NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Luka Lama Sebastian

Hujan turun sejak sore dan berubah menjadi badai menjelang pukul sebelas malam.

Air menghantam jendela Kediaman Wijaya tanpa jeda. Sesekali kilat memutihkan kamar, disusul guntur yang membuat Lucas bergerak gelisah dalam tidur.

Karina bangun untuk menarik selimut anak itu sampai ke bahu. Nathan tidur di sisi lain, satu tangan masih berada dekat bantal adiknya. Setelah memastikan keduanya tidak terbangun, Karina mengambil air minum dan keluar kamar.

Koridor lantai dua hanya diterangi lampu dinding.

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika mendengar suara tertahan dari arah ruang kerja kecil di ujung sayap.

Seperti seseorang menahan napas setelah terbentur.

Karina berhenti dan mendengarkan.

Suara itu datang lagi, lebih rendah. Sebuah erangan yang segera dipotong.

Pintu ruang kerja tidak tertutup rapat. Karina mengetuk dua kali. "Sebastian?"

Tidak ada jawaban.

Ia mendorong pintu.

Sebastian duduk miring di sofa dengan jas tergeletak di lantai. Satu tangannya mencengkeram sisi lutut kiri, tangan lain menahan sandaran. Wajahnya pucat. Keringat membasahi pelipis meski pendingin ruangan tidak terlalu hangat.

"Apa yang terjadi?"

"Nggak apa-apa."

Jawaban itu terdengar seperti kebohongan yang terlalu sering dipakai.

Karina mendekat. "Anda jatuh?"

"Luka lama. Pergi tidur."

Sebastian mencoba meluruskan kaki. Otot rahangnya mengeras dan napasnya terputus.

"Kalau sakit sampai berkeringat dingin, itu bukan nggak apa-apa. Ada kebas? Kaki terasa dingin?"

"Tidak. Cuma nyeri biasa kalau hujan."

Karina tidak punya dasar untuk mendiagnosis penyebabnya. Namun ia tahu nyeri lama dapat membuat otot sekitar menegang, dan Sebastian masih bisa menggerakkan jari kaki. Tidak tampak luka baru atau perubahan warna mendadak.

"Saya panggil dokter."

"Tidak perlu."

"Kalau makin parah, tetap harus diperiksa. Untuk sekarang, saya ambil kompres hangat."

Karina keluar sebelum Sebastian sempat menolak lagi. Bi Asih rupanya belum tidur. Perempuan itu muncul dari ujung tangga setelah mendengar pintu dibuka, lalu wajahnya berubah ketika Karina menjelaskan keadaan.

"Luka Pak Sebastian sering sakit kalau hujan besar," katanya. "Biasanya beliau mengunci diri sampai reda."

"Ada handuk dan air hangat?"

Bi Asih segera membawa baskom kecil, dua handuk, dan minyak gosok yang biasa disimpan di lemari obat. Ia ikut masuk, meletakkan semuanya di meja, lalu memandang Sebastian dengan khawatir.

"Saya panggil dokter keluarga saja, Pak?"

"Tidak," jawab Sebastian. "Bi Asih istirahat."

Bi Asih ragu. Karina mengangguk kecil. "Saya awasi sebentar. Kalau ada kebas, bengkak mendadak, atau sakitnya tidak turun, kita tetap panggil bantuan."

Perempuan tua itu akhirnya keluar dan menutup pintu setengah.

Karina memeras handuk. "Saya perlu lihat bagian yang sakit."

"Karina."

"Diam dulu. Aku cuma mau bantu."

Kata aku keluar tanpa direncanakan. Sebastian juga menyadarinya. Tatapannya terangkat, tetapi gelombang nyeri berikutnya membuat ia kembali mencengkeram sofa.

Karina berjongkok dan menggulung kain celana sampai di bawah lutut. Sebuah bekas luka panjang terlihat di sisi luar betis, warnanya lebih pucat daripada kulit sekitarnya. Otot di dekatnya terasa kaku, tetapi tidak ada bengkak baru yang jelas.

Ia menempelkan handuk hangat perlahan.

Sebastian mengembuskan napas kasar. Bahunya turun sedikit.

"Terlalu panas?"

"Tidak."

Karina mengganti posisi kompres setelah beberapa menit. Ia hanya mengoleskan sedikit minyak gosok di sekitar otot yang tegang, tidak tepat di bekas luka, lalu mengusap ringan tanpa menekan bagian yang paling sakit.

"Bekas operasi?" tanyanya.

Sebastian menatap hujan di balik jendela. "Tidak pernah dioperasi."

"Lukanya cukup panjang."

"Karena terlambat ditangani."

Jawaban itu membawa Karina kembali pada catatan di laci. Elina. Sebastian yang tidak dianggap sebagai anak mereka.

Ia tidak menyebut kertas tersebut. "Kejadiannya kapan?"

Sebastian diam begitu lama sampai Karina mengira ia tidak akan menjawab.

"Waktu saya kecil," katanya akhirnya. "Saya jatuh dari tangga saat lari dari Mama Susan."

Tangan Karina berhenti sepersekian detik sebelum melanjutkan kompres.

"Kenapa Anda lari?"

"Dia mau mengunci saya lagi."

Suara hujan mengisi jeda.

Sebastian biasanya berbicara seperti setiap kata sudah dipilih sebelum keluar. Malam ini, mungkin karena nyeri atau lelah, kalimatnya datang tidak serapi itu.

"Ibu saya bernama Elina," lanjutnya. "Dia pernah bekerja membersihkan rumah keluarga Wijaya."

Nama itu jatuh tepat ke pusat kecurigaan Karina.

Ia tetap menunduk agar Sebastian tidak melihat perubahan wajahnya.

"Susan suka mengatakan di depan orang bahwa Elina cuma tukang bersih-bersih yang bermimpi menjadi nyonya besar. Dia menyebarkan cerita seolah ibu saya sengaja menggoda Herman untuk uang."

"Itu benar?"

"Tidak penting bagi mereka apa yang benar."

Sebastian menekan kedua telapak ke sofa. "Orang tua Elina tinggal di lingkungan yang sama. Mereka dihina, didatangi penagih yang bukan utang mereka, dan dibuat percaya seluruh keluarga akan hancur karena satu anak yang lahir. Pada akhirnya mereka menelan racun. Keduanya meninggal."

Karina merasakan tenggorokannya mengencang.

Sebastian menceritakannya tanpa nada, justru membuat setiap kata terasa lebih berat.

"Setelah Elina tidak ada, saya tetap dibawa ke rumah keluarga. Bukan sebagai anak. Lebih seperti bukti kesalahan yang tidak bisa mereka buang di depan umum."

"Berapa usia Anda?"

"Cukup kecil untuk percaya kalau saya diam dan patuh, mereka akan berhenti marah."

Ia tertawa sekali, tanpa humor.

"Susan bilang rumah itu tidak punya tempat untuk saya. Kalau Herman pergi, saya sering dikunci di gudang. Kadang sehari. Kadang lebih. Makanan diberikan kalau ada orang yang ingat."

Karina menunduk lebih dalam. Dalam benaknya muncul seorang anak kurus di balik pintu gudang, menunggu langkah orang dewasa dan mencoba menebak apakah pintu akan dibuka untuk makanan atau hukuman. Gambarnya terlalu mirip dengan Nathan di rumah Cibungur.

"Malam saya jatuh, saya berhasil membuka jendela gudang," kata Sebastian. "Saya dengar Susan menyuruh orang mencari. Saya lari ke tangga belakang, terpeleset, dan kaki saya menghantam ujung besi."

"Tidak ada yang membawa Anda ke rumah sakit?"

"Mereka menemukan darah, bukan saya."

Karina mengangkat wajah.

"Saya menyeret kaki hampir dua kilometer ke Puskesmas. Petugas di sana membersihkan luka dan mencoba menghubungi keluarga. Seseorang baru datang beberapa jam kemudian, bukan karena khawatir. Mereka takut orang bertanya kenapa seorang anak datang sendiri."

Kain di tangan Karina mulai mendingin. Ia mencelupkannya kembali ke air hangat agar punya alasan untuk mengatur napas.

"Anda nggak salah apa-apa," katanya. "Waktu itu Anda cuma anak kecil."

Sebastian menoleh cepat.

Ada sesuatu yang basah di matanya, tertangkap cahaya lampu sebelum ia berkedip dan menghilangkannya.

"Kamu bicara seolah tahu."

"Saya tahu anak kecil tidak bertanggung jawab atas kekejaman orang dewasa." Karina menempelkan kembali kompres. "Saya mengatakan hal yang sama kepada Nathan dan Lucas."

Sebastian memandang tangannya yang bekerja di sekitar bekas luka.

"Mereka bertanya soal Opa dan Oma di mobil," kata Karina. "Mereka ingat dibilang membawa sial."

Wajah Sebastian kembali tertutup. "Saya dengar."

"Siapa yang mereka maksud?"

"Bukan malam ini."

Karina ingin mendesak. Namun tubuh Sebastian baru saja mengendur setelah menahan nyeri, dan cerita yang keluar malam ini tampak sudah melampaui batas yang biasa ia jaga.

"Baik," katanya. "Tapi suatu hari saya perlu tahu. Demi mereka."

"Saya tahu."

Setelah hampir dua puluh menit, keringat dingin di pelipis Sebastian berkurang. Ia dapat meluruskan kaki tanpa napas terpotong. Karina menyuruhnya tetap duduk dan menaruh baskom di samping.

"Kalau kambuh lagi malam ini, panggil orang. Jangan menunggu sampai pingsan."

"Kamu selalu memerintah orang di rumahnya sendiri?"

"Kalau orangnya keras kepala, iya."

Kali ini sudut bibir Sebastian benar-benar terangkat, meski hanya sesaat.

Mereka pindah ke balkon tertutup agar suara hujan tidak terasa terkurung di dalam ruangan. Udara malam dingin, tetapi atap lebar menjaga kursi tetap kering. Sebastian duduk dengan kaki ditopang bangku kecil. Karina memilih kursi di sebelahnya, menyisakan jarak yang cukup.

Jakarta tampak kabur di balik tirai air.

Untuk beberapa menit, tak ada yang bicara. Anehnya, diam itu tidak terasa seperti pemeriksaan. Tidak ada pertanyaan yang disusun untuk menjebak dan tidak ada jawaban yang harus dijaga.

Karina ingin mengatakan bahwa ia berharap dapat memeluk anak kecil yang dulu berjalan sendiri ke Puskesmas. Namun lelaki di sampingnya bukan anak kecil, dan rasa iba yang salah bentuk bisa terdengar merendahkan.

Jadi ia hanya duduk.

Sebastian menatap hujan. "Terima kasih."

Suaranya rendah dan serak.

Karina menoleh. "Sama-sama."

HP di meja kecil bergetar.

Layar menyala cukup terang untuk terbaca sebelum Sebastian meraihnya. Pesan dari nomor yang tidak tersimpan muncul di bagian atas.

Masih ingat aku, Sebastian?

Karina sempat melihatnya. Begitu pula Sebastian.

Wajah lelaki itu mengeras seketika. Keheningan yang tadi longgar kembali ditarik rapat. Ia mematikan layar, memasukkan HP ke saku, lalu berdiri dengan hati-hati.

"Siapa itu?" tanya Karina.

"Nggak penting."

"Pesannya terdengar cukup pribadi."

Sebastian mengambil handuk dari sandaran kursi. "Sudah malam. Tidur sana."

Nada datarnya kembali, tetapi tangan di saku mencengkeram HP terlalu kuat untuk seseorang yang benar-benar tidak peduli.

Karina berdiri. Ia tidak berhak menuntut jawaban setelah satu malam percakapan, tetapi perubahan sikap Sebastian terasa seperti pintu yang baru terbuka sedikit lalu dibanting dari dalam.

"Kalau sakitnya kembali, bangunkan Bi Asih," katanya.

Sebastian mengangguk tanpa menatapnya.

Karina berjalan ke pintu balkon. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi. Sebastian masih berdiri di bawah cahaya redup, satu tangan menahan kaki, tangan lain menjaga HP di saku seolah pesan itu dapat melukai lebih dalam daripada bekas luka lama.

Hujan terus turun, dan nama pengirim yang tidak tersimpan ikut tinggal di antara mereka.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!