NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pernikahan Azalea dan Enzo berlangsung sederhana. Terlalu sederhana jika dibandingkan dengan status sosial Enzo dan keluarganya. Tidak ada gaun pengantin mewah. Tidak ada aula besar. Tidak ada tamu undangan dari kalangan atas yang mengenakan kebaya mahal atau jas berkelas. Hanya sebuah ruangan kecil di Kantor Urusan Agama.

Azalea duduk dengan tangan gemetar di pangkuannya, mengenakan gamis putih polos dan jilbab sederhana. Wajahnya tampak tenang, tetapi di balik ketenangan itu ada rasa getir yang tak terucap. Ia menikah bukan karena cinta yang berbunga-bunga, melainkan karena sebuah janji sunyi. Janji untuk menjaga dua anak yang telah merebut hatinya lebih dulu.

Enzo duduk di sampingnya, rapi dalam kemeja putih dan jas hitam. Ekspresinya datar seperti biasa. Tak ada senyum bahagia, tak ada sorot mata berbinar. Namun rahangnya mengeras ketika ijab kabul diucapkan seolah ia sedang mengikat diri pada sebuah tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada perasaannya sendiri.

Mami Elsa tidak hadir. Seperti dulu, saat Enzo menikahi Jasmine. Restu tak pernah benar-benar diberikan, hanya diam yang dingin dan penolakan yang dibungkus gengsi.

Daripada menjadi bahan gunjingan dan cibiran kalangan atas, Azalea memilih tidak mengadakan pesta pernikahan. Ia tahu posisinya. Ia tahu dirinya hanya “wanita kampung” di mata mereka.

Sebagai gantinya, Azalea dan Enzo memesan nasi kotak sederhana. Ratusan kotak itu dibagikan ke masjid-masjid sekitar, bertepatan dengan hari Jumat. Azalea berdoa lirih di dalam hatinya, semoga berkah mengalir dari keikhlasan, bukan dari kemewahan.

Selesai akad, Erza dan Elora langsung berlari menghampiri Azalea yang turun dari mobil bersama Enzo.

“Asyik! Sekarang aku punya Mommy!” teriak Erza dengan wajah berbinar. Matanya bersinar-sinar, penuh kebanggaan yang selama ini ia pendam.

“Aku punya Mommy!” Elora melompat-lompat kegirangan, lalu memeluk kaki Azalea erat-erat.

Hati Azalea mencelos.

Anak-anak ini betapa lama mereka menunggu sosok seorang ibu. Azalea tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Ia mengelus kepala Erza dan Elora dengan penuh kasih. Dalam hatinya, ia berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan aku mengecewakan mereka.”

“Daddy,” Erza menoleh ke arah Enzo, “sekarang kita panggil Tante Lea Mommy, kan?”

Enzo melirik sekilas, lalu mengangguk tipis. “Terserah kalian.”

“Mommy!” seru Erza dan Elora bersamaan, langsung memeluk Azalea.

Tubuh Azalea menegang sejenak. Panggilan itu masih terasa asing di telinganya. Terlalu besar. Terlalu berat. Namun hangat. Ia membalas pelukan mereka, mengusap punggung kecil itu perlahan. Air mata haru hampir jatuh, tetapi ia tahan.

Di sudut ruangan, Bi Minah menutup mulutnya, menahan tangis. Ia tak pernah menyangka anak-anak yang dulu sering berteriak, mengamuk, dan melempar barang kini bisa tertawa sebahagia itu.

Berbeda dengan Mami Elsa. Wanita itu berdiri agak jauh, wajahnya muram, sorot matanya dingin. Ia sama sekali tak ikut mendekat. Dalam hatinya, ia menggerutu tajam.

“Apa mata anakku sudah buta?

Begitu banyak wanita terhormat, berpendidikan tinggi, malah memilih wanita kampung lagi.”

Dulu Mami Elsa tak pernah benar-benar menerima Jasmine, seorang TKW yang bekerja sebagai kasir di mall terkenal di Jerman. Dan kini, sejarah seolah terulang. Hanya saja, kali ini Mami Elsa merasa kekalahannya lebih menyakitkan.

Malam pertama setelah pernikahan itu berlalu tanpa apa pun yang biasanya dibayangkan orang. Azalea tidak tidur di kamar Enzo. Ia memilih kamar sebelah, kamar Elora. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia. Matanya berbinar ketika Azalea memeluknya sambil berbaring.

“Mommy tidul cini telus, ya?” pinta Elora dengan suara mengantuk.

“Iya,” jawab Azalea lembut. “Mommy di sini.”

Selama ini Elora selalu tidur satu kamar dengan Erza, meski berbeda kasur. Ia takut tidur sendirian, takut gelap, takut sepi, takut kehilangan. Kini, ia tidur sambil dipeluk.

“Mommy,” gumam Elora sebelum terlelap, “becok kita main apa lagi?”

Azalea tersenyum, mengusap rambut halus itu. “Bagaimana kalau besok kita buat baling-baling dari botol plastik bekas?”

“Memangnya bica?” Elora memiringkan kepala, bingung sekaligus penasaran.

“Insya Allah bisa. Kita buat bertiga sama kakak.”

“Iya ...!” Elora tersenyum kecil, lalu melipat tangan di dada. “Bismillah ....”

Azalea menahan napas. Melihat anak itu berdoa. Matanya basah tanpa ia sadari.

Keesokan paginya, halaman rumah dipenuhi suara tawa yang jarang terdengar sebelumnya. Erza dan Elora berlari berputar-putar sambil memegang baling-baling warna-warni hasil kreasi mereka bersama Azalea. Botol plastik bekas itu kini berubah menjadi mainan sederhana yang berputar mengikuti hembusan angin.

“Hati-hati larinya!” seru Azalea sambil tertawa, khawatir Elora tersandung karena terlalu bersemangat.

“Mommy, lihat! Baling-balingku muter!” teriak Erza bangga.

Elora ikut mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Kenapa punyaku enggak muter kenceng, Mommy?”

“Karena kamu larinya pelan,” jawab Azalea sambil terkekeh. Tawa mereka pecah, murni dan lepas.

Di lantai atas, Enzo berdiri di balik jendela kamarnya. Jas kerja sudah terpasang rapi. Jam tangannya sudah melingkar di pergelangan. Namun, langkahnya tertahan. Ia memandangi pemandangan di bawah sana, dua anaknya tertawa, berlari tanpa amarah, tanpa tangis histeris. Pemandangan yang tak ia lihat sebelumnya.

Selama ini, Erza mudah marah, berkata kasar ketika kalah main game. Elora sering tantrum, menangis sekeras-kerasnya hingga membuat siapa pun kewalahan. Kini, rumah itu terasa hidup.

Ponsel Enzo berdering di atas meja. Nama Ramon muncul di layar.

“Ya,” jawab Enzo singkat.

“Pak, pertemuan dimajukan jam sepuluh. Sekarang Anda di mana?”

“Aku baru akan berangkat,” jawab Enzo, lalu mematikan panggilan.

Pria itu mengambil tas kerjanya dan turun ke lantai bawah. Saat hendak membuka pintu depan, pintu itu terbuka lebih dulu dari luar.

Azalea berdiri di sana, sedikit terkejut. Tangannya otomatis terulur.

“Mas, sudah mau berangkat kerja?”

Enzo berhenti. Tatapannya jatuh pada tangan Azalea yang terulur sopan. Sejenak ia bingung. Lalu, ia sadar.

Azalea meraih tangannya dan mencium punggung tangan itu dengan penuh hormat. “Semoga semua pekerjaannya lancar.”

Enzo tercekat. Perasaan aneh menjalari dadanya. Sudah sangat lama tak ada yang memperlakukannya seperti ini.

“Hati-hati di jalan, Mas,” lanjut Azalea lembut. “Semoga selamat sampai kantor.”

Enzo menelan ludah. “Ya,” jawabnya singkat. Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Azalea tersenyum kecil, lalu melangkah masuk kembali ke rumah.

Enzo berdiri terpaku beberapa detik. Bayangan masa lalu melintas begitu saja. Dulu, Jasmine juga melakukan hal yang sama. Mencium tangannya setiap pagi, menyambutnya dengan senyum sederhana, lalu ia membalas dengan mencium kening atau pipinya. Kebiasaan yang ia anggap remeh sampai kini terasa begitu jauh.

“Apa aku harus menciumnya juga?” batin Enzo, menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dada Enzo terasa hangat, namun juga sesak. Karena ia tahu, pernikahan ini dimulai tanpa cinta. Dan entah bagaimana, kehangatan kecil itu justru membuatnya takut. Takut jika suatu hari ia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia janjikan sejak awal.

1
Herlina Anggana
gak mudah mengurus orang tua yg sakit soalnya Mbah ku dulu stroke 4 tahun gak kuat beli Pampers akhirnya kain di sobek2 jadikan popok ... mmah ku yg urus bner2 aroma di rumah pun jadi berbeda... karena sebentar2 ada kotoran nanti ganti popok,kalo belum sempat cuci di taruh kolong kasur di ambil di buat mainan sama almarhumah Mbah,,mmah ku bener2 nangis masalah ekonomi, urusan keluarga pun jdi beban fkirannya
Pustanty
suka bgt ceritanya.. bikin adem yg baca... 🥰
Herlina Anggana
cekik aja kali zo
Herlina Anggana
anak2 masih UAS tapi aku jadi pngen pulkam kalo gini hhehe
Herlina Anggana
kaya lagi di comblangin Ama bocil
Herlina Anggana
ceritanya tu kaya halus teratur,perlahan2 gimana y jelasinnya kaya mau bercanda pun aku sungkan, kaya soft aja gtu kaya lagi mimpi bacanya
🌸 Sunshine 🌸: 😅😅😅 maklum saat buat karya ini lagi bulan puasa. Antara nahan lapar, ngantuk, dan enggak ada energi buat marah-marah. Jika ada typo atau kalimat rancu, berarti aku lagi ngantuk.

Sebenarnya setiap hari sih suka mendadak ngantuk bahkan ketiduran ketika ngedit naskah.
total 1 replies
Herlina Anggana
malaikat kah lea ini
🌸ReeN🌸
keren banget ceritanya....sukaaa bgt, azalea wanita tangguh
Herlina Anggana
punya istri Spek ibu peri kaya masuk surga gak sih zo?
Herlina Anggana
Bak ratu yang berdiri dengan elegan menghadapi anjing yg menggonggong
Herlina Anggana
penulisannya pemilihan kata2 nya matang banget
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee 💕
ohh jadi karena ini Mami Elsa tdk suka sama perempuan kampung..krn dia punya trauma yg selalu membekas ttg ayahnya
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee 💕
❤️❤️❤️❤️❤️🥰
Farah Restu Oktaria
mantap
syh 03
gerak cepat Enzo kerennnnn
syh 03
ada hikmah dr perpisahan dgn yg pertama akhirnya Aza mendapat jodoh kedua yg lebih baik...😊
syh 03
permata berkilau tertutup justru lebih berkilau dan membuat pria manapun terpikat...hati2 enzo bnyk calon pebinor di sekelilingmu 😆
syh 03
mantan duda dan janda nih bikin kita senyum2 salting 😆😆
syh 03
jd malu ah
syh 03
kasian Elora
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!