Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Bau debu dan kertas tua yang mengendap bertahun-tahun langsung menyergap saat Kirei memutar kunci kuningan ruang arsip OSIS. Ruangan sempit di ujung koridor lantai tiga itu jarang dijamah orang, menjadikannya tempat paling aman untuk menyusun strategi tanpa pasang mata yang usil.
Arka masuk mendahului, mendorong daun pintu kayu hingga berderit nyaring. Tanpa ragu ia melangkah ke meja kusam, lalu melompati tepinya agar bisa duduk dengan kaki panjang yang menggantung bebas.
"Jadi, apa rencana hebat Bu Ketua?" tanya Arka, memutar-mutar pulpen bekas di antara jemarinya.
Kirei membentangkan lembaran daftar pemilik akses kunci sekolah di atas meja kecil dekat jendela. Sinar matahari sore menembus kaca berdebu, memantulkan bias keemasan di wajahnya yang tegang.
"Bima bilang foto itu ditempel jam 05.45 pagi," ucap Kirei, jemarinya menunjuk satu baris data. "Di jam segitu, gerbang utama belum dibuka Pak Slamet. Artinya, pelakunya masuk lewat pintu samping dekat lapangan tenis indoor. Dan cuma ada tiga kunci duplikat untuk pintu itu."
Arka mencondongkan tubuh, matanya menyipit tajam. "Siapa aja yang pegang?"
"Satu di pos penjaga, satu di ruang guru, dan satu lagi..." Kirei menelan ludah, mengunci tatapannya pada Arka. "...dipegang sama Wakil Ketua OSIS. Bima."
Suasana ruang arsip mendadak pekat. Hembusan angin sore mengoyak tirai kusam di belakang mereka, menciptakan desis halus yang menambah ketegangan.
Arka terkekeh—dengusan sinis yang penuh rasa puas. "Bima? Cowok alim kesayangan guru itu?"
"Gue enggak gegabah nuduh Bima," sela Kirei cepat. "Tapi fakta enggak bisa bohong. Bima punya akses penuh. Dan kemarin dialah orang pertama yang paling histeris ngeliat foto itu di papan pengumuman."
"Dan dia juga yang paling kepanasan tiap kali gue dekat sama lo," timpal Arka, suaranya memberat. Ia melompat turun dari meja, mendekati Kirei hingga bayangannya menelan tubuh cewek itu. "Gue udah bilang, kan, Rei? Musuh paling berbahaya itu biasanya yang paling pasang badan jadi pahlawan."
Kirei merasakan getaran aneh merayap di dadanya. Ada kebenaran pahit dari ucapan Arka. Selama ini Bima selalu bertindak sebagai pelindung, tapi reaksi berlebihannya belakangan ini terasa janggal.
"Kita butuh bukti sebelum dituduh balik bikin fitnah," ujar Kirei seraya merapatkan jarak agar suaranya tak tembus keluar. "Nanti malam, gue mau periksa ruang OSIS. Kunci duplikat Bima biasanya disimpan di laci meja kerjanya."
Arka mengangkat sebelah alis. "Lo mau membobol meja wakil lo sendiri?"
"Gue cuma mau memastikan," ralat Kirei tegas. "Kalau kunci itu hilang atau ada bekas minyaknya, berarti Bima pelakunya. Mau ikut atau enggak?"
Arka tersenyum miring, menunduk hingga napas hangatnya menyapu dahi Kirei. "Mana mungkin gue biarkan istri gue main detektif-detektifan sendirian di sekolah sepi?"
Pukul 19.00 WIB.
Kompleks SMA Nusantara berubah menjadi kota mati saat malam merayap. Lampu jalan memancarkan pendar kuning temaram, menorehkan bayangan panjang di sepanjang koridor sepi.
Kirei dan Arka berjalan mengendap menyusuri lorong lantai dua. Langkah sepatu mereka diredam oleh suara rintik gerimis yang mulai membasahi atap seng.
"Lewat sini," bisik Kirei, memutar gagang pintu ruang OSIS.
Pintu bergeser tanpa suara. Ruangan itu gulita, hanya diterangi sinar rembulan yang menembus kaca. Kirei menyalakan senter kecil ponselnya, mengarahkannya lurus ke meja kerja Bima di sudut ruangan.
Arka berjaga di dekat pintu, bersandar pada kusen sambil melipat tangan di dada. Matanya awas memindai kegelapan koridor luar dengan insting tajam seorang petarung.
Kirei menarik laci bawah meja Bima. Terkunci.
Ia mengeluarkan klip kertas dari saku seragamnya, mencoba mengotak-atik lubang kunci seperti yang pernah ia lihat di internet. Beberapa detik berlalu dalam debar tegang hingga bunyi klik kecil terdengar.
"Gotcha," gumam Kirei pelan.
Laci itu ditarik perlahan. Di dalam kotak beludru hitam, sebuah kunci kuningan kecil bersemayam. Kirei menyorotinya dengan cahaya ponsel.
"Kuncinya masih ada di sini," desis Kirei bingung sekaligus lega. "Kalau kuncinya ada di sini, berarti bukan Bima yang—"
"Kirei, matiin senter lo. Sekarang!" potong Arka tajam penuh otoritas.
Refleks, Kirei mematikan layar ponselnya. Ruangan kembali gelap total.
Dari koridor luar, terdengar derap langkah yang mantap dan teratur. Puk... puk... puk... Suara pantofel menapak lantai keramik, mendekat ke arah ruang OSIS.
Jantung Kirei seolah melonjak ke tenggorokan. Kalau satpam atau guru mendapati mereka di sini malam-malam, alibi pagi tadi bakal runtuh seketika.
Sebelum Kirei sempat berpikir, sebuah tangan kekar merengkuh pinggangnya, menarik tubuhnya bersembunyi di balik lemari arsip besi yang sempit.
Arka mengurung Kirei di antara dinding lemari yang dingin dan dada bidangnya. Satu tangan Arka menahan pinggangnya, sementara telapak tangan yang lain membungkam mulut Kirei rapat-rapat.
"Diam... jangan gerak," bisik Arka sangat tipis di dekat telinga.
Aroma sabun citrus bercampur hangat tubuh Arka mengepung Kirei. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa merasakan detak jantung Arka yang bergemuruh tenang merespons situasi. Punggung tangan Arka di bibirnya membuat dadanya bergolak—takut ketahuan bercampur debar asing yang sulit diredam.
Gagang pintu ruang OSIS berputar.
Klek.
Seseorang melangkah masuk. Sorot senter terang menyapu ruangan, melewati meja utama, lalu berhenti tepat di meja Bima.
Dari celah sempit lemari arsip, Kirei dan Arka mengintip. Orang itu mengenakan jaket hoodie hitam berpenutup kepala rapat dengan sarung tangan kulit.
Sosok tersebut mendekati meja Bima, merogoh saku, lalu meletakkan sesuatu—sebuah gantungan kunci persis milik Bima.
Mata Kirei membelalak di balik kurungan tangan Arka. Orang itu baru saja mengembalikan kunci duplikat Bima!
Si hoodie hitam berbalik membelakangi meja. Tepat sebelum melangkah pergi, ponsel di saku jaketnya bergetar. Layar yang menyala sekilas memantulkan sisi wajahnya dari samping.
Rahang tegas, kacamata bingkai tipis, serta tahi lalat kecil di bawah telinga kiri.
Bima.
Kirei menahan napas sekuat tenaga. Arka mempererat genggaman di pinggangnya, matanya berkilat dingin dalam gelap.
Begitu pintu tertutup dan langkah kaki itu memudar di ujung koridor, Arka perlahan melonggarkan tangannya dari mulut dan pinggang Kirei.
Kirei bersandar lemas pada lemari besi, terengah-engah. "B-Bima... itu beneran Bima..."
Arka keluar dari persembunyian, menatap pintu yang tertutup dengan sorot berbahaya.
"Bukan cuma Bima," ucap Arka lirih, memecah sepi. "Dia punya kunci duplikat, dan dia sengaja bikin teror ini buat nyingkirin gue... sekaligus manfaatin ketergantungan lo ke dia."
Kirei mendongak, menatap Arka di bawah pendar remang bulan. Rasa tidak percaya menghantam batinnya—orang yang selama ini ia anggap pelindung ternyata musuh dalam selimut. Dan cowok yang paling ia benci justru berdiri di sisi gelapnya, melindunginya tanpa syarat.
"Sekarang lo tahu siapa musuh lo yang sebenarnya, Bu Ketua," bisik Arka sambil menyodorkan telapak tangannya. "Mau lanjutin permainan gila ini bareng gue?"
Kirei menatap uluran tangan itu sesaat. Tanpa ragu lagi, ia menyambut kehangatan telapak tangan Arka dalam genggamannya.