NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Anak Hilang!

Hari ke-41 jatuh pada akhir pekan.

Setelah berminggu-minggu penuh rapat, ancaman, keluarga yang pecah, dan nama Hadiprana yang seperti bayangan kotor, Jessica akhirnya menerima ajakan Daun untuk pergi ke mall.

"Daun mau lihat sepatu tari," kata Daun sejak pagi.

"Sepatu tari atau es krim?" tanya Hendry.

Daun berpikir keras.

"Dua-duanya."

Jessica tertawa kecil.

Tawa itu membuat Hendry menoleh.

Sudah lama ia tidak mendengar suara itu keluar ringan dari dada Jessica.

Mereka pergi ke Mall Nusantara Plaza, mall besar di pusat Kota Biru. Lantai marmernya bersih, atriumnya tinggi, dan toko-toko di sekelilingnya memantulkan cahaya putih.

Hendry menggandeng tangan kiri Daun.

Jessica menggandeng tangan kanannya.

Daun berjalan di tengah, melompat kecil setiap melihat etalase berwarna cerah.

"Papa, Mama, Daun seperti roti isi."

"Roti isi apa?" tanya Jessica.

"Isi sayang."

Jessica berhenti sebentar, lalu mengusap kepala Daun.

Hendry memandang mereka berdua.

Untuk beberapa detik, dunia terasa normal.

Di lantai dua, Jessica masuk ke sebuah butik untuk mencoba blazer kerja. Hendry menunggu di luar ruang ganti bersama Daun.

Di seberang butik ada toko mainan kecil.

Daun menunjuk kaca etalase.

"Papa, Daun lihat boneka itu sebentar?"

Hendry melihat jaraknya.

Tidak jauh.

Hanya beberapa langkah, masih dalam garis pandangnya.

"Boleh. Jangan masuk toko. Berdiri di depan kaca saja."

"Iya, Papa."

Daun berlari kecil ke depan toko mainan.

Hendry berdiri di dekat pintu butik. Matanya tetap mengikuti anak itu.

Satu detik.

Dua detik.

Kerumunan lewat di antara mereka.

Seorang pria memakai masker hitam dan topi mendekat dari arah eskalator.

Gerakannya tidak tampak terburu-buru.

Namun terlalu tepat.

Hendry melihat tangan pria itu bergerak.

Dingin merambat di punggungnya.

"Daun!"

Pria itu sudah lebih dulu membungkuk, mengangkat Daun dengan satu lengan, lalu menutup mulut kecilnya.

Mata Daun membesar.

"Papa!"

Jeritan itu merobek seluruh lantai dua.

Hendry bergerak.

Orang-orang di depannya terasa seperti dinding, tapi tubuhnya menyelinap di antara bahu dan tas belanja tanpa menyentuh anak kecil atau wanita tua.

Pria bermasker berlari ke pintu darurat.

Alarm berbunyi ketika pintu didorong.

Jessica keluar dari ruang ganti dengan wajah pucat.

"Daun?"

Hendry tidak menoleh.

"Jessica, panggil security!"

Ia masuk ke tangga darurat.

Suara langkah turun cepat terdengar di bawah.

Penculik itu tahu jalur.

Ia bukan orang yang panik.

Hendry menuruni beberapa anak tangga, lalu berhenti.

Jika ia mengikuti tangga, ia akan terlambat.

Melalui celah pintu kaca darurat, ia melihat atrium mall. Di tengahnya ada tangga spiral dekoratif dengan pegangan besi melengkung dari lantai dua ke lantai satu.

Hendry membuka pintu dengan bahu.

Orang-orang berteriak ketika ia melompat ke pegangan tangga spiral.

Tubuhnya meluncur turun sepanjang besi melengkung.

Cepat.

Terkendali.

Satu tangan menahan gesekan, satu kaki siap menjejak.

Ia mendarat di lantai satu tepat ketika pintu darurat bawah terbuka.

Pria bermasker muncul sambil membawa Daun.

Matanya membesar melihat Hendry sudah di depannya.

Ia langsung berbelok ke arah pintu parkir.

Hendry mengejar.

Di belakangnya, security mall baru mulai berteriak lewat handy talky.

"Penculikan! Pintu parkir timur!"

Pria itu menabrak pintu keluar dan berlari ke area parkir.

Sebuah van hitam sudah menunggu dengan mesin menyala.

Pintu geser terbuka.

Daun menangis keras, kakinya menendang udara.

"Papa!"

Hendry berlari lebih cepat.

Namun van itu mulai bergerak saat penculik masuk.

Di samping jalur parkir, seorang pria baru menyalakan mobil keluarga berwarna silver.

Hendry membuka pintu penumpang.

"Pak, anak saya diculik. Saya pinjam mobil Anda."

Pria itu terkejut sampai hampir menjatuhkan kunci. "Apa?"

Hendry tidak menunggu. Ia masuk ke kursi pengemudi, menekan pedal, dan mobil melesat.

"Pak! Mobil saya!"

"Datang ke pos security!" teriak Hendry dari jendela.

Van hitam keluar dari parkiran menuju jalan samping mall.

Hendry menempel di belakangnya.

Klakson menjerit.

Motor-motor menepi.

Hendry tidak mengejar seperti orang gila. Ia membaca jalan.

Trotoar ramai.

Persimpangan padat.

Gang kiri sempit.

Van mencoba masuk ke gang itu untuk memotong jalur.

Hendry menyalip dari sisi kanan, melewati sebuah gerobak minuman dengan jarak satu telapak tangan, lalu memutar setir tajam.

Mobil silver memotong depan van.

Van membanting arah.

Ban belakangnya menghantam pembatas jalan.

Brak!

Kendaraan itu berhenti miring di mulut gang.

Hendry keluar sebelum mesin benar-benar mati.

Pintu van terbuka.

Pria bermasker keluar sambil memeluk Daun dari belakang.

Di tangannya ada pisau pendek.

"Mundur!" teriaknya. "Kalau mendekat, anak ini..."

Suara Daun putus-putus karena menangis.

"Papa..."

Hendry berhenti.

Matanya tidak melihat pisau.

Ia melihat jari penculik.

Melihat berat tubuh.

Melihat napas.

"Lepaskan anakku."

"Mundur!"

Penculik itu mengangkat pisau sedikit.

Itu kesalahannya.

Pada saat bilah menjauh setengah jengkal dari leher Daun, Hendry bergerak.

Orang-orang di sekitar hanya melihat bayangan.

Hendry menangkap pergelangan tangan penculik, memutar keluar, dan siku kirinya menahan dada pria itu agar Daun tidak ikut tertarik.

Pisau jatuh.

Kling.

Hendry menarik Daun ke belakang dengan satu tangan.

Tangan lainnya menghantam dagu penculik.

Pria itu roboh.

Tidak bergerak selain napas kasar.

Daun langsung memeluk leher Hendry.

"Papa!"

Hendry berlutut di aspal, memeluk anaknya dengan kedua tangan.

"Papa di sini. Papa di sini."

Daun menangis sampai tubuh kecilnya gemetar.

"Daun takut..."

"Sudah. Tidak ada yang boleh membawa Daun dari Papa."

"Papa memang Superman-ku..."

Kata-kata itu keluar di antara tangis.

Dada Hendry seperti diremas.

Ia menutup mata sebentar.

Ketika membukanya, matanya juga basah.

Sirene polisi terdengar beberapa menit kemudian.

Jessica datang bersama security mall, wajahnya pucat seperti kertas. Begitu melihat Daun di pelukan Hendry, lututnya hampir lemas.

"Daun!"

Daun mengulurkan tangan kepada ibunya.

Jessica memeluk mereka berdua.

Untuk beberapa saat, tidak ada kata.

Hanya tiga napas yang saling mencari.

Seorang polisi wanita mendekat. Rambutnya diikat rapi, seragamnya bersih, matanya tajam tetapi tidak kasar.

"Saya Inspektur Rini Cahyani dari Reskrim Kota Biru."

Ia melihat penculik yang sudah diborgol oleh petugas lain.

Salah satu polisi menyerahkan tablet.

Qinny memeriksa data, lalu wajahnya berubah serius.

"Ini bukan penculik biasa. Namanya masuk daftar buronan prioritas. Terlibat beberapa kasus penculikan anak dan pemerasan lintas kota."

Jessica memeluk Daun lebih erat.

Qinny menatap Hendry.

"Pak, Anda yang mengejar dan melumpuhkan pelaku?"

"Saya hanya menyelamatkan anak saya."

"Anda juga meminjam mobil warga."

Pemilik mobil silver baru tiba, napas terengah-engah. Wajahnya masih panik, tapi ketika melihat Daun selamat, amarahnya hilang setengah.

Hendry berkata, "Semua kerusakan saya ganti."

Qinny menatapnya beberapa detik.

"Nanti kami ambil keterangan lengkap. Untuk sekarang, yang penting anak Anda aman."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.

"Tapi kasus ini mungkin lebih besar dari yang terlihat. Orang seperti dia biasanya tidak bergerak sendiri."

Hendry memandang penculik itu.

Matanya kembali dingin.

Berarti pelakunya bergerak sebagai jaringan.

Jessica menyentuh lengan Hendry.

Ia menatapnya dengan mata merah.

"Hendry..."

"Ya?"

Untuk pertama kalinya, Jessica tidak menahan diri.

"Terima kasih sudah menyelamatkan anak kita."

Anak kita.

Hendry memeluk Daun lebih erat.

Di tengah suara sirene, lampu polisi, dan kerumunan yang masih berbisik, Daun menempel di dadanya.

Kali ini, Hendry tidak peduli siapa yang melihat.

Ia hanya tahu satu hal.

Siapa pun jaringan di belakang penculik itu, mereka telah memilih keluarga yang salah untuk disentuh.

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!