NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama di Balik Rekomendasi

Minggu-minggu setelah obrolan dengan Bu Retno berjalan aneh buat ukuran Doni yang biasanya lebih suka jalan santai tanpa target jelas. Dia mulai bikin jadwal belajar yang ditempel di dinding kamar pakai selotip bolak-balik, lengkap dengan target nilai tiap mata kuliah, sesuatu yang bikin Herman sampai curiga ada yang salah sama otaknya.

"Lo kenapa sih, Don, tiba-tiba rajin banget kayak abis dibisikin arwah dosen teladan," celetuk Herman sambil ngeliatin jadwal warna-warni yang nempel rapi, lengkap dengan stiker bintang di kolom nilai target.

"Gue cuma lagi niat aja, Man. Lagian lo juga harusnya belajar dari gue."

"Belajar dari lo yang tiap minggu ganti-ganti hobi aneh? Kemarin thrifting, terus saham, terus keris, sekarang beasiswa. Lo tuh maunya jadi apa sih sebenernya?"

Doni cuma nyengir, nggak nemu jawaban yang pas selain, "Ya jadi mahasiswa yang nggak nyusahin orang tua, Man. Sesimpel itu."

Herman diam sebentar, lalu manggut-manggut kayak orang yang tiba-tiba insaf. "Anjay, bijak amat. Tapi tetep aja lo aneh."

Dari obrolan singkat dengan beberapa asisten dosen yang dia deketin diam-diam, Doni akhirnya nemu satu nama yang berulang kali disebut Pak Hardianto, dosen senior di bidang ekonomi pembangunan yang katanya emang dikenal sering jadi penghubung program-program beasiswa eksternal, meski orangnya terkenal pelit senyum dan jarang buka jam konsultasi buat mahasiswa yang nggak dia kenal.

Masalahnya, Doni belum pernah sekalipun ambil mata kuliah Pak Hardianto, apalagi masuk radar sebagai "mahasiswa berprestasi" yang biasa direkomendasikan.

Modal dia cuma nilai rata-rata yang baru mulai membaik, dan tekad yang entah kenapa makin lama makin nggak mau padam.

Dia coba dateng ke jam konsultasi Pak Hardianto, tapi ditolak halus sama asistennya.

"Bapak lagi sibuk riset, nggak terima mahasiswa di luar bimbingan," katanya, sambil nunjuk pintu ruang dosen yang tertutup rapat, hanya menyisakan celah kecil suara musik klasik dari dalam.

Doni pulang dengan tangan kosong hari itu, tapi bukannya nyerah, dia justru mikir cara lain. Kebetulan, dari obrolan sama teman satu angkatan yang aktif di organisasi kampus, dia dapat info kalau Pak Hardianto tiap Jumat sore rutin dateng ke perpustakaan pusat, duduk di sudut yang sama, buat baca jurnal internasional sambil ditemani kopi item tanpa gula.

Jumat sore itu, Doni sengaja bawa buku catatan dan pura-pura belajar di meja nggak jauh dari sudut favorit Pak Hardianto, berharap ada celah buat mulai obrolan tanpa keliatan maksa.

Rencananya berjalan mulus di awal sampai dia nggak sengaja nyenggol gelas kopi Pak Hardianto yang taruh di ujung meja, bikin cairan item itu tumpah membasahi setumpuk jurnal cetak yang lagi dibaca.

"Aduh, maaf, Pak! Saya nggak sengaja!" Doni panik, buru-buru ngambil tisu dari saku, lupa kalau tisunya udah dipake buat ngelap keringat abis dari kampus, bikin usahanya justru bikin noda makin melebar.

Pak Hardianto menatap tumpukan jurnalnya yang basah dengan ekspresi datar, lalu menatap Doni lama-lama, membuat suasana makin canggung. "Kamu mahasiswa siapa?"

"Doni, Pak. Ekonomi Pembangunan, semester lima."

"Bukan kelas saya."

"Iya, Pak, saya tau. Tapi... saya sebenarnya mau nanya soal program beasiswa riset yang katanya lewat rekomendasi Bapak."

Pak Hardianto mengangkat alis, ekspresinya berubah sedikit dari datar jadi penuh selidik.

"Dari mana kamu tau soal itu? Belum ada pengumuman resmi."

Doni gelagapan lagi, bingung mau jawab apa selain alasan generik yang mulai terasa basi bahkan di telinganya sendiri.

"D-denger dari senior, Pak. Katanya emang belum resmi, makanya saya nekat coba tanya langsung."

Hening sesaat, hanya diselingi suara AC perpustakaan yang berdengung pelan. Pak Hardianto akhirnya menghela napas, entah karena capek atau geli sama keberanian nekat mahasiswa di depannya.

"Kamu tau, biasanya yang saya rekomendasikan itu mahasiswa yang saya kenal langsung kualitas akademiknya, bukan yang tiba-tiba nongol nanya-nanya sambil numpahin kopi saya."

"Saya paham, Pak. Saya cuma... pengen coba usaha, sekalipun peluangnya kecil. Nilai saya emang belum sebagus mahasiswa lain, tapi saya janji bakal kerja keras kalau dikasih kesempatan." ucap Doni

Pak Hardianto diam lama, menatap Doni dari atas ke bawah, seolah menilai lebih dari sekadar kata-kata yang barusan diucapkan.

"Ada satu syarat kalau kamu serius. Saya lagi butuh asisten riset buat proyek kecil soal ekonomi desa, kerjaannya nggak dibayar besar, cuma pengalaman sama nilai plus buat rekomendasi nanti. Minat?"

Doni nyaris nggak percaya, tapi langsung ngangguk mantap tanpa mikir panjang.

"Minat, Pak! Kebetulan saya juga dari desa, ngerti sedikit soal kondisi ekonomi masyarakat kayak gitu."

"Kalau begitu, Senin ketemu saya di ruangan, bawa proposal singkat soal potensi ekonomi desa asal kamu. Kalau bagus, kita lanjut."

Doni pulang dengan langkah ringan meski hujan gerimis lagi turun sore itu, seolah cuaca ikut merayakan kelegaan yang campur aduk sama rasa nggak percaya. Di kos, dia langsung cerita ke Herman, kali ini dengan semangat yang jarang terlihat sebelumnya.

"Man, gue dapet kesempatan jadi asisten riset dosen! Kalau lancar, bisa jadi jalan buat beasiswa riset itu!"

Herman melongo sebentar sebelum akhirnya nyengir lebar. "Anjir, mantap lo, Don! Tapi nunggak dulu ya sate traktirannya, gue laper banget nih."

"Ya udah, ayo, gue traktir. Anggap aja syukuran modal awal."

Malam itu, sambil nyusun kerangka proposal soal potensi ekonomi desa asal keluarganya yang ternyata jauh lebih gampang ditulis karena dia beneran hidup dan paham kondisi nyatanya, bukan sekadar teori dari buku Doni sadar bahwa untuk pertama kalinya, keberhasilan yang lagi dia kejar bukan datang dari sistem aneh yang selama ini jadi tumpuannya, melainkan dari keberaniannya sendiri buat nyenggol kopi dosen dan tetap nekat ngomong walau situasinya awkward setengah mati.

Sebelum tidur, dia sempat mikir, jangan-jangan info soal beasiswa minggu lalu emang sengaja dikasih sistem dengan cara samar, bukan supaya dia dapet jalan pintas, tapi supaya dia belajar cari jalan sendiri buat pertama kalinya sejak semua keberuntungan aneh ini dimulai.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!