NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Identitas Tersembunyi

Arya tidak langsung menjawab.

Hujan tipis menempel di rambut dan bahunya. Di balik gerbang Rumah Besar Keluarga Permata, lampu-lampu hangat masih menyala, suara orang tertawa samar kembali terdengar, seolah tidak ada yang baru saja diusir dari sana.

"Mobil sudah saya siapkan di ujung jalan," kata Pak Satria dari telepon. "Bukan mobil mencolok. Toyota Alphard hitam, pelat biasa. Jika Tuan Muda ingin langsung ke Gedung Takdir, saya bisa minta Eko membuka lift privat."

Arya melihat ke arah jalan yang basah. Sebuah motor ojek online lewat pelan, jas hujannya berkibar tertiup angin malam. Di kejauhan, klakson mobil terdengar pendek, tertahan macet Kota Awan yang tidak pernah benar-benar tidur.

"Tidak perlu," kata Arya.

Pak Satria terdiam. "Tuan Muda?"

"Aku ingin jalan sebentar."

"Hujan."

"Aku tahu."

Suara pria tua itu melembut. "Baik. Saya akan mengikuti dari jauh."

Arya tersenyum tipis. "Pak Satria, jangan perlakukan aku seperti anak kecil."

"Di mata saya, Anda tetap anak dari Tuan Bagaskara."

Nama itu membuat langkah Arya tertahan sejenak.

Bagaskara Suryanegara.

Ayahnya.

Nama yang selama tiga tahun terakhir lebih sering ia simpan di dasar ingatan daripada ia ucapkan. Nama yang dulu membuat pintu-pintu ruang direksi terbuka, kepala cabang keluarga menunduk, dan para konglomerat tua berhitung ulang sebelum berbicara. Nama yang kemudian dikubur bersama kabar kecelakaan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan.

Arya memejamkan mata sebentar.

"Aku akan menghubungimu nanti," katanya.

"Saya menunggu perintah."

Panggilan terputus.

Arya memasukkan ponsel ke saku, lalu mulai berjalan. Sandal lamanya menyipratkan air dari trotoar. Kemeja putihnya semakin basah. Jika ada orang yang melihatnya saat itu, mereka hanya akan melihat mantan menantu miskin yang baru diusir dari rumah mertua, membawa tas kain seperti seseorang yang tidak punya tujuan.

Tidak ada yang akan menyangka bahwa pria itu adalah pemilik sebenarnya dari perusahaan terbesar di Kota Awan.

Tidak ada yang akan menyangka bahwa gedung tertinggi di kawasan bisnis, yang puncaknya menyala seperti pisau perak di tengah hujan, dibangun dari keputusan-keputusan dingin yang ia buat selama tiga tahun terakhir.

PT Takdir Nusantara Group.

Orang-orang di Kota Awan menyebutnya raksasa. Anak perusahaannya memegang kontrak hotel, infrastruktur, media, logistik, restoran, dan proyek properti bernilai puluhan triliun rupiah. Para pengusaha kecil ingin dekat dengannya. Bank-bank besar ingin meminjamkan uang kepadanya. Pejabat daerah tersenyum lebih lebar setiap kali namanya disebut dalam rapat investasi.

Dan Keluarga Permata?

Delapan puluh persen napas bisnis mereka tersambung ke jaringan Takdir.

Ironis.

Maryam mengusirnya dengan menyebutnya pengemis, padahal setiap pesta keluarga yang ia banggakan dibayar oleh arus uang yang diam-diam Arya biarkan mengalir.

Arya berhenti di bawah halte kosong. Sebuah layar iklan besar di seberang jalan menampilkan wajah seorang selebritas perempuan yang sedang tersenyum sambil memegang botol parfum. Di bagian bawah layar, ada logo sponsor: Takdir Entertainment Group.

Ia menatap logo itu beberapa detik.

Tiga tahun lalu, ketika ia datang ke Kota Awan, PT Takdir Nusantara Group hampir mati.

Direksinya terpecah. Utang proyek menumpuk. Vendor menolak mengirim barang. Anak-anak perusahaan saling menyalahkan. Dewan Komisaris diam-diam mencari pembeli murah untuk menjual aset terbaik perusahaan.

Lalu Arya masuk.

Tidak sebagai pewaris.

Tidak sebagai bos.

Ia masuk sebagai menantu miskin Keluarga Permata, lelaki yang datang ke kantor hanya sesekali, mengenakan kemeja sederhana, bicara sedikit, dan sering dikira kurir dokumen oleh resepsionis baru.

Tetapi pada malam hari, setelah Sinta tidur di kamar terpisah dan Maryam selesai memaki-maki tentang tagihan listrik, Arya bekerja.

Ia membongkar laporan keuangan palsu. Mengganti manajer proyek yang korup. Memindahkan utang jangka pendek menjadi obligasi korporasi yang lebih sehat. Menutup tiga lini usaha yang hanya membakar uang. Membeli saham pemasok kunci melalui perusahaan cangkang. Menekan vendor yang bermain dua kaki. Mengundang investor Singapura lewat Prima Investment Corp., tanpa pernah membiarkan nama Suryanegara muncul di dokumen publik.

Dalam enam bulan, Takdir berhenti berdarah.

Dalam satu tahun, Takdir kembali untung.

Dalam tiga tahun, Takdir menjadi kerajaan bisnis.

Dan di rumah besar Permata, Maryam masih menyuruhnya memperbaiki dispenser.

Arya tertawa pelan.

Tawanya tidak hangat, tetapi juga tidak pahit. Lebih seperti seseorang yang akhirnya melihat sebuah sandiwara terlalu panjang sampai kehilangan rasa lucunya.

Sebuah mobil patroli satpam komplek melintas. Pengemudinya melambat saat melihat Arya, lalu mengenalinya.

"Pak Arya?" Satpam itu membuka kaca jendela. Namanya Rahim, pria paruh baya yang sering bertugas malam. "Hujan begini jalan kaki? Mau saya antar ke gerbang utama?"

Arya menggeleng. "Tidak usah, Pak Rahim. Terima kasih."

Rahim melirik tas kain di tangan Arya, lalu ke arah rumah besar Permata di belakang. Wajahnya berubah canggung. Ia mungkin sudah mendengar sesuatu dari radio internal satpam. Di komplek elit, kabar keluarga kaya lebih cepat bergerak daripada mobil ambulans.

"Kalau butuh tempat berteduh, pos saya kosong," kata Rahim pelan. "Tidak enak kalau Bapak basah begini."

Bapak.

Di dalam rumah itu, Arya disebut benalu. Di pos satpam, seorang pria bergaji biasa masih punya cukup hormat untuk memanggilnya Bapak.

Arya menepuk bahu Rahim ringan. "Jaga kesehatan. Anakmu masih kelas berapa?"

Rahim terkejut. "Kelas dua SMP, Pak. Bapak masih ingat?"

"Dia pernah sakit demam waktu kamu pinjam uang ke bagian administrasi komplek."

Mata Rahim melebar. Ia tidak pernah tahu siapa yang diam-diam melunasi pinjaman kecil itu. Saat ia ingin bertanya, Arya sudah melangkah lagi.

Malam Kota Awan membuka dirinya di depan Arya.

Lampu jalan memantul di aspal. Aroma sate dari gerobak kaki lima bercampur dengan bau hujan dan bensin. Di satu sisi jalan, pekerja kantor pulang dengan wajah lelah. Di sisi lain, mobil mewah berbaris menuju restoran mahal. Kota ini selalu seperti itu: sebagian orang menghitung receh, sebagian lain membakar uang untuk satu botol parfum.

Arya pernah hidup di kedua sisi.

Ia lahir sebagai putra sah garis utama Keluarga Suryanegara, keluarga konglomerat yang namanya cukup untuk membuat pengusaha senior menurunkan suara. Ia tumbuh di rumah yang dijaga pengawal bersenjata, belajar membaca laporan keuangan sebelum remaja, dan melihat perang kekuasaan keluarga lebih cepat daripada anak lain belajar bersepeda.

Tetapi ayahnya tidak membesarkannya sebagai tuan muda manja.

Bagaskara mengirimnya ke jalur paling keras.

Pelatihan militer.

Kopassus.

Di sana, tidak ada yang peduli marga Suryanegara. Lumpur tetap lumpur. Darah tetap darah. Jika ia lambat, ia tertinggal. Jika ia sombong, ia dipatahkan. Jika ia lemah, ia membahayakan tim.

Arya belajar menembak dalam hujan, bernapas dalam air keruh, membaca jejak di tanah gelap, dan mematahkan serangan lawan sebelum lawan sempat menyelesaikan niatnya. Ia belajar bahwa kekuasaan sejati bukan suara keras, melainkan kemampuan membuat keputusan tepat saat semua orang panik.

Kemampuan itu yang ia bawa ke dunia bisnis.

Orang seperti Revan Hadinata mengira kekuasaan adalah membawa lima pengawal dan menghina orang di restoran. Maryam mengira kekuasaan adalah rumah besar, gelang emas, dan mulut yang tidak pernah berhenti merendahkan orang lain.

Mereka tidak tahu apa-apa.

Kekuasaan adalah jaringan kontrak yang bisa diputus dalam satu malam.

Kekuasaan adalah nama yang tidak muncul di dokumen, tetapi ditakuti oleh semua orang yang membaca dokumen itu.

Kekuasaan adalah membuat musuh tertawa hari ini, lalu membuat mereka memohon besok tanpa mengerti kapan pisau itu masuk.

Arya tiba di sebuah jembatan penyeberangan. Dari sana, Gedung Takdir terlihat jelas di kejauhan. Menara kaca itu menjulang di tengah kawasan bisnis, logo emasnya menyala di antara kabut hujan.

Ia berdiri di pagar jembatan, menatap gedung itu.

Tiga tahun sebagai menantu miskin telah selesai.

Pertanyaannya sekarang bukan apakah Keluarga Permata akan hancur.

Pertanyaannya adalah seberapa cepat mereka akan menyadari siapa yang baru saja mereka usir.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini nomor yang muncul tidak tersimpan.

Arya mengangkatnya.

Sebelum ia sempat bicara, suara perempuan terdengar dari seberang. Jernih, cepat, dan membawa kegembiraan yang tidak disembunyikan.

"Mas Arya! Akhirnya kamu bebas juga!"

Arya mengerutkan kening sedikit. "Tiara?"

Perempuan itu tertawa kecil. "Jangan terdengar begitu dingin. Aku sudah menunggu hari ini tiga tahun, tahu? Sinta benar-benar perempuan bodoh. Kalau dia tahu siapa yang baru saja dia buang, dia bisa menyesal sampai tua."

Di bawah jembatan, lampu sebuah mobil hitam menyapu wajah Arya sebentar sebelum menghilang ke tikungan.

"Dari mana kamu tahu?" tanya Arya.

Tiara menurunkan suara, tetapi nadanya masih tajam. "Aku tahu lebih banyak dari yang kamu kira, Mas. Dan malam ini bukan cuma tentang perceraianmu."

Arya menatap logo Gedung Takdir yang berkilau di tengah hujan.

"Lanjutkan."

Tiara menarik napas.

"Revan Hadinata ada di balik foto-foto itu."

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!