Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Sarapan yang Mengusik Selera
Setelah selesai memasak, Bu Sumarni segera menata sarapan di atas meja makan. Menu pagi itu sangat sederhana.
Sepiring tempe goreng yang sebagian terlalu kering karena terlalu lama digoreng. Tahu goreng yang bagian luarnya kecokelatan, tetapi bagian dalamnya masih terasa hambar. Semangkuk sayur bayam bening tanpa taburan bawang goreng. Terlihat biasa saja.
Tidak ada ayam. Tidak ada daging. Tidak ada telur.
Hanya sayur bening, tahu, dan tempe.
Bu Sumarni sebenarnya sudah berusaha memasak semampunya dengan bahan yang dibeli dari tukang sayur pagi tadi. Namun hasilnya jelas jauh berbeda dibandingkan masakan Arini yang selama ini selalu terlihat rapi dan menggugah selera.
Saat semua duduk di meja makan, Vera langsung memandangi hidangan itu dengan wajah tidak percaya.
"Hanya ini, Bu?"
Bu Sumarni yang sedang mengambil nasi mengangkat kepala. "Memangnya kenapa?"
Vera menunjuk lauk di atas meja. "Kita sarapan pakai tahu sama tempe doang?"
"Nikmati saja. Masih untung ada yang masak. Kamu protes aja, disuruh bantuin juga nolak."
Vera mengambil sepotong tempe lalu menggigitnya. Beberapa detik kemudian wajahnya langsung berubah.
"Tempenya keras."
Bu Sumarni langsung melotot. "Ya namanya juga tempe goreng."
"Tapi biasanya enggak begini." Vera lalu mencoba sayur beningnya.
Kali ini ekspresinya semakin tidak puas. "Ini juga terlalu asin."
Kesabaran Bu Sumarni mulai menipis. "Dari tadi salah terus."
"Vera cuma bilang apa adanya."
"Lalu kenapa tidak masak sendiri?"
Suasana meja makan mulai memanas. Vera meletakkan sendoknya dengan kesal. "Kalau sama Mbak Arin, belum pernah sarapan sesederhana ini."
Kalimat itu seketika membuat wajah Bu Sumarni mengeras. Nama yang sejak kemarin berusaha ia abaikan justru kembali disebut.
"Kalau sama Arini, kalau sama Arini!" bentaknya.
Vera terdiam.
"Kenapa sekarang semuanya dibanding-bandingkan dengan dia?"
"Karena memang beda, Bu."
"Bedanya apa?"
"Ya... masakan Mbak Arin lebih enak, menunya variatif, gak kayak gini."
Bu Sumarni langsung meletakkan piringnya dengan keras. "Kalau memang dia hebat sekali, sana susul dia. Lagian kalau mau makan enak, uang belanjanya juga harus banyak."
Galang yang sejak tadi diam hanya bisa menghela napas pelan. Ia sebenarnya juga menyadari itu. Biasanya dia tidak pernah ngasih uang belanja. Dia hanya tahu masakan sudah tersedia di meja.
Namun kini, dia bisa melihat perbedaannya, kalau ada Arini dan tidak. Bukan hanya soal rasa makanan. Selama ini meja makan selalu penuh dengan berbagai pilihan lauk. Arini selalu memastikan semuanya tersedia sebelum mereka bangun tidur.
Kini baru satu hari Arini pergi, meja makan sudah berubah drastis. Tidak ada lagi yang memikirkan siapa suka lauk apa. Tidak ada lagi yang menyiapkan semuanya dengan telaten. Yang ada hanya sarapan sederhana yang justru memicu pertengkaran.
Vera mendecak kesal. "Vera cuma kaget saja. Biasanya enggak pernah begini."
Bu Sumarni tertawa sinis. "Nah, sekarang rasakan. Baru tahu, kan, kalau mengurus rumah itu tidak semudah yang kalian kira."
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening.
Karena tanpa sadar, Bu Sumarni sedang mengakui sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia akui.
Bahwa pekerjaan Arini ternyata jauh lebih berat daripada yang terlihat.
Ternyata bukan hanya Vera yang mengeluhkan menu sarapan pagi itu. Pak Hardi yang baru duduk di kursi makan juga tampak kurang puas.
Pria itu memandangi sayur bening, tahu goreng, dan tempe goreng yang tersaji di atas meja. Tidak buruk, bahkan cukup layak untuk sarapan. Namun entah kenapa, pikirannya langsung teringat pada hidangan semalam.
"Lho, Bu," katanya sambil mengernyit. "Jauh banget ya sama makanan tadi malam."
Bu Sumarni yang sedang menuangkan teh langsung menoleh. "Maksudnya?"
"Ya semalam kan menunya macam-macam. Ada ayam, ikan, tumisan, sambal. Lengkap. Sekarang cuma begini."
Ucapan itu membuat wajah Bu Sumarni sedikit berubah. Tanpa sadar, Pak Hardi baru saja membandingkan masakannya dengan masakan Arini.
Padahal semalam semua makanan yang mereka lahap dengan nikmat itu adalah hasil kerja Arini sejak pagi. Arini memasaknya dengan penuh semangat karena ingin merayakan hari ulang tahun pernikahannya dengan Galang.
Sayangnya, yang datang justru penghinaan terbesar dalam hidupnya. Bu Sumarni membawa Mayang ke rumah dan memperkenalkannya sebagai istri kedua Galang.
Malam yang seharusnya menjadi perayaan cinta berubah menjadi malam kehancuran bagi Arini.
Dan kini, makanan yang disiapkan Arini untuk merayakan pernikahannya justru dijadikan standar pembanding.
"Iya sih," sahut Vera sambil mengambil tempe goreng. "Kalau dibanding semalam, memang kalah jauh."
Bu Sumarni langsung merasa dadanya sesak. Belum sempat dia menanggapi, Mayang ikut berbicara.
"Aku juga ngerasa begitu."
Semua mata langsung tertuju padanya. Mayang memandangi meja makan beberapa saat sebelum menghela napas kecil.
"Kalau di rumahku, sarapan biasanya lebih lengkap. Ada telur, buah, roti, atau bubur ayam. Jadi agak kaget saja lihat menunya cuma seperti ini."
Lalu ia menoleh kepada Galang. "Mas, aku pengin bubur ayam."
Galang yang sejak tadi diam hanya melirik istrinya. "Makan dulu yang ada!"
"Tapi aku nggak biasa."
"Mayang."
"Mas, beliin, ya? Sebentar aja."
Nada manja itu membuat wajah Bu Sumarni semakin mengeras. Entah kenapa, setiap kalimat yang keluar dari mulut Mayang pagi itu terdengar seperti sindiran.
Padahal selama ini dialah orang yang paling bersemangat menjodohkan Galang dengan Mayang. Dialah yang selalu menganggap Mayang lebih pantas dibanding Arini.
Namun sekarang, saat Mayang mulai mengeluhkan makanan yang dimasaknya, Bu Sumarni merasa harga dirinya seperti diinjak-injak.
"Kalau nggak suka, ya nggak usah dimakan!" katanya tajam.
Suasana langsung hening. Mayang tampak terkejut. "Saya nggak bilang nggak suka, Bu."
"Tapi dari tadi isinya komplain terus."
Mayang langsung menutup mulut. Sementara Pak Hardi yang tidak peka pada suasana masih bergumam.
"Ya memang beda jauh sih sama masakan semalam."
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir. Bu Sumarni menggenggam sendok erat-erat. Ia benar-benar merasa tersinggung.
Masakan yang sudah susah payah dibuatnya dianggap biasa saja. Yang dipuji justru makanan buatan Arini.
Arini.
Menantu yang kemarin mereka sakiti. Menantu yang makan malam istimewanya mereka hancurkan tanpa rasa bersalah.
Dan ironisnya, baru satu kali memasak, Bu Sumarni sudah merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia akui.
Bun
Masakan Arini memang jauh lebih enak. Lebih lengkap. Lebih rapi.
Dan yang paling menyebalkan, semua orang di meja ini tanpa sadar mulai merindukan kenyamanan yang selama ini diberikan Arini, meski tidak satu pun dari mereka mau mengatakannya dengan jujur.
Tak ada lagi yang berbicara. Mereka melanjutkan sarapan dalam suasana yang tidak nyaman.
Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.
Dan di tengah keheningan itu, nama Arini kembali memenuhi pikiran mereka, meskipun tidak seorang pun ingin mengakuinya.
___________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.