Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
monster?
Meskipun tahu tinggi badannya kalah telak dan usahanya akan sia-sia, Aleta tidak peduli lagi. Rasa panik dan rindu pada rumah membuatnya nekat. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Aleta merangsek maju menghampiri Alden yang berdiri kokoh di depan lemari pajangan itu.
Aleta berjinjit tinggi-tinggi. Untuk menyeimbangkan tubuhnya yang limbung, tangan kanan Aleta refleks menumpu dan mendorong dada sebelah kanan Alden dengan kuat. Sementara itu, tangan kirinya terjulur lurus ke atas, berusaha menggapai-gapai ujung ponselnya yang sengaja diletakkan Alden di tempat yang sangat tinggi.
"Balikin, Kak! Balikin HP aku!" seru Aleta dengan suara serak, napasnya memburu tepat di depan dada Alden.
Tubuh mereka kembali terkikis jaraknya. Karena Aleta yang terus bergerak aktif dan memaksakan diri naik, tubuh mungilnya berulang kali bergesekan dan menabrak dada bidang Alden. Bau wangi cedarwood dari tubuh Alden kembali mengepung indra penciumannya, namun fokus Aleta hanya satu: benda pipih di atas sana.
Alden sendiri hanya bergeming bak dinding batu yang kokoh. Ia sama sekali tidak mundur satu langkah pun meski dada kanannya terus didorong oleh tangan mungil Aleta. Dari posisinya yang jauh lebih tinggi, Alden menunduk, memperhatikan kepala Aleta yang bergerak-gerak di bawah dagunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sentuhan tangan Aleta di dadanya dan kedekatan tubuh mereka yang mendadak ini entah kenapa membuat kemarahan Alden meluap digantikan oleh rasa asing yang berdesir aneh.
"Nggak akan, Aleta. Menyerah aja," ucap Alden datar, suaranya berat dan terdengar tepat di atas kepala Aleta, sementara tangan kirinya sendiri sengaja menahan pinggang Aleta agar gadis itu tidak jatuh karena terlalu memaksakan diri berjinjit.
Sentuhan tangan Alden di pinggangnya bagaikan sengatan listrik bagi Aleta. Refleks, ia mencoba melompat mundur untuk melepaskan diri, tapi Alden jauh lebih cepat. Dengan satu gerakan yang efisien, Alden menarik pinggang itu kembali, mengunci tubuh Aleta dengan tubuhnya sendiri, menjepit gadis itu di antara dirinya dan lemari pajangan.
"Aleta, stop!" suara Alden meninggi, kali ini penuh dengan rasa frustrasi yang tak lagi bisa disembunyikan.
Aleta tidak peduli. Ia kembali memberontak, memutar tubuhnya dengan liar, memukul lengan Alden yang melingkar di pinggangnya, dan mencoba meloloskan diri dari kungkungan itu.
"Lepasin! aku mau pulang! jangan jahat, Kak! Kenapa harus ngelibatin aku ke masalah hidup kaka?!" teriak Aleta sambil terisak.
Alden benar-benar lelah. Energinya terkuras habis bukan hanya karena fisik, tapi karena mentalnya yang terus-menerus diserang. Ia tidak menyangka gadis yang tampak pendiam di kelas itu ternyata memiliki kegigihan yang luar biasa keras kepala.
Alden menahan bobot tubuh Aleta dengan lebih erat, tidak membiarkan gadis itu lolos sedikit pun. Alden menenggelamkan wajahnya sejenak di ceruk leher Aleta, berusaha menenangkan napasnya sendiri yang ikut memburu karena lelah bergulat dengan keras kepalanya gadis di depannya ini.
"Kenapa keras kepala banget, hah?" bisik Alden tepat di telinga Aleta, suaranya parau dan terdengar sangat lelah.
"aku cuma minta kamu di sini sebentar. Sebentar aja! Kenapa susah banget?"
Alden merasa dunianya seakan berputar.
Di luar sana, orang tuanya dan Felicia menunggunya dengan segala tuntutan mereka. Di dalam sini, Aleta berontak seolah-olah ia sedang diculik oleh penjahat kelas kakap. Alden merasa terkepung dari segala sisi.
Ia mengeratkan pelukannya, bukan lagi karena ingin menahan, tapi karena dia sendiri sedang mencari sandaran di tengah kekacauan hidupnya.
"aku cuma butuh waktu... aku capek, Aleta. Please, diem sebentar," pintanya, suaranya kali ini tidak lagi terdengar seperti perintah, melainkan permohonan seorang laki-laki yang sedang berada di titik terendah pertahanannya.
🌍🌍🌍
Mendengar bisikan parau Alden yang terdengar seperti sebuah permohonan, Aleta justru semakin dicengkeram rasa takut yang luar biasa. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi pundak seragamnya sendiri.
Aleta pada dasarnya hanyalah gadis polos yang belum paham apa-apa tentang rumitnya dunia orang dewasa, apalagi tentang perasaan terluka seorang cowok. Sejak ayahnya meninggal dunia saat ia masih berusia lima tahun, dunia Aleta hanya berputar di sekitar ibunya. Ia tumbuh tanpa figur seorang ayah, tanpa saudara laki-laki, dan tidak pernah sekali pun mengizinkan laki-laki mana pun mendekatinya.
Satu-satunya pondasi yang ia miliki tentang lawan jenis adalah ucapan ibunya yang tertanam kuat di kepalanya sejak kecil:
“Semua laki-laki itu sama saja, Aleta. Mereka egois, hanya memikirkan diri sendiri, dan suka memaksakan kehendak.”
Dan hari ini, semua tindakan Alden—mulai dari memaksanya ikut, menyeretnya ke rumah mewah ini, melemparnya ke kasur, hingga merenggut ponselnya—seolah menjadi bukti nyata dari doktrin sang ibu. Di mata Aleta yang polos, Alden tak ada bedanya dengan monster egois yang sedang memanfaatkan dirinya yang lemah.
"Lepasin..." isak Aleta, suaranya melemah karena tenaganya terkuras habis, namun penolakannya tetap mutlak.
"Nggak mau... kamu bohong. Cowok semua sama aja... lepasin aku, Kak!"
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Aleta menyentak badannya ke samping, tidak memedulikan rasa sakit akibat gesekan di pinggangnya. Ia tidak peduli jika harus terluka, ia hanya ingin lepas dari pelukan cowok yang menurut pikiran polosnya sangat berbahaya ini.
Mendengar racauan Aleta yang membawa-bawa kalimat "semua cowok sama aja", Alden perlahan mengangkat kepalanya dari ceruk leher gadis itu. Ia tertegun. Tatapan mata Aleta yang menatapnya penuh rasa benci, jijik, dan ketakutan yang mendalam, seketika menghantam ulu hati Alden dengan telak.
Alden tersadar, di mata gadis polos ini, dia tak lebih dari seorang bajingan yang menakutkan.
Mendengar kalimat itu, napas Alden yang tadinya melambat seketika berubah menjadi deru emosi yang panas. Tatapan Aleta—tatapan yang mencapnya sebagai laki-laki bajingan yang sama saja dengan pria lainnya—adalah pemicu terakhir yang menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.
"kamu pikir gue sama kayak yang lain?" bisik Alden dengan nada yang rendah, berbahaya, dan sarat akan amarah yang meledak.
Bukannya melepaskan pelukan, Alden justru mempererat cengkeramannya di pinggang Aleta, membuat tubuh mereka menempel tanpa celah, seolah ingin mematahkan perlawanan gadis itu secara total. Sebuah senyum miring, dingin, dan sinis terbit di bibirnya. Senyum itu bukan lagi senyum seorang remaja, melainkan senyum seseorang yang sudah muak dengan dunia.
Dengan satu gerakan cepat dan kasar, tangan Alden yang bebas menyambar ponsel Aleta dari atas lemari pajangan. Tanpa melirik sedikit pun, ia membanting benda itu ke lantai marmer dengan kekuatan penuh.
PRANG!
Suara pecahan kaca dan dentuman keras ponsel yang menghantam lantai bergema di dalam kamar yang sunyi itu. Layar ponsel yang retak tadi kini hancur berkeping-keping, tidak akan bisa menyala lagi, memutus satu-satunya harapan Aleta untuk menghubungi dunia luar.
Aleta membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan melihat ponselnya hancur tak berbentuk di bawah sana.
"Nggak ada yang bakal nolong kamu sekarang, Aleta," ujar Alden tepat di depan wajah Aleta, sorot matanya tajam menuntut pengakuan.
"Kalau mau gue jadi bajingan seperti yang kamu bilang, fine. Lo nggak bakal keluar dari kamar ini sampai gue selesai dengan urusan gue di bawah. Paham?"
Suasana kamar itu kini berubah menjadi sangat mencekam. Aleta yang gemetar hebat kini benar-benar merasa terpojok. Ia tidak lagi melihat sosok cowok yang frustrasi, melainkan sosok yang gelap dan penuh tuntutan.
🌍🌍🌍
Melihat satu-satunya alat komunikasi dan harapan untuk pulang dihancurkan begitu saja di depan matanya, tangis Aleta pecah semakin histeris. Namun, bukannya menyerah karena takut, rasa panik yang teramat sangat justru membuat gadis itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Aleta tetap saja berusaha berontak. Ia memukuli dada bidang Alden menggunakan kedua tangannya, mencakar lengan kokoh yang melingkari pinggangnya, dan menggeliat liar berusaha melepaskan dirinya.
"Lepasin! kamu jahat! Handphone aku... lepasin!" jeritnya dengan suara yang mulai serak.
Alden saat ini sudah benar-benar dikuasai oleh emosi yang gelap. Ia sama sekali tidak memberi celah sedikit pun bagi Aleta untuk lolos.
Semakin Aleta berontak, justru semakin erat Alden memojokkan tubuh mungil gadis itu ke dinding lemari pajangan di belakangnya. Tekanan tubuh Alden membuat Aleta nyaris tidak bisa bergerak, sementara lengan kekar cowok itu semakin erat juga memeluk pinggangnya, mengunci seluruh pergerakan kaki dan tubuh bagian bawah Aleta.
"Gue bilang diam, Aleta!" desis Alden, napasnya yang panas memburu di pucuk kepala Aleta.
Setiap kali Aleta mencoba menyentak badannya, Alden justru menambah kekuatannya, menekan tubuh Aleta hingga gadis itu bisa merasakan detak jantung Alden yang berdegup kencang beradu dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu gila. Alden benar-benar mengunci mati ruang gerak Aleta, membiarkan gadis itu kehabisan energi dengan sendirinya di dalam dekapannya yang sekokoh ruji besi.
🌍🌍🌍