NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.

Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.

"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."

Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.

Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Dominic Ashcroft menghentikan langkahnya di area parkir basement sebuah gedung studio. Sorot matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada wajah yang dikenalnya berada di sekitar sana.

Dua orang satpam sedang berbincang di dekat pintu keluar. Setelah merasa situasi benar-benar aman, Dominic membenarkan letak jasnya, lalu berjalan cepat menuju lift.

Pintu lift terbuka di lantai lima. Begitu keluar, aroma kosmetik dan parfum mahal langsung menyambutnya. Suara para penata rias yang sedang membereskan peralatan bercampur dengan obrolan para model yang baru selesai bekerja.

Langkah Dominic berhenti di depan sebuah ruang rias. Senyum tipis terbit di bibirnya. Di depan cermin besar yang dipenuhi lampu-lampu bulat, seorang wanita bergaun merah sedang melepaskan anting berlian dari telinganya.

Rambut panjang bergelombangnya terurai anggun di atas bahu. Wajah cantiknya masih terlihat sempurna meski telah menjalani pemotretan sejak pagi. Setiap gerakannya memancarkan pesona yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.

Wanita itu adalah Giselle Moreau. Supermodel internasional yang wajahnya berkali-kali menghiasi sampul majalah mode dan billboard di berbagai kota besar.

Melihat bayangan Dominic di cermin, senyum Giselle langsung mengembang.

"Hai, Darling. Tunggu sebentar, ya. Aku bersihkan makeup dulu," sapanya manja

"Tidak usah terburu-buru," jawab Dominic sambil tersenyum.

Pria itu menarik sebuah kursi di dekat pintu, lalu duduk dengan santai. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponselnya. Beberapa pesan masuk memenuhi layar. Sebagian berasal dari rekan bisnis. Sebagian lagi dari asistennya.

Di antara semua notifikasi itu, matanya berhenti pada nama yang begitu dikenalnya.

Vivienne.

Dominic, jangan lupa makan siang, ya. Jangan terlalu capek bekerja. Aku dan si kecil menunggumu pulang.

Sudut bibir Dominic terangkat tipis. Namun, senyum itu bukan karena rasa haru. Ia hanya mengetik balasan singkat.

Baik. Jaga kesehatan kalian.

Pesan terkirim.

Tanpa ragu, Dominic langsung mengunci layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas.

Tak lama kemudian, Giselle berdiri. Wajahnya kini bersih dari riasan tebal, tetapi kecantikannya justru tampak semakin alami.

"Ayo, kita pergi."

Dominic bangkit dari duduknya.

Baru beberapa langkah berjalan, Giselle tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu membenarkan dasi Dominic dengan gerakan yang begitu akrab.

"Kau selalu tampan kalau memakai jas begini."

Dominic segera menangkap pergelangan tangan wanita itu. "Bukan di sini."

Giselle terkekeh pelan. "Takut ketahuan?"

"Aku tidak mau ada yang memotret kita."

"Kamu masih saja selalu berhati-hati." Giselle menggeleng sambil tersenyum menggoda.

Dominic menatapnya datar. "Ini bukan permainan."

"Bukan? Lalu apa?" Giselle mengangkat sebelah alisnya.

Dominic tidak menjawab. Ia hanya mengajak Giselle berjalan meninggalkan ruang rias.

Bukan rahasia lagi bagi beberapa orang di lingkungan kerja Giselle bahwa Dominic sering datang menjemput sang supermodel. Mereka memang tidak mengetahui hubungan sebenarnya, tetapi pemandangan keduanya bersama sudah terlalu sering terlihat untuk dianggap kebetulan.

Untungnya, dunia hiburan sudah terbiasa dengan kehadiran para pengusaha dan sponsor. Tak banyak yang mempertanyakan hubungan mereka.

Mereka memasuki lift..Begitu pintu tertutup, Giselle langsung menyelipkan jemarinya ke sela-sela jari Dominic.

Pria itu membalas genggaman tersebut. Tak satu pun dari mereka berniat melepaskannya hingga pintu lift kembali terbuka di area basement. Mereka berjalan berdampingan menuju deretan mobil.

"Aku baru saja menandatangani kontrak baru," ucap Giselle dengan mata berbinar.

Dominic menoleh. "Selamat."

"Minggu depan aku terbang ke Paris. Setelah itu lanjut ke New York. Jadwalku penuh sampai akhir tahun." Nada suara Giselle terdengar penuh semangat.

Dominic tersenyum bangga. Ia menatap wajah Giselle beberapa saat.

"Honey, kamu memang hebat. Aku bangga padamu."

Giselle berhenti melangkah. "Dari dulu kau selalu bilang begitu."

"Karena memang begitu."

Jawaban sederhana itu membuat senyum Giselle semakin lebar.

Dominic kembali memperhatikan wanita di depannya. Wajah itu nyaris tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu bertahun-tahun lalu. Kulitnya tetap mulus. Rambutnya tetap berkilau. Tubuhnya tetap ramping dengan lekuk yang sempurna.

"Ada apa?" tanya Giselle sambil terkekeh kecil.

"Kamu kelihatan semakin kurus." Dominic mengusap pelan pipi wanita itu. "Jangan terlalu memaksakan diri."

Giselle menggeleng. "Tidak bisa, Darling."

Wanita itu menatap tubuhnya sendiri. "Aku mempertahankan semua ini bukan tanpa perjuangan."

Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan, "Setiap pagi aku harus olahraga. Makananku ditimbang. Kalau ingin makan sesuatu, aku harus berpikir berkali-kali."

Dominic tertawa kecil. "Kamu memang keras kepala."

"Bukan keras kepala. Ini pekerjaanku." Giselle tersenyum tipis. Tatapannya menerawang. "Industri ini kejam. Sedikit saja berat badanku naik, mereka akan mencari model yang lebih muda."

Ucapan itu membuat Dominic teringat masa lalu. Bertahun-tahun lalu, ia pernah melamar Giselle. Saat itu ia yakin mereka akan membangun keluarga bersama. Namun, wanita itu menolak dengan lembut.

"Aku mencintaimu, Dominic. Tapi aku belum siap meninggalkan karierku. Aku ingin menjadi supermodel terkenal di dunia."

Kalimat itu masih teringat jelas hingga hari ini. Tak lama setelah itu, hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda. Dominic menikahi Vivienne. Sementara Giselle mengejar impiannya hingga menjadi salah satu supermodel paling terkenal. Namun, perasaan mereka tak pernah benar-benar berakhir.

Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di samping mobil Dominic. Giselle memandang sekeliling lebih dulu sebelum kembali menatap pria itu.

"Bagaimana keadaan kandungan Vivienne?"

Dominic memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Kehamilannya baik."

Senyum tipis muncul di wajah Giselle. "Dia tidak curiga kan sedang mengandung anak kita?" tanya Giselle.

Dominic menggeleng pelan. Tatapannya dipenuhi rasa percaya diri. "Vivi tidak tahu kalau sel telur miliknya diganti sama sel telur milik kamu, Honey. Vivi terlalu percaya kepadaku."

Giselle senang. Dia bisa punya anak tanpa harus hamil dan melahirkan.

Giselle mengembuskan napas lega. Ia menatap Dominic lekat-lekat.

"Syukurlah. Yang penting semuanya berjalan sesuai rencana."

Dominic mengangguk singkat. "Sampai sekarang tidak ada hambatan."

Wajah Giselle berubah cerah. Rasa puas terpancar jelas dari sorot matanya. Ia membayangkan masa depan yang selama ini diimpikannya tanpa harus kehilangan karier yang sudah dibangun dengan susah payah.

"Setelah bayi itu lahir dan harta kekayaan Vivienne dipindah tangankan atas nama kamu dan anak itu, langsung saja ceraikan dia. Jangan lupa dengan janjimu," kata Giselle dengan mata memicing.

Dominic tersenyum tipis. "Aku tidak pernah melupakan janjiku."

Tatapan keduanya saling bertemu. Seolah sama-sama memahami arti dari kalimat itu tanpa perlu mengucapkannya lebih jauh.

"Darling, jangan sampai rencana yang sudah lama kita susun jadi berantakan!" ucap wanita itu dengan tegas.

"Tentu saja. Aku sudah merencanakan itu sejak dua tahun yang lalu. Sekarang perusahaan pun sudah aku pimpin."

Giselle mendekat, lalu memeluk Dominic dengan erat. "Aku semakin mencintaimu."

Dominic membalas pelukan itu. "Aku juga mencintaimu, Honey."

Tangannya mengusap lembut punggung wanita itu. "Semua ini kulakukan demi masa depan kita."

Giselle menutup mata sambil tersenyum puas. Ia benar-benar percaya bahwa sebentar lagi tidak akan ada lagi penghalang di antara mereka.

Namun, baik Dominic maupun Giselle tidak menyadari, di dalam sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tepat di samping kendaraan Dominic, seseorang sedang duduk dalam diam.

Kaca mobil itu tertutup rapat dengan lapisan film yang gelap. Dari balik sana, sepasang mata mengamati setiap gerakan mereka tanpa berkedip dan mendengarkan semua pembicaraan mereka.

1
V3
Good job Vivi 👏
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
V3
keluarga Toxic nih 😡😡😡
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
Uba Muhammad Al-varo
good job Vivienne, semoga apa yang kamu rencana ke Dominic tercapai dan lancar , membuat Dominic sekeluarga menyesal dan menderita
Lisa
Bagus Vivi..balaslah perbuatannya Dominiq pelan²
Kar Genjreng
yakin Viviane mau merawat anaknya si pELaKoR,,,mungkin kelak buat balas balik ga apa apa tergantung didikan nya,,, apabila dewasa biar tau dengan sendirinya si anak itu pasti akan sayang dengan Viviane,,, kalau di gugurin sayang dan dosa. biar bagaimanapun nyawa taruhan nya,,,iya kalau anak nya keluar kalau viviane yang menjadi korban senang malahan Dominic dan si pELaKoR,,,dan Killan juga tidak lepas tangan begitu saja dan Estelle,,, pasti akan ikutan menjaga,,,,
V3
Good job Vivi ,, aku suka cara mu membalas dendam PD mereka semuanya. 👏👏👏
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
V3
pembalasan yg perfect vivi 👏👏👏
Dini Anggraini
Viviane meskipun kamu mengandungnya jangan pernah mau merawat anak itu bisa jadi boomerang untukmu bila besar dan ketemu giselle anak itu bisa di ajak giselle sama2 mengambil semua hartamu vivianne. 😡😡🥰🥰
V3
buaya buntung lg nyogok Vivi biar tujuan nya berhasil 🤣🤣🤣
Les Tary
pastikan keluarga Dinamic jadi gembel vivi
V3
kudu nya si Dominic yg sllu ngasih uang ke keluarga nya sndri ,, Kok ini mlh uang istrinya yg sllu di berikan.
dasar keluarga parasit 😡😡😡
Nar Sih
rencana yg bagus vivi,semagat buat hancur suami durjana mu
V3
mampoes U .. mau enak nya ja tp sllu nyakitin Vivi 🤦
dasar lintah darat 😡😡
Sugiharti Rusli
pembunuhan karakter si Dominic secara perlahan baru kemudian penjara yang tepat baginya yah,,,
Sugiharti Rusli
karena sepertinya si Dominic sudah merencanakan ini jauh sebelum menikahi nya mungkin yah,,,
Sugiharti Rusli
bagus sih kalo Vivienne tidsk terburu-buru membalas semuanya saat ini juga
Sugiharti Rusli
maksudnya si Malcom yah yang mengangguk nih😁✌
Sugiharti Rusli: eh benar si Killian yah yang mengangguk pelan maksudnya ini dan dia mengerti😇🙏
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
diriku mampir. semangat ye
Eonnie Nurul
meskipun aku kepingin anak tapi aku ya ora Sudi hamil anak selingkuhan suami vi
V3
dan ternyata keluarga nya Dominic sdh mengetahui hubungan nya dg Gissel 😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!