Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: Panggilan ke Sang Kakak Seperguruan
Jempol Darman menekan tombol panggil.
Nada sambung pertama membuatnya duduk lebih tegak. Pada nada kedua, ia memberi isyarat agar musik di area privat dimatikan. Tiga tamu wanita segera pergi, disusul kedua petugas keamanan.
Panggilan terangkat pada nada ketiga.
"Darman."
Hanya satu kata, tetapi suara berat di seberang membuat Darman menelan ludah.
"Kang Guntur, maaf saya menghubungi malam-malam. Ada orang yang menghina saya dan membawa nama Padepokan Giri Wesi ke dalam urusan ini."
"Siapa?"
"Namanya Bima. Preman kasar yang menyamar sebagai sopir di Larissa Couture." Darman memandang sisa serbuk kristal di meja. "Dia memeras orang saya lima ratus juta, menyerang saya di kantor klien, lalu datang kemari untuk mengancam. Dia juga punya tenaga dalam yang mencurigakan."
Sunyi beberapa detik.
"Kau menyerang lebih dulu?"
Pertanyaan itu menghantam tepat ke bagian cerita yang ingin Darman sembunyikan.
"Saya hanya menguji dia. Tidak sampai melukainya. Tapi dia mempermalukan saya di depan banyak orang dan menghina ajaran yang Kang turunkan. Kalau dibiarkan, orang akan menganggap murid Giri Wesi bisa diinjak oleh satpam mana pun."
"Jangan pakai nama padepokan untuk menutupi kebodohanmu."
Wajah Darman menegang. Ia tak berani membalas.
"Kirim rekaman utuh, bukan potongan," lanjut Guntur. "Nama, lokasi, dan semua yang kau tahu tentang Bima. Aku akan memberi jawaban besok."
Sambungan berakhir.
Darman menggenggam ponsel sampai buku jarinya memutih. Teguran itu pahit, tetapi Guntur belum menolak. Ia segera mengirim rekaman yang telah dipilih, laporan latar belakang Bima, dan foto bongkahan pipa. Rekaman dari ruang rapat ia potong sebelum bagian dirinya menyerang dengan Cakar Rajawali.
Ia masih berbohong.
Hanya saja, kali ini ia berbohong kepada orang yang jauh lebih berbahaya.
Keesokan paginya, BMW seri 7 kembali ke halaman Larissa Couture sebelum jam kerja. Wisnu menyerahkan kunci kepada Pak Hadi bersama foto odometer, jumlah bahan bakar, dan formulir serah-terima digital. Mobil pengganti dari perusahaan asuransi sudah tiba untuk Laras, sedangkan Jaguar masuk bengkel rekanan untuk pemeriksaan panel dan rangka.
Bima memeriksa empat sudut bodi BMW, kemudian menandatangani penerimaan.
"Tidak ada lecet baru," kata Pak Hadi.
"Bagus. Saya tidak mau Bu Vanya memotong gaji saya sampai masa pensiun."
"Dengan gajimu sekarang, masa pensiun saja belum tentu cukup."
Keduanya tertawa pendek. Namun sebelum Bima membawa mobil ke lobi, Pak Hadi menurunkan suara.
"Orang kemarin belum terlihat lagi. Rekaman kedai sudah disalin ke penyimpanan perusahaan dan kuasa hukum Bu Laras."
"Pertahankan pemeriksaan kendaraan masuk. Jangan kejar mereka di luar area."
Pak Hadi mengangguk. Bima tidak membutuhkan satpam yang bermain jagoan. Ia membutuhkan orang yang menjaga pintu, saksi, dan bukti tetap utuh.
Di ruang rapat kecil lantai tiga, Vanya telah menunggu bersama Gita. Sebuah amplop bank berwarna gelap tergeletak di atas meja.
"Duduk, Bang Bima," kata Vanya.
Bima menarik kursi. "Kalau ada amplop begini, biasanya isinya surat pemecatan atau tagihan."
"Sayangnya bukan." Gita mendorong amplop itu ke arahnya. "Kamu masih harus bekerja."
Di dalamnya ada kartu debit atas nama Bima Prawira dan lembar konfirmasi bonus. Angka yang tercetak pada lembar itu membuat alisnya terangkat.
Rp100.000.000.
"Rekening bonusnya dibuat melalui data KTP dan formulir penggajian yang sudah kamu tanda tangani saat perubahan kontrak," jelas Vanya. "HR sudah mencatatnya sebagai bonus kinerja, termasuk potongan pajaknya. Saldo bersih di rekening sesuai angka pada slip. PIN sementara harus kamu ganti sendiri."
Bima membalik kartu itu sekali. Selama dua belas tahun di luar negeri, ia pernah memegang uang yang jauh lebih besar. Namun hampir semuanya telah ia bagi ketika Serigala Merah dibubarkan. Kartu sederhana itu berbeda. Uang ini ia dapat sebagai pegawai yang melindungi orang, bukan komandan yang mengirim orang ke medan kematian.
"Terima kasih, Bu Vanya."
"Itu bukan hadiah pribadi. Itu penghargaan perusahaan atas risiko dan hasil kerjamu," ujar Vanya. "Jadi jangan menolaknya demi terlihat gagah."
"Saya memang gagah tanpa perlu menolak uang."
Gita mendecak. "Baru dapat seratus juta, kesombongannya langsung mendapat modal tambahan."
Vanya tersenyum, lalu mengeluarkan satu map lain. "Ada satu tawaran lagi. Keluarga kami punya rumah kosong di klaster dekat kantor. Kamu bisa tinggal di sana sementara. Tidak perlu membayar sewa."
Bima tidak menyentuh map itu.
"Saya menghargainya, tapi kos saya cukup."
"Kos itu sempit dan jaraknya lebih jauh," kata Vanya.
"Justru itu rumah yang bisa saya bayar sendiri. Kalau saya menerima tempat tinggal dari bos, nanti Bu Gita akan menghitung berapa kali saya membuka kulkas."
"Aku akan pasang kamera di rak makanan," sahut Gita cepat.
Vanya tak ikut bercanda kali ini. "Kamu selalu menolak bantuan yang terlalu dekat. Kenapa?"
Bima menatap kartu debit di tangannya. "Bonus ini upah atas pekerjaan. Rumah itu kebaikan pribadi. Saya ingin berdiri dengan kaki sendiri selama masih mampu."
Jawaban itu membuat Vanya terdiam, lalu menutup map tanpa memaksa.
"Baik. Tawaran tetap ada kalau keadaan berubah."
Gita mengambil sebotol air dari meja samping. "Jangan salah paham. Vanya memang suka memastikan semua orang di sekitarnya aman. Dia membangun Larissa dari nol, jadi setiap orang yang bertahan bersamanya dianggap bagian dari tanggung jawabnya."
"Dari nol dengan bantuan banyak orang," koreksi Vanya.
Percakapan beralih pada perusahaan. Vanya menjelaskan bahwa Om Hartono pernah memberi modal jembatan dan memperkenalkannya kepada pemasok ketika Larissa baru berdiri. Dana itu telah dikembalikan dan tidak memberinya saham atau hak mengatur direksi. Kepemilikan terbesar tetap berada pada Vanya.
"Pemegang saham terbesar kedua adalah aku," kata Gita. "Semuanya tercatat dalam akta perusahaan dan daftar pemegang saham. Jadi kalau ada orang datang mengaku bisa menjual Larissa hanya karena kerabat, suruh dia belajar membaca dokumen."
"Keluarga Bu Gita juga bergerak di bisnis mode?" tanya Bima.
"Tidak sepenuhnya. Eyang yang membuka banyak pintu."
Vanya menatap Bima. "Eyangnya Gita adalah Ki Wisesa. Di kalangan persilatan Sunda, beliau dikenal sebagai Raja Silat Bandung."
Bima membuka tutup botol air. Gerakannya tidak berubah, tetapi nama itu ia simpan baik-baik. Seorang tokoh sebesar Ki Wisesa berarti Gita bukan hanya pemegang saham dengan modal. Di belakang sikap cerianya berdiri jaringan yang dapat menggerakkan dunia bisnis dan dunia persilatan sekaligus.
"Kamu tidak terkejut?" tanya Gita.
"Saya sedang menghitung apakah cucunya juga bisa memukul orang."
"Mau mencoba?"
"Tidak saat saya baru menerima bonus. Biaya rumah sakit bisa menghabiskannya."
Gita melempar tutup botol ke arahnya. Bima menangkapnya tanpa melihat.
Menjelang makan siang, Bima keluar membawa jadwal kendaraan. Di ujung lorong, Anindya muncul dengan beberapa berkas di dada. Langkah mereka sama-sama melambat.
Ingatan tentang makan malam dan pesan pagi setelahnya menggantung tanpa perlu disebut.
"Sudah sarapan?" tanya Anindya pelan.
"Sudah, Kak Anin."
"Bagus."
Hanya itu. Anindya menahan senyum kecil, lalu berjalan melewatinya. Aroma lembut yang sempat menempel di lengan bajunya malam itu kembali tercium sesaat. Bima tidak menoleh, tetapi sudut bibirnya naik tipis.
Di tempat lain, ponsel Darman bergetar.
Ia langsung menjawab. "Kang?"
Suara Guntur terdengar tenang, berat, dan tanpa keraguan.
"Aku akan datang ke Surabaya. Tak ada yang boleh menghina Padepokan Giri Wesi dan lolos begitu saja."