NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyatuan Dua Hati

​"Iya, Din, beneran. Tapi lo jangan ngasih tahu anak-anak yang lain dulu ya," potong Yuna cepat sebelum Dinda kembali histeris dan mencecarnya dengan seribu pertanyaan lain. "Besok Mas Labib mau anter berkas pernikahan kami ke dekan."

​Di seberang telepon, Dinda masih terdengar syok berat, menahan napas mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya yang selama ini tampak biasa-biasa saja di kelas.

​"Males juga gue cemburu terus gara-gara Bu Citra itu," aku Yuna jujur, mengembuskan napas lega karena akhirnya bisa menyuarakan isi hatinya secara terbuka. "Udah ya, Din. Gue mau istirahat dulu, kepala gue masih agak pusing. Sampai ketemu besok pagi!"

​Tanpa menunggu balasan Dinda yang masih megap-megap di seberang sana, Yuna langsung memutuskan panggilan sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

​Labib yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik istrinya perlahan mendekat. Pria itu merayap naik ke atas kasur, mengikis jarak di antara mereka hingga Yuna bisa merasakan kehangatan dari tubuh tegap suaminya yang berbalut piyama senada.

​"Sudah selesai?" tanya Labib, suara baritonnya terdengar rendah dan menenangkan di keheningan kamar.

​Yuna menoleh, mengangguk pelan dengan senyum tipis yang tulus. "Sudah, Mas. Maaf ya... tadi aku benar-benar egois dan kekanak-kanakan banget sampai nekat minum."

​Labib tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengulurkan lengan kokohnya, menarik tubuh mungil Yuna ke dalam dekapannya, membiarkan kepala istrinya bersandar nyaman di dada bidangnya. "Ssh, sudah. Yang penting sekarang kamu sudah aman di sini. Tidurlah, besok kita punya urusan besar yang harus diselesaikan di kampus."

​Jarum jam dinding di sudut kamar sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Suasana malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di luar sana, ditemani oleh desir pendingin ruangan yang berembus konstan.

​Di atas ranjang, Yuna bergerak gelisah. Alih-alih tertidur lelap, tubuh mungilnya justru semakin merapat, mempererat pelukannya di dada bidang Labib. Kedua tangan kecilnya mencengkeram erat piyama satin abu-abu yang dikenakan suaminya. Rupanya, efek guyuran air dingin di bathtub beberapa jam lalu ditambah sisa alkohol yang mulai menguap membuat suhu tubuhnya drop. Yuna menggigil kedinginan di balik selimut tebal mereka, dengan bibir yang sedikit pucat.

​Labib, yang dasarnya memiliki insting pelindung yang kuat sebagai seorang suami, seketika terusik dari tidurnya. Ia merasakan getaran halus dari tubuh Yuna yang menempel lekat pada dadanya.

​Perlahan, mata elang sang profesor terbuka. Labib menurunkan pandangannya, menatap wajah istri kecilnya yang tampak mengernyit dalam tidur, menahan rasa sedingin es yang menusuk tulang. Labib menyentuh dahi Yuna dengan punggung tangannya—untungnya tidak demam, namun kulit Yuna terasa sangat dingin.

​Labib membenarkan posisi tidur mereka, menarik selimut tebal hingga menutupi sebatas bahu Yuna. Ia lalu melingkarkan kedua lengan kokohnya, mendekap tubuh Yuna semakin erat ke dalam dekapannya yang hangat dan posesif.

​Pria 31 tahun itu mencondongkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Yuna yang memerah. Dengan suara bariton yang serak khas orang baru bangun tidur, Labib berbisik sangat rendah, sarat akan nada dalam yang intim.

​"Kamu menggigil, Yuna..." bisik Labib, napas hangatnya berembus di ceruk leher sang istri, membuat Yuna sedikit melenguh kecil dalam tidurnya. "Kamu mau saya obati agar rasa dinginnya berkurang, hm?"

​Tanpa menunggu persetujuan dari bibir mungil istrinya yang masih sedikit bergetar karena dingin, Labib memiringkan kepalanya. Netra elangnya menggelap, mengunci wajah Yuna sebelum ia mencondongkan tubuh dan kembali menangkup bibir manis itu dengan kecupan yang jauh lebih dalam, hangat, dan menuntut.

​Sentuhan tiba-tiba itu seketika meruntuhkan sisa-sisa rasa dingin yang menggelayuti tubuh Yuna. Detak jantungnya bergemuruh hebat, memompa darah dengan cepat hingga rasa hangat menjalar ke seluruh ujung sarafnya. Yuna tidak menolak. Rasa bersalah, cemburu, dan cinta yang membuncah malam ini membuat kedua tangan kecilnya perlahan naik, mengalung erat di leher kokoh sang profesor.

​Labib melenguh rendah di sela tautan mereka, merasakan balasan dari istri kecilnya yang akhirnya menyerah sepenuhnya pada pesonanya. Tangan kekar Labib bergerak posesif, menyusup ke balik piyama satin abu-abu Yuna, menghapus jarak yang selama tiga bulan ini dengan sengaja mereka ciptakan karena ego dan ketakutan masing-masing.

​Malam itu, di kamar yang temaram dan hanya menyisakan suara deru napas yang memburu, dinding pembatas di antara dosen dan mahasiswi itu runtuh total. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi keraguan tentang Citra atau gosip kampus lainnya. Di bulan ketiga pernikahan mereka, di atas ranjang yang menjadi saksi bisu, Labib membawa Yuna ke dalam dunianya yang paling dalam—memulai malam pertama mereka yang sesungguhnya dengan penuh kehangatan dan kepemilikan yang absolut.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!