Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Patahnya Sang Bayangan dan Target Terakhir
Jari-jari Baek Hyun-Woo bergerak menembus debu dengan kecepatan yang tak bisa ditangkap mata telanjang. Sebagai seorang pembunuh bayaran elit di dunia lama, ia telah diajari untuk tidak pernah menyerah sebelum jantungnya berhenti berdetak.
Sebilah belati hitam legam—dilapisi racun kelumpuhan tingkat tinggi hasil ekstrak dari monster Katak Besi—kini berada di genggamannya.
Menggunakan sisa tenaga pendorong dari pinggulnya, Hyun-Woo melesat dari posisi berlututnya. Ia tidak mengincar jantung atau leher, karena ia tahu kewaspadaan Do-Yoon di area vital pasti sangat tinggi. Ia mengincar urat keting di pergelangan kaki kiri Do-Yoon, sebuah serangan kotor untuk melumpuhkan pergerakan lawan.
WUSSH!
Bilah belati beracun itu menebas udara, hanya berjarak satu milimeter dari celana jas hitam Do-Yoon.
Namun, alih-alih suara robekan kain atau daging yang terkoyak, yang terdengar hanyalah bunyi mendesis yang sangat keras.
SYSSS!
Tangan Hyun-Woo berhenti mendadak, seolah menabrak dinding baja yang tak kasat mata. Matanya membelalak ngeri.
Belati beracun yang ia genggam tidak pernah menyentuh kulit Do-Yoon. Senjata itu tertahan oleh lapisan bayangan hitam pekat yang merembes keluar dari celana pria itu, bertindak layaknya rawa hidup. Dan bukan hanya menahan—kegelapan itu sedang memakan bilah belatinya. Logam yang ditempa dengan energi sihir itu meleleh menjadi abu kelabu, merambat naik hingga ke gagangnya.
Hyun-Woo segera melepaskan gagang belati tersebut dan melompat mundur sambil terbatuk darah, menghindari energi Ketiadaan yang nyaris melahap tangannya sendiri.
Han Do-Yoon menghela napas pelan. Ia bahkan tidak bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya berdiri.
"Belati racun saraf, mengincar titik buta di area bawah tanah," gumam Do-Yoon, menatap sisa abu belati di bawah sepatunya. "Strategi yang klasik dan efisien. Sayangnya, kau mencoba menusuk sebuah bayangan dengan jarum patah."
Hyun-Woo jatuh terduduk di atas reruntuhan. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit di telinga dan tulang rusuknya akibat ledakan tadi mulai menyiksa kesadarannya. Namun, rasa sakit yang paling parah ada pada harga dirinya.
Pria berjas hitam ini tidak tertembus. Baik serangan jarak jauh maupun jarak dekatnya telah dipatahkan tanpa pria ini mengeluarkan setetes pun keringat.
"Siapa... kau sebenarnya?" tanya Hyun-Woo sekali lagi, suaranya kini terdengar serak dan putus asa. "Kau pasti Peringkat Satu itu. Anomali yang disembunyikan oleh Sistem. Untuk apa kau datang jauh-jauh ke wilayahku hanya untuk mempermainkanku?"
Di belakang Do-Yoon, Yoo Ji-Ah menyarungkan kembali pedangnya. Ia tahu pertarungan sudah berakhir. Pria di tanah itu telah kehilangan taringnya.
Do-Yoon melangkah maju, memindahkan kakinya dari busur panah hitam milik Hyun-Woo. Ia menunduk dan memungut busur tersebut, lalu melemparkannya ke pangkuan sang pembunuh.
"Aku tidak mempermainkanmu, Baek Hyun-Woo. Jika aku ingin membunuhmu, kepalamu sudah menggelinding sejak aku menangkap anak panahmu," ucap Do-Yoon dingin. "Aku datang untuk membelimu."
Hyun-Woo mengernyitkan dahi. "Membeliku?"
"Di dunia yang lama, kau adalah anjing pemburu yang membunuh demi uang kertas yang tidak berharga," Do-Yoon mencondongkan tubuhnya ke depan, memancarkan aura seorang kaisar absolut. "Di dunia yang baru ini, aku sedang membangun sebuah kerajaan. Kerajaan yang akan berdiri di atas mayat para monster, serikat-serikat serakah, dan bahkan para dewa yang sedang menonton kita saat ini."
Do-Yoon mengulurkan tangan kanannya.
"Bergabunglah dengan Serikat Ketiadaan. Jadilah mata yang melihat dalam kegelapan, dan panah yang menembus tenggorokan musuh-musuhku. Sebagai bayarannya, aku akan memberimu perlindungan mutlak, sumber daya tanpa batas, dan target-target pembunuhan yang akan membuat namamu tercatat dalam sejarah kosmik."
Hyun-Woo menatap tangan yang terulur itu. Otaknya yang jenius bekerja dengan cepat.
Ia adalah pria yang sangat realistis. Ia tahu batas kemampuannya. Berhadapan dengan monster raksasa mungkin bisa ia atasi dengan taktik dan jebakan. Tetapi berhadapan dengan entitas yang bisa memanipulasi kehampaan ini? Itu adalah bunuh diri.
Lagipula, tawaran itu terlalu menggiurkan bagi seorang pembunuh berdarah dingin sepertinya. Siapa yang tidak ingin berada di pihak pemenang mutlak di tengah kiamat ini?
Hyun-Woo mengusap darah di mulutnya dengan punggung tangan, lalu menyambut uluran tangan Do-Yoon. Genggaman pria berjas itu terasa sekeras baja dan sedingin es.
"Harga jasaku sangat mahal, Tuan Peringkat Satu," ucap Hyun-Woo, memaksakan seulas senyum sinis.
"Aku bisa membayar harga nyawamu ribuan kali lipat," balas Do-Yoon menariknya berdiri.
"Buka Jendela Statusmu," perintah Do-Yoon selanjutnya.
Hyun-Woo mematuhinya. Sesaat kemudian, matanya melebar melihat notifikasi yang muncul.
[Pemain 'Han Do-Yoon' mengundang Anda untuk bergabung dengan Serikat 'Ketiadaan' (Peringkat: Pemula).]
[Apakah Anda menerima?]
Jadi namanya Han Do-Yoon, batin Hyun-Woo. Tanpa ragu, ia menekan 'Ya'.
[Anda kini adalah Anggota Resmi dari Serikat 'Ketiadaan'.]
[Ketua Serikat telah menunjuk Anda sebagai: 'Kepala Divisi Intelijen dan Eksekusi'.]
[Rasi Bintang 'Dewa Bayangan Pembunuh' mendengus kesal, namun ia mengakui bahwa inkarnasinya membuat pilihan yang pragmatis demi bertahan hidup.]
[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' merasa tidak nyaman dengan masuknya aura pembunuh gelap ke dalam kelompok Anda, namun ia memilih diam.]
"Selamat bergabung, Hyun-Woo," sapa Yoo Ji-Ah dari belakang, meski nada suaranya tetap waspada. Bagaimanapun juga, pria ini baru saja mencoba memanah kepala ketuanya dari jarak lima ratus meter.
Hyun-Woo menoleh ke arah Ji-Ah, lalu membungkuk sedikit dengan gaya teatrikal yang menjadi ciri khasnya di masa lalu. "Suatu kehormatan, Nona. Kuharap aliran angin kita tidak saling bertabrakan di masa depan."
"Cukup basa-basinya," sela Do-Yoon. Ia mengeluarkan sebotol Ramuan Penyembuh Luka Tingkat Rendah dan melemparkannya pada Hyun-Woo. "Minum itu. Tulang rusukmu retak, kan? Pulihkan dirimu. Kita tidak akan langsung kembali ke markas."
Hyun-Woo menangkap botol kaca itu dan meminum isinya. Sensasi dingin langsung menjalar di dadanya, menyembuhkan rasa sakit dan memulihkan keretakan tulangnya dalam hitungan detik. Matanya berbinar takjub. Sebagai penyintas solo, ia sangat pelit mengeluarkan koin untuk ramuan, dan kini ketuanya melemparkan ramuan mahal seolah itu hanya sebotol air mineral.
"Kita akan pergi ke mana sekarang, Ketua?" tanya Hyun-Woo, menguji panggilan barunya. Ia memungut busur panjangnya dan menyampirkannya di punggung.
"Kawasan Industri Guro," jawab Do-Yoon, menatap ke arah timur. "Menjemput kepingan terakhir dari formasi intiku. Kwak Min-Soo. Kelas: Pencipta Mekanik Ilahi."
"Seorang perajin? Kenapa kita membutuhkan perajin di awal-awal seperti ini?" tanya Hyun-Woo kebingungan. Di masa-masa awal kiamat, Pembangkit tipe produksi atau perajin sangat diremehkan karena mereka tidak memiliki daya tempur langsung melawan monster.
Do-Yoon mulai berjalan membelah hutan rumput mutan, memimpin jalan keluar dari Lapangan Panahan Incheon.
"Karena dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, Sistem akan melepaskan Malam Bulan Berdarah pertama," jelas Do-Yoon, suaranya memancarkan peringatan serius yang membuat Ji-Ah dan Hyun-Woo menahan napas. "Gelombang Pawai Kematian di hari kedua hanyalah pemanasan. Saat Bulan Berdarah muncul, monster-monster yang mati akan bangkit kembali dengan atribut berlipat ganda, dan pertahanan pasif dari Zona Strategis tidak akan cukup untuk menahan mereka tanpa senjata artileri otomatis."
Ji-Ah bergidik ngeri. "Jadi, orang bernama Min-Soo ini... bisa membuat senjata api atau artileri dengan sihir?"
"Lebih dari itu," jawab Do-Yoon tersenyum tipis. "Beri dia cukup bongkahan besi dan Inti Sihir monster, dan dia bisa membangun meriam pembelah benteng dari rongsokan kulkas bekas. Di garis waktu—maksudku, jika diprediksi secara logis, orang dengan kelas mekanik tingkat ilahi adalah fondasi dari setiap serikat besar."
Mereka tiba di perbatasan jalan raya, tempat Do-Yoon sebelumnya meninggalkan Panggung Bayangan-nya yang tersembunyi di balik reruntuhan bus.
"Naiklah," perintah Do-Yoon saat panggung hitam legam itu terbentuk dan melayang di udara.
Hyun-Woo melompat naik, mengetuk permukaan bayangan itu dengan ujung sepatu botnya. "Kemampuan sihir yang sangat efisien. Ketua, kau benar-benar penuh dengan kejutan."
WUSSH!
Panggung bayangan itu melesat membelah udara pagi menuju Guro, sebuah distrik yang terkenal dengan pabrik-pabrik tua dan kawasan permesinan padat di Seoul.
Dari atas panggung yang melaju kencang, Do-Yoon memicingkan matanya. Mengamankan Kwak Min-Soo mungkin akan menjadi tantangan yang berbeda. Berbeda dengan Tae-Ho yang butuh diselamatkan, Ah-In yang putus asa, atau Hyun-Woo yang perlu dipatahkan kesombongannya, Kwak Min-Soo adalah seorang nerd eksentrik yang terobsesi dengan mesin.
Di kehidupan lampau, Min-Soo mengurung dirinya di pabrik selama dua bulan penuh, menciptakan pasukan robot rongsokan yang bahkan membuat monster Tingkat B kewalahan.
"Kawasan Industri Guro saat ini dikuasai oleh Klan Goblin Logam," ucap Do-Yoon, memberikan pengarahan singkat kepada kedua jenderalnya. "Goblin jenis ini memakan besi dan baja. Kulit mereka kebal terhadap panah biasa dan kebal terhadap tebasan pedang ringan. Mereka juga berkelompok dalam jumlah ratusan."
Hyun-Woo menyeringai tipis. "Kedengarannya seperti tempat yang buruk untuk mencari seorang mekanik manusia."
"Justru sebaliknya," potong Do-Yoon. "Min-Soo sengaja membiarkan Goblin-Goblin itu berkeliaran di sekitar pabriknya sebagai anjing penjaga gratis. Ia memanipulasi feromon besi untuk mengendalikan wilayah itu."
Ji-Ah mengerutkan dahi. "Lalu, bagaimana kita menembus kawanan monster yang kebal tebasan tanpa memicu kemarahan mekanik itu?"
Do-Yoon mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan aura hitam Kehampaan yang berkilat dengan petir gelap yang mematikan.
"Kita tidak akan menembus mereka," ucap Do-Yoon dengan seringai iblis yang sangat khas. "Kita akan menghancurkan mainan kesayangannya, lalu menunjukkan padanya bahwa bergabung denganku adalah satu-satunya cara agar pabriknya tidak rata dengan tanah."
jangan lupa hadir juga 😉