Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Aku datang ke tempat ini lagi! Kali ini aku harus melihat dengan jelas, sebenarnya dunia seperti apa ini?"
Dengan tubuh ulat laparnya, Qin Shang kembali muncul di dalam cangkang telur itu.
Lubang kecil yang sebelumnya berhasil ia buat pada permukaan cangkang masih tetap ada. Udara di dalamnya juga sama seperti sebelumnya, terasa ringan dan mengandung kekuatan misterius. Hanya dengan menarik satu napas, seluruh tubuhnya langsung terasa jauh lebih ringan.
Kini Qin Shang benar-benar yakin bahwa keberhasilannya menembus alam kali ini pasti berkaitan dengan udara di tempat ini.
"Aku harus keluar dan melihat keadaan di luar."
Qin Shang menjulurkan kepalanya melalui lubang pada cangkang telur, lalu menatap hutan purba yang sangat lebat di hadapannya. Di dalam hutan itu, bahkan rumput liar yang tumbuh di tanah saja jauh lebih besar daripada tubuhnya. Terlebih lagi pepohonan kuno yang menjulang tinggi, ukurannya benar-benar luar biasa.
Qin Shang baru saja hendak merangkak keluar sepenuhnya ketika tiba-tiba sebuah bayangan hitam menerjang dari samping.
Secara refleks, ia langsung menarik kepalanya kembali ke dalam cangkang telur.
Barulah ia menyadari bahwa di luar cangkang terdapat seekor serangga terbang berwarna hitam yang bentuknya menyerupai kupu-kupu raksasa. Sepasang matanya yang bulat terus menatap lurus ke arahnya yang berada di dalam cangkang.
"Apa itu? Jangan-jangan makhluk itu menganggapku sebagai mangsa?"
Keringat dingin langsung membasahi tubuh Qin Shang.
Ukuran kupu-kupu hitam itu setidaknya empat atau lima kali lebih besar daripada dirinya. Dengan tubuh ulat yang baru saja menetas, ia sama sekali bukan tandingannya.
Kalau tubuh ulatku dimakan makhluk itu, apa yang akan terjadi pada tubuh asliku di dunia nyata? Apa aku akan mati?
Qin Shang semakin memikirkannya, semakin merasa kemungkinan itu sangat besar.
Mungkin jika tubuh ulatnya mati, tubuh aslinya akan tertidur selamanya... atau bahkan langsung mati di dalam mimpi.
Qin Shang terus mengawasi serangga hitam itu.
Makhluk tersebut tetap berjaga di depan lubang cangkang telur sambil menggunakan sungutnya untuk mendorong permukaan cangkang, seolah ingin menghancurkannya.
Jantung Qin Shang langsung menegang.
Untungnya, serangga itu tidak memiliki tanduk keras seperti dirinya. Mustahil baginya untuk memecahkan cangkang yang bahkan sudah ia tabrak tanpa henti selama lebih dari dua tahun.
Namun, serangga hitam itu tetap bertahan di depan lubang dan sama sekali tidak berniat pergi.
Qin Shang merasa sangat tertekan.
Baru saja berhasil keluar dari cangkang, ia sudah langsung menjadi incaran pemangsa. Keberuntungannya benar-benar buruk.
"Kulihat saja berapa lama kau bisa bertahan menunggu."
Setelah memastikan serangga itu tidak mampu memecahkan cangkang telur, Qin Shang akhirnya sedikit tenang. Ia hanya diam di dalam cangkang tersebut.
Biasanya, ia selalu menghabiskan waktunya dengan menabrakkan tubuh ke cangkang telur. Namun sekarang, hal itu jelas sudah tidak diperlukan lagi.
Sayang sekali tubuhku sekarang hanya seekor ulat. Kalau tidak, aku bisa mencoba berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Yang di sini.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kesadaran Qin Shang perlahan menghilang dari dalam cangkang telur.
Ketika ia membuka mata kembali, hari sudah berganti pagi.
Begitu terbangun, Qin Shang langsung merasakan perubahan pada tubuhnya.
"Ini... tubuhku? Apa yang terjadi? Rasanya seperti baru saja meminum beberapa mangkuk Sup Peningkat Darah!"
Ia merasakan dengan saksama kekuatan misterius yang mengalir di dalam tubuhnya.
Kekuatan itu seolah menyuburkan setiap sel di tubuhnya.
"Udara! Semua ini karena udara di luar cangkang telur itu!"
Mata Qin Shang langsung berbinar.
Kini ia benar-benar yakin bahwa udara di dunia luar cangkang telur memang mengandung energi yang luar biasa.
"Jangan-jangan itu adalah tanah penuh berkah? Bahkan udaranya saja sudah sehebat ini. Efeknya bahkan lebih kuat daripada Sup Peningkat Darah."
Hatinya dipenuhi kegembiraan.
Jika hanya udara saja sudah memiliki efek sebesar ini, lalu bagaimana dengan rumput-rumput, tumbuhan, bunga roh, dan buah-buah ajaib yang tumbuh di sana?
Jika tubuh ulatnya berhasil memakan satu atau dua di antaranya, bukankah hasilnya akan sangat mengerikan?
"Jangan-jangan... itu Dunia Abadi?"
Sebuah istilah tiba-tiba muncul di benaknya.
Di Dunia Xuanwu, seseorang memang dapat menempuh jalan menuju keabadian. Konon, mereka yang berhasil mencapai tingkat tertinggi akan naik ke suatu tempat yang disebut Dunia Abadi.
Mungkinkah tempat yang dihuni tubuh ulatnya itu adalah Dunia Abadi?
Dan udara yang ia hirup di sana... apakah itu benar-benar energi abadi?
"Mustahil dipercaya! Tubuh ulatku ternyata bisa terhubung langsung dengan Dunia Abadi?"
Pikiran Qin Shang menjadi kacau.
Gelombang emosi terus bergejolak di dalam dadanya, dan untuk waktu yang lama ia tidak mampu menenangkan diri.
Di tempat tidur sebelah, Lu Chen masih tertidur pulas sambil mendengkur keras.
Tidak peduli apakah tempat itu benar-benar Dunia Abadi atau bukan, dengan tubuh ulatku saat ini, aku hanyalah makhluk paling rendah, tidak lebih dari seekor serangga kecil. Sedikit saja lengah, bukan hanya tubuh ulatku yang akan mati, tubuh asliku pun mungkin ikut kehilangan nyawa.
Kekuatanku masih terlalu lemah. Aku harus menjadi lebih kuat secepat mungkin.
Qin Shang segera keluar dari rumah dan mulai berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Yang.
Rumah-rumah kayu di kawasan tempat tinggal mereka berdiri sangat berdekatan. Jika ia berlatih di sana, suara gerakannya pasti akan mengganggu para tetangga.
Karena itu, ia berjalan menuju tepi sungai kecil.
Sekitar dua ratus meter kemudian, Qin Shang tiba di tepi sungai. Di sana, ia melihat cukup banyak orang sedang berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Yang di kedua sisi bantaran sungai.
"Di dunia ini ternyata masih banyak orang yang mau bekerja keras," gumam Qin Shang dalam hati.
"Eh? Dia juga ada di sini!"
Saat itu, Qin Shang melihat sosok yang dikenalnya di bantaran sungai sebelah timur. Orang itu tidak lain adalah Ma Haoran, penduduk asli yang dahulu menjadi orang pertama yang berhasil mencapai Alam Peningkatan Darah.
Ma Haoran juga sedang berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Yang dengan sangat serius.
Ternyata latar belakang keluarga Ma Haoran memang cukup kuat. Dia bahkan mampu tinggal di daerah hulu sisi timur, pikir Qin Shang.
Tanpa membuang waktu, Qin Shang segera mengambil posisi dan mulai berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Yang.
Dengan tingkat kultivasinya saat ini, ia tidak lagi perlu berlatih di atas tiang. Berlatih di tanah datar pun sudah memberikan efek yang sama.
Seiring berjalannya latihan, energi dari udara yang ia bawa keluar dari alam mimpi terus diserap dan dicerna oleh tubuhnya. Qin Shang dapat merasakan dengan jelas bahwa tubuh fisiknya perlahan menjadi semakin kuat.
Sekitar satu jam kemudian, ia menghentikan latihannya. Matahari pagi sudah naik tinggi di langit. Qin Shang mengembuskan napas panjang yang berbau busuk.
Itu adalah kotoran dalam tubuh yang terdorong keluar setelah darahnya bersirkulasi dengan kecepatan tinggi.
"Hebat! Efeknya bahkan lebih baik daripada meminum dua mangkuk Sup Peningkat Darah! Sepertinya perkembangan kultivasiku ke depannya akan jauh lebih cepat."
Qin Shang merasa sangat puas.
Tatapannya kemudian beralih ke seberang sungai. Saat itu, Ma Haoran juga baru saja selesai berlatih dan menyadari keberadaan Qin Shang.
Sambil tersenyum, Ma Haoran berkata, "Selamat!"
Setelah itu, ia masih mengucapkan beberapa kalimat lain yang tidak dipahami Qin Shang. Meski begitu, Qin Shang bisa menebak maksudnya. Kurang lebih, semuanya tetap berisi ucapan selamat.
Qin Shang juga membalas dengan senyum sambil mengucapkan terima kasih. Sebenarnya ia ingin berbincang lebih lama, tetapi kemampuan bahasanya masih terlalu terbatas.
Pada akhirnya, ia hanya memberi salam dengan kedua tangan disatukan di depan dada, mengucapkan pamit, lalu pergi.
Setelah kembali ke tempat tinggalnya, Qin Shang membangunkan Lu Chen dan mengajaknya berangkat bekerja ke Sembilan Divisi.
Sembilan Divisi merupakan tempat berkumpulnya para pekerja tambang Gunung Tianyuan. Lokasinya berada di sebelah utara Kota Tianyuan. Wilayahnya sangat luas, bahkan memiliki sebuah alun-alun besar.
Begitu tiba di sana, Qin Shang melihat setidaknya seribu orang sudah berkumpul. Suasana itu mengingatkannya pada apel pagi saat masih bersekolah.
Orang-orang berbaris di alun-alun, menunggu untuk memasuki bangunan-bangunan berbentuk persegi yang berbeda.
Qin Shang dan Lu Chen melihat sembilan jalur masuk dengan warna berbeda, sama seperti yang mereka lihat di Divisi Urusan Administrasi. Warna lencana identitas yang diberikan oleh Divisi Urusan Administrasi menunjukkan tingkatan yang sesuai.
"Qin Shang, aku pergi bekerja dulu."
"Langit benar-benar tidak punya mata! Siapa sangka setelah datang ke dunia lain, aku malah harus bertani."
Lu Chen menghela napas dengan wajah penuh penyesalan. Setelah itu, ia berpisah dengan Qin Shang dan berjalan menuju jalur paling ujung.
Lu Chen ditempatkan di bagian logistik. Pekerjaan yang dipilihnya tergolong cukup ringan, yaitu menanam bahan pangan. Namun, imbalannya juga sangat rendah, hanya satu poin kontribusi per bulan.
Sebenarnya, Lu Chen bukanlah orang yang malas. Seperti yang ia katakan, dengan menanam bahan pangan, mungkin di masa depan mereka berdua tidak perlu khawatir kekurangan makanan.
Bagaimanapun buruknya keadaan, setidaknya mereka tidak akan mati kelaparan.
Sementara itu, Qin Shang tiba di jalur keenam. Di ujung jalur tersebut, seseorang bertugas menerima lencana identitas.
Qin Shang menyerahkan lencananya. Orang itu hanya melirik sekilas sebelum berkata, "Ini pertama kalinya kamu melapor. Pergilah ke gudang sebelah kiri untuk mengambil piring pendulang roh."
Qin Shang hanya memahami dua kata dari ucapan orang itu, yaitu "pertama kali" dan "sebelah kiri".
Ia pun memasuki bangunan berbentuk persegi tersebut. Suasana di dalam sangat ramai. Diperkirakan sudah ada ratusan orang berkumpul di sana.
Qin Shang berjalan menuju gudang sebelah kiri.
Saat itu, seseorang keluar dari dalam gudang sambil membawa sebuah panci besar berbahan besi hitam dengan diameter sekitar satu meter. Panci tersebut diikat di punggungnya sehingga sekilas tampak seperti tempurung kura-kura.
Qin Shang memperhatikannya dengan saksama.
Ternyata orang itu adalah Lin Kai, orang yang berhasil menembus Alam Peningkatan Darah pada hari yang sama dengannya.