Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas pembantu : 22
Sepersekian detik Siska tak bereaksi, seperti orang linglung. Wajahnya terasa panas sampai merambat ke telinga, hampir saja dia kelepasan mengumpat.
“Maaf, Nyonya. Saya kecapean, kemarin seharian menjaga Alamsyah,” dustanya dengan suara seperti orang berkumur-kumur.
Helyara mendengus dalam hati, masih dengan memandangi wajah sedikit pias. “Cuci muka sana! Terus bersihkan rumah. Ini sudah hampir jam tujuh pagi — lampu belum dimatikan, gorden masih tertutup rapat, lantai banyak debu berpasir, dan barang-barang kalian semalam tergeletak begitu saja. Hunian saya sudah mirip penginapan gratisan.”
“Baik, Nyonya.” Angguknya cepat-cepat, tanpa berani menatap bukan dikarenakan takut, tetapi khawatir kalau tidak bisa menahan diri berakhir kedoknya terbongkar.
“Kamu gak punya rasa simpati sama sekali ya, Helya? Siska itu kecapean, wajar kalau kesiangan bangun!” seru suara menahan kesal di belakang tubuh wanita belum beranjak dari sana.
Siska merasakan angin segar. ‘Mampus kamu terus-terusan diserang semua orang. Buruan nangis, aku paling senang melihat wajahmu berderai air mata,’ ia tak jadi masuk ke dalam rumah.
Gerakannya tidak tergesa-gesa, memutar badan lalu bersitatap dengan wanita berambut sebahu, memakai baju tidur pendek.
“Kalau mbak Zanaya kasihan, silahkan bantu meringankan pekerjaan rumah Siska,” usulya tenang.
“Enak saja. Aku tamu disini, masa disuruh bersih-bersih?” kelakar Zanaya seraya berkacak pinggang. Dia berdiri di teras dapur, berjarak satu meter dari pintu kamar pembantu.
Helya juga meniru gaya kakak iparnya, bersedekap tangan. “Tamu itu datangnya sekali-kali, bukan hampir tiap hari. Jika mbak Zanaya merasa tamu, harusnya tau diri, jangan ikut campur Nyonya rumah yang sedang mendisiplinkan pembantunya.”
Telak, balasan itu menusuk ke ulu hati, membungkam mulut yang sering menyindir sampai Helyara merasa kerdil.
“Kamu nunggu apalagi, Siska? Bukannya cepat-cepat cuci muka, malah berdiri di sana. Atau menantikan dibela sana-sini, iya?” tuduh Helya, menyimpan kepuasan tersendiri melihat dua wanita gagal membuatnya merasa tak berarti.
“Maaf, Nyonya.” Siska berlari masuk ke dalam kamar mandi.
“Mbak Zanaya kenapa belum siap-siap? Mau libur lagi? Kali ini apa alasannya?” cecar Helya, kasih mempertahankan raut tenang, suara sedang.
“Ini aku mau mandi.” Ia berbalik badan, masuk ke dalam rumah.
‘Kalian pikir — tekanan, cemoohan, kata-kata kejam masih memiliki efek dahsyat bagi mental dan hatiku? Salah besar!’ Helya juga masuk ke dalam rumah.
Gorengan tadi dibeli, ditaruh ke atas piring, begitu juga bubur pulut hitam disiram kuah santan. Helya membawa nampan ke ruang tengah. Dari sini bisa melihat ke tempat lainnya. Ia duduk tenang, menikmati sarapan paginya.
Siska masuk lewat pintu belakang, lalu mengambil sapu dan serokan, pada pundak tersampir kain lap.
Setiap gerakan pembantu mulai membersihkan rumah — menyibak gorden, mematikan lampu, dan sekarang sedang menyapu dengan wajah tertunduk, tidak luput dari mata tajam Helyara.
‘Sadar dirilah! Sampai kapanpun kamu gak akan bisa menggantikan posisiku sebagai nyonya rumah,’ batinnya berkelakar, mulut mengunyah bakwan goreng sambil menggigit cabai rawit.
Bi Mirma sudah bercerita banyak, dia mengatakan kalau selama Siska masuk ke dalam rumah Helyara, lebih banyak bersantai daripada bekerja.
Wanita itu sibuk melakukan perawatan selagi sang nyonya mendekam terus di ruang kerja.
‘Baru kusadari dia memiliki kulit putih, halus, dada besar, bokong montok. Kamu sukses besar memakai uangku untuk mempercantik diri,’ diam-diam Helya memperhatikan Siska yang menyapu lantai hendak melewati ruang tengah.
Siska tidak memakai celana panjang seperti biasa, tetapi selutut. Kaosnya pun tak selonggar sebelumnya, sekarang terlihat sedikit mempertontonkan lekuk tubuh.
Helyara yang dulu sudah terlanjur percaya, dan selalu memanusiakan manusia, sangat menghargai orang, tak pernah membeda-bedakan lewat kasta, enggan memperhatikan secara detail kedua pembantunya.
Sekarang matanya terbuka lebar, otak bekerja keras menghasilkan pemikiran kritis, tajam.
Banyak hal tak terlihat, satu persatu tampak seolah sengaja muncul ke permukaan dengan sendirinya.
Hari masih pagi, Siska sudah merasa kegerahan. Ac dalam rumah telah dimatikan, dan dia tidak terbiasa bekerja sebanyak ini.
‘Awas kamu gendut, bakalan kubalas nanti!’ dia terus menggerutu, menyumpahi. Rasanya sulit sekali menahan diri, terlebih mencium bau masam ketiak, badan lengket keringat.
Selesai menyapu, Siska mengelap perabotan rumah yang tidak banyak. Helyara termasuk pribadi simpel, tak suka membeli barang pajangan.
Pintu kamar tamu sayap kiri rumah dibuka, Ganira dalam tampilan baru bangun tidur, memakai daster, rambut digelung tanpa disisir lebih dulu, berniat pergi ke dapur.
Namun langkahnya terhenti mendapati menantunya duduk berleha-leha sambil makan bubur.
Ganira juga melihat Siska yang naik kursi pendek, sebelah tangan memegang piring antik, satunya lagi menggerakkan kain lap.
“Helya, siapkan sarapan buat Mama sama Papa! Banyakin santan ke bubur!” titahnya berdiri disamping menantunya.
Ditelan dulu suapan terakhir bubur, lalu meneguk teh hangat yang juga dibeli. Barulah dia menjawab tanpa mau menatap. “Suruh Siska, itu tugas dia.”
“Kamu gak lihat dia lagi sibuk?” suaranya mulai meningkat.
“Mama juga gak lihat apa, aku sedang menikmati sarapan?” sahutnya berani.
Andai saja Alandi tidak memperingati, sudah diajak bertengkar Helyara.
Ganira melengos ke dapur, dan tak lama kemudian teriakannya terdengar sampai depan.
Suara langkah kaki menghentak lantai, dia tidak menemukan sesuatu bisa di makan terhidang di atas meja.
“Kamu gak ada beliin Mama sama Papa dan lainnya sarapan?!”
“Buat apa? Yang ada percuma.” Sudut mata Helyara berkerut memandang seuntai kalung emas hasil rancangannya yang bertengger manis di leher ibu mertua.
“Kamu nanya buat apa? Ya untuk dimakan. Gak ada inisiatifnya sama sekali dirimu!” Ganira terpancing emosi, terlebih sikap Helyara santai sekali.
“Mama belum lupa banyaknya kejadian di masa lalu, kan? Sini aku ingetin! Setiap kali Mama sama Papa datang, aku berusaha sebaik mungkin menyiapkan sarapan, tapi bukan mendapatkan pujian, terus kritik pedas dilontarkan,” ia berhenti sebentar, mengelap telapak tangan berminyak menggunakan tisu.
“Yang rasa bakwan hambar, tahu isi keasinan, santan bubur keenceran, sambal lontong sayur kepedasan, masih banyak lagi. Gak ada yang bener, berakhir sarapan kubeli menjadi penghuni tong sampah. Berarti tindakanku kali ini cuma beli menu sarapan untuk diri sendiri udah tepat, kan?” senyumnya mengandung ejekan.
“Keterlaluan kamu, Helya!” bentak Ganira.
Kartika yang sedari tadi menguping, berjalan mendekat, berdiri di samping neneknya, mencari perlindungan sebelum berkata-kata tajam.
“Pantesan Tante mandul, soalnya pelit banget jadi orang. Makanya gak hamil-hamil sampai sekarang,” cibirnya dengan berani menatap mencemooh persis sang nenek kalau lagi memarahi Helyara.
“Sini kamu, aku ajari caranya bersikap terhadap orang lebih tua.” Tangan Kartika ditarik sampai terlepas dari genggaman Ganira, dan badannya menabrak sofa.
.
.
Bersambung.
sukuriiinnn..ketahuan yaaahhh..kalo habis maen kuda²an sama SiAlan....
pas ini untuk menyerang memojokkan
tapi gas tipis2 Heelll
blm waktunya membantai habis
aku suka..aku suka...
injek sekuat tenaga, Hel...
klo bisa, aku bantuin nginjeknya dah 🤭