya. Kalau memang belum siap, aku bisa menunggu. Tapi mulai sekarang… jangan menyangkal perasaanmu lagi. Dan soal identitasku… maaf karena aku sempat menyembunyikannya.”
Kaisar lalu mengusap pipi Leya dengan lembut.
Leya tak mengatakan apapun, tetapi tatapannya sudah cukup menjelaskan semuanya jika dia memang mempunyai perasaan pada Kaisar.
Tak jauh dari mereka, seseorang mengepalkan tangan... Rafi. Dialah yang sengaja membongkar identitas Kaisar yang baru saja dia ketahui setelah menyelidikinya. Dia ingin semua orang menghakimi pria itu karena telah menyembunyikan identitas dan berpura-pura menjadi seorang trainee di akademi. Bahkan ia berharap Kaisar dan Leya saling bermusuhan.
Rafi membenci mereka berdua. Saat ini ia hanya seorang co-pilot, setelah ia gagal mendapatkan lisensi kapten pilot. Ketika mengetahui identitas Kaisar, kebenciannya semakin besar. Ia meyakini, jika Leya bisa lulus lisensi kapten pilot karena bantuan Kaisar.
Padahal semuanya murni karena kemampuan Leya sendiri. Namun Rafi tidak mau menerima itu, dendam tumbuh di dalam hatinya.
tapi awas bikin gosip yg gak bener tentang Leya atau Kaisar, Bu wa bahaya untuk mu sendiri itu
kak author gx sxan di basmi aj si rafi ini ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁
krn di balik suami yg sukses pasti ad istri hebat yg berkorban ,,
bukan pelakor yg berkibar oleh angin sesaat ,,
saat angin berhenti ia akan mencoba trap berkibar dg cara apa aja Sekali pun dg cara yg kotor/Smile//Smile//Smile/