NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : SINYAL YANG HILANG

​Mobil sedan mewah itu akhirnya berhenti di pelataran sebuah kafe bernuansa klasik namun amat mewah yang terletak di pusat kota. Meski hari masih pagi, kafe berinterior kayu hangat dan beraroma kopi mahal itu sudah mulai dipadati oleh pengunjung dari kalangan atas.

​Riko melangkah masuk terlebih dahulu, memandu langkah menuju sudut khusus di bagian belakang kafe. Tempat itu sengaja dipilihnya agar obrolannya dengan gadis di sampingnya tidak terganggu oleh lalu lalang pengunjung lain.

​Tak jauh dari sana, dimana Ivan asisten sekaligus pengawal Riko lebih mengambil posisi tempat duduk yang terpisah. Namun begitu, Sepasang matanya tetap sigap mengawasi sekeliling dan mengawal bosnya tersebut. Walau sesekali jemarinya membalik buku menu, memindai deretan kopi dan sajian roti hangat untuk mengganjal perutnya pagi ini.

​Di meja utama, Riko menyandarkan punggungnya santai. Manik matanya bergerak lambat, menyapu penampilan Lulu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai.

​Tampilan gadis berkacamata itu sangat sederhanan seperti khas pegawai kantoran biasa. Sangat kontras dengan gaun dan polesan anggun yang melekat pada dirinya saat pesta malam itu.

​Riko terkekeh pelan dalam hati. Ia menertawakan dirinya sendiri yang mendadak begitu terobsesi dan penasaran pada wanita yang sejujurnya sama sekali tidak menarik di matanya. Terlebih lagi, ia tahu betul latar belakang Lulu dari laporan yang diterimanya yaitu gadis di depannya tersebut bahkan tidak mengenyam pendidikan tinggi selayaknya orang-orang pada umumnya yang menyelesaikan masa studi hingga jenjang sarjana.

​"Apakah dia semiskin itu sampai-sampai tidak mampu membiayai kuliahnya sendiri?" Batin Riko sinis juga meremehkan.

​Namun, ingatan Riko mendadak terlempar pada potongan informasi tambahan yang disampaikan Ivan kemarin. Ivan menyebutkan bahwa Lulu berhasil diterima bekerja di perusahaan logistik milik rekan bisnis ayahnya bukan karena jalur belakang, melainkan karena kemampuannya yang luar biasa dalam berkomunikasi, bernegosiasi serta memecahkan masalah pelik di lapangan.

​Di balik penampilannya yang terkesan lugu dan culun, ternyata ada bakat tersembunyi yang cukup tajam. Sebuah fakta yang tanpa disadari Riko... perlahan mulai mengusik rasa ingin tahunya lebih dalam.

...****************...

​Aroma biji kopi pilihan dan denting sendok porselen memenuhi sudut kafe mewah itu. Riko menyandarkan cangkir espressonya, menatap Lulu yang duduk dengan posisi tubuh kaku dan serba salah di hadapannya dengan senyum miring yang sarat akan dominasi.

​"Kita belum berkenalan secara resmi, bukan?" Riko membuka suara, memecah keheningan dengan intonasi santai namun sarat akan dominasi. Ia mengulurkan sebelah tangannya dengan gerakan elegan.

"Aku Riko...Saudara tiri Angga"

​Lulu menatap telapak tangan itu sejenak sebelum menyambutnya ragu.

"Lulu, Pak..." Jawabnya singkat, lekas menarik kembali tangannya ke pangkuan.

​Riko menyunggingkan senyum miring yang terkesan mengejek.

"Senang akhirnya bisa mengobrol langsung denganmu, Lulu"

​"Ternyata selain pinter cari simpati di depan keluargaku, kamu pinter baca situasi juga ya..." Ujar Riko dengan nada rendah yang menekan.

"Tapi apa kamu nggak sadar kalau posisi kamu di kantor Angga itu sangat rapuh? Satu bisikan dari saya ke pemilik perusahaan yang notabene rekan bisnis ayah saya kamu bisa kehilangan pekerjaanmu detik ini juga"

​Lulu mengepalkan jarinya di bawah meja. Rasa takut itu masih ada, membuat dadanya berdebar keras. Namun, saat teringat jam di tangannya yang terus berputar dan betapa kerasnya ia berjuang untuk bisa bekerja dengan jujur justru keberanian yang tak terduga muncul di balik sikap diamnya.

​Ia menghela napas pelan, merapikan letak kacamata di pangkal hidungnya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Riko.

​"Posisi saya memang hanya staf biasa di kantor Pak Angga, Pak Riko..." Jawab Lulu dengan suara tenang, jernih, dan tanpa nada gemetar sedikit pun.

"Tapi saya bekerja berdasarkan prosedur dan profesionalitas. Dan setahu saya, Pemilik Perusahaan maupun Pak Angga menilai karyawan berdasarkan kinerja, bukan dari desas-desus atau bisikan pihak luar yang bahkan tidak ada dalam struktur manajemen kantor kami"

​Mendengar hal tersebut, membuat alis Riko nampak bertaut. Ia sedikit terkejut melihat keberanian gadis di depannya.

​"Lagipula..." lanjut Lulu lugas, matanya menatap mantap tanpa gentar..

"Jika Pak Riko benar-benar menghormati Ibu, Ami dan Pak Angga seperti yang Anda katakan tadi, Anda tidak akan menggunakan nama baik mereka hanya untuk menahan seorang staf biasa di sini dan membuatnya terlambat bekerja"

​Keheningan tebal mendadak menyelimuti meja mereka. Riko terpaku, tatapan meremehkannya luntur begitu saja dan berganti dengan keterkejutan yang tak mampu ia sembunyikan.

Kata-kata Lulu tepat sasaran dan menembus pertahanan ego Riko dengan sopan namun sangat menohok. Riko mengira gadis ini akan menangis ketakutan atau memohon kasihan, tapi Lulu justru membalikkan "ancaman" Riko dengan logika yang sangat matang.

​Laporan Ivan sama sekali tidak salah. Ya...gadis ini memang punya ketajaman komunikasi dan mental yang luar biasa di situasi tertekan. Lulu berdiri dari kursinya dengan gerakan anggun dan sopan.

​"Saya berterima kasih atas undangannya, Pak Riko. Sekarang bisakah saya izin kembali? Tugas saya di kantor sudah menunggu" Ucap Lulu sambil membungkuk kecil, menunjukkan etika yang tak bercela.

​Tanpa menunggu izin dari Riko yang masih membisu, Lulu berbalik dan melangkah mantap meninggalkan sudut kafe tersebut.

​Dari tempat duduknya, Riko menatap punggung Lulu yang kian menjauh dan menghilang di balik pintu kaca. Tangannya yang memegang cangkir menggantung di udara.

​Rasa gengsi karena merasa "dijatuhkan" oleh seorang gadis yang ia anggap lugu kini menyatu dengan rasa penasaran yang membakar.

​"Siapa sebenarnya wanita ini?" Batin Riko, menyunggingkan senyum tipis dan kali ini tanpa rasa mengejek, melainkan senyum ketertarikan yang begitu dalam dan berbahaya.

***

Ruang rapat petinggi perusahaan terasa begitu dingin dan tegang. Di depan slide presentasi yang menampilkan grafik keuntungan, para manajer sibuk menyampaikan argumen dan bertukar pandangan. Sebagai salah satu figur kunci, Angga seharusnya memegang kendali penuh. Namun pagi ini, fokus pria itu pecah berantakan.

​Suara ketukan spidol di papan tulis, riuh diskusi proyek investor... semuanya mendadak terdengar buram di telinga Angga.

​Dadanya berdegup tak karuan. Bukan karena tekanan rapat atau gertakan direksi, melainkan karena satu nama yang terus berputar tanpa permisi di kepalanya yaitu Lulu.

​"Apakah dia sudah sampai di kantor? Kenapa sampai jam segini belum ada kabar lagi? Apakah kemacetan di jalan separah itu, atau... terjadi sesuatu padanya?"

​Jemari Angga meremas pena di genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terus melirik jam di dinding ruangan, lalu beralih ke layar ponselnya yang tertutup rapat di atas meja.

Setiap notifikasi getar yang muncul membuat jantungnya melompat liar. Ia berharap itu adalah pesan dari Vika yang mengabarkan keberadaan gadis berkacamata itu.

​"Bagaimana menurut Anda, Pak Angga? Soal alokasi distribusi kuartal ini?" Tegur salah satu manajer senior mendadak menyenggol kesadarannya.

​Angga tersentak pelan. Jantungnya berdebar makin kencang, kali ini bercampur rasa cemas karena hampir saja kehilangan kendali profesionalitasnya. Ia membetulkan posisi duduk, berdeham menetralkan suara yang sempat tertahan.

​"Secara umum sudah cukup baik, tapi saya butuh meninjau ulang draf akhirnya sebelum kita mengambil keputusan resmi..." Jawab Angga cepat, berusaha sekuat tenaga memasang topeng ketenangan di hadapan rekan-rekannya.

​Meski mulutnya lancar menyusun kalimat bisnis yang berbobot, batin Angga berteriak frustrasi. Perasaan cemas yang asing ini mencekik lehernya. Ia membenci kenyataan bahwa pertahanannya runtuh sedemikian rupa hanya karena seorang staf biasa. Kenapa bayangan Lulu bisa melumpuhkan fokusnya sampai sejauh ini?

​Ketukan palu tanda berakhirnya rapat baru saja terdengar, namun Angga sudah berdiri dari kursinya. Tanpa basa-basi atau sekadar bertukar sapa seperti biasanya, ia menyambar berkasnya dan melangkah cepat keluar dari ruang rapat.

Beberapa manajer senior yang melihatnya saling lempar pandang, terheran-heran melihat sikap Angga yang tampak begitu terburu-buru dan tidak tenang.

​Langkah kakinya yang lebar menuntunnya lurus menuju departemennya. Di kepalanya hanya ada satu tujuan yaitu memastikan Lulu sudah berada di sana.

​Namun, begitu melintasi pintu kaca divisinya, dada Angga rasanya seperti dihantam sesuatu yang berat.

​Meja itu... masih kosong melompong. Tidak ada sosok gadis berkacamata yang biasanya duduk rapi di sana. Pandangan tajam Angga seketika beralih menatap Vika sang SPV yang tampak masih sibuk dan asyik menekan tombol-tombol kibor komputer.

​Rama, yang menyadari kehadiran manajernya dengan aura yang amat berat dan tatapan menusuk, lekas menyenggol lengan Vika pelan. Mengode sahabatnya agar sadar bahwa sang bos sedang berdiri mematung sambil memperhatikannya.

"Sttt,, dia lihatin kamu " Bisik Rama kepada rekannya tersebut.

"Apaan siih.." Ucap Vika tidak memedulikan rekannya tersebut, malah lanjut dengan aktivitasnya.

"Eeh.. lihat dulu tuh di depan mu.. " Bisik Rama kembali menyadarkan rekannya tersebut.

​Vika tersentak, refleks menoleh. Jantung Vika seolah berhenti berdetak saat matanya bertatapan langsung dengan Angga. Seketika, pikirannya teringat pada notifikasi pesan singkat dari Lulu yang baru saja masuk beberapa menit lalu tepat sebelum Angga tiba di ruangan.

"Ya Tuhan,, matilah aku" Batin Vika dengan diliputi rasa cemas dan ingin rasanya dirinya menghilang saat itu juga.

Di dalam pesan itu, Lulu meminta izin untuk masuk setengah hari dengan beralasan kemacetan parah dan berniat menyempatkan diri menjenguk sahabatnya.

​Keringat dingin merembet di tengkuk Vika. Ia tahu betul aturan tegas kantor ini. Sikap Lulu yang mendadak minta izin setengah hari di tengah menumpuknya pekerjaan pasti akan memicu amukan besar sang manajer. Angga tidak pernah ragu menjatuhkan Surat Peringatan (SP1) kepada siapa pun yang dinilai berlaku seenaknya.

​Dengan suara agak gemetar, Vika akhirnya memberanikan diri melapor.

"Ma-maaf, Pak Angga... Baru saja Lulu mengirim pesan lagi. Dia... dia meminta izin untuk masuk setengah hari, Pak. Katanya selain terjebak macet, dia harus menjenguk sahabatnya sebentar..."

​Vika memejamkan mata erat-erat, bersiap menerima ledakan amarah yang siap menyapu ruangan. Rama dan rekan-rekan lainnya pun ikut menahan napas, menyembunyikan wajah di balik monitor masing-masing.

​Namun... gertakan atau amukan yang ditunggu-tunggu tak kunjung terdengar.

​Suasana ruangan mendadak hening total.

​Alih-alih meledak marah, raut wajah Angga justru berubah drastis. Matanya membelalak pelan, bukan karena murka, melainkan karena rasa gundah dan cemas yang mendadak menyeruak, membakar dadanya hingga terasa sesak.

​"Menjenguk sahabatnya...? Apakah sahabatnya yang di rawat di rumah sakit itu ?" Bisik Angga pelan pada dirinya sendiri, suaranya terdengar tercekat.

​Angga berdiri mematung. Rasa penasaran bercampur cemas melingkupi pikirannya. Lulu bukan tipe orang yang tidak profesional atau gampang mencari-cari alasan konyol untuk bolos kerja. Ada yang tidak beres.... Batin Angga berteriak curiga bahwa telah terjadi sesuatu yang disembunyikan gadis itu padanya.

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!