"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028: Klub Pangeran
Klub Pangeran berdiri di atas bukit kecil menghadap pelabuhan.
Dari luar, bangunannya tampak seperti vila kolonial yang dipaksa memakai kaca modern. Lampu kuning menggantung di teras, mobil-mobil mahal berjajar di halaman, dan musik pelan mengalir dari dalam seperti undangan untuk melupakan hukum.
Nayla berdiri di samping Arya, menatap papan nama klub.
"Tempat ini terlalu percaya diri."
"Tempat yang terlalu percaya diri biasanya menyimpan banyak rahasia."
"Atau banyak orang bodoh."
"Keduanya berguna."
Pak Satria tidak ikut masuk. Ia memilih menunggu di mobil dengan laptop, akses kamera jalan, dan beberapa kontak lokal yang sudah disiapkan. Arya dan Nayla masuk hanya berdua.
Di dalam, udara dingin bercampur parfum mahal, asap cerutu, dan aroma steak. Pria-pria berjas duduk di sofa kulit. Beberapa perempuan muda tertawa terlalu keras di dekat bar. Di sudut ruangan, meja biliar dipakai bukan untuk bermain, melainkan untuk menunjukkan siapa yang boleh menguasai ruang.
Arya tidak melihat panggung.
Ia melihat pintu keluar.
Kamera.
Penjaga.
Tangga belakang.
Nayla memperhatikan matanya. "Kamu bahkan masuk klub seperti memeriksa medan perang."
"Kebiasaan sehat."
"Membosankan, tapi mungkin berguna."
Mereka duduk di meja dekat jendela. Dari sana, pelabuhan terlihat sebagai titik-titik lampu putih dan merah. Seorang pelayan membawa menu, tetapi matanya berkali-kali melirik Nayla.
Tidak butuh lama sampai orang yang mereka cari muncul.
Tegar Santoso datang dari area privat dengan tiga orang teman. Usianya sekitar tiga puluh, rambut disisir licin, senyum penuh keyakinan orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mendengar kata tidak. Ia berhenti begitu melihat Nayla.
"Wah," katanya, berjalan mendekat. "Klub Pangeran kedatangan tamu cantik."
Nayla tidak tersenyum. "Kami sedang menunggu pesanan."
"Pesanan bisa saya tanggung. Saya Tegar Santoso."
"Saya tidak bertanya."
Teman-teman Tegar tertawa kecil, tetapi Tegar justru semakin tertarik.
"Galak. Saya suka."
Arya meletakkan gelas air di meja. "Dia tidak datang untuk disukai."
Tegar baru menatap Arya, seolah baru sadar ada orang lain di meja.
"Dan kamu siapa?"
"Orang yang duduk bersamanya."
"Jawaban murah."
"Pertanyaanmu juga tidak mahal."
Senyum Tegar hilang.
Nayla menahan tawa.
Tegar menarik kursi tanpa izin dan duduk. "Saya tahu kalian bukan orang sini. Kota Selatan punya aturan sederhana. Kalau ingin urusan lancar, kenalan dulu dengan orang yang tepat."
"Kamu orang yang tepat?"
"Saya anak Herman Santoso. PT Pelayaran Jaya. Kalau kalian sedang mengurus tanah Wicaksana, maka ya, saya orang yang sangat tepat."
Nayla mencondongkan tubuh. "Bagus. Kalau begitu sampaikan ke ayahmu, tanah itu harus dikembalikan."
Tegar tertawa.
"Cantik, tapi naif. Tanah yang sudah dikuasai bertahun-tahun tidak kembali hanya karena cucu Wicaksana datang membawa wajah marah."
Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh dagu Nayla.
Tangan Arya bergerak lebih dulu.
Pergelangan Tegar berhenti di udara.
Tidak ada hentakan.
Hanya tekanan yang membuat wajah Tegar berubah.
"Jangan sentuh dia."
Tegar menatap tangannya yang terkunci. "Lepaskan sebelum kamu menyesal."
"Minta maaf."
"Kepada siapa?"
"Kepada orang yang baru saja kamu perlakukan seperti barang."
Tegar mendesis. "Kamu tahu di kota ini siapa yang bisa membuat orang hilang?"
"Orang yang terlalu sering mengatakan itu biasanya belum pernah bertemu orang yang membuatnya ditemukan di tempat yang tidak ia suka."
Meja-meja sekitar mulai diam.
Tegar menarik tangan dengan kasar setelah Arya melepasnya. Ia berdiri, wajahnya merah.
"Security!"
Enam pria berbadan besar datang dari dua sisi. Mereka bukan petugas restoran biasa. Cara berdirinya lebih dekat ke preman terlatih: kaki terbuka, tangan siap, mata menilai.
Nayla berdiri.
Arya berkata pelan, "Tetap di belakangku."
"Aku bisa menjaga diri."
"Aku tahu. Tapi malam ini mereka memilihku."
Pria pertama maju dengan pukulan lurus. Arya menghindar setengah langkah, memukul bagian dalam siku, lalu menekan bahu sehingga pria itu jatuh ke meja kosong. Pria kedua menendang rendah. Arya mengangkat lutut, menahan, lalu membalas dengan dorongan tumit ke paha. Pria itu roboh sambil memegang kakinya.
Dua orang menyerang bersamaan.
Arya mengambil gelas kosong, bukan untuk memukul, tetapi melemparkannya ke lantai di antara mereka. Pecahan kaca membuat langkah mereka ragu sepersekian detik. Cukup.
Ia masuk ke jarak dekat.
Satu siku ke dada.
Satu kuncian pergelangan.
Satu putaran pinggul.
Dua tubuh jatuh.
Pria kelima mencoba menarik Nayla dari samping.
Nayla menendang tulang keringnya lebih dulu.
Pria itu mengumpat, dan Arya sudah berada di sana. Ia mengunci leher bagian samping, menurunkan tekanan hanya sampai pria itu kehilangan keseimbangan, lalu melepaskannya sebelum berbahaya.
Pria keenam berhenti.
Arya menatapnya.
"Pulang."
Pria itu melihat lima orang di lantai, lalu benar-benar mundur.
Seluruh klub hening.
Musik masih menyala, tetapi terasa bodoh.
Tegar berdiri membeku.
Nayla menatap Arya. Napasnya cepat, bukan karena takut.
"Tiga puluh detik," katanya pelan.
"Dua puluh delapan."
"Sombong."
"Akurat."
Tegar berusaha menjaga harga diri. "Kamu pikir setelah ini bisa keluar hidup-hidup?"
Arya berjalan mendekat.
Setiap langkah membuat Tegar mundur.
"Dengar baik-baik. Pulang dan sampaikan kepada Herman Santoso. Keluarga Wicaksana memberi waktu tiga hari. Kembalikan lahan pelabuhan timur, cabut semua orangmu, dan akui seluruh dokumen palsu."
Tegar menelan ludah.
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak, ayahmu akan kehilangan lebih dari tanah."
Tegar masih mencoba tersenyum. "Kamu mengancam PT Pelayaran Jaya?"
"Ini bukan ancaman. Ini pemberitahuan terakhir."
Arya berbalik kepada Nayla.
"Kita pergi."
Tidak ada yang menghalangi.
Di luar klub, udara malam terasa lebih panas daripada ruangan berpendingin. Nayla berjalan di samping Arya tanpa bicara sampai mereka masuk mobil.
Pak Satria menoleh dari kursi depan. "Saya lihat lima orang keluar lewat pintu samping sambil pincang."
"Enam," kata Nayla. "Satu kabur sebelum disentuh."
Pak Satria mengangguk sopan. "Catatan yang baik, Nona."
Mobil bergerak meninggalkan Klub Pangeran.
Baru setelah lampu klub menjauh, Nayla bertanya, "Kamu belajar semua itu di mana?"
"Beberapa tempat."
"Jawaban kabur."
"Pertanyaanmu juga belum lengkap."
"Baik. Levelmu tadi bukan bodyguard biasa, bukan mantan polisi biasa. Setidaknya Kopassus level atas."
Arya menatapnya dari kaca spion. "Kamu sering menilai orang dari cara mereka menjatuhkan enam pria?"
"Kalau orang itu baru saja menjatuhkan enam pria di depanku, ya."
Pak Satria kembali batuk kecil.
Nayla menoleh tajam. "Pak Satria, kalau tertawa, tertawa saja."
"Saya sedang menjaga sopan santun."
"Gagal."
Untuk pertama kalinya malam itu, Arya tersenyum.
Di sisi lain Kota Selatan, Tegar Santoso masuk ke kantor pusat PT Pelayaran Jaya dengan wajah pucat.
Herman Santoso duduk di belakang meja besar, memegang cerutu yang belum dinyalakan.
"Kenapa wajahmu begitu?"
Tegar menahan marah dan malu. "Ada orang dari Wicaksana. Namanya Arya Suryanegara."
Nama itu membuat Herman berhenti.
Tegar melanjutkan, "Dia menghajar orang-orang Klub Pangeran. Dia bilang kita punya tiga hari."
Herman menatap anaknya lama.
"Kamu menyentuh perempuan Wicaksana?"
Tegar tidak menjawab.
Herman memejamkan mata, lalu mengambil ponsel.
"Rahmat," katanya setelah panggilan tersambung. "Geng Macan Hitam perlu keluar."
Suara di seberang tertawa berat.
"Siapa targetnya?"
Herman membuka mata.
"Arya Suryanegara. Dan perempuan Wicaksana yang bersamanya."