Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Kamar yang diberikan kepada Kyra bukanlah kamar tamu mewah, melainkan sebuah gudang sempit di dekat area cuci pakaian di bagian belakang mansion. Kamar yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang bekas yang tak terpakai, di dalamnya hanya ada sebuah kasur kapuk tipis tanpa sprei dan lemari kayu berdebu.
Namun bagi Kyra, ruangan ini tidak ada bedanya dengan rumah panggung Paman Dion, ia sudah terbiasa hidup di tempat yang lebih buruk dari ini.
Sore harinya, deru suara mesin mobil mewah terdengar memasuki garasi. Pintu depan terbuka dan suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi bergema di lorong utama, Mama Dania—ibu kandung Kyra baru saja pulang dari acara bakti sosial bersama perhimpunan wanita pengusaha.
Mama Dania adalah wanita paruh baya yang sangat anggun, wajahnya terawat tanpa kerutan, mengenakan perhiasan berlian yang berkilau di leher dan jemarinya. Namun di balik penampilannya yang sempurna, ia adalah wanita yang sangat dingin, jahat dan percaya pada hal-hal mistis.
Begitu melangkah ke ruang tengah, Tante Thania langsung menyambutnya dengan wajah penuh provokasi.
"Wah, Mbak Dania... akhirnya Mbak pulang juga," ujar Tante Thania dengan nada ejekan yang tertahan.
"Ada apa?" tanya Mama Dania.
"Mbak tahu tidak, hadiah apa yang datang ke rumah ini saat Mbak sedang keluar tadi?" tanya Tante Thania.
Mama Dania mengerutkan keningnya seraya menyerahkan tas mewahnya pada pelayan, "Hadiah apa? Thania, jangan bicara berbelit-belit. Aku lelah," tanya Mama Dania.
Nenek Fia yang duduk di sofa utama ikut menimpalinya dengan raut wajah muram, "Anak sialanmu itu kembali, Dania," sahut Nenek Fia.
Langkah Mama Dania seketika terhenti, senyuman di wajah anggunnya lenyap secara mendadak.
"Anak sialan...? Maksud Mama?" tanya Mama Dania.
"Siapa lagi kalau bukan Kyra," sahut Nenek Fia ketus.
"Suamimu membawanya masuk dan menempatkannya di kamar belakang! Anak pembawa sial itu ada di rumah ini sekarang!" lanjut Nenek Fia.
Wajah Mama Dania berubah menjadi sangat merah karena amarah yang membakar. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia melangkah lebar menuju area belakang mansion. Tante Thania dan Sherly mengikuti dari belakang dengan senyum puas, tak sabar ingin melihat pertunjukan drama keluarga.
Brak!
Pintu kamar gudang ditendang hingga terbuka lebar, Kyra yang sedang duduk di tepi kasur pura-pura terkejut dan langsung berdiri dengan tubuh gemetar.
Di ambang pintu, berdiri wanita bergaun mewah yang wajahnya sangat mirip dengannya. Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun hidupnya, Kyra melihat wajah ibu kandungnya secara langsung. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada air mata keharuan seorang ibu yang merindukan anaknya. Yang ada hanyalah tatapan kebencian yang mendalam dan penuh kejijikan.
"Siapa yang menyuruhmu datang kemari, Hah?" jerit Mama Dania histeris dan tanpa ragu, tangan mulusnya yang dipenuhi cincin berlian melayang kearah Kyra.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kyra, membuat kepala Kyra terlempar ke samping dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Kyra memegangi pipinya yang terasa panas dan perih, ia menatap Mama Dania dengan mata berkaca-kaca yang dipenuhi ketakutan palsu.
"Ma... Mama... ini Kyra, Ma...," ucap Kyra.
"Jangan panggil aku Mama! Aku tidak punya anak pembawa sial sepertimu! Gara-gara kamu lahir, rumah keluargaku terbakar habis dan mereka meninggal! Kamu itu kutukan! Kenapa kamu tidak mati saja di desa!" bentak Mama Dania seraya menunjuk wajah Kyra dengan penuh kebencian.
Airmata membasahi pipi Kyra. Bukan karena sakit hati oleh perkataan ibu kandungnya, melainkan karena rasa kejam yang begitu nyata. Rasa kemanusiaan di dalam diri Kyra telah mati sepenuhnya pada detik itu.
"Paman dan Bibi sudah tidak ada, Ma... Kyra tidak punya tempat tinggal lagi...," tangis Kyra memohon.
"Itu bukan urusanku! Kau mau mati di jalanan pun aku tidak peduli!" jerit Mama Dania.
"Dania, cukup!" suara Papa Freddy terdengar menengahi dari balik lorong, Papa Freddy melangkah masuk dan memegang pundak istrinya.
"Jangan membuat keributan di rumah! Kalau tetangga mendengar, reputasi kita bisa hancur!" lanjut Papa Freddy.
"Lalu kamu mau membiarkan dia tinggal di sini, Pa? Apa kamu mau bisnis kita bangkrut lagi gara-gara hawa sial anak ini?" bentak Mama Dania pada suaminya.
"Dia tidak akan mengganggu siapa pun! Dia cuma akan tinggal di kamar belakang ini dan tidak boleh keluar ke area depan! Paham kamu, Kyra?" Tegas Papa Freddy.
Papa Freddy menatap Kyra dengan dingin, "Kamu boleh tinggal di sini, tapi kamu harus bekerja seperti pelayan! Jangan pernah menampakkan dirimu di depan tamu atau acara keluarga!" lanjut Papa Freddy.
Kyra menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan tatapan matanya yang sangat tajam di balik rambutnya yang terurai.
"Iya, Papa... Mama... Kyra mengerti... Kyra akan melakukan apa saja...," jawab Kyra lirih.
Mama Dania mendengus kasar dan menatap Kyra dengan jijik sekali lagi sebelum berbalik pergi meninggalkan gudang tersebut bersama Papa Freddy, Tante Thania dan Sherly tertawa kecil di luar pintu dan menikmati penderitaan Kyra.
Setelah pintu gudang kembali tertutup, Kyra perlahan mengusap darah di sudut bibirnya dengan jemarinya, ia berdiri tegak dan membuang jauh-jauh raut wajah lemahnya.
"Satu tamparan ini akan kubayar dengan kehancuran seluruh hidupmu, Mama...," gumam Kyra.
.
Keesokan paginya, suara ketukan keras di pintu kayu gudang membangunkan Kyra tepat pukul empat pagi. Belum sempat matanya terbuka sempurna, daun pintu yang lapuk itu sudah didorong kasar dari luar.
Bi Inah, kepala pelayan senior keluarga Andreas yang terkenal bermuka dua dan bermulut tajam, berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Bangun! Jangan berlagak seperti putri raja di rumah ini! Nyonya Dania dan Nyonya Thania sudah memberi perintah. Mulai hari ini, kau harus menyelesaikan seluruh pekerjaan kasar sebelum penghuni rumah utama bangun!" bentak Bi Inah.
Kyra memegangi perutnya yang masih terasa sedikit ngilu akibat bekas luka tusukan, namun meskipun begitu ia tidak berbantah. Dengan jemari yang cekatan, ia menyanggul rambutnya yang panjang ke belakang.
Bagi keluarga Andreas, Kyra mungkin dihadirkan sebagai bentuk pelampiasan kekesalan, namun bagi Kyra, setiap jengkal lantai yang harus ia bersihkan adalah peta jalan untuk mempelajari setiap sudut rumah ini.
Pekerjaan pertamanya di pagi buta itu adalah membersihkan area dapur utama dan ruang makan megah yang berlantai marmer impor. Kyra berlutut di atas marmer yang dingin, menggenggam kain lap dan ember berisi air sabun. Saat ia sedang memeras kain lap, langkah kaki beradu pelan di ambang dapur.
Seorang gadis cilik berusia delapan tahun berdiri di sana, mengenakan piyama sutra berwarna merah jambu. Dialah Felisha, anak kedua Papa Freddy dari Mama Dania, satu-satunya anak yang diakui dan dimanja setengah mati di rumah itu.
Felisha menatap Kyra dari atas ke bawah dengan tatapan polos, namun begitu angkuh.
"Kamu pelayan baru ya?" tanya Felisha seraya berjalan mendekat.
Kyra mendongak dan tersenyum, "Bukan, namaku Kyra. Anaknya Papa Freddy dan Mama Dania, kalau kamu siapa?" tanya Kyra.
"Hah! Aku Felisha anaknya Papa Freddy sama Mama Dania," jawab Felisha.
'Jadi, aku punya Adik?' batin Kyra.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧