Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Kotak yang Tidak Boleh Dibuka
PRANG!
Suara kaca pecah itu masih menggema di seluruh rumah tua.
Tidak ada lagi yang bercanda.
Tidak ada lagi suara tawa Léo.
Bahkan jam tua di dinding seolah ikut berhenti berdetak.
Henri mengangkat telunjuknya.
Memberi isyarat agar kami diam.
Aku bisa mendengar langkah kaki dari lantai bawah.
Pelan.
Teratur.
Bukan langkah pencuri biasa.
Orang-orang itu tahu ke mana mereka datang.
Dan mereka tahu...
Apa yang mereka cari.
"Temukan anak itu."
Suara berat seseorang terdengar samar.
"Jangan biarkan dia membuka kotaknya."
Aku spontan memeluk kotak kayu itu ke dadaku.
Léo berbisik.
"Maël."
"Hm?"
"Kalau mereka sampai bilang jangan dibuka..."
"...berarti isi kotaknya penting."
Aku menatapnya datar.
"Terima kasih."
"Apa?"
"Informasimu sangat membantu."
"Sama-sama."
── Maël kepada kalian ──
Kalian pernah punya teman yang selalu mengatakan hal yang sudah jelas?
Aku punya.
Namanya Léo.
Kalau suatu hari langit runtuh...
Dia mungkin akan berkata,
"Kayaknya hari ini cuacanya kurang bagus."
── Kembali ke cerita ──
Henri bergerak mendekati jendela.
Mengintip sedikit melalui celah tirai.
Wajahnya langsung berubah.
"Empat orang."
bisiknya.
"Bukan."
Marcel ikut melihat.
"Enam."
Henri kembali mengintip.
"Sial..."
"Ada delapan."
Aku mengangkat tangan.
"Maaf."
"Boleh usul?"
Henri menoleh.
"Silakan."
"Bagaimana kalau kita menyerah?"
Léo langsung mengangguk.
"Itu ide bagus."
Aku melanjutkan.
"Lalu kita bilang sebenarnya mereka salah rumah."
Marcel memukul pelan belakang kepalaku.
"Fokus."
"Aduh."
"Ini bukan waktunya bercanda."
"Tapi aku panik."
"Aku tahu."
"Itulah sebabnya kau bercanda."
Aku terdiam.
Marcel benar.
Sejak kecil...
Setiap kali aku takut...
Aku akan mulai mengoceh.
Mulai melawak.
Seolah kalau semua orang tertawa...
Masalahnya ikut mengecil.
Madame Odette membuka lemari tua di sudut ruangan.
Di balik lemari itu...
Ternyata ada pintu kecil.
Aku melongo.
"Rumah ini punya level rahasia?"
Madame Odette tersenyum.
"Rumah tua di Paris..."
katanya pelan.
"...selalu punya cerita."
Pintu itu terbuka.
Di baliknya terdapat tangga batu sempit yang mengarah ke bawah tanah.
Udara dingin langsung menyeruak.
"Terowongan?"
gumamku.
Henri mengangguk.
"Dibangun sejak Perang Dunia Kedua."
Léo langsung bersinar.
"Keren!"
Aku ikut mengangguk.
"Iya."
"Kayak film."
Marcel mendesah.
"Kalian berdua terlalu bahagia."
Belum sempat kami turun...
BRAK!
Pintu depan rumah dihantam dari luar.
Kayunya bergetar keras.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Henri langsung mematikan semua lampu.
Rumah menjadi gelap.
Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
"Turun."
bisiknya.
"Cepat."
Kami mulai menuruni tangga batu.
Anak tangganya licin.
Dindingnya dipenuhi lumut.
Aku berada paling belakang.
Sebelum benar-benar masuk...
Aku sempat melirik ke ruang tamu.
Kotak kayu masih kugenggam erat.
Dan untuk pertama kalinya...
Aku benar-benar penasaran.
Apa yang sebenarnya mereka takutkan?
Apa isi kotak ini?
BRRAAAAK!!
Pintu depan akhirnya jebol.
Suara sepatu bot langsung memenuhi lantai kayu.
"Aman?"
"Tidak ada."
"Cari ke atas!"
Senter mulai menyapu ruangan.
Aku menahan napas.
Léo sampai menutup mulutnya sendiri.
Henri perlahan menutup pintu rahasia.
Tepat sebelum tertutup sempurna...
Aku sempat melihat bayangan seorang pria memasuki ruang tamu.
Di dadanya...
Ada lambang burung layang-layang.
Namun kali ini bukan berwarna perak.
Melainkan emas.
Henri ikut melihatnya.
Wajahnya langsung pucat.
"Tidak mungkin..."
gumamnya.
"Apa?"
bisikku.
Henri menelan ludah.
"Itu..."
"...Kapten mereka."
Aku mengernyit.
"Kapten?"
Henri mengangguk.
"Kalau dia turun tangan sendiri..."
"...berarti mereka benar-benar menginginkanmu."
Terowongan itu ternyata jauh lebih panjang daripada dugaanku.
Langit-langitnya rendah.
Sesekali kami harus menundukkan kepala.
Air menetes dari sela-sela batu.
Suaranya bergema.
Tik...
Tik...
Tik...
"Aku tidak suka tempat ini."
gumam Léo.
"Kenapa?"
"Kalau ada tikus..."
"...aku yang duluan pingsan."
Belum selesai ia bicara...
Seekor tikus kecil berlari melintasi sepatunya.
"AAAAAAAA!"
Léo meloncat.
Aku spontan tertawa keras.
"Lihat!"
"Tikusnya lebih takut sama kau!"
"BOHONG!"
"Tadi dia lihat aku!"
Marcel sampai menahan tawa.
"Kau ini..."
Henri menoleh sebentar.
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Tidak peduli seberapa buruk keadaan..."
"...kalian selalu berhasil membuat suasana ramai."
Aku mengangkat bahu.
"Kalau dunia mau menghancurkan kami..."
"...setidaknya kami tertawa dulu."
Henri tersenyum kecil.
Senyum pertama yang benar-benar tulus sejak kami bertemu.
Sekitar lima belas menit berjalan...
Terowongan itu berakhir di sebuah pintu besi tua.
Henri membuka gemboknya.
Klik.
Begitu pintu terbuka...
Udara malam langsung menyambut kami.
Aku keluar lebih dulu.
Lalu membeku.
Di depan kami terbentang pemandangan Paris dari atas bukit Montmartre.
Lampu-lampu kota berkilauan.
Kubah putih Basilique du Sacré-Cœur berdiri megah di kejauhan.
Musisi jalanan memainkan akordeon.
Pelukis sedang melukis wajah wisatawan.
Pasangan duduk menikmati anggur.
Semuanya terlihat damai.
Sulit dipercaya bahwa hanya beberapa kilometer dari sini...
Ada orang-orang yang ingin membunuhku.
"Bienvenue à Montmartre."
ucap Henri pelan.
"Selamat datang di Montmartre."
Aku memandang kota itu.
Indah.
Sangat indah.
Namun sekarang aku tahu.
Keindahan Paris...
Selalu menyembunyikan bayangan.
"Henri."
panggilku.
"Hm?"
"Aku capek."
"Aku juga."
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Aku capek terus disuruh menunggu."
Henri menatapku.
Aku mengangkat kotak kayu itu.
"Di mana pun kita pergi..."
"...mereka tetap mengejar."
"Kalau begitu..."
"...aku ingin tahu alasannya."
Aku meletakkan kotak itu di atas bangku batu.
Semua orang terdiam.
Madame Odette menarik napas panjang.
Marcel memejamkan mata.
Henri perlahan mengangguk.
"Kau benar."
katanya.
"Sudah terlalu lama."
Aku mengulurkan tangan ke arah tutup kotak.
Kali ini...
Tidak ada suara tembakan.
Tidak ada orang yang mendobrak pintu.
Tidak ada langkah kaki.
Hanya angin malam Paris.
Pelan...
Aku mengangkat tutup kotak itu.
Klik...
Di dalamnya...
Hanya ada tiga benda.
Sebuah surat tua yang masih tersegel.
Sebuah kunci perak kecil.
Dan...
Sebuah foto keluarga.
Namun...
Wajah kedua orang tuaku...
Sengaja dibakar hingga tidak bisa dikenali.
Di bagian belakang foto itu hanya tertulis satu kalimat.
"Jangan pernah percaya siapa pun yang membawa lambang burung layang-layang."
Aku perlahan mengangkat kepala.
Lalu menatap Henri.
Kemudian Marcel.
Lalu...
Pin burung layang-layang yang selama ini kusimpan di sakuku.
Dadaku mendadak terasa sesak.
Kalau pesan itu benar...
Lalu...
Kenapa Henri dan Marcel menyuruhku menjaga pin dengan lambang yang sama?
Dan untuk pertama kalinya...
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Apakah aku benar-benar bisa mempercayai mereka?
── Maël kepada kalian ──
Malam itu aku belajar sesuatu.
Kadang...
Musuh yang paling berbahaya bukan orang yang mengejarmu.
Melainkan orang yang selama ini berjalan di sampingmu.