Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Kehampaan yang Mulai Bicara
Pagi kedua sejak kepergian Mahira, kekacauan kecil terjadi di dalam kamar utama kediaman Ziko. Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh tepat, namun Ziko masih berdiri di depan lemari pakaiannya dengan handuk yang melingkar di pinggang. Wajahnya tampak kusut, sisa dari semalam suntuk memeriksa tumpukan berkas pembatalan investasi Grand Wijaya Group yang masih belum ia temukan solusinya.
Ziko menghela napas dalam sambil mengobrak-abrik deretan gantungan kemeja kerjanya. "Mahira! Kemeja biru langit yang biasa dipakai untuk rapat ditaruh di mana?" teriaknya refleks, suaranya menggema keras membelah keheningan kamar.
Hening. Tidak ada jawaban lembut yang biasanya menyahut dari arah dapur bawah atau koridor belakang.
Kesadaran Ziko terurai. Ia tertegun selama beberapa detik, memandangi deretan pakaian yang tampak sedikit berantakan. Ia baru ingat bahwa wanita yang biasa ia panggil itu sudah angkat kaki dari rumah ini sejak dua hari lalu. Biasanya, tanpa perlu diminta, kemeja kerjanya sudah tergantung rapi di pintu lemari lengkap dengan dasi yang serasi, tanpa ada kerutan sekecil apa pun karena selalu disetrika dengan ketelitian tinggi.
Pagi ini, Ziko terpaksa mengambil seadanya kemeja abu-abu yang agak lecek di bagian kerah, lalu memakainya dengan terburu-buru. Rasa jengkel mulai merayap di dadanya, bukan karena ia merindukan Mahira, melainkan karena kenyamanan hidupnya mendadak terusik.
Ziko melangkah keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Langkah kakinya terdengar berat. Pria itu berharap setidaknya ibunya, Bu Rani, atau mungkin Clarissa sudah menyiapkan sesuatu di atas meja untuk mengganjal perutnya sebelum menghadapi badai di kantor.
Namun, begitu menginjakkan kaki di ruang makan, pemandangan yang tersaji justru membuat kening Ziko berkerut semakin dalam. Meja makan kayu panjang itu kosong melompong. Tidak ada kepulan asap dari kopi hitam kesukaannya, tidak ada roti bakar, dan tidak ada aroma nasi goreng mentega yang biasa menyambut indra penciumannya setiap pagi.
Di sudut dapur bersih, Bu Rani tampak sibuk dengan wajah cemberut. Wanita tua itu mengenakan daster tidurnya, tangannya memegang teko listrik dengan bingung sambil mencoba menyalakan kompor gas yang tampaknya kehabisan isi tabung.
"Ibu? Kok belum ada sarapan?" tanya Ziko, suaranya menyiratkan kelelahan yang amat sangat.
Bu Rani menoleh dengan wajah gusar, mengibaskan tangannya dengan kesal. "Aduh, Ziko! Ibu bingung ini, kompornya mati, sepertinya gasnya habis. Lalu teko listrik ini tombolnya macet tidak mau panas. Si bibi ART cabutan yang Ibu panggil kemarin sore juga belum datang-datang jam segini! Malas sekali itu orang!"
Ziko memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Biasanya kalau gas habis atau ada barang rusak, langsung beres, Bu."
"Ya jelas langsung beres, kan si pembawa sial itu yang biasanya mengurus semuanya pagi-pagi buta!" sahut Bu Rani berapi-api, masih sempat menyertakan hinaan untuk Mahira meski posisinya sedang kewalahan.
"Dia itu kan memang tugasnya begitu! Sekarang dia pergi, rumah ini jadi berantakan semua. Ibu tidak biasa bangun pagi langsung mengurus dapur begini, tangan Ibu bisa kasar semua, Ziko!"
Ziko tidak membalas. Ia berjalan menuju dispenser untuk mengambil air bening, namun begitu keran ditekan, cairan yang keluar hanya beberapa tetes sebelum akhirnya berhenti total. Galonnya kosong. Ziko mendengus kasar.
Selama tiga tahun ini, ia tidak pernah tahu kapan galon air diganti, kapan gas kompor diisi ulang, atau bagaimana cara teko listrik itu dirawat agar tidak macet. Semuanya berjalan begitu otomatis, rapi, dan senyap di bawah tangan Mahira.
Ziko selalu berpikir bahwa rumah ini beres dengan sendirinya karena fasilitasnya yang mewah, namun pagi ini kenyataan menamparnya dengan keras, kemewahan itu tidak berfungsi apa-apa tanpa ada sosok yang mengaturnya dari belakang.
"Sudahlah, Bu. Ziko sarapan di luar saja nanti sekalian jalan ke kantor," kata Ziko pendek, mengambil tas kerjanya dari atas sofa dengan gerakan gusar.
"Ya sudah, kamu beli kopi sekalian buat Ibu ya, Nak," timpal Bu Rani, lalu berjalan menuju ruang tamu untuk bersantai di depan televisi, meninggalkan kekacauan dapur begitu saja tanpa niat untuk merapikannya.
Ziko melangkah keluar menuju garasi. Saat melewati ruang tengah, matanya sempat menangkap tumpukan piring kotor bekas makan malamnya dengan Clarissa dan Bu Rani yang masih menumpuk di wastafel dapur, mulai menimbulkan bau yang kurang sedap. Biasanya, rumah ini selalu wangi aromaterapi. Kini, aroma pengap dan sisa makanan mulai mendominasi udara. Rasa tidak nyaman di hati Ziko makin menjadi-jadi.
Begitu masuk ke dalam mobil, Ziko segera melajukan kendaraannya membelah jalanan kota. Namun, gangguan terhadap kebiasaan hidupnya belum selesai. Di tengah jalan, ia meraba saku jasnya untuk mengambil saputangan. Kosong.
Mahira biasanya selalu menyelipkan saputangan bersih beraroma maskulin di sana. Ponselnya kemudian bergetar, menampilkan pesan dari sekretarisnya bahwa pihak bank mulai menanyakan kepastian dana jaminan untuk proyek mereka yang mandek.
Ziko memukul setir mobilnya dengan frustrasi. "Sialan! Kenapa semuanya jadi berantakan begini?" umpatnya keras-keras di dalam kabin mobil yang sepi.
Pikiran Ziko mendadak terlempar pada sosok Mahira. Istrinya yang berwajah datar, yang tidak pernah banyak menuntut, yang selalu berdiri di sudut ruangan menerima caci maki ibunya tanpa pernah membalas. Ziko mulai merasa ada sesuatu yang hilang, bukan perasaan cinta, melainkan hilangnya sebuah sistem pendukung yang selama ini ia anggap remeh dan tidak berharga.
Ziko mencoba menepis perasaan hampa itu dengan ego prianya yang tinggi. 'Tidak, ini cuma masalah adaptasi kecil karena si bibi ART belum datang. Mahira cuma perempuan kampung pembawa sial yang kebetulan rajin. Aku bisa menyewa sepuluh pembantu profesional yang jauh lebih baik dari dia setelah perusahaanku mendapat dana dari Clarissa,' batin Ziko menenangkan dirinya sendiri secara paksa.
Namun, saat mobilnya perlahan memasuki area parkir kantor pusat Adhi Jaya Perkasa, ponselnya kembali berdering dengan nada yang sangat mendesak. Nama kepala divisi operasional pabrik tertera di layar.
Ziko buru-buru mengangkatnya dengan firasat yang mendadak memburuk. "Halo, ada apa lagi?"
"Pak Ziko! Gawat, Pak!" Suara di seberang telepon terdengar panik dan terengah-engah. "Baru saja dua truk kontainer pengangkut bahan baku baja dari anak perusahaan Grand Wijaya Group berbalik arah di depan gerbang pabrik kita. Mereka menolak membongkar muatan!"
Jantung Ziko berdegup kencang, napasnya tertahan. "Apa? Kenapa ditolak?! Kita kan sudah punya kontrak kerja sama tahunan dengan mereka!"
"Pihak legal mereka baru saja mengirimkan surat pembatalan kontrak resmi lewat kurir kilat, Pak. Katanya ini perintah langsung dari jajaran direksi tertinggi pusat, dan mereka memutus seluruh pasokan bahan baku ke pabrik kita per jam dua siang nanti. Kalau pasokan ini berhenti, operasional pabrik kita akan mati total besok pagi, Pak!"
Mendengar laporan beruntun itu, Ziko merasa bumi yang dipijaknya seolah runtuh seketika. Surat gugatan cerai Mahira, hilangnya kenyamanan di rumah, dan kini kehancuran bisnisnya yang datang bertubi-tubi membuat kepalanya terasa mau pecah.
Pria itu mencengkeram kemudi mobilnya dengan erat, wajahnya pucat pasi ditelan kepanikan yang luar biasa, tanpa pernah tahu bahwa seluruh hantaman yang membuatnya kewalahan ini dikendalikan oleh satu jentikan jari dari wanita dasteran yang baru saja diusirnya dari rumah.