Seorang gadis cantik berusia sekitar 21 tahun, sebut saja namanya Zhia, malam itu bersama sang kakak dan juga kekasih hatinya mengadakan pesta api unggun untuk merayakan status baru yang saat ini Zhia sandang sebagai kekasih dari pria yang selama ini di incarnya..
Namun naas bagi Zhia dan juga sang kekasih dikarenakan terlalu banyak minum hingga tidak sadar, ketika bangun tidur pagi hari, malah dikejutkan dengan kejadian tak terduga sebelumnya, Zhia entah dengan siapa telah melewati malam panjangnya juga sang kekasih malah meniduri sang kakak..
beberapa bulan kemudian Zhia dinyatakan hamil.. anak siapakah yang ada dalam kandungannya Zhia..
Anak siapa yaa.. penasarann..
ayo simak ceritanya..
Maaf kalau ceritanya amburadul, ku harap kalian suka yaa dengan tulisanku yang perdana ini, masih belajar soalnya 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Sunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Mencoba Ular ?
~ Kediaman Pranata ~
Zhia ternyata dibawa ke sebuah Villa yang terletak dipinggir hutan, sekelilingnya dipenuhi pepohonan yang berjajar disekitar Villa ersebut, sebuah mobil mewah berhenti didepan Villa yang nampak asri dan lumayan mewah walau tidak berdesain modern.
Wang.. Wang.. suara anjing menggonggong seakan tahu kedatangan sang majikan.
Zhia tahu dari suara anjing tersebut pasti sangat besar, secara suaranya saja sampai menggema.
Kalau bukan karena Vano yang membawanya kesini, Zhia tidak mau bertemu dengan hewan itu, dari suaranya saja sudah terdengar sangat menakutkan.
Udara segar pedesaan disini sudah sangat terasa, segar dan asri jauh dari udara yang berada di hiruk pikuk keramaian kota, perjalanan kekota hanya bisa ditempuh dalam setengah jam saja, kehidupan dan pekerjaan pastinya tidak akan tertunda, sangat menyenangkan.
Zhia terkejut saat keluar dari dalam mobil tiba-tiba dua anjing serigala coklat datang menghampirinya, Zhia hanya diam ketakutan seakan lupa bagaimana caranya untuk berteriak, matanya memejam membayangkan kalau gigi runcing anjing itu mengoyak tubuh nya.
Wang.. Wang.. (anggap aja itu suara anjingnya ya)
Anjing itu menggonggong menghampirinya.
Zhia menahan nafas sambil menggigit bibirnya, keningnya berkeringat deras.
Tak lama sosok tinggi gagah muncul dari belakang Zhia, Vano berdiri tegak sambil tersenyum.
"Pikirkanlah nona, apa kau mau jadi mainan anjing-anjingku atau mau berada disisiku setiap saat"
"Tidak" sargah Zhia.
"Kamu tidak takut gigi anjingku mempermainkan tubuhmu, hmm"
Zhia melihat gigi anjing itu yang sangat mengerikan.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" Tanya Zhia mendongakan kepalanya menatap tajam Vano.
"Aku mau kamu, aku telah jatuh hati padamu" jawab Vano tegas tanpa basa basi.
Zhia mengernyit, lalu senyum samar dan membuang muka.
"Kenapa harus saya? Wanita lain juga banyak yang bisa membuat anda jatuh hati pada mereka, selama anda mau mencobanya"
"Kamu sungguh aneh, wanita diluaran sana berlomba-lomba dekati saya, lalu ini apa, kamu malah menolaku, dasar aneh" Vano ketus dan cemberut.
"Aku tidak mau, jangan memaksa" tolak Zhia secara trang-trangan.
"Oh jadi kamu maunya bermain-main sama anjingku itu, pikirkan baik-baik jangan sampai kamu menyesal"
Zhia diam dengan keras kepalanya, entah apa yang dipikirkan Zhia hanya diam tanpa sepatah katapun, Zhia berpikir lama, seandainya ia menjawab "Iya" Zhia merasa benar-benar kehilangan harga dirinya.
Tapi ini si anjing udah didepan matanya siap terkam, apa yang harus Zhia pilih, Zhia rasa mungkin Vano hanya menakut-nakutinya saja, tidak mungkin akan tega jika anjingnya menerkan tubuh mungil Zhia, iya kaaann
"Aku tidak mau denganmu" Zhia mencoba menolaknya ingin melihat keseriusan pria arogannya itu, apakah hanya menakut-nakutinya saja atau beneran akan menjadikannya mainan si anjingnya itu.
Vano mengangkat sudut bibirnya dengan menatap Zhia tajam, lalu dengan suara lantang Vano pun memanggil peliharaannya itu.
"Oke baiklah.. Moly, pluto kemarilah" begitu selesai memanggil peliharaannya itu, Vano pun berbalik pergi sambil melambaykan tangannya ke arah Liam, meniggalkan Zhia bersama kedua anjingnya yang besar-besar itu.
Tiba-tiba anjing itu menerkam Zhia hingga ia jatuh tersungkur ketanah, entah kenapa kedua anjing itu tidak mencabik-cabik tubuh Zhia malah keduanya menjilati wajah Zhia sambil mengibas-ngibaskan ekornya seolah anjing yersebut sedang merindukan majikannya.
Liam pun yang melihat sangat terkejut pada reaksi anjing-anjing besar itu pada Zhia, apa sebenarnya yang terjadi?
"Tuan"
"Hmm.." Vano hanya berdehem sambil mendudukan dirinya di kursi lalu menyalakan sebatang rokok hendak menonton pertunjukan yang akan membuatnya senang..
"Tuan, lihatlah itu" ucap Liam sambil mengarahkan telunjuknya yang di ikuti mata Vano untuk menoleh.
Vano melihat kedua anjingnya yang sedang menjilati wajah Zhia sambil mengibaskan ekornya, Vano menyipitkan matanya.
"Apa-apaan ini"
"Saya tidak tahu apa yang telah dilakukan Nona Zhia pada anjing-anjing itu, Moly dan Pluto menerima Nona, bahkan tidak melukai Nona"
Benar saja, kedua anjing itu nampak benar-benar patuh pada Zhia.
Vano menghela nafas kasar, melempar puntung rokok sembarang arah, lalu dia pun meniup pluit sangat keras.
Kedua anjing yang berada di bawah tak jauh dari Vano pun segera mengangkat kepala dan juga kedua telinga masing-masing, setelah anjing-anjing tersebut telah melihat majikannya yang sedang menatap tajam pada arah mereka, kedua anjing itu pun duduk menunduk seolah menyesal.
Zhia menatap kedua anjing itu, sungguh sangat patuh pada majikannya yang dingin dan kejam itu, liar binasa, eh biasa..
Seperti terhipnotis, anjing-anjing itu sangat penurut.
"Anda mau apa?" tanya Zhia menyipitkan mata ke arah Vano.
"Kau diam saja" ucap Vano menatap wajah putih mungil dengan mata yajam tanpa berkedip, tatapan horor bagi Zhia.
Bagi Vano gadis ini terlalu banyak memberinya kejutan, wajah polos dan lugu namun ternyata pemberani, Vano ingin tahu sebesar apa nyali gadis ini.
"Apa lagi yang akan Tuan lakukan?" Tanya Zhia.
"Apa kau mau mencoba ular?" Vano menyeringai.
Mata Zhia membola kini panik melanda dirinya, ular adalah binatang sangat menakutkan diseluruh jadat novel, untuk bicara pun Zhia seolah tidak bisa saking terkejut dan takutnya.
"Sepertinya kita harus mencobanya" Vano tertawa senang melihat wajah panik gadis itu.
Zhia menatap Vano tak kalah tajamnya, matanya menangkap sebuah kelicikan pada diri Vano, ingin marah namun pria itu pasti akan semakin menjadi.
"Terserah anda saja lah maunya apa" ucap Zhia berusaha mengalah sambil menundukan kepalanya.
Diatas sana, Vano menatap dalam sejenak, lalu membisikan sesuatu ketelinga Liam, lalu menoleh kembali ke arah Zhia.
Liam pun turun kebawah menghampiri Zhia.
"Nona, ikutlah denganku" ucap Liam kembali melangkahkan kakinya menuju kedalam Villa yersebut lalu di ikuti Zhia.
'Ya Tuhan apa ini? Lindungilah hambamu ini, aku gak mau mati ditelan bulat-bulat sama ular besar, aku baru punya anak satu lho Ya Tuhan' batin Zhia yang terus berdoa memohon diselamatkan dari ular yang dia bayangkan sambil mengekor asisten yang sama dinginnya seperti bos brandalnya itu.
"Tidak ada ular di Vila ini Nona, percayalah pada saya" ucap Liam seperti bisa mendengar isi hati Zhia yang tak henti-hentinya berdoa.
Mendengar itu Zhia pun merasa lega, ia terus berjalan mengikuti Liam yang entah akan dibawanya kemana, dibelakangnya ada dua ekor anjing mengikuti Zhia sambil terus mengibaskan ekornya senang.
"Nona, Moly dan Pluto terlihat sangat menyukai anda, tidak biasanya mereka begitu pada orang yang baru ditemuinya, bagaimana cara anda menjinakan mereka?" Tanya Liam penasaran.
Zhia pun menoleh ke arah anjing-anjing itu yang nampak senang melihat nyonya barunya.
"Kenapa saya harus memberitahu anda?" Timpal Zhia, Liam terlihat malu dengan jiwa kekepoannya sendiri.
"Katakan padaku, menapa Tuan Vano melakukan ini padaku, maka aku akan menjawab pertanyaanmu" ucap Zhia
Liam tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tahu rencana Tuan Vano"
Liam berhenti di salah satu pintu, lalu membukanya, Liam pun mempersilahkan Zhia masuk kedalamnya, Zhia mengedarkan pandangannya mengagumi kemewahan kamar itu, dekorasi kayu-kayu bercat warna alami yang terawat sangat indah.
"Silahkan duduk,Nona" titah Liam
Setelah menyuruh duduk disebuah kursi ukiran, Liam pun pergi meninggalkan kamar itu bersama kedua anjing-anjing Tuannya lalu menutup pintu yang terdengar dikunci dari luar.
Zhia menegang dan panik, kenapa harus dikunci?
Zhia bangkit dari duduknya dan berlari dengan cepat kearah pintu tersebut, ternyata benar kalau pintu sudah terkunci dari luar.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara bariton yang mengejutkannya.
"Kalau aku jadi kamu, tidak akan repot-repot berusaha membuka pintu yang sudah terkunci, aku akan diam duduk manis menerima kesenangan yang akan membuat bahagia, kenapa harus mencoba kabur yang akan membuat semua itu sia-sia saja"
Tubuh Zhia membeku, otaknya tiba amburadul, lalu memutar kepalanya sekilas melihat Vano yang hanya mengenakan boxer .
Zhia membelalakan matanya lebar-lebar dan langsung menutup matanya.
'Jangan-jangan yang menonjol itu ularnya'
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
BERSAMBUNG......
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=