💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Pamit pergi
Tak sanggup melihat Aulia, dan Bara duduk di sudut, sedangkan Azka, dan Anna duduk di sebelah Bara. Azzuri tidak ingin membuat suasana kacau, perlahan ia pergi meninggalkan ruang Bioskop, memutuskan untuk menunggu Aulia, Azka, dan Anna di mobil, dengan beberapa bungkus plastik barang belanjaan miliknya untuk diberikan kepada Aulia.
Waktu terus berlalu, jam kini sudah menunjukkan pukul 10:30 malam. Terlihat para penonton pada keluar dari dalam pusat perbelanjaan. Pandangan Azzuri terus fokus ke pintu masuk, jari telunjuknya terus bermain di setir kemudi, hatinya mulai gelisah, tak melihat Aulia, Azka, dan Anna keluar dari dalam, sedangkan dari tadi sudah banyak pengunjung yang keluar dari sana. Saat dirinya hendak keluar dari dalam mobil, untuk memastikan apakah Aulia baik-baik saja di dalam. Terlihat Aulia keluar dengan menggendong Anna, sedangkan Azka berjalan di sisi kirinya.
“Syukurlah, Aulia terlihat baik-baik saja,” gumam Azzuri, ia merasa lega setelah melihat senyum manis Aulia. Meski senyuman itu tidak diberikan untuknya.
Bari, Aulia, dan Azka terlihat berjalan mendekati mobil. Bari membuka pintu penumpang bagian depan, tapi terlihat Aulia menolaknya. Bari pun membuka pintu penumpang belakang, Aulia menyuruh Azka masuk terlebih dahulu, setelah Azka masuk, Aulia masuk bersama Anna di dalam gendongannya. Begitu Aulia masuk ke dalam mobil, terlihat raut wajah Bari berubah menjadi suram, sepertinya rencananya sudah gagal.
Mobil ditumpangi Bari, Aulia, Azka, dan Anna, sudah bergerak keluar dari parkiran menuju pintu keluar Suzuya, dan menyebrang jalan, mengarah ke kota Timbangan. Azzuri juga mengikuti mobil Bari dari belakang.
Drrt!!!drtt!!!
Ponsel Azzuri berbunyi, Azzuri segera mengambil ponsel miliknya dari dashboard, terlihat nama panggilan ‘Jack’. Azzuri langsung menggeser tombol hijau.
📞[ “Halo, selamat malam tuan muda.” ] sapa Jack, setelah Azzuri mengangkat panggilan teleponnya.
📞[ “Aku lagi di jalan, jadi langsung saja katakan apa yang sudah kamu ketahui.” ]
📞[ “Saya sudah mengetahui dimana Zalfa Hanin berada.” ]
📞[ “Dimana wanita itu. Cepat katakan!” ]
📞[ “Karena besok akan ada acara pembukaan di salah satu butik terkenal di sini. Zalfa Hanin sengaja di undang sebagai model utama. Tuan muda juga di undang di acara tersebut sebagai tamu undangan spesial.” ]
📞[ “Jam berapa pembukaannya?” ] tanya Azzuri serius.
📞[ “Pukul 08:00 malam, tuan muda.” ]
📞[ “Kalau gitu aku akan alihkan jam penerbanganku. Dan kamu segera jemput aku di Bandara, jangan lupa bawakan aku stelan jas bersih.” ]
📞[ “Siap, tuan muda. Kalau saya boleh tahu, tuan muda sedang kemana? Apakah tuan muda sedang melakukan kencan dengan nona muda?” ] kepo Jack.
📞[ “Kau menghina ku?! gara-gara mulut wanita itu, Aulia sampai sekarang sangat membenciku. Sampai-sampai saat ini dia sedang berkencan dengan pria lain. Hal itu membuat aku sangat kesal, dan rasanya aku ingin menghabisi siapa saja saat ini. Termasuk, pria yang sedang bersama dengan Aulia!” ] curhat Azzuri emosi.
📞[ “Oh…jadi ceritanya sedang cemburu. Baiklah, semangat berjuang untuk merebut hati nona muda, dan tuan, nona muda kecil. Saya matikan dulu tuan, soalnya saya sedang….” ]
Azzuri langsung mematikan sambungan teleponnya saat mendengar suara wanita dengan nada berbeda.
“Dasar Sekertaris tak tahu malu, ” umpat Azzuri.
Karena jalan dari tanjung Morawa, ke jalan Galang sangat sepi, mobil di tumpangi, Aulia, Bari, Azka, dan Anna, sudah sampai di depan rumah ruko Aulia. Azzuri juga menghentikan mobilnya dari jarak 5 meter, ia terus memandang lurus ke depan, melihat pergerakan Bari masih di anggap wajar.
Aulia masih menggendong Anna di depan, dan Azka berjalan di samping dengan wajah mengantuk, tangan mengucek kelopak mata, dan Bari, berjalan ke pintu samping ruko. Aulia, berhenti di depan pintu, bersama dengan Azka.
“Terimakasih atas traktirannya malam ini. Karena hari sudah sangat larut, dan para tetangga juga sudah pada tidur, aku tidak bisa mengizinkan kamu masuk. Jadi, kamu hanya boleh mengantarku sampai di depan pintu saja. Bukan maksud aku untuk mengusir kamu, tapi silahkan pulang sekarang, sebelum ada tetangga yang salah paham,” usir Aulia sopan.
“Padahal aku ingin berlama-lama,” gumam Bari, di dengar Azka, membuat Azka membulatkan mata ngantuk nya, menatap Bari. Bari membungkuk ke Azka, tangannya mengelus puncak kepala Azka, “Azka, besok pagi Om antar ke sekolah Tk, boleh?” tanya Bari lembut.
“Tidak! Azka hanya mau di antar sama Papi,” tolak Azka kasar, tangannya menepis tangan Bari dari puncak kepalanya. Hal itu membuat Aulia terkejut.
“Abang…” panggilan Aulia terhenti saat mendengar rengekan dari Azka.
“Mami, abang sangat mengantuk. Besok-besok, abang tidak ingin pergi keluar malam-malam lagi bersama dengan Om ini,” rengek Azka manja.
“Baiklah, kalau gitu Om pamit dulu. Besok sore setelah pulang dari Pabrik, Om akan singgah kembali,” pamit Bari ke Azka.
Azka diam, membuang wajahnya ke sisi kiri dengan wajah suram.
“Maafkan Azka, ya,” maaf Aulia kepada Bari karena segan melihat sikap kasar Azka.
“Kenapa harus minta maaf. Aku rasa karena Azka sudah mengantuk, sebaiknya aku pulang. Kamu hati-hati di rumah, ya,” pamit Bari, pura-pura manis.
“Iya, kamu juga hati-hati di jalan,” sahut Aulia sopan.
Bari balik badan, wajah manisnya pun seketika berubah menjadi suram, langkah kakinya juga sangat cepat menuju mobil miliknya terparkir di depan rumah ruko Aulia. Bari membuka pintu mobil, tangannya melambai ke Aulia, menit selanjutnya Bari masuk, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Tembung.
Aulia balik badan, membuka pintu samping ruko. Setelah mengucap salam masuk rumah, Azka berlari ke kamar mandi, berada di dapur, ia segera mencuci kaki, dan wajahnya. Aulia sendiri baru saja masuk, dan dari belakang ada kedua tangan tegap mengambil Anna dalam gendongannya. Membuat Aulia terkejut dan langsung balik badan. Terlihat Azzuri, dan banyak plastik belanjaan sudah berada di samping pintu.
“Kamu dari mana?” tanya Azzuri dingin.
“A-aku…tadi…” sahut Aulia gugup, bola matanya memandang jejeran plastik belanjaan di samping pintu, “Kamu bawa apa?” tanya Aulia mengalihkan pembicaraan.
“Karena kamu tak menginginkan aku hadir di sini. Aku memutuskan untuk pergi, dan ini adalah barang belanjaan buat Azka, dan Anna. Aku mohon jangan di buang, karena aku ikhlas memberinya. Dan kamu, aku minta jaga diri baik-baik, dan jaga anak kita,” pamit Azzuri setengah berbohong.
Aulia terdiam, entah kenapa mendengar salam perpisahan dari Azzuri, membuat hatinya sakit. Bukannya membuktikan kepada dirinya, jika ia benar-benar tidak berselingkuh, dan sudah memiliki Istri selain dirinya. Nada bicara Azzuri juga mengisyaratkan seperti Azzuri benar-benar lelah, dan menjauh dari dirinya.
Azzuri menggendong Anna, berjalan melewati Aulia, menuju kamar putra-putrinya. Sesampainya di dalam kamar, terlihat Azka sedang duduk di ranjang, baju sudah berganti dengan baju tidur, kedua tangannya memegang buku cerita dongeng.
“Papi,” gumam Azka tak percaya melihat Azzuri ada di dalam kamarnya, dan sedang meletakkan Anna di sisi kanan ranjang.
“Abang kenapa belum tidur?” tanya Azzuri, ia menyelimuti Anna.
“Lagi tunggu Mami untuk membacakan dongeng ini,” sahut Azzuri, tanganya menunjuk buku dongeng, bergambar kucing, dan anak itik.
Azzuri memutar, dan duduk di samping Azka, tangannya mengambil buku dongeng, “Biar, Papi yang membacakannya,” pinta Azzuri.
“Apakah Papi akan tidur di sini?” tanya Azka.
Azzuri hanya melempar senyum manis, tangannya menyingkap selimut, “Sebaiknya Abang tidur, biar Papi bacakan dongeng,” bujuk Azzuri mengalihkan pembicaraan.
Azka membaringkan tubuhnya ke dalam selimut, memutar posisi tubuhnya ke samping, menghadap arah duduk Azzuri, menarik guling, dan memeluknya. Azzuri pun segera membacakan dongeng untuk Azka.
“Hari ini hujan deras mengguyur seisi bumi. Di bawah pohon mangga, berdaun rindang, berteduh seekor anak kucing. Bulunya mengembang karena kedinginan, terlihat basah, dan tubuhnya gemetar. Dari kejauhan, di bawah derasnya hujan menerpa seisi Bumi, terlihat anak Itik sedang berjalan, memanggil Ibunya….”
Bacaan dongeng Azzuri terhenti, melihat Azka sudah tertidur lelap. Azzuri pun beranjak dari ranjang, tangannya mematikan lampu kamar, menggantikan lampu tidur. Ia pun melangkah perlahan keluar kamar Anna, dan Azka. Sesampainya di luar, berdiri Aulia dengan raut wajah terlihat murung. Azzuri mendekat, ia memberi kecupan sekilas di dahi Aulia.
“Ini adalah kecupan terakhir dariku. Aku pamit pergi, dan aku akan segera membuktikan semuanya kepada kamu!” pamit Azzuri.
Tidak menunggu jawaban Aulia, Azzuri langsung berjalan cepat, meninggalkan rumah ruko Aulia. Azzuri juga masuk ke dalam mobil, segera ia melajukan mobilnya dengan cepat agar hatinya tak merasa sedih.
“Tunggu aku, Aulia.”
...Bersambung ...