Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
Nadira menatap layar laptopnya tanpa berkedip.
**"Selamat. Anda termasuk dalam daftar kandidat penugasan sementara ke Kantor Cabang Surabaya."**
Dadanya langsung berdebar.
"Aku... ikut dipilih?"
Ia membaca email itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Tetap sama.
Bukan keputusan final.
Melainkan daftar kandidat.
Namun itu saja sudah cukup membuat pikirannya kacau.
---
Di sisi lain kantor, Arga masih berada di ruang Pak Dimas.
"Ada pertanyaan?" tanya Pak Dimas.
Arga menatap daftar nama di tangannya.
"Pak..."
"Boleh jujur?"
"Silakan."
"Saya ingin memilih Nadira."
Pak Dimas mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu.
"Karena kalian dekat?"
Arga menggeleng.
"Justru saya ingin mengesampingkan perasaan pribadi."
"Lalu?"
"Dia orang yang paling memahami proyek yang sedang kami kerjakan."
"Kalau saya harus membangun cabang baru, saya butuh orang yang ritmenya sudah saya kenal."
Pak Dimas memperhatikan Arga beberapa saat.
"Kalau ternyata orang lain menganggap kamu pilih kasih?"
Arga tersenyum tipis.
"Kalau performanya memang lebih baik dari Nadira, saya siap memilih orang lain."
"Tapi kalau berdasarkan kemampuan..."
"...jawaban saya tetap Nadira."
Pak Dimas tersenyum puas.
Ia sengaja memberi pertanyaan itu untuk menguji Arga.
Dan jawaban yang didapatkan membuatnya semakin yakin.
---
Menjelang jam pulang, HR mengirim undangan rapat singkat kepada tiga kandidat.
Nadira.
Celine.
Dan Bimo.
Ketiganya duduk di ruang rapat dengan wajah penasaran.
Manajer HR membuka pembicaraan.
"Selamat sore."
"Kalian bertiga dipilih berdasarkan hasil evaluasi kinerja enam bulan terakhir."
"Namun..."
"...kami ingin mendengar keputusan kalian lebih dulu."
"Keputusan?"
tanya Celine.
"Iya."
"Penugasan ke Surabaya bersifat sukarela."
"Bagi yang bersedia, silakan menyampaikan alasannya."
"Bagi yang tidak bersedia juga tidak masalah."
Ruangan kembali hening.
---
Bimo menjadi orang pertama yang berbicara.
"Maaf, Pak."
"Istri saya baru melahirkan."
"Jadi saya tidak bisa meninggalkan Jakarta."
"Baik."
HR mencatat jawabannya.
Berikutnya giliran Celine.
"Saya juga izin menolak."
"Orang tua saya sedang sakit."
"Saya harus menemani mereka."
"Baik."
Kini semua mata tertuju kepada Nadira.
"Nadira?"
Ia menarik napas panjang.
Jujur saja...
Ia ingin pergi.
Bukan semata-mata karena Arga.
Melainkan karena proyek itu adalah kesempatan besar dalam kariernya.
Namun...
Bagaimana dengan orang tuanya?
Bagaimana dengan syarat enam bulan dari Ayah?
Semua terasa rumit.
"Saya..."
Belum sempat Nadira menyelesaikan kalimatnya, ponselnya bergetar.
**Mama.**
Ia meminta izin keluar sebentar.
---
"Ma?"
"Dir."
Suara Mama terdengar ceria.
"Kamu lagi kerja?"
"Iya."
"Mama cuma mau bilang..."
"Ayah dengar dari Om Dimas kalau kamu mungkin ditugaskan ke Surabaya."
Nadira membeku.
"Om Dimas cerita?"
"Iya."
"Mama sama Ayah sudah ngobrol."
Nadira menggigit bibir.
"Terus?"
Kalimat berikutnya membuat matanya membesar.
"Kalau itu memang kesempatan baik..."
"...berangkatlah."
"Ma?"
"Kami tidak membesarkanmu untuk takut mengejar mimpi."
"Tapi..."
"Kalau memang ada laki-laki yang benar-benar serius sama kamu..."
"...jarak enam bulan tidak akan membuatnya berubah."
Air mata Nadira mulai menggenang.
"Mama yakin?"
"Mama yakin."
"Lagipula..."
Mama terkekeh pelan.
"...Ayahmu sengaja memberi syarat enam bulan bukan untuk memisahkan kalian."
"Melainkan untuk melihat apakah cinta kalian cukup dewasa."
Telepon ditutup.
Nadira mengusap sudut matanya.
Dadanya terasa jauh lebih ringan.
---
Ia kembali ke ruang rapat.
Semua orang menatapnya.
HR tersenyum.
"Sudah siap menjawab?"
Nadira mengangguk mantap.
"Saya..."
"...bersedia menerima penugasan ke Surabaya."
HR tersenyum.
"Baik."
"Kalau begitu tinggal menunggu keputusan akhir."
---
Sementara itu, Arga sedang membereskan mejanya ketika seseorang menghampiri.
Farhan.
"Selamat."
"Katanya kamu jadi kepala cabang sementara."
Arga tersenyum.
"Terima kasih."
Farhan duduk di kursi depan meja Arga.
"Aku dengar Nadira juga masuk kandidat."
"Iya."
"Kamu berharap dia ikut?"
Arga terdiam cukup lama.
Lalu menggeleng pelan.
"Sebagai laki-laki..."
"...iya."
"Sebagai orang yang menyayanginya..."
"...aku justru ingin dia memilih tanpa dipengaruhi aku."
Farhan tersenyum kagum.
"Pantas."
"Pantas apa?"
"Pantas dia pelan-pelan jatuh cinta sama kamu."
Arga hanya tersenyum malu.
---
Keesokan paginya, seluruh karyawan menerima email resmi dari manajemen.
Subjeknya berbunyi:
> **Keputusan Penugasan Kantor Cabang Surabaya.**
Nadira menarik napas panjang sebelum membuka email itu.
Arga di mejanya melakukan hal yang sama.
Seluruh kantor mendadak hening.
Beberapa detik kemudian...
Rina berteriak paling keras.
"YA AMPUN!"
Semua langsung menoleh.
Rina menutup mulutnya sendiri.
"Maaf..."
"Tapi ini..."
Tatapannya bergantian antara Arga dan Nadira.
"Kalian..."
"...berangkat berdua."
Nadira perlahan menoleh ke arah Arga.
Arga juga menatapnya.
Tidak ada sorakan.
Tidak ada pelukan.
Hanya senyum kecil yang sama-sama mereka pahami.
Perjalanan enam bulan itu akhirnya benar-benar dimulai.
Namun tak seorang pun menyadari bahwa di Surabaya, seseorang dari masa lalu Arga telah menunggu.
Seseorang yang pernah mengisi hatinya...
Dan belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergiannya.
**Bersambung ke Episode 32...**