Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*21
Sha terdiam sejenak sambil menatap lekat perhiasan yang ada di depannya. Cantik. Sungguh cantik. Namun, bukan itu yang membuat perhiasan tersebut jadi pusat perhatian Asha saat ini. Melainkan, karena siapa yang telah memilihkan perhiasan tersebut untuknya.
"Irza ... ini sebenarnya tahu sebanyak apa tentang aku?" Satu pertanyaan lolos dari bibir Asha. Dari sekian banyak pertanyaan, hanya satu pertanyaan itu yang lolos keluar.
"Kenapa ia tahu apa yang aku suka?" Tanya Sha lagi. "Kemarin ia kirimkan gaun hijau tua sesuai warna yang aku suka. Modelnya juga. Lalu hari ini, dia kirimkan perhiasan dengan bentuk yang juga ku sukai. Sebenarnya, sebanyak apa dia tahu tentang aku?"
Gadis pelayan yang ada di samping Asha, yang mendengar apa yang Sha ucapkan tidak bisa menahan bibir untuk tidak ikut bicara. Iya, walaupun si gadis tahu, kalau Sha sebenarnya tidak sedang bertanya padanya. Tapi bibirnya tetap ingin menjawab.
"Maaf, mbak. Sepertinya, calon suaminya mbak ini kenal mbak dengan sangat baik deh. Soalnya, setiap rincian yang ia pilih, setiap detail yang ia sebutkan, semuanya sangat sesuai dengan selera nya mbak, kan?"
Sha hanya diam. Benaknya semakin bekerja keras untuk memikirkan semua itu. Sampai setelah si gadis pelayan itu pergi pun, Sha tetap berpikir sambil memperhatikan setiap barang yang datang ke rumahnya.
Benar. Setiap barang yang datang, tidak ada satupun barang yang tidak Asha sukai. Semuanya sesuai dengan apa yang ia harapkan. Mulai dari warna, bentuk, bahkan detail kecil pun sesuai dengan apa yang ia inginkan. Seolah, barang yang datang itu adalah barang yang ia pilihkan sendiri untuk ia kenakan. Bukan yang dikirim oleh orang lain untuk dirinya.
"Bagaimana bisa? Aku gak pernah dekat dengan Irza sebelumnya. Selama ini, saling tegur saja tidak. Tapi, masa iya dalam waktu yang sangat singkat, dia tahu semua yang aku inginkan. Apa jangan-jangan, dia tanya mama ya."
"Tapi ... masa iya mama tahu semua ini. Biasa aja, kalo mama belikan aku pakaian selalu warna cerah mentereng kek aku ini anak balita yang suka dengan warna-warna menyala."
Sha melepas napas berat secara perlahan.
"Heh .... Mungkin ini sebuah kebetulan. Pria gemulai itu cukup memahami perasaan orang lain barangkali. Makanya ia tahu apa yang aku mau. Namanya juga kemayu gitu, jadi ngerti apa yang cewek sukai."
"Hah ... ya sudahlah. Abaikan aja, Sha. Tugasmu sudah sangat jelas bukan. Jalani hidup dengan sangat baik. Tetap tersenyum walau sesungguhnya, itu sangat berat. Karena ini adalah hidup yang harus kamu jalani. Lakukan saja walau tanpa rasa bahagia. Hidup memang penuh masalah, bukan?"
Sementara itu di sisi lain, Irza sedang fokus dengan ponselnya. Senyum indah terus saja terlihat di bibir. Benar. Akhir-akhir ini, anak itu lebih banyak tersenyum dari pada datar. Berbeda dengan sebelumnya. Senyum Irza waktu itu adalah hal yang langka. Tapi sekarang, tidak lagi. Bahkan, sang mama merasa aneh saat melihat anaknya yang sering tersenyum.
"Za .... "
"Eh, mama. Ada apa, Ma?"
"Kamu lagi bahagia kek nya. Liat apa?"
"Semua persiapannya sudah selesai, Ma. Dan semuanya, aku yang pilihkan. Rasanya, bahagia banget," ucap Irza dengan wajah yang memang terlihat benar-benar sedang bahagia.
"Mm ... kamu yakin dia suka dengan apa yang kamu pilihkan, Za?"
"Tentu saja, Ma. Aku tahu semua yang ia sukai. Mulai dari warna, hingga bentuk dari barang yang ia sukai. Aku tahu segalanya tentang hal-hal favorit Asha."
Papanya yang baru muncul di depan pintu langsung ikut bicara. "Yah, mama. Lebih dari sepuluh tahun menggagumi, ya wajar dong kalo dia tahu segala hal tentang wanita pujaan hatinya itu."
Mama Irza tersenyum lebar. "Papa benar juga. Lebih dari sepuluh tahun, itu waktu yang sangat lama bukan? Kalo dia berani mengakui perasaannya sejak dari dulu, mungkin sekarang aku sudah punya dua cucu."
"Mama .... "
"Apa? Mama benar bukan? Sepuluh tahun itu waktu yang lama. Bisa punya dua cucu mama mu ini tahu nggak."
"Astaga. Ya Tuhan .... " Irza berucap pada akhirnya.
Obrolan malam itu akhirnya berakhir dengan candaan dan godaan hangat dari kedua orang tuanya. Sungguh, Irza benar-benar bahagia. Hatinya bak musim semi yang ditumbuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran.
Bagaimana tidak? Lebih dari sepuluh tahun menyukai seseorang, akhirnya, orang itu hampir bisa ia miliki. Hati mana yang tidak merasa bahagia coba?
...
Beberapa hari kemudian, tibalah hari pernikahan Asha dan Irza. Pagi-pagi sekali anak itu melakukan persiapan. Bukan bangun pagi-pagi, melainkan, hampir tidak memejamkan mata semalaman hanya karena kepikiran hari pernikahan sangking bahagianya hati Irza sekarang.
Jas putih melekat di tubuh kurus nan gemulai milik pria tersebut. Wajah tampannya semakin terlihat berseri saat ia memasuki ruangan pernikahan dari sebuah gedung mewah yang telah disiapkan.
Gugup hati? Jangan ditanya lagi. Irza sangat amat gugup. Bahkan, pria itu hampir saja sulit untuk bernapas. Bukan tatapan mata yang membuatnya jadi gugup, bukan juga bisik-bisik tentang gerak-gerik tubuhnya yang gemulai yang membuatnya hampir salah tingkah. Sebaliknya, semua hanya gara-gara memikirkan calon istri yang akan ia temui hari ini.
Sambutan kedua orang tua Asha yang sudah ada di ruangan tersebut sangat hangat. Maklum, pernikahan yang sangat orang tua restui. Jadi sambutannya tentu saja sangat hangat.
Irza dipersilahkan duduk di kursi yang ada di tengah-tengah ruangan tersebut. Di sana, ada meja dengan suasana yang berlatarkan serba putih. Entah apa alasannya ruangan itu dihias dengan nuansa putih. Tapi, nuansa itu cukup untuk membuat jantung Irza berdetak dua kali lebih cepat.
Riuh keramaian terdengar. Ruangan itu cukup berisik karena ada beberapa tamu undangan yang sudah duduk dengan rapi di kursi yang telah di siapkan. Beberapa saat kemudian, suara sapa dari si pembawa acara terdengar. Suasana sibuk langsung berhenti.
"Baiklah, kita sambut calon mempelai wanita kita untuk duduk di samping mempelai pria kita saat ini."
Semua mata tertuju ke arah pintu ruangan yang perlahan terbuka. Seiring pintu yang perlahan terbuka, muncullah pula beberapa anak manusia di sana. Anak manusia yang tak lain adalah Asha yang digandeng oleh kedua sahabatnya, Cindi dan Laura selaku pengiring pengantin.
Sontak, manik mata Irza melihat dengan tatapan lekat. Tak hanya melihat, pria gemulai itupun langsung bangun dari duduknya. Matanya menatap tanpa berkedip dengan tatapan penuh akan kekaguman.
Asha terlihat sangat cantik. Sungguh sulit untuk berpaling saat melihatnya. Yang tersihir akan kecantikan dan pesona itu bukan cuma Irza saja, para tamu undangan juga. Pujian akan kecantikan itu langsung mengikuti setiap langkah Asha. Tapi sayangnya, saat ada pujian, pasti disertai dengan kata kasihan, prihatin, juga empati dan simpati dengan siapa yang Asha nikahi.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi