NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Armada Matahari Darah

Jeritan histeris Ketua Sekte Jiu Feixue masih menggema, memantul di antara tebing-tebing Puncak Pedang Sekte Angin Merah. Puluhan ribu murid yang berada di pelataran bawah saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka belum pernah mendengar Dewi Es kebanggaan sekte mereka kehilangan kendali seperti itu.

Di atas pelataran utama, Leluhur Jiu Zui menatap Zeng Niu dengan mata membelalak, mabuknya hilang seketika. Kendi araknya yang pecah di lantai bahkan tidak ia pedulikan.

"Membunuh... Pangeran Pertama?" suara Jiu Zui bergetar, terdengar setua usianya untuk pertama kalinya. "Zeng Niu, bocah gila... Istana Pusat bukanlah Sekte Iblis Darah! Mereka adalah penguasa mutlak! Kaisar Langit memiliki ribuan ahli Soul Transformation dan lusinan dewa Ascendant! Menyinggung mereka sama dengan menantang seluruh langit Alam Abadi!"

Jiu Feixue mengusap wajahnya yang pucat, matanya menatap Zeng Niu dengan keputusasaan murni. "Kita tamat. Ribuan tahun warisan Angin Merah... akan hancur menjadi abu karena arogansimu."

Zeng Niu berdiri diam membiarkan mereka meluapkan kepanikan. Sang Algojo tidak tersinggung. Ia tahu betul beban mental dari nama "Istana Pusat" bagi kultivator pinggiran seperti mereka.

Namun, waktu untuk panik sudah habis.

BOOOOOOOOOOOM!

Zeng Niu menghentakkan kaki kanannya ke lantai marmer.

Seketika, fluktuasi absolut dari Soul Transformation Tahap Akhir meledak keluar dari tubuhnya! Tekanan Domain Ketiadaan miliknya menyebar bagaikan badai, menekan seluruh pelataran. Jiu Feixue dan Jiu Zui terdorong mundur beberapa langkah, napas mereka tercekat. Udara di sekeliling Zeng Niu berubah menjadi sangat berat, membuat ruang itu sendiri berderak.

"Dengarkan baik-baik," suara Zeng Niu tidak keras, namun menggema di Lautan Kesadaran setiap orang yang hadir, dingin dan penuh otoritas mutlak.

"Pertama," Zeng Niu mengangkat satu jarinya. "Secara teknis, aku tidak membunuhnya. Dia terlalu rakus, menginjak jebakanku, dan ditelan bulat-bulat oleh monster lumpur kosmik dari zaman purba. Jadi, secara hukum, monster itulah pembunuhnya."

"Kau pikir Istana Pusat peduli pada teknis hukum sialanmu?!" desis Jiu Feixue, matanya merah.

"Tentu saja tidak," Zeng Niu menyeringai, memamerkan deretan giginya. "Itulah poin keduaku. Keadilan di dunia ini hanya berlaku untuk mereka yang lehernya cukup keras untuk menahan pedang algojo. Istana Pusat memang raksasa, tapi kitalah yang memegang sumber dayanya sekarang!"

Zeng Niu menunjuk ke arah gunungan harta karun yang menjulang di tengah pelataran. Cahaya dari ribuan artefak tingkat bumi dan surga, serta aroma puluhan ribu pil spiritual, kembali menyadarkan Jiu Feixue dan Jiu Zui pada realitas di depan mata mereka.

"Kalian meratapi kematian sekte, tapi apakah kalian buta melihat gunung emas di depan kalian?" ucap Zeng Niu. "Lautan Bintang telah memberiku fondasi! Aku berada di Soul Transformation Tahap Akhir. Dengan fisik asuraku, bahkan jika ahli Ascendant Tahap Awal datang, aku bisa mematahkan lehernya!"

Zeng Niu menoleh ke arah sepuluh muridnya yang sejak tadi berdiri tegak tanpa rasa takut sedikit pun di belakangnya.

"Mo Tian!"

"Ya, Paman Muda!" teriak Mo Tian lantang.

"Buka seluruh segel cincin jarahan itu. Distribusikan pil spiritual tingkat puncak kepada seluruh Tetua dan murid inti! Siapa pun yang berada di Golden Core Puncak, paksa mereka menerobos ke Nascent Soul hari ini juga! Jika ada yang gagal dan meridiannya meledak, itu salah mereka sendiri karena terlalu lemah! Kita butuh pasukan, bukan sekumpulan cendekiawan manja!"

"Laksanakan!" kelompok Angin Merah langsung bergerak seperti mesin perang yang efisien, membongkar harta dan mulai menyortirnya dengan kecepatan gila.

Zeng Niu menatap kembali Jiu Feixue. Niat Membunuh yang sedingin es neraka terpancar dari matanya.

"Ketua Sekte Nenek, berhenti meratapi nasib. Aktifkan Formasi Perlindungan Angin Darah sekarang juga. Aku membawa Kristal Esensi Bintang dan sebongkah batu aneh bernama Air Mata Kiamat dari suku primitif. Aku akan memodifikasi formasi sekte kita dari tingkat pertahanan fana menjadi formasi pembunuh tingkat kosmik!"

Jiu Feixue menelan ludahnya. Ketegasan, kekejaman, dan rasa percaya diri yang memancar dari pemuda ini... perlahan menularkan keberanian yang gila ke dalam hatinya. Zeng Niu benar. Mereka tidak bisa melarikan diri. Satu-satunya jalan adalah menghadapi langit itu sendiri!

"Berapa lama waktu yang kita miliki?" tanya Jiu Feixue, suaranya kembali sedingin pualam, akhirnya menerima kenyataan perangnya.

"Paling cepat tiga hari, paling lambat satu minggu, sebelum barisan depan mereka mencapai Benua Utara," analisis Zeng Niu santai. "Cukup waktu untuk mengasah pedang kita."

Jiu Zui tertawa parau, menenggak sisa arak dari botol cadangannya. "Gila. Kita semua benar-benar sudah gila. Menantang Istana Pusat... hahaha! Baiklah! Tulang tuaku ini sudah lama tidak dipanaskan!"

Mesin perang Sekte Angin Merah akhirnya dihidupkan pada kapasitas dua ratus persen. Gunung harta jarahan itu langsung dilebur. Sepanjang malam, raungan terobosan kultivasi terdengar sambung-menyambung dari seluruh penjuru puncak gunung, diiringi oleh getaran formasi pelindung yang sedang diperkuat oleh Zeng Niu menggunakan pilar-pilar kosmik.

Tiga Hari Kemudian — Perbatasan Langit Benua Tengah dan Utara

Sementara Sekte Angin Merah mengubah rumah mereka menjadi benteng landak yang dipenuhi duri mematikan, langit di perbatasan Benua Tengah telah berubah warna menjadi lautan darah.

Sebuah pemandangan yang cukup untuk membuat sekte lapis pertama mana pun menyerah tanpa syarat sedang melintasi hamparan awan.

Lima puluh kapal perang astral raksasa melayang membelah angin. Setiap kapal terbuat dari kayu dewa berwarna emas dan merah, panjangnya mencapai lima ribu tombak, dilengkapi dengan meriam formasi yang moncongnya sebesar kawah gunung berapi.

Ini adalah Divisi Matahari Darah, pasukan pelopor yang paling ditakuti dari Istana Pusat. Mereka tidak dikirim untuk menaklukkan; mereka dikirim secara eksklusif untuk menghapus sebuah wilayah dari sejarah.

Di geladak kapal bendera yang berada paling depan, berdiri puluhan jenderal bertubuh kekar mengenakan zirah api. Fluktuasi kultivasi mereka rata-rata berada di Soul Transformation Tahap Menengah hingga Akhir.

Namun, yang membuat aura kapal itu begitu mencekik adalah pria yang duduk di singgasana naga di tengah geladak.

Jenderal Xue Yang (Matahari Berdarah).

Pria itu mengenakan jubah merah tua yang terbuat dari kulit naga api. Wajahnya dipenuhi bekas luka bakar, dan matanya tidak memiliki putih mata, melainkan sepenuhnya berwarna merah magma. Ia adalah ahli Ascendant Tahap Awal, salah satu dari tiga puluh enam Jenderal Dewa Istana Pusat.

Seorang letnan tingkat Soul Transformation melangkah maju, berlutut dengan satu kaki di hadapan Xue Yang.

"Jenderal! Kami telah memasuki ruang udara Benua Utara. Radar formasi spiritual mendeteksi target: Sekte Angin Merah, berjarak sekitar sepuluh ribu mil ke arah utara. Estimasi waktu ketibaan: setengah hari."

Xue Yang memutar cincin giok di jari telunjuknya perlahan. Udara di sekitarnya mendesis, membakar setiap tetes embun yang berani mendekat.

"Hanya sebuah sekte pinggiran," suara Xue Yang terdengar seperti batu bara yang dihancurkan. "Sungguh penghinaan bagi Divisi Matahari Darah karena harus turun tangan membasmi semut. Namun, titah Yang Mulia Kaisar mutlak. Mereka berani menyentuh sehelai rambut Pangeran Pertama."

Xue Yang berdiri. Tubuhnya yang menjulang tinggi memancarkan paksaan hukum dunia yang menekan seluruh pasukan di kapal itu.

"Dengarkan perintahku!" raung Xue Yang, suaranya diperkuat oleh Niat Langit, menggema melintasi lima puluh kapal perang raksasa.

"Aktifkan seluruh Meriam Bintang Pembakar! Begitu kita berada dalam jangkauan pandang, jangan berikan peringatan, jangan berikan kesempatan menyerah! Ratakan gunung mereka! Bakar laut mereka! Jangan tinggalkan anjing atau ayam yang hidup di Sekte Angin Merah! Aku ingin kepala pelakunya dibawa hidup-hidup ke hadapanku untuk dikuliti!"

"SIAP, JENDERAL!" seratus ribu pasukan elit Matahari Darah meraung serempak, Niat Membunuh mereka menyatu menjadi Niat Perang berbentuk naga darah raksasa di atas armada tersebut.

Armada maut itu melaju semakin cepat, meninggalkan jejak awan terbakar di langit Benua Utara.

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!