"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Dewi Suryanegara Tiba
Adikku, aku datang.
Empat kata itu menyala di layar ponsel Arya, sederhana dan tajam.
Di atas gang sempit, helikopter hitam bergerak rendah. Anginnya menampar kabel listrik, menggoyang jemuran warga, dan membuat beberapa anak kecil berlari keluar sambil menunjuk langit. Lampu merah di badan helikopter berkedip di tengah hujan tipis seperti mata yang tidak mau berkedip.
Pak Satria langsung berdiri di depan Arya.
"Tuan Muda, mundur sedikit."
Arya tidak bergerak. Ia mengenali helikopter itu. Bukan dari nomor registrasinya, bukan dari warna badannya, melainkan dari cara pilotnya menahan posisi di udara dengan nekat tetapi presisi. Hanya satu orang di keluarga yang suka datang seperti badai dan tetap menganggap itu cara paling sopan untuk menyapa.
"Kak Dewi," kata Arya pelan.
Pak Satria menoleh cepat. Ketegangan di wajahnya melembut, tetapi hanya sedikit. "Nona Dewi datang sendiri?"
"Kalau dia tidak datang sendiri, dia bukan Dewi."
Helikopter itu tidak mendarat di gang. Pilotnya membawa pesawat ke lapangan kosong di belakang deretan ruko yang belum selesai dibangun, sekitar dua ratus meter dari kontrakan. Suara baling-balingnya mengguncang malam. Beberapa warga merekam dengan ponsel, berbisik-bisik menyebut orang kaya, pejabat, atau artis.
Arya berjalan ke arah lapangan.
Pak Satria mengikuti setengah langkah di belakang, payung masih di tangan. Dua mobil hitam yang sejak tadi menjaga jarak ikut bergerak, lampunya menyala rendah. Semua dilakukan cepat, rapi, tanpa kepanikan.
Pintu helikopter terbuka sebelum baling-baling sepenuhnya berhenti.
Seorang perempuan turun.
Jaket kulit merahnya menyala di bawah lampu lapangan yang remang. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya cantik dengan garis tegas, dan langkahnya membuat tanah basah seolah tidak pantas mengotori sepatunya. Dua pengawal ingin turun mengikuti, tetapi ia mengangkat tangan tanpa menoleh. Mereka berhenti.
Dewi Suryanegara berjalan lurus ke arah Arya.
Beberapa meter sebelum sampai, wajah kerasnya retak.
"Arya."
Ia memeluk Arya begitu saja.
Pak Satria menunduk, memberi ruang. Arya berdiri kaku beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangan dan membalas pelukan itu.
Aroma hujan, bahan kulit, dan parfum mahal bercampur di udara. Selama tiga tahun, banyak orang memanggilnya sampah, benalu, pengemis. Dalam pelukan Dewi, ia mendadak teringat bahwa sebelum semua penyamaran ini, ia pernah menjadi adik seseorang.
"Kamu kurus," kata Dewi, suaranya tertahan.
"Kakak turun dari helikopter di tengah gang hanya untuk mengatakan itu?"
Dewi melepas pelukan dan langsung memukul pelan bahunya. "Masih bisa bercanda. Berarti belum mati."
"Maaf mengecewakan."
Mata Dewi memerah, tetapi ia segera menguasai diri. "Aku melihat foto-foto itu."
Arya melirik Pak Satria.
Pak Satria menjawab cepat, "Saya belum mengirim ke Nona Dewi."
"Aku punya orang sendiri," kata Dewi dingin. "Dan orang-orang itu baru saja memberitahuku bahwa adikku diperlakukan seperti pencuri ayam oleh keluarga yang bahkan tidak mampu berdiri tanpa kontrak Takdir."
Nada suaranya naik di akhir kalimat. Dua pengawal di dekat helikopter menunduk lebih dalam.
Arya mengambil payung dari Pak Satria dan mengarahkannya ke atas kepala Dewi. "Jangan marah di sini. Warga sedang merekam."
Dewi menatap beberapa ponsel yang menyala dari kejauhan. Senyumnya muncul, tipis dan berbahaya.
"Bagus. Biar mereka rekam. Setidaknya Kota Awan tahu ada orang yang masih datang menjemputmu."
"Aku belum butuh dijemput."
"Kamu selalu bilang begitu."
Mereka masuk ke kontrakan lama Arya. Tempat itu kecil: ruang depan dengan meja kayu, kipas angin tua, rak besi berisi berkas, dan satu kamar kerja yang lampunya masih menyala. Tidak ada barang mewah. Tidak ada lukisan. Tidak ada tanda bahwa pemilik ruangan ini mengendalikan perusahaan bernilai ratusan triliun rupiah.
Dewi berdiri di ambang pintu, melihat sekeliling. Rahangnya mengeras.
"Jadi ini tempatmu bekerja selama tiga tahun?"
"Salah satunya."
"Sinta Permata tahu?"
"Menurutmu?"
Dewi tertawa tanpa humor. "Perempuan itu buta."
Arya menggantung kemeja basahnya di kursi, lalu mengambil jaket hitam dari rak. "Kenapa Kakak datang malam ini? Bukan hanya karena foto."
Dewi duduk, tetapi tubuhnya tidak rileks. Ia meletakkan sebuah map hitam di atas meja.
Pak Satria menutup pintu dan berdiri di sisi ruangan.
"Keluarga bergerak," kata Dewi.
Arya tidak menunjukkan perubahan, tetapi matanya menjadi lebih dalam.
"Prabu?"
"Siapa lagi?" Dewi membuka map itu. Di dalamnya ada salinan notulen rapat keluarga, struktur cabang, dan beberapa foto orang-orang tua di sebuah ruang rapat mewah. "Tetua Agung Prabu mengadakan rapat tertutup dua hari lalu. Topiknya: status ahli waris utama."
"Danang?"
"Dicabut."
Arya mengangkat alis.
Danang Suryanegara, sepupu yang selama ini dipamerkan sebagian cabang sebagai calon penerus, akhirnya membuat kesalahan terlalu besar. Dalam laporan singkat itu, ada catatan tentang investasi gagal, penyalahgunaan dana cabang, dan sebuah skandal yang cukup memalukan untuk membuat para tetua tua kehilangan kesabaran.
"Mereka ingin aku pulang," kata Arya.
"Mereka ingin kamu duduk di kursi Kepala Keluarga ke-59." Dewi menatapnya lurus. "Secara resmi."
Ruangan itu hening.
Di luar, suara helikopter mulai melemah. Hujan memukul atap seng kontrakan dengan irama rapat.
Pak Satria menahan napas. Ia sudah lama menunggu kalimat itu. Selama bertahun-tahun, ia menjaga aset, dokumen, dan loyalis Arya bukan hanya demi Takdir, tetapi demi hari ketika nama Suryanegara kembali memanggil pemiliknya.
Arya mengambil satu lembar dari map.
Di sana tercetak garis silsilah keluarga, dingin dan bersih. Nama Bagaskara Suryanegara berada satu baris di atas namanya. Di samping nama itu ada catatan kecil: meninggal dalam kecelakaan.
Jari Arya berhenti di kata itu.
Kecelakaan.
Kata yang terlalu ringan untuk malam ketika mobil ayah dan ibunya ditemukan terbakar di jalur pegunungan. Kata yang terlalu rapi untuk laporan polisi yang selesai terlalu cepat. Kata yang terlalu nyaman bagi orang-orang yang langsung berebut kursi setelah Bagaskara menghilang.
"Tidak," kata Arya.
Dewi memejamkan mata, seolah sudah memperkirakan jawaban itu tetapi tetap sakit mendengarnya. "Arya."
"Aku tidak akan pulang untuk menjadi boneka mereka."
"Kamu tidak harus menjadi boneka. Aku akan berdiri di belakangmu. Cabang Kota Purnama akan ikut. Pak Satria punya jaringan Takdir. Banyak cabang masih menghormati nama paman Bagaskara."
"Menghormati orang mati itu mudah." Suara Arya rendah. "Membela kebenaran tentang kematiannya, itu berbeda."
Dewi menggenggam tepi meja. "Kamu masih yakin kecelakaan itu direncanakan."
"Kakak tidak?"
Dewi tidak langsung menjawab.
Itu cukup.
Arya meletakkan lembar silsilah kembali ke meja. "Ayahku terlalu teliti untuk mati karena rem blong. Ibuku terlalu pintar untuk naik mobil tanpa memeriksa rute. Dan Prabu terlalu cepat mengunci akses ke arsip keluarga setelah pemakaman."
Pak Satria menunduk, wajahnya gelap.
Dewi berbisik, "Aku juga mencurigainya. Tapi mencurigai Prabu dan membuktikan Prabu adalah dua dunia yang berbeda. Orang tua itu tidak pernah meninggalkan sidik jari."
"Karena itu aku tidak pulang."
"Kalau kamu tetap di luar, dia akan mengirim orang."
"Biarkan."
Dewi berdiri. "Kamu bicara seolah ini cuma Revan Hadinata dan Keluarga Permata. Ini Prabu Suryanegara, Arya. Dia memegang Dewan Tetua, sebagian cabang, Balai Bayangan, dan terlalu banyak rekening yang bahkan tidak muncul di laporan keluarga."
Arya menatap kakaknya. "Aku tahu."
"Kalau begitu kenapa kamu masih setenang ini?"
Arya mengambil tablet dari meja, membuka laporan PT Takdir, lalu memutarnya ke arah Dewi. Grafik aset, kontrak, dana cadangan, dan struktur kepemilikan muncul satu per satu.
"Karena selama tiga tahun mereka mengira aku hanya bersembunyi." Ia mengetuk layar. "Aku tidak bersembunyi, Kak. Aku membangun."
Dewi menatap layar.
Angka-angka itu membuat bahkan dirinya terdiam.
PT Takdir Nusantara Group bukan lagi perusahaan daerah yang bisa diperintah keluarga seenaknya. Di bawah tangan Arya, ia sudah menjadi mesin uang, jaringan kontrak, basis loyalitas, dan benteng yang berdiri di luar kendali langsung Dewan Tetua.
Pelan-pelan, senyum Dewi kembali.
"Jadi adikku tidak cuma dipukuli kata-kata selama tiga tahun."
"Aku juga belajar sabar."
"Dan sekarang?"
Arya menutup tablet. "Sekarang aku ingin tahu siapa yang akan bergerak dulu. Revan, Permata, atau Prabu."
Suasana ruangan berubah.
Untuk pertama kalinya malam itu, Dewi tidak melihat Arya sebagai adik yang baru diusir dari rumah mertua. Ia melihat calon kepala keluarga yang memilih medan perang sendiri.
Ponsel Pak Satria bergetar.
Pria tua itu melihat layar, lalu wajahnya langsung mengeras.
"Tuan Muda," katanya, "tim luar melihat kendaraan mencurigakan di ujung gang. SUV gelap. Dua orang di dalam. Salah satunya memakai lensa pengawas."
Dewi berbalik ke jendela.
Arya berjalan mendekat dan sedikit membuka tirai.
Di ujung gang, di bawah lampu jalan yang hampir mati, sebuah SUV hitam terparkir tanpa lampu. Kacanya gelap. Tetapi dari sela hujan, Arya melihat kilatan kecil dari balik kaca depan.
Lensa.
Seseorang sedang mengamati kontrakan itu.
Dewi tersenyum dingin. "Cepat juga."
Pak Satria bertanya pelan, "Perintah Anda, Tuan Muda?"
Arya menutup tirai.
"Jangan sentuh mereka."
Dewi menoleh. "Kamu yakin?"
"Kalau mereka datang untuk melihatku jatuh, biarkan mereka melihat." Mata Arya dingin. "Besok malam, aku akan memberi mereka sesuatu yang layak dilaporkan."