Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Tamu Hari Sabtu
Doni merapikan kerah kemeja flanelnya sekali lagi melalui pantulan kaca spion mobil sebelum melangkah turun. Di tangan kirinya, ada satu kotak roti bakar Bandung rasa coklat keju, camilan wajib setiap kali dia bertamu ke rumah Marcella, karena mereka berdua menyukai rasa yang berbeda. Marcella suka keju, tapi Doni lebih suka coklat. Untungnya, roti bakar Bandung memisahkan kedua rasa tersebut alih-alih menggabungnya seperti martabak manis.
Lima tahun berpacaran, rumah bermodel minimalis dua lantai ini sudah terasa sangat familier bagi Doni. Namun malam ini, rumah itu tampak sepi. Mobil orang tua Marcella tidak ada di garasi, mereka memang sedang pergi ke luar kota sejak pagi untuk menghadiri acara pernikahan kerabat.
Justru karena rumah sedang kosong, Marcella mengajaknya bertamu malam ini. Kekasihnya itu sudah heboh sejak kemarin saat makan malam perayaan hari jadi mereka, mengajak Doni untuk menonton drama Korea terbaru di Netflix yang sudah tidak sabar untuk Marcella tonton karena melihat banyaknya spoiler bertebaran di media sosial.
Namun, ketika pagar rumah terbuka lebar, bukan senyuman tenang Marcella yang menyambutnya, melainkan wajah panik kekasihnya yang sedang menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya.
“Iya, Pak. Baik, sekitar lima belas menit lagi saya sampai di laboratorium kampus. Terima kasih, Pak”, ucap Marcella ke dalam ponsel sebelum mematikannya dengan helaan napas berat.
“Ada apa, Cell?” tanya Doni, meletakkan kotak roti bakar di meja teras.
Marcella menatap Doni dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Don, maaf banget. Aku bener-bener minta maaf. Barusan dosen pembimbing magangku nelpon. Ada berkas laporan yang salah input dan malam ini juga harus diperbaiki karena besok pagi mau diserahin ke dekan. Jadi, aku harus ke kampus sekarang.”
Doni berkedip, sedikit terkejut. “Oh… ya udah. Ayok, aku anter.”
“Nggak usah, sayang. Tadi aku udah telanjur mesen taksi online, itu mobilnya udah di depan pagar”, kata Marcella terburu-buru sambil memakai flat shoes-nya. “Aku kayaknya baru pulang tengah malem. Tapi, nggak tau, deh. Liat nanti aja. Kamu… mau langsung pulang aja apa gimana? Tapi, kita jadi nggak bisa makan roti bakarnya bareng, deh”, Marcella memasang wajah cemberut-tapi-tetap-cantik itu.
Doni tersenyum tipis, mencoba berlapang dada. “Gak apa-apa, Cell. Urusan kampusmu lebih penting. Hmm… kalau boleh, aku numpang istirahat dulu bentar di dalam, gimana? Kayaknya mendung, nih. Lagian, capek juga kalau harus lanjut nyetir lagi sekarang.”
“Oh, gitu? Ya boleh, dong! Masuk aja. Rumah juga nggak kosong-kosong banget, kok. Ada Oliv di dalam”, ucap Marcella sambil meraih tas kuliahnya.
Doni sempat mengernyitkan dahi mendengar nama itu. Oliv? Mungkin maksudnya Olivia. Adik kandung Marcella yang selisih tiga tahun di bawah mereka. Selama lima tahun berpacaran dengan Marcella dan tak terhitung berapa kali dia bertamu ke rumah ini, Doni menyadari dia hampir tidak pernah melihat wujud sang adik secara langsung. Olivia bagai hantu di rumah ini bagi Doni. Gadis itu selalu sibuk, entah sedang latihan basket bersama klubnya, pergi menonton pertandingan bersama teman-temannya, atau malah dia yang ditonton oleh teman-temannya karena sering menjadi andalan sekolahnya untuk mengikuti turnamen antar sekolah. Foto Olivia yang memegang piala basket di atas bufet ruang tamu adalah satu-satunya bukti visual yang Doni tahu tentang keberadaan adik kekasihnya itu.
“Dia nggak latihan hari ini?” tanya Doni, sekedar basa-basi sebelum Marcella pergi.
“Nggak tau, tuh. Klub basketnya lagi libur hari ini katanya. Dia ada di kamarnya dari tadi siang, tidur kali”, jawab Marcella sebelum mengecup pipi Doni cepat. “Aku pergi dulu ya, Sayang. Gak enak kalau dosennya nunggu. Anggap aja rumah sendiri, udah sering kesini juga, kan? Bye!”, pamit Marcella dengan senyumnya.
Setelah taksi online yang membawa Marcella menghilang di balik tikungan jalan, Doni menghela napas. Dia mengambil kotak roti bakarnya, melangkah masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu utama. Suasana rumah sangat sepi. Hanya terdengar detak jam dinding di ruang tengah.
Doni duduk di sofa empuk ruang tengah, menyalakan televisi, dan bersandar dengan santai. Dia memindahkan saluran TV tanpa minat, hingga akhirnya gerakannya terhenti pada siaran pertandingan ulang Liga Champions Eropa, dimana Chelsea, klub sepak bola favoritnya, sedang bertanding melawan Bayern Munchen.
Tepat saat Doni baru saja memosisikan duduknya dengan nyaman, terdengar suara langkah kaki yang bergedebuk dari arah tangga, disusul suara pintu kulkas yang dibuka di dapur. Tak lama kemudian, sosok itu muncul di ruang tengah.
Doni menoleh, dan untuk pertama kalinya, dia melihat Olivia dalam jarak dekat.
Gadis itu memakai jersey basket kebesaran berwarna hitam bergaris kuning emas dengan nomor punggung 07, celana pendek olahraga, dan rambut hitamnya dicepol asal-asalan ke atas. Di tangan kanannya, dia memegang botol minum olahraga berukuran besar. Sangat berbeda dengan Marcella yang selalu tampil anggun dengan gaun pastel, wewangian bunga, dan rambut yang disisir rapi. Olivia memancarkan energi yang cuek, sporty, dan cenderung serampangan.
Olivia sempat membeku di tempat saat melihat ada seorang pria duduk di sofanya. Namun, setelah mengenali wajah Doni dari foto-foto yang dipajang kakaknya, ekspresi terkejutnya berubah menjadi senyuman tipis yang ramah.
“Eh, Kak Doni ya?” suara Olivia terdengar agak serak, khas orang yang baru bangun tidur atau kelelahan. “Kak Marcella mana?”
“Ah, iya, Olivia ya?” Doni agak kikuk, buru-buru menegakkan posisi duduknya. “Marcella baru aja pergi ke kampus, ada urusan mendadak sama dosennya katanya.”
“Yah… si Kakak emang selalu sok sibuk”, gerutu Olivia pelan sambil berjalan mendekat. Matanya tiba-tiba berbinar saat melihat kotak di atas meja. “Wah, roti bakar! Boleh aku makan gak, Kak? Laper banget asli, baru bangun tidur abis seminggu dihajar latihan fisik.”
“Boleh, boleh banget. Makan aja, masih anget, kok”, jawab Doni, entah kenapa merasa terhibur dengan kelugasan Olivia yang tanpa basa-basi.
Olivia langsung duduk bersila di atas karpet, tepat di bawah sofa tempat Doni duduk. Dia membuka kotak roti bakar dan langsung melahap satu potong besar yang rasa coklat. “Gila, enak banget! Makasih ya, Kak.”
Tepat pada detik itu, di layar televisi, pemain Chelsea, Cole Palmer berhasil mencetak gol lewat tendangan voli kaki kirinya. Tanpa sadar, Doni langsung mengepalkan tangannya ke udara. “Yes! Gol!”
“GOOOOLLLL!!”
Doni tersentak. Suara teriakan kedua bukan berasal dari TV, melainkan dari Olivia yang berada di bawahnya. Gadis itu bahkan sampai berdiri sambil mengacungkan potongan roti bakarnya ke udara, matanya melebar penuh semangat.
“Yes! Akhirnya gol juga padahal udah nyerang dari tadi. Kak Doni suka Chelsea juga?!” tanya Olivia, menoleh ke arah Doni dengan wajah yang luar biasa antusias.
Doni terpaku sesaat, menatap mata Olivia yang berbinar jenaka. “Eh? Iya… aku fans Chelsea dari zaman SMP. Kamu juga?”
“Sama dong, Kak! Aku nge-fans dari zaman Eden Hazard!”, Olivia langsung duduk kembali di karpet, menggeser posisinya agar lebih dekat ke sofa Doni. “Wah, gak nyangka banget. Kak Marcella tuh benci banget kalau aku nonton bola di rumah, katanya berisik dan gak jelas cowok-cowok rebutan satu bola. Akhirnya ada juga orang di rumah ini yang waras!”
Doni tertawa lepas. Sebuah tawa yang jujur dan tidak dibuat-buat, jenis tawa yang sudah berbulan-bulan, atau mungkin bertahun-tahun, tidak pernah dia keluarkan saat bersama Marcella.
Selama satu jam berikutnya, ruang tengah itu tidak lagi terasa sepi. Pertandingan bola di TV hanya menjadi latar belakang, karena obrolan antara Doni dan Olivia mengalir seperti air bah yang jebol dari bendungan. Mereka tidak hanya membahas sepak bola, mereka ternyata menyukai genre musik yang sama, menyukai band indie yang sama yang bahkan Marcella tidak pernah sudi mendengarnya, hingga selera humor mereka yang sama-sama sarkastis. Mereka bahkan sama-sama menyukai coklat, berbeda dengan Marcella yang lebih menyukai keju.
Olivia berbicara dengan ekspresif, sesekali tertawa terbahak-bahak tanpa jaim, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Sementara Doni mendengarkan dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa takjub, senang, sekaligus sebuah sengatan asing yang tiba-tiba menyergap dadanya.
Bersama Olivia, Doni tidak perlu menjaga image menjadi pria sempurna. Bersama Olivia, dia tidak perlu berhati-hati dalam berbicara karena takut menyinggung perasaan wanita di depannya. Bersama Olivia yang baru dikenalnya satu jam, jalan tol lurus yang membosankan di hidup Doni seolah mendadak runtuh, digantikan oleh tikungan tajam yang berbahaya, namun sangat memicu adrenalin.
Suara klakson taksi online di luar rumah tiba-tiba memecah keasyikan mereka. Itu tanda Marcella sudah pulang.
Olivia langsung bangkit berdiri, membersihkan remah roti bakar di bajunya, lalu menatap Doni dengan senyum termanis yang pernah Doni lihat malam ini.
“Seru banget ngobrol sama Kak Doni. Kapan-kapan kita harus nonton bareng lagi ya, Kak”, ucap Olivia riang. Dengan gerakan gesit, dia membawa sisa roti bakarnya di kotak, lalu melangkah setengah berlari naik ke kamarnya di lantai atas.
Tepat saat pintu kamar Olivia di atas tertutup, pintu depan rumah terbuka. Marcella melangkah masuk dengan wajah lelah namun lega.
“Untung cuma salah input dikit, Don. Jadi urusannya cepet selesai”, kata Marcella sambil melepas tasnya, lalu duduk di samping Doni di sofa. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Doni dengan nyaman. “Yuk, nonton drakor-nya. Udah nggak sabar, nih. Eh, roti bakarnya kok tinggal segini? Kamu laper banget ya, tadi? Sorry ya, kalau kelamaan”
Doni tertegun sesaat, menatap kotak roti bakar yang rasa coklatnya sudah habis karena dimakan bersama Olivia. Jantungnya masih berdegup kencang, berkejaran dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
“Iya, Cell. Tadi agak laper”, bohong Doni pelan. “Tapi itu, yang keju-nya masih ada, kok. Makan aja.”
Malam itu, layar televisi di depan mereka menampilkan tayangan drama Korea baru di Netflix pilihan Marcella. Dengan sepotong roti bakar keju di tangan kanannya, Marcella menonton dengan serius, sesekali meremas pelan lengan Doni saat adegan tegang. Namun, fokus Doni sudah pecah berantakan. Pandangannya tertuju pada layar TV, tetapi pikirannya tertinggal pada obrolan sepak bola dan tawa lepas bersama gadis ber-jersey basket nomor 07 di lantai atas tadi.
Malam itu, Doni menyadari satu hal yang menakutkan. Dia telah menemukan apa yang hilang dari hubungannya selama lima tahun ini. Dan sialnya, itu ada pada diri adik kandung pacarnya sendiri.