Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Malam di Mansion Vane dan Gejolak di Dada
Mobil Rolls-Royce yang membawa Adrian dan Aura membelah kegelapan malam, kembali menuju perbukitan tempat Mansion Vane berdiri. Di dalam kabin, suasana hening, tetapi jenis keheningan kali ini berbeda. Tidak ada lagi ketegangan saling curiga yang membekukan udara, melainkan desir canggung yang halus akibat genggaman tangan Adrian di kafe tadi yang masih membakar ingatan Aura.
Aura sengaja melempar pandangannya keluar jendela, menatap deretan lampu jalan yang meluncur cepat. Jemari tangan kanannya tanpa sadar meremas gaunnya sendiri.
*Ada apa dengan jantungku?* batin Aura gusar. *Sebagai agen rahasia, aku pernah ditembak, pernah terkepung bom, tapi detak jantungku tidak pernah sedepanik ini cuma gara-gara dipegang tangannya oleh seorang pria! Tubuh Aura ini benar-benar tidak punya pertahanan diri!*
"Kamu diam sekali," suara berat Adrian memecah lamunan Aura. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap profil samping wajah Aura yang tersiram cahaya remang-remang. "Biasanya bicaramu secepat senapan mesin. Kenapa? Kehabisan bahan omelan?"
Aura langsung menoleh secepat kilat, merespons gertakan itu dengan pertahanan terbaiknya: omelan bertubi-tubi.
"Siapa yang kehabisan bahan?!" tembak Aura secepat peluru, bicaranya meluncur tanpa jeda napas. "Aku cuma sedang menghemat energi! Lagipula dari tadi siang kamu menempel terus seperti lem super, tidak memberiku ruang bernapas sedikit pun! Pikirmu aku tidak pusing ditatap belasan pengawal bertubuh kekar setiap kali mau melangkah?!"
Adrian terkekeh pelan—sebuah suara rendah dari dalam dada yang terdengar sangat seksi di telinga Aura. "Itu prosedur keamanan. Apalagi setelah aku tahu kalau istriku ini punya hobi berbahaya seperti melumpuhkan preman dan memborong saham runtuh."
"Itu namanya investasi cerdas dan pertahanan diri, Tuan CEO!" kilah Aura tak mau kalah.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan pelataran mansion. Aura melangkah turun dengan hati-hati—memastikan tali sepatunya terikat kuat agar tidak mengalami insiden memalukan untuk kesekian kalinya.
Namun, begitu memasuki aula utama mansion, langkah Aura terhenti. Di sana, beberapa pelayan sedang sibuk memindahkan barang-barangnya dari kamar tamu ke kamar tidur utama—kamar pribadi milik Adrian.
Aura membelalakkan mata. Ia berbalik menatap Adrian yang baru saja melangkah masuk di belakangnya.
"Tunggu, tunggu, tunggu!" Aura mengangkat kedua tangannya, bicaranya menyambar secepat kilat. "Kenapa koper dan baju-bajuku dipindahkan ke kamarmu?! Jangan bilang ada kesalahan teknis di sistem manajemen mansion ini!"
"Tidak ada kesalahan," jawab Adrian tenang, melepas jas luarnya dan menyerahkannya pada pelayan di sampingnya. "Itu perintah langsung dariku."
"Perintah darimu?!" seru Aura kaget. "Atas dasar apa?! Kita kan dalam proses perceraian—walaupun kamu menundanya seenaknya! Mana bisa suami-istri yang mau cerai tidur satu kamar?!"
Adrian melangkah mendekati Aura. Langkah kakinya yang tenang dan percaya diri memaksa Aura mundur satu langkah hingga punggungnya menyenggol pilar kayu di aula tersebut. Adrian mengurung Aura dengan meletakkan satu tangannya di pilar, tepat di samping kepala Aura.
Aura bisa merasakan kehangatan tubuh Adrian dan aroma maskulin berkayu yang menguar kuat dari kemeja hitam pria itu. Jarak mereka begitu dekat hingga napas hangat Adrian menyapu kening Aura.
"Pertama," bisik Adrian dengan suara rendah yang mengintimidasi sekaligus memikat. "Rumor tentang hubungan kita sudah mulai berembus di lingkungan bisnis. Kalau kita tidur berpisah, para musuhku dan media akan tahu bahwa pernikahan ini bermasalah."
"Lalu?" tantang Aura dengan mata bulatnya yang menatap lurus ke mata Adrian, menutupi gugup di dadanya.
"Kedua," lanjut Adrian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh pesona. "Aku tidak mau terbangun besok pagi dan mendapat laporan bahwa istriku tewas di kamarnya sendiri cuma gara-gara tersedak air hangat saat sendirian."
Wajah Aura seketika memerah panas sampai ke ujung telinganya!
"I-itu tidak akan terjadi lagi!" elak Aura secepat kilat, bicaranya kembali keluar secepat senapan mesin untuk menutupi rasa malu yang luar biasa. "Aku sudah tahu teknik minum yang benar! Lagipula kamu ini memanfaatkan insiden air minum itu buat cari-cari kesempatan, kan?!"
"Kalau iya, kenapa?" balas Adrian tanpa rasa ragu sedikit pun, menatap bibir Aura yang terus mengomel secepat kilat itu dengan pandangan posesif yang pekat. "Kamu istriku yang sah secara hukum, Aura. Tidak ada salahnya kalau aku mau menjaga istriku sendiri di bawah pengawasanku dua puluh empat jam."
Aura gelagapan. Agen elit yang biasanya memiliki seribu satu cara untuk membalikkan keadaan kini mendadak kehabisan kata-kata di hadapan dominasi penuh dari sang Raja Mafia.
"T-terserah kamu lah! Aku mau mandi!" dorong Aura pada dada bidang Adrian dengan cepat, lalu meloloskan diri dari kurungan lengan pria itu.
Aura setengah berlari menuju kamar utama dengan wajah yang membara.
Namun, tepat di ambang pintu kamar utama yang megah, sifat ceroboh jiwanya yang muncul setiap kali ia panik atau merasa malu kembali berulah. Kaki telanjang Aura menyenggol sudut karpet bulu yang sedikit terlipat!
"Aah, aduh!"
Aura hilang keseimbangan dan tubuhnya hampir tersungkur menghantam pintu kayu raksasa!
*Greb!*
Tentu saja, Adrian yang berjalan santai beberapa langkah di belakangnya bergerak secepat kilat. Lengan kokoh pria itu menyambar pinggang Aura dari belakang, menahan tubuh wanita itu rapat di dadanya sebelum kepalanya menghantam pintu.
"Setiap kali kamu mencoba kabur dariku," bisik Adrian tepat di telinga Aura, kekehan renyahnya bergema halus, "kamu selalu berakhir jatuh ke dalam pelukanku, Aura."
Aura mematung di pelukan Adrian, merasakan detak jantung pria itu yang berdetak konstan dan hangat di punggungnya. Kali ini, Aura tidak bisa menyangkalnya lagi—di balik sifat dingin dan berbahaya sang CEO Mafia, ada rasa aman yang perlahan-lahan mulai menyusup ke dalam jiwanya yang selama ini selalu hidup dalam bahaya dan kesendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘