Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013: Makmur Mart Balas Dendam
Telepon dari Darmawan datang ketika Rian Prasetyo baru saja mulai berdamai dengan enam ratus titik merah Es Madu Kopi.
"Pak Bos," suara Darmawan terdengar lebih kaku dari biasanya, "Makmur Mart bergerak."
Rian yang duduk di ruang kerja PT Garuda Emas Group langsung menegakkan tubuh.
"Bergerak bagaimana?"
"Mereka menurunkan harga hampir semua barang. Beberapa bahkan di bawah harga pokok. Lalu ada orang membagikan selebaran di depan Garuda Mart. Isinya buruk."
Rian memegang ponsel lebih erat.
Di bawah harga pokok.
Selebaran negatif.
Serangan langsung.
Secara moral, ini menjijikkan.
Secara bisnis...
Rian merasakan harapan kecil yang sangat tidak pantas muncul di dadanya.
Jika Makmur Mart benar-benar mau membakar uang untuk menghancurkan Garuda Mart, bukankah itu berarti ada orang yang membantu dia rugi?
Ia segera menekan harapan itu sebelum terlihat di wajah.
"Saya pulang hari ini," katanya.
Bagas yang mendengar percakapan itu langsung berdiri. "Gue ikut."
Fajar mengangkat map. "Saya bisa bantu memantau isu publik, Mas Rian."
Rian mengangguk singkat.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di Kota Tanjung Emas.
Dari jauh, jalan komersial itu tampak seperti medan perang tanpa asap. Di depan Makmur Mart, spanduk diskon merah besar bergantung miring.
SEMUA LEBIH MURAH.
Di bawahnya, harga beberapa barang kebutuhan pokok dipasang begitu rendah sampai Rian tahu angka itu tidak masuk akal.
Di sisi lain jalan, Garuda Mart tetap ramai. Tidak seramai biasanya, tapi tidak kosong.
Yang membuat Rian lebih terkejut adalah sekelompok orang yang berdiri di dekat pintu masuk, membagikan selebaran.
GARUDA MART AKAN TUTUP.
BOSNYA MENIPU KARYAWAN.
HARGA MURAH HANYA JEBAKAN.
Bagas meremas selebaran itu sampai kusut. "Ini fitnah."
Rian melihat pelanggan yang menerima kertas itu, membaca sebentar, lalu membuangnya ke tempat sampah sebelum masuk ke Garuda Mart.
Satu ibu bahkan berkata kepada pembagi selebaran, "Kalau mau fitnah, minimal kertasnya jangan jelek."
Bagas hampir tertawa.
Rian tidak.
Ia sedang menatap gedung Makmur Mart.
Di balik kaca lantai dua, seorang pria berdiri dengan tangan dilipat. Wajahnya mirip Hasan Maulana, tapi lebih tajam, lebih panas, seperti pisau yang belum belajar diam.
Husein Maulana.
Adik Hasan.
Orang yang memilih perang dengan bensin, bukan kalkulator.
Husein menatap Rian dari seberang jalan, lalu tersenyum tipis.
Rian membalas dengan anggukan sopan.
Dalam hati, ia berkata, Tolong serius. Hancurkan aku dengan benar.
Husein ternyata memang serius.
Satu jam setelah Rian masuk ke area Garuda Mart, laporan tambahan datang bertubi-tubi. Akun anonim di media sosial menuduh Garuda Mart menahan gaji. Video antrean kasir yang ramai dipotong dan diberi narasi seolah pelanggan sedang marah. Beberapa orang asing berdiri di parkiran dan bertanya kepada pelanggan, "Masih berani belanja di sini?"
Darmawan meminta izin memanggil keamanan tambahan.
Rian mengangguk. "Jaga pelanggan dan karyawan. Jangan terpancing."
Bagas menggulung lengan baju. "Kalau mereka maksa?"
"Panggil satpam lingkungan atau polisi. Jangan berkelahi."
Rian mengucapkan itu dengan tenang, tapi di dalam hati ia membuat catatan.
Biaya keamanan tambahan.
Biaya klarifikasi publik.
Biaya operasional darurat.
Sedikit harapan muncul lagi.
Lalu Fajar masuk membawa ponsel.
"Mas Rian, karyawan sendiri mulai membalas isu itu. Bukan dengan marah. Mereka cerita pengalaman kerja di Garuda Mart."
Ia menunjukkan layar. Seorang kasir menulis bahwa ia bisa pulang tepat waktu dan mengantar ibunya berobat. Seorang staf gudang menulis bahwa untuk pertama kalinya BPJS-nya diurus tanpa dipersulit. Seorang petugas parkir menulis bahwa ia tidak lagi dimaki atasan karena duduk lima menit.
Setiap tulisan seperti menutup satu lubang rugi yang baru saja terbuka.
Darmawan menyambut Rian di kantor Garuda Mart dengan wajah pucat.
"Pak Bos, saya sudah kumpulkan laporan. Makmur Mart mengalokasikan sekitar 200 miliar untuk serangan ini. Diskon ekstrem, biaya promosi, penyebaran isu di media sosial, dan..."
Ia berhenti.
"Dan apa?"
"Mereka mencoba merekrut karyawan kita."
Rian menahan napas.
Ini dia.
Inilah serangan paling berbahaya.
Jika karyawan inti pergi, operasi Garuda Mart bisa terganggu. Layanan turun. Pelanggan kecewa. Kerugian muncul.
Sebuah jalan menuju cahaya.
"Berapa tawaran mereka?" tanya Rian.
"Tiga kali gaji pasar, Pak Bos."
Rian hampir berdiri karena gembira.
Lalu Darmawan menambahkan, "Tapi masih tidak jauh di atas total nilai manfaat yang sudah kita berikan."
Rian duduk kembali.
Apa?
Darmawan membuka daftar. "Gaji Garuda Mart sudah jauh di atas standar. Ditambah BPJS, makan, jam kerja enam jam, libur teratur, bonus, dan lingkungan kerja. Mereka menghitung sendiri. Tawaran Makmur Mart terlihat besar di angka, tapi tidak lebih baik dalam hidup sehari-hari."
Bagas menepuk dahi. "Bos, bahkan kalau orang mau membajak karyawan lu, mereka harus belajar paket benefit dulu."
Rian menatap langit-langit.
Kenapa masa laluku selalu mengkhianatiku?
Saat itu, pintu kantor diketuk.
Seorang karyawan senior masuk bersama beberapa perwakilan tim kasir, gudang, keamanan, dan layanan pelanggan. Di tangan mereka ada beberapa lembar kertas.
"Pak Bos," kata karyawan senior itu gugup, "maaf mengganggu."
Rian segera berdiri. "Ada apa?"
Pria itu menyerahkan kertas kepadanya.
Di bagian atas tertulis:
Pernyataan Karyawan Garuda Mart.
Di bawahnya ada puluhan tanda tangan.
Lalu ratusan.
Halaman berikutnya penuh nama.
Rian membaca baris pertama.
Kami, karyawan Garuda Mart, menyatakan tidak akan menerima tawaran pindah kerja dari Makmur Mart selama serangan bisnis ini berlangsung.
Rian terdiam.
Karyawan senior itu menarik napas. "Bos, Makmur Mart menawarkan uang. Tapi Bapak memberi kami lebih dari itu."
Rian mengangkat kepala.
Di belakang pria itu, beberapa karyawan berdiri tegang. Ada yang matanya merah. Ada yang menggenggam topi seragam. Mereka bukan pasukan. Mereka orang biasa yang dulu mencari pekerjaan dengan takut ditolak.
"Dulu," lanjut karyawan itu, "banyak dari kami kerja dua belas jam tapi tetap dianggap beban. Di sini, Bapak memberi gaji layak, waktu pulang, makan, dan kalau sakit tidak dimarahi. Makmur Mart bisa menawarkan angka. Tapi Bapak memberi kami martabat."
Ruangan sunyi.
Bagas yang biasanya banyak bicara kali ini diam.
Darmawan menunduk, bahunya sedikit bergetar.
Rian memegang kertas itu dengan jari kaku.
Ia seharusnya senang kalau mereka pergi.
Secara sistem, itu akan membantu.
Secara rencana, itu akan membuka kerugian.
Tapi ketika melihat tanda tangan itu, semua hitungan di kepalanya runtuh.
Orang-orang ini tidak tahu Sistem Rugi.
Mereka tidak tahu bahwa sebagian keputusan Rian lahir dari niat yang absurd.
Yang mereka tahu hanya satu hal: di tempat ini, hidup mereka sedikit lebih ringan.
Dan mereka memilih bertahan.
Rian menelan sesuatu yang keras di tenggorokan.
"Terima kasih," katanya pelan.
Karyawan senior itu buru-buru menggeleng. "Kami yang berterima kasih, Bos."
"Tidak." Suara Rian menjadi lebih tegas. "Kalau ada yang mengganggu kalian, lapor. Jangan hadapi sendiri. Garuda Mart tidak akan membiarkan karyawannya diperlakukan seperti barang dagangan."
Mata beberapa karyawan langsung basah.
Bagas berbisik, "Bos, itu keren."
Rian tidak menjawab.
Kali ini, ia memang tidak sedang berpura-pura.
Setelah para karyawan keluar, Rian duduk lagi dan menatap pernyataan itu.
Ia ingin bertanya kepada sistem apakah martabat karyawan bisa dihitung sebagai aset tetap.
Kalau bisa, mungkin nilainya sudah lebih mahal daripada semua rak dan mesin pendingin di Garuda Mart.
Tentu saja panel biru tidak muncul.
Sistem selalu hadir saat membuatnya sengsara, lalu diam ketika ia butuh jawaban filosofis.
Di luar, serangan harga Makmur Mart terus berjalan. Husein membakar uang seperti orang melempar kayu ke api. Beras, minyak goreng, gula, sabun, semua dijual dengan harga yang membuat pemasok mengerutkan dahi.
Namun pelanggan Garuda Mart tidak menghilang.
Sebagian memang pergi mengecek diskon Makmur Mart.
Tapi banyak yang kembali.
"Di sana murah, tapi pegawainya judes."
"Antrenya kacau."
"Stoknya habis cepat."
"Garuda Mart lebih nyaman."
"Kalau beda seribu dua ribu, mending belanja di tempat yang jelas."
Selebaran negatif juga gagal.
Media sosial justru berbalik.
Ada pelanggan yang mengunggah foto selebaran itu dengan caption, "Kalau Garuda Mart mau tutup, kenapa kasirnya masih senyum paling tulus se-Kota Tanjung Emas?"
Unggahan itu menyebar.
Lebih buruk lagi bagi Husein, pelanggan mulai membandingkan pengalaman secara terbuka.
Sebuah video memperlihatkan rak Makmur Mart berantakan karena diskon ekstrem. Komentarnya penuh keluhan tentang antrean, barang habis, dan pegawai yang tampak kelelahan. Di video lain, seorang ibu berjalan ke Garuda Mart setelah gagal membeli minyak goreng murah di seberang.
"Saya pilih yang normal saja," katanya di kamera. "Murah kalau bikin ribut juga capek."
Kalimat itu menjadi bahan candaan satu kota.
Makmur Mart murah tapi capek.
Garuda Mart normal tapi manusiawi.
Rian menatap frasa itu di layar ponsel Fajar.
Manusiawi.
Kata itu tampak sederhana, tapi ternyata bisa menghancurkan strategi 200 miliar.
Husein kehilangan kendali.
Malam hari, dari jendela kantor Garuda Mart, Rian melihat lampu Makmur Mart mulai padam satu per satu.
Darmawan membawa laporan terakhir.
"Pak Bos, estimasi kerugian Makmur Mart dari serangan ini sangat besar. Dana 200 miliar hampir habis. Dampak ke Garuda Mart tidak signifikan."
Rian mengangguk.
Di satu sisi, ia gagal rugi lagi.
Di sisi lain, ia melihat kertas pernyataan karyawan di mejanya dan tidak bisa benar-benar marah.
Untuk pertama kalinya, kegagalan rencananya terasa tidak sepenuhnya buruk.
Di seberang jalan, Husein Maulana menghantam meja kantornya.
"200 miliar," geramnya. "Semua habis. Tidak satu pun dari mereka pindah."
Seorang bawahan menunduk ketakutan. "Pak, mungkin kita perlu mundur dulu."
"Mundur?" Husein menatapnya seperti mendengar penghinaan. "Kamu mau aku mengaku kalah pada anak kemarin sore itu?"
Ia berjalan ke dinding. Di sana ada foto Garuda Mart yang dicetak dari kamera pengawas jalan.
Lampu toko itu terang.
Terlalu terang.
Terlalu ramai.
Terlalu hidup.
Husein mengambil sebuah korek api dari laci.
Ia menyalakannya.
Api kecil muncul.
Ia mematikannya.
Menyalakannya lagi.
Matanya berubah dari marah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
"Kalau cara bisnis tidak bisa," bisiknya, "berarti kita pakai cara lain."