NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Terjebak Hujan

Hujan belum turun ketika Anindya dan Arka berdiri di tepi lahan dekat bandara kecil di Tangerang.

Matahari sore masih memantul pada atap hanggar lama. Di depan mereka, konsultan proyek menjelaskan rencana pusat pelatihan wisata udara yang akan dibiayai bersama oleh Grup Adiwijaya dan mitra Klub Enggar.

“Akses kendaraan darurat hanya satu,” kata Anindya sambil menunjuk jalan sempit di sisi timur. “Kalau jalur itu tertutup, ambulans tidak punya pilihan lain.”

“Kita bisa memperlebar sisi utara,” jawab Arka.

“Tanahnya milik warga. Jangan masukkan sebagai solusi sebelum ada konsultasi dan penilaian ganti rugi.”

Arka menatap peta, lalu mengangguk kepada konsultan. “Catat sebagai syarat sebelum studi dilanjutkan.”

Itu adalah perjalanan kerja pertama mereka sebagai wakil dua pihak sejak program bersama dimulai. Sepanjang hari, tidak ada pertengkaran pribadi. Anindya berbicara tentang keselamatan, anggaran, dan akses masyarakat. Arka menanggapi dengan angka kapasitas, standar operasi, dan risiko penerbangan.

Mereka bekerja terlalu baik bersama. Justru itu yang membuat jarak di antara mereka terasa semakin aneh.

Di hanggar kedua, konsultan menawarkan penggunaan bangunan lama untuk kelas teori agar proyek bisa diumumkan lebih cepat. Arka memeriksa tiang atap yang berkarat, sementara Anindya membuka laporan kebisingan dari landasan.

“Ruang kelas tidak boleh berada di sini,” kata Anindya. “Tingkat suara saat mesin diuji melewati batas yang nyaman untuk belajar.”

Konsultan mencoba menjelaskan bahwa dinding peredam bisa dipasang kemudian. Arka mengetuk salah satu baut penyangga dengan ujung pena.

“Dan struktur ini perlu penilaian ulang. Jangan masukkan foto hanggar ke bahan promosi sebelum hasil teknis keluar.”

Konsultan itu tampak kecewa. “Kalau pengumuman ditunda, kita bisa kehilangan calon penyewa.”

“Lebih baik kehilangan penyewa daripada membuka fasilitas yang belum aman,” jawab Arka.

Anindya menambahkan syarat konsultasi dengan warga sekitar, jalur pengaduan kebisingan, serta batas jam penerbangan wisata. Arka menyetujui semuanya dan meminta tim hukum menjadikan syarat tersebut bagian dari studi kelayakan, bukan janji lisan.

Saat rombongan berjalan kembali ke kendaraan, Anindya berkata tanpa melihatnya, “Setidaknya kita sepakat pada satu hal.”

“Keselamatan?”

“Jangan menjual gambar sebelum fondasinya diperiksa.”

Sudut bibir Arka bergerak tipis. “Dulu kamu akan menyebut itu kebiasaan saya yang paling menyebalkan.”

“Dulu bukan hari ini.”

Senyum yang nyaris muncul itu hilang, dan keduanya kembali berjalan dalam jarak satu langkah.

Ketika rombongan meninggalkan lokasi, awan hitam telah menutup langit barat. Hujan jatuh tiba-tiba, memukul atap kendaraan sampai percakapan harus dihentikan.

Dalam dua puluh menit, arus kendaraan di jalan utama nyaris tidak bergerak. Air menggenang di beberapa bagian, menutupi batas trotoar. Pengemudi memperlambat mobil sebelum berhenti di belakang deretan lampu merah.

“Jalur ke Jakarta tergenang di dua titik,” katanya setelah memeriksa informasi lalu lintas. “Ada kendaraan mogok. Saya tidak menyarankan kita menerobos.”

Arka melihat ketinggian air di depan. “Cari tempat aman yang lebih tinggi.”

“Ada hotel bisnis sekitar satu kilometer. Aksesnya masih terbuka.”

Anindya menyetujui sebelum Arka sempat melihat kepadanya. “Kita tunggu sampai petugas menyatakan jalur aman. Jangan ambil risiko hanya untuk pulang malam ini.”

Mobil berbelok ke jalan samping. Dua kendaraan rombongan lain mengikuti dan berhenti di hotel yang sama. Para staf proyek mendapat kamar di lantai bawah, sementara pengemudi tetap memantau kondisi kendaraan dan pembaruan jalan.

Anindya memesan kamar sendiri. Arka melakukan hal yang sama.

“Saya tidak membutuhkan pengaturan khusus,” katanya ketika petugas resepsionis menawarkan kamar bersebelahan untuk memudahkan koordinasi.

Arka menahan pandangan pada wajahnya. “Pisahkan lantainya kalau ada.”

Resepsionis menyerahkan kartu akses untuk lantai lima dan tujuh.

Sebelum mereka sempat naik, lampu hotel padam.

Suara mesin pendingin berhenti. Lobi tenggelam dalam gelap selama beberapa detik sebelum lampu darurat menyala redup. Dari luar terdengar suara hujan, klakson panjang, dan air yang mengalir melewati pintu masuk.

Petugas hotel meminta semua tamu menunggu. Lift harus diperiksa setelah perpindahan daya, sedangkan tangga layanan sedang digunakan untuk membawa tamu lansia dari area parkir.

Anindya memilih kursi paling jauh dari Arka. Tidak banyak membantu. Lobi penuh oleh tamu yang terjebak banjir, sehingga seorang petugas akhirnya meminta mereka berbagi meja kecil dekat jendela.

Arka duduk di seberangnya. Cahaya darurat membentuk bayangan keras di wajah mereka.

“Kamu tadi benar soal jalur ambulans,” katanya.

“Itu bukan perlombaan.”

“Saya tidak bilang begitu.”

“Nada Anda terdengar seperti sedang memberi nilai.”

“Kebiasaan buruk seorang instruktur.”

Anindya menatap hujan. “Anda bukan instruktur saya malam ini.”

“Dan kamu bukan kopilot saya.”

Kalimat itu menggantung terlalu lama.

Tanpa meja instrumen, daftar periksa, atau orang lain di antara mereka, seluruh batas profesional terasa lebih tipis. Anindya merapikan ujung blus yang lembap di pergelangan tangannya.

“Kenapa kamu tidak pernah bercerita tentang Klub Enggar?” tanya Arka.

“Kita sudah membahas ini.”

“Tidak. Kamu memberi batas. Saya menghormatinya. Itu berbeda dengan memahami.”

“Anda tidak harus memahami semua bagian hidup saya.”

“Dulu saya seharusnya mencoba.”

Anindya mengangkat wajah. Dalam cahaya lemah, kelelahan Arka terlihat lebih jelas daripada di ballroom. Ia tidak tampak seperti lelaki yang sedang mengejar rahasia untuk menang. Ia tampak seperti seseorang yang baru terlambat menyadari ada banyak pintu yang tak pernah ia ketuk.

Itu lebih berbahaya bagi pertahanan Anindya.

“Penyesalan tidak mengubah hak,” katanya.

“Saya tahu.”

“Kalau tahu, berhenti bertanya.”

Arka terdiam. Hujan mengisi ruang yang tersisa.

Beberapa menit kemudian, angin mendorong air melalui celah pintu otomatis. Staf hotel berlari memasang penghalang tambahan. Seorang tamu menarik anaknya menjauh, membuat kursi bergeser dan meja mereka terdorong.

Anindya bangkit untuk membantu memindahkan gelas dari tepi. Pada saat yang sama, daya utama kembali. Lampu menyala terang, membuatnya menyipit.

Arka berdiri terlalu dekat.

Sehelai rambut basah menempel di kening Anindya. Tangan Arka terangkat refleks, tetapi berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuhnya.

“Boleh?” tanyanya, suaranya rendah.

Jantung Anindya menghantam dada. Dulu tangan itu tidak perlu meminta izin. Dulu ia akan mendekat dengan sendirinya.

Kini ia mundur.

“Tidak.”

Arka langsung menurunkan tangan.

Tumit Anindya menyentuh kaki kursi yang bergeser. Ia kehilangan keseimbangan dan menahan tubuh pada meja. Sebuah gelas jatuh, pecah di lantai, dan serpihannya menyayat sisi telapak tangannya.

Rasa perih datang sesaat setelah bunyi pecahan.

Darah muncul di kulitnya.

“Nindya.” Arka bergerak, lalu berhenti sebelum meraih. “Boleh saya lihat?”

Anindya menekan luka dengan tisu. Darah segera merembes melaluinya.

Petugas hotel memanggil dari dekat lift bahwa kotak pertolongan pertama tersedia di setiap kamar, tetapi petugas medis sedang menangani tamu lansia di lantai dasar.

Arka membuka telapak tangannya di antara mereka, menunggu persetujuan.

“Jangan bergerak,” katanya, lebih pelan kali ini. “Biarkan saya melihat lukanya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!