Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sinar matahari pagi belum sepenuhnya menyinari Kota Jade River saat Lin Xiao melangkah keluar dari kamarnya.
Udara pagi terasa sangat dingin, namun tubuh Lin Xiao yang telah dipoles dengan darah monster tidak merasakannya sama sekali.
Dia hanya membawa sebuah pedang besi biasa dan kantong air yang diikatkan di pinggangnya.
Pedang itu dia pinjam dari Paman Zhou yang dulu pernah berlatih ilmu pedang dasar.
Kriet.
Lin Xiao membuka pintu kamar ayahnya dengan sangat pelan agar tidak mengejutkan pria paruh baya itu.
Namun Lin Tianhai ternyata sudah bangun dan sedang duduk bersandar di ranjang.
"Kau mau pergi sekarang, Xiao'er?" tanya Lin Tianhai dengan suara serak.
"Ya, Ayah." jawab Lin Xiao sambil berjalan mendekat.
"Aku butuh pengalaman bertarung secara nyata untuk memperkuat pondasi kultivasiku."
Lin Xiao sengaja tidak menceritakan tentang misi paksaan dari balai hukuman klan.
Dia tidak ingin ayahnya kembali khawatir dan memikirkan kelicikan Kepala Tetua.
"Berhati-hatilah di luar sana." pesan Lin Tianhai dengan raut wajah cemas.
"Dunia luar jauh lebih kejam daripada di dalam klan, jangan mudah percaya pada siapa pun."
"Aku mengerti, Ayah tidak perlu khawatir." ucap Lin Xiao sambil tersenyum menenangkan.
"Aku hanya akan berburu monster tingkat rendah di pinggiran hutan dan segera kembali."
Setelah berpamitan dan memastikan Paman Zhou menjaga ayahnya, Lin Xiao segera pergi meninggalkan kediaman klan.
Dia berjalan menyusuri jalanan kota yang masih sepi menuju gerbang timur Kota Jade River.
Hutan Kabut Berdarah terletak sekitar dua puluh kilometer di sebelah timur kota.
Bagi orang biasa, jarak itu membutuhkan waktu setengah hari perjalanan dengan kereta kuda.
Namun bagi Lin Xiao yang kini berada di tahap Pembentukan Dasar tingkat kedua, jarak itu bukanlah masalah.
Dia berlari dengan kecepatan penuh menyusuri jalan tanah berdebu.
Wush.
Angin berhembus kencang menerpa wajahnya saat kakinya memijak tanah dengan tenaga besar.
Pohon-pohon di pinggir jalan terlihat bergerak mundur dengan sangat cepat.
Hanya dalam waktu satu jam, Lin Xiao sudah bisa melihat batas pepohonan yang menjulang tinggi di kejauhan.
Sebuah kabut tipis berwarna kemerahan menyelimuti area hutan tersebut, memberikan kesan yang sangat menyeramkan.
Itulah Hutan Kabut Berdarah, salah satu area berburu paling berbahaya di sekitar Kota Jade River.
Bau amis darah dan kayu busuk langsung tercium saat Lin Xiao berdiri di depan pintu masuk hutan.
'Kabut ini mengandung racun halusinasi tingkat rendah.' batin Lin Xiao sambil mengendus udara.
'Tapi bagi tubuhku yang sudah berlatih Teknik Penguasa Darah, racun murahan ini tidak ada artinya.'
Sring.
Lin Xiao mencabut pedang besinya dari sarungnya.
Dia melangkah masuk ke dalam hutan dengan kewaspadaan penuh.
Semakin dalam dia berjalan, cahaya matahari semakin sulit menembus lebatnya dedaunan.
Suara serangga dan burung sesekali terdengar, namun suasana secara keseluruhan terasa sangat mencekam.
Krak.
Suara ranting patah tiba-tiba terdengar dari arah semak-semak di sebelah kanan Lin Xiao.
Pemuda itu langsung menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap sumber suara.
Grrr.
Suara geraman rendah yang dipenuhi rasa lapar terdengar dari balik semak belukar.
Dua buah mata berwarna kuning menyala menatap tajam ke arah Lin Xiao dari dalam kegelapan.
Srak.
Seekor monster melompat keluar dari semak-semak dan mendarat tepat di depan Lin Xiao.
Monster itu adalah Macan Tutul Bayangan, monster tingkat rendah yang terkenal dengan kecepatannya.
Ukurannya sebesar sapi dewasa dengan taring panjang yang meneteskan air liur berbau busuk.
Macan itu menatap Lin Xiao seolah sedang melihat mangsa yang sangat lezat.
'Monster tahap Pembentukan Dasar tingkat pertama.' nilai Lin Xiao dengan tenang.
'Lawan yang pas untuk pemanasan.'
Roar.
Macan Tutul Bayangan itu mengaum keras lalu melesat maju dengan kecepatan kilat.
Cakar depannya yang tajam terayun mengarah langsung ke leher Lin Xiao.
Wush.
Angin tajam menyertai ayunan cakar monster itu.
Namun di mata Lin Xiao, gerakan cepat itu terlihat sangat lambat.
Trang.
Lin Xiao mengangkat pedang besinya dan menahan serangan cakar tersebut dengan sangat mudah.
Benturan keras terjadi, namun Lin Xiao tidak mundur satu inci pun dari tempatnya berdiri.
Monster itu terlihat terkejut karena mangsanya bisa menahan serangannya dengan kekuatan fisik semata.
Sebelum macan itu sempat menarik kembali cakarnya, Lin Xiao sudah bergerak lebih dulu.
Brak.
Lin Xiao menendang perut monster itu dengan kekuatan penuh.
Suara tulang rusuk yang patah terdengar sangat jelas.
Nguik.
Macan Tutul Bayangan itu terpental mundur sambil mengeluarkan suara kesakitan.
Tubuhnya menghantam batang pohon besar hingga pohon itu bergetar hebat.
Lin Xiao tidak membiarkan monster itu mengatur napas.
Dia melesat maju, mengaktifkan sedikit energi dari Teknik Penguasa Darah ke tangan kanannya.
Jleb.
Pedang besi di tangan Lin Xiao menusuk lurus dan menembus tenggorokan macan tersebut.
Darah segar langsung menyembur keluar membasahi tanah berlumut di bawahnya.
Monster itu menggelepar beberapa detik sebelum akhirnya mati tak bergerak.
Lin Xiao menarik pedangnya dengan tenang dan mengibaskan darah yang menempel di bilahnya.
'Terlalu lemah.' batin Lin Xiao merasa kurang puas.
'Kekuatan fisikku sekarang sudah jauh melampaui monster tingkat ini.