Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Aksi brutal, gila, dan teramat kilat yang ditunjukkan oleh Wu Tian di atas panggung batu raksasa sempat menciptakan riak keheningan yang mencekam di panggung kehormatan tertinggi. Di tempat di mana para penguasa tertinggi Yunzhou berkumpul, ribuan pasang mata sempat tertuju pada satu titik di sudut kiri panggung eliminasi massal.
Asap tipis mengepul dari puing-puing senjata yang hancur berkeping-keping di sekitar kaki pemuda berbaju biru tua itu.
Beberapa tetua tingkat rendah Klan Wu tampak saling berbisik dengan raut wajah penuh keraguan, sementara para pemimpin faksi besar lainnya mulai melirik sekilas. Di singgasana sebelah kiri, Tetua Agung Klan Li condong ke depan, menyandarkan dagunya pada telapak tangan yang keriput namun dialiri energi spiritual yang pekat. Matanya yang tajam menyipit, menilai struktur tubuh Wu Tian yang masih berdiri tegak tanpa seulas pun rasa lelah.
"Kekuatan fisik yang luar biasa untuk ukuran seorang murid luar dari cabang terpencil," gumam Tetua Agung Klan Li, suaranya rendah namun bergetar penuh penekanan di antara para penguasa lainnya.
"Tanpa menggunakan setetes pun energi spiritual luar (Qi), tanpa fluktuasi mantra yang terlihat, dia mampu menghancurkan besi spiritual berkualitas tinggi hanya dengan kepalan tangan kosong. Apakah bocah itu menyembunyikan bakat garis keturunan fisik dari binatang buas purba yang telah lama punah?"
Namun, keterkejutan yang sempat singgah di panggung kehormatan itu hanya bertahan selama beberapa belas detik. Di singgasana tengah, Tetua Agung Wu Cang mengalihkan pandangannya kembali dengan wajah yang teramat datar, dingin, dan dipenuhi oleh keangkuhan seorang kultivator tingkat tinggi yang telah kenyang akan asam garam dunia persilatan.
Bagi Wu Cang, apa yang baru saja ditunjukkan oleh Wu Tian tidak lebih dari sekadar tontonan hiburan murahan.
"Hanya kekuatan fisik kasar bawaan lahir ," sahut Wu Cang dengan nada suara yang meremehkan, mengibaskan lengan jubah emasnya yang agung seolah sedang mengusir debu yang mengganggu penglihatannya.
"Di hadapan seorang kultivator Ranah Pemurnian Qi tingkat tinggi yang menguasai teknik mantra elemen, atau mereka yang mampu mengendalikan pedang terbang dari jarak ratusan meter, kekuatan otot seperti itu tidak ada bedanya dengan samsak tinju yang bergerak lambat. Begitu jarak pertarungan melebar, kekuatan fisik mentah tidak akan lagi memiliki kegunaan di ranah kultivasi tingkat tinggi. Singkatnya, dia tidak memiliki masa depan."
Bagi para penguasa tertinggi yang duduk di atas singgasana giok Yunzhou, hukum energi spiritual dan manipulasi elemen adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh kekuatan fisik sekasar apa pun. Seseorang yang terdeteksi memiliki "Akar Spiritual Tingkat Sampah" di mata mereka akan tetap menjadi sampah, tidak peduli seberapa keras tinju yang bisa ia hasilkan.
With cepat dan tanpa belas kasih, para tetua tinggi itu memalingkan wajah mereka, kembali fokus mengawasi jalannya babak eliminasi di bagian panggung lain, serta memperhatikan pergerakan para murid inti pilihan mereka yang sudah mulai melakukan pemanasan di area tunggu khusus.
Sementara itu, di sudut tribun penonton bagian bawah yang letaknya cukup jauh dari panggung kehormatan, atmosfer ngeri, asing, dan tegang yang sempat mencengkeram dada Wu Lin mendadak pecah oleh sebuah kehebohan yang teramat riuh dan di luar kendali.
"WU TIAN!!! HANTAM MEREKA SEMUA HINGGA MENANGIS!!! JANGAN BERIKAN KASIHAN PADA MEREKA!!!"
"LIHAT ITU! LIHAT KE SANA! ITU ADALAH SAUDARA SEPERGURUAN DARI CABANG TERPENCIL KITA!!! HEBAT SEKALI KAU, WU TIAN!!! KAU BENAR-BENAR SEEKOR MONSTER!!!"
Wu Chen dan Wu Ao, dua murid laki-laki yang kemarin sempat kabur pontang-panting dari paviliun usang Wu Tian karena ketakutan setengah mati setelah mendengar gosip tentang patahnya kaki Wu Geng, kini justru menjadi orang yang paling heboh di seluruh tribun. Mereka berdua melompat-lompat di atas kursi kayu cendana tanpa mempedulikan tatapan heran dari murid-murid di sekeliling mereka.
Wajah mereka memerah padam penuh dengan rasa bangga yang meledak-ledak. Tangan mereka bertepuk tangan dengan sangat keras hingga menciptakan suara riuh yang menggema.
Rasa takut, gentar, dan curiga yang mereka rasakan kemarin malam mendadak menguap tanpa bekas ke udara. Yang tersisa di dalam kepala mereka hanyalah kenyataan manis bahwa nama cabang terpencil mereka, yang selama bertahun-tahun selalu menjadi bahan tertawaan dan keset kaki di Klan Wu, kini berhasil diangkat setinggi langit oleh kegilaan tangan kosong Wu Tian di atas panggung eliminasi massal.
Melihat tingkah konyol, sorak-sorai heboh, dan kepolosan tanpa batas yang ditunjukkan oleh kedua juniornya itu, ketakutan yang sempat membekukan seluruh aliran darah di dalam dada Wu Lin perlahan-lahan mulai memudar. Rasa ngeri yang sempat membawanya kembali pada memori berdarah di pulau terlarang beberapa bulan lalu kini perlahan mencair, digantikan oleh senyum tipis yang kembali terukir indah di bibir cantiknya.
Gadis itu mengembuskan napas panjang, merilekskan jemarinya yang semula mencengkeram erat pagar pembatas giok hingga memutih. Ia menyadari satu hal yang teramat krusial; terlepas dari betapa mengerikan, liar, dan haus darahnya kilatan sepasang mata hitam Wu Tian saat membantai lawan-lawannya tadi, pemuda itu tetaplah sosok yang sama.
Pemuda yang kemarin duduk dengan tenang bersamanya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan polos tentang dunia manusia yang tidak ia ketahui, dan menyuapinya dengan sepotong daging iga panggang secara agresif namun lembut di sudut kedai makan kecil.
Sejas pertama kali ia menemukan Wu Tian terkapar di pulau terlarang hingga detik ini, pemuda misterius itu hanya melepaskan sisi monsternya untuk melindungi diri, menghancurkan mereka yang berniat buruk, dan membuka jalan bagi tujuannya. Wu Tian tidak pernah sekali pun mengarahkan niat membunuh atau menyakiti dirinya. Kebisuan dan ketenangan Wu Tian adalah bentuk kejujuran tertinggi di dunia yang penuh dengan kemunafikan ini.
"Dasar... selalu saja bertindak ekstrem dan membuat orang lain hampir jantungan," gumam Wu Lin lirih sembari menggelengkan kepalanya perlahan, sepasang mata indahnya kini kembali menatap ke arah panggung dengan binar hangat penuh rasa percaya.
Terinspirasi oleh sorak-sorai yang riuh sekaligus didera oleh rasa ketakutan yang mendalam akibat melihat "Zona Kematian" yang diciptakan oleh Wu Tian, sisa pertempuran di atas panggung eliminasi massal berjalan dengan ritme yang jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Lebih dari seribu murid luar yang tersisa kini memiliki satu pemikiran yang sama di dalam kepala mereka: menjauh sejauh mungkin dari pemuda berbaju biru tua itu jika masih menyayangi nyawa mereka.
Para murid luar itu sengaja mengosongkan area dalam radius sepuluh meter di sekeliling Wu Tian. Mereka memilih untuk saling menjatuhkan, saling menebas, dan saling dorong satu sama lain di sisi panggung yang berbeda, menciptakan pertempuran yang kacau namun bersih dari keterlibatan Wu Tian.
Wu Tian sendiri hanya berdiri diam di tengah zona kosongnya, menyandarkan satu tangannya di pinggang sembari menyaksikan kekacauan di sekelilingnya dengan tatapan mata yang kembali beralih menjadi bosan dan mengantuk.
GONG...!!!
Gong raksasa keramat di tengah arena utama kembali dipukul dengan kekuatan penuh oleh sang penjaga turnamen, suaranya yang berat dan bergaung besar membelah langit Koloseum sekaligus menandakan bahwa Babak Eliminasi Massal telah resmi berakhir.
Dari ribuan peserta yang semula memadati permukaan batu panggung, kini benar-benar hanya tersisa 10 orang murid luar yang masih mampu mempertahankan posisi berdiri mereka. Di antara sepuluh orang yang napasnya terengah-engah, tubuhnya dipenuhi luka sayatan, jubahnya robek, dan bersimbah keringat bercampur darah itu, Wu Tian berdiri tegak di titik paling tengah.
Jubah biru tuanya sama sekali tidak robek, kainnya tidak kusut, dan tubuhnya adalah yang paling bersih dari noda darah ataupun debu arena. Seringai gila yang sempat mengerikan tadi kini telah lenyap sepenuhnya dari wajahnya, kembali digantikan oleh ekspresi wajahnya yang semula—tenang, cold, misterius, dan teramat sangat datar tanpa ekspresi.
Pembawa acara turnamen, seorang diaken senior dengan jubah ungu klan, melompat dengan gerakan meringankan tubuh yang anggun menuju ke tengah arena. Ia mengalirkan tenaga dalam tingkat tinggi ke dalam tenggorokannya, membuat suara pengumumannya membahana memecah riuh rendah penonton di seluruh tribun.
"Selamat kepada sepuluh murid luar yang berhasil bertahan hidup dan berdiri hingga detik terakhir! Kalian semua resmi mendapatkan tiket emas untuk melangkah ke Babak Utama esok hari! Di babak tersebut, kalian tidak akan lagi bertarung secara acak, melainkan akan diadu langsung secara satu lawan satu dalam pertarungan hidup dan mati melawan para Murid Inti klan!"
Bersamaan dengan selesainya kalimat tersebut, seberkas cahaya spiritual yang sangat besar ditembakkan dari menara formasi klan menuju ke langit di atas koloseum. Cahaya itu pecah dan membentuk sebuah papan pengumuman spiritual raksasa yang terbuat dari formasi pelangi kuno, menampilkan bagan pembagian kelompok bertarung untuk esok pagi secara transparan.
Mata Wu Tian bergerak dengan sangat tenang, mendongak menatap baris demi baris nama yang tertera di papan cahaya tersebut. Di baris kelima, namanya tertulis dengan guratan cahaya yang jelas: Wu Tian (Murid Luar) VS Wu Shan (Murid Inti).
Melihat nama yang tertera di papan pengumuman tersebut, Wu Lin yang berada di tribun penonton seketika menahan napasnya kembali, wajahnya kembali menegang. Nama Wu Shan bukanlah nama yang asing di kalangan Klan Wu. Pria itu dikenal luas sebagai salah satu murid dalam Ranah Pemurnian Qi tingkat akhir yang menjadi tangan kanan setia, anjing pesuruh, sekaligus simpatisan terbesar dari Wu Yan—jenius peringkat dua klan yang kemarin sore sempat diabaikan, diremehkan, dan dibuat murka setengah mati oleh Wu Tian di atas tebing perbukitan.
Pembagian kelompok pertarungan ini jelas bukan sebuah kebetulan semata atau hasil undian yang adil. Ini adalah sebuah pengaturan rahasia dari balik layar yang sengaja disusun oleh faksi murid dalam untuk menghancurkan, mempermalukan, dan mematahkan seluruh tulang Wu Tian di hadapan ribuan penonton esok hari sebagai bentuk pembalasan dendam atas harga diri Wu Yan yang terluka.
Merasakan hawa permusuhan yang teramat tajam dan dingin dari arah area tunggu khusus murid inti, Wu Tian sedikit menggeser pandangan matanya. Di seberang arena, Wu Yan berdiri sembari bersedekap dada, menatap lurus ke arah Wu Tian dengan senyum licik yang penuh dengan rasa kemenangan dan haus akan darah.
Wu Yan menggerakkan ibu jarinya di depan leher, memberikan isyarat universal tentang kematian yang mutlak.
Melihat ancaman tersirat dan intimidasi yang diarahkan kepadanya, Wu Tian tidak berkedip sedikit pun, apalagi gemetar ketakutan. Sebaliknya, sudut bibirnya kembali terangkat tipis, membentuk sebuah seringai tenang yang teramat tipis dan sarat akan makna kehancuran yang tersembunyi.
Jika mereka mengira panggung esok hari adalah tempat untuk mengeksekusi seorang murid luar berbakat sampah, maka Wu Tian akan memastikan bahwa esok hari adalah hari di mana para jenius dunia luar akan menyadari seberapa kecil dan tidak berdayanya mereka di hadapan seekor monster yang sesungguhnya. Roda turnamen telah berputar, dan Wu Tian siap untuk melangkah lebih jauh menuju pusaka sakralnya.