Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 — Tiga Sekawan yang Pelit
“Aku bayar dua ratus ribu kredit untuk informasi tentang MelaratTanpaMecha.”
Rakha Adiwangsa mengucapkan kalimat itu di kantin lima sambil meletakkan nampan makanannya.
Tri hampir menggigit sendok.
Hendra yang sedang minum sup tersedak.
Rakha menatap mereka berdua. “Kenapa?”
Tri mengangkat kepala dengan wajah kosong. “Siapa?”
“MelaratTanpaMecha,” ulang Rakha. “ID Forum Kubus. Pertama mengunggah rangka Mecha paling jelek yang pernah kulihat, lalu kemungkinan besar menerima pesanan TanpaMundur. Desainnya... mengganggu.”
“Kalau jelek, kenapa dicari?” tanya Hendra, suaranya masih agak serak.
Rakha duduk. “Karena jeleknya tidak bodoh. Itu yang membuatku marah.”
Tri menusuk nasi termurahnya. “Banyak orang jelek tapi tidak bodoh.”
Rakha menatapnya.
Tri menunjuk Hendra.
Hendra langsung melempar kacang ke arahnya.
Rakha membuka Kom dan menunjukkan postingannya sendiri di Forum Kubus.
MaestroRakha:
Mencari MelaratTanpaMecha. Informasi valid dibayar 200.000 kredit. Penipu akan diblokir dan dipermalukan.
Komentar di bawahnya sudah ratusan.
Ada yang mengaku sebagai MelaratTanpaMecha.
Ada yang menjual alamat palsu.
Ada yang berkata Mecha jelek itu seharusnya dibiarkan punah.
Tri membaca cepat, lalu menyesap Cairan Gizi murah.
“Dua ratus ribu terlalu sedikit untuk orang yang bisa membuatmu marah.”
Rakha mengangguk serius. “Benar. Tapi kalau aku menulis dua juta, penipu akan bertambah.”
“Masuk akal,” kata Hendra.
Tri diam.
Rakha memiringkan kepala. “Kau sering bertanya soal struktur. Kau tidak pernah mendengar ID itu?”
Tri menelan.
“Forum Kubus besar.”
“Jawaban menghindar.”
“Jawaban hemat.”
Hendra langsung masuk. “Tri bahkan belum mengganti Kom-nya yang layar retak. Kalau dia kenal Empu misterius yang diburu dua ratus ribu, dia sudah menjual namanya untuk beli makan.”
Tri menatap Hendra.
Itu penghinaan.
Tetapi penghinaan yang berguna.
Ia mengangguk. “Benar.”
Rakha tampak menerima setengah. “Kom-mu masih yang lama?”
Tri mengangkat pergelangan kiri.
Kom tua itu menyala dengan garis retak di layar, bekas sejak pertarungan Bestia Bintang tujuh tahun lalu diperparah oleh semua hal buruk setelahnya. Sudut kanan harus ditekan dua kali agar respons. Baterainya turun cepat. Kadang-kadang huruf `kredit` berubah jadi `kerdit`, yang membuat Tri merasa alat itu mengejek kemiskinannya.
Rakha mengerutkan kening. “Bagaimana kau masih hidup dengan benda itu?”
“Hidup saya tidak tergantung estetika Kom.”
“Tapi tergantung komunikasi.”
“Kalau Kom mati, orang tidak bisa menagih.”
Hendra menunjuknya. “Dia sudah memakai alasan itu tiga bulan.”
Rakha membuka katalog toko Kom terdekat. “Kau harus ganti.”
“Mahal.”
“Yang standar hanya tiga puluh ribu.”
Tri menatapnya.
Rakha berhenti. “Oh. Kau benar-benar menganggap tiga puluh ribu mahal.”
Hendra tertawa. “Selamat datang di kelas lanjutan kemiskinan.”
Satu jam kemudian, mereka bertiga berdiri di Gang Kelabu, di depan toko Kom kecil yang lampunya berkedip.
Pemilik toko mengeluarkan tiga model.
Model pertama: 30.000 kredit, tahan banting standar, layar jernih, baterai dua hari.
Model kedua: 120.000 kredit, modul terenkripsi bagus.
Model ketiga: 670.000 kredit, kulit luar anti-bentur, koneksi forum cepat, cocok untuk murid militer dan Empu muda.
Rakha menunjuk model ketiga. “Ambil ini.”
Tri menunjuk model pertama. “Ambil ini.”
Rakha tampak sakit. “Kau baru menang besar di Bengkel Hitam dan menerima pembayaran desain, jangan pura-pura miskin.”
Tri menoleh sangat pelan.
Hendra batuk.
Rakha menyadari ia baru mengatakan lebih dari yang seharusnya. “Maksudku, kau punya... beberapa pekerjaan.”
Tri mengambil model pertama. “Karena saya punya beberapa pekerjaan, saya tahu uang keluar lebih cepat daripada darah.”
Pemilik toko berkata, “Model pertama tidak cocok untuk pemrosesan desain berat.”
“Saya tidak mendesain di Kom.”
Rakha menatapnya curiga.
“Saya menggambar di kertas,” tambah Tri.
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Ia memang masih menggambar di kertas saat ingin berpikir.
Akhirnya Tri membeli Kom standar 30.000 kredit.
Setelah pembayaran, ia membuka saldo tunai kecil.
Sisa 1.580 kredit.
Hendra melihat angka itu. “Lo punya saldo tersembunyi besar, tapi dompet harian lo seperti murid yang kalah taruhan.”
“Itu namanya manajemen risiko.”
Rakha memegang Kom lama Tri dengan dua jari. “Apa ini boleh kubongkar?”
“Bayar.”
“Ini sampah.”
“Sampah punya sejarah.”
“Berapa?”
Tri berpikir. “Lima ribu.”
Rakha membayar.
Hendra menatap mereka berdua, lalu pelan-pelan menutup wajah. “Aku duduk bersama dua orang sakit.”
Sejak hari itu, pertemuan di kantin lima menjadi kebiasaan.
Setiap minggu, satu meja di sudut dekat jendela menjadi milik tiga orang yang tidak pernah mengaku membentuk kelompok.
Tri datang dengan makanan termurah dalam porsi terlalu besar.
Hendra datang dengan berita, gosip akademi, statistik Turnamen Agni, dan ekspresi orang yang melihat pola politik di tempat orang lain hanya melihat antrean makan.
Rakha datang dengan pertanyaan teknis, katalog bahan mahal, dan semakin sering, rasa ingin tahu tentang cara membuat sesuatu lebih murah tanpa membuatnya mati.
“Kalau pakai sambungan ini,” kata Rakha suatu sore, menunjukkan desain mahal, “tekanan turun enam persen.”
Tri melihat harga. “Kalau pakai sambungan yang lebih jelek dan arah beban diubah, tekanan turun empat persen, harga turun lima puluh persen.”
Rakha terdiam.
Hendra mengangkat sendok. “Saat ini kita menyaksikan bangsawan Adiwangsa belajar menikmati diskon.”
Rakha menatap desain, lalu berkata pelan, “Empat persen dengan setengah harga... itu tidak buruk.”
Tri menepuk meja. “Selamat. Kau makin miskin secara spiritual.”
“Kalau miskin membuat desain lebih efisien, aku bisa mempertimbangkan.”
Mira pernah lewat di belakang mereka dan bertanya apakah meja itu sedang rapat rahasia.
Hendra menjawab, “Bukan. Ini kelas rehabilitasi finansial.”
Tri menunjuk Rakha. “Pasien utama.”
Rakha, tanpa mengangkat kepala dari katalog bahan, berkata, “Guru miskin saya belum lulus menghitung estetika.”
“Estetika tidak mengembalikan utang,” balas Tri.
Mira melihat tiga nampan yang isinya saling ditukar demi harga paling hemat, lalu pergi sambil menggeleng. Sejak itu, beberapa murid menyebut mereka tiga sekawan pelit. Tidak ada yang membantah.
Mereka juga tidak merasa perlu menjelaskan bahwa tidak ada rahasia manis di meja itu. Hanya tiga orang yang sama-sama ingin naik, sama-sama menolak kalah, dan sama-sama punya cara berbeda untuk membuat uang bertahan lebih lama.
Hendra menunjuk keduanya. “Ini sebabnya Damokles akan membuat sekolah lain sakit kepala. Satu orang terlalu pelit untuk kalah, satu orang terlalu kaya untuk mengerti pelit tapi mulai belajar, dan satu Komandan jenius yang harus memastikan kalian tidak meledakkan kantin.”
Tri mengangkat Cairan Gizi. “Komandan jenius bayar makan?”
“Tidak.”
“Berarti belum jenius penuh.”
Rakha tertawa.
Hendra memutar mata, lalu membuka proyeksi Turnamen Agni di meja. Lambang lima akademi muncul: Kekaisaran, Prajna, Nusa, Samuel, Damokles. Nama Damokles berada di bawah, terlalu lama di bawah sampai warna lambangnya tampak lebih kusam.
Senyum Hendra perlahan hilang.
“Tertawa boleh,” katanya. “Tapi tahun depan kita tidak datang untuk jadi bahan tertawaan.”
Tri menatap lambang Damokles.
Rakha menutup katalog bahan.
Hendra mengambil botol Cairan Gizi terakhir, meminumnya sampai habis, lalu meletakkannya di tengah meja seperti bendera kecil yang sangat murah.
“Turnamen Agni berikutnya,” katanya, mata menatap layar, “gue akan membuat Kekaisaran ingat bahwa Damokles belum mati.”