NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Transmigrasi Menjadi Anak Kesayangan Mafia Kejam Dan Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.

Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Mulai Kehilangan Kepercayaan

Bab 3

Setiap hari yang berlalu terasa semakin berat bagiku namun semakin ringan bagi Vanessa. Ia seolah olah memiliki cara khusus untuk mengambil sepotong demi sepotong kepercayaan yang dulu sepenuhnya milikku. Tidak ada pertengkaran besar tidak ada teriakan yang terdengar sampai ke telinga tetangga semuanya terjadi secara halus dan pelan seolah olah air yang perlahan lahan mengikis batu yang keras sampai akhirnya batu itu hancur menjadi pasir yang tidak berharga lagi. Itulah yang sedang dilakukannya kepada kepercayaan yang dulu dimiliki olehku di dalam keluargaku sendiri.

Suatu hari Ayah pulang dengan wajah yang tampak sangat lelah dan cemas. Ada masalah besar dalam urusan pekerjaannya dan ia membutuhkan dokumen penting yang tersimpan di dalam lemari besi ruang kerjanya. Saat ia membuka lemari itu dokumen yang dicarinya tidak ada di tempatnya. Ayah menjadi sangat khawatir karena dokumen itu berisi hal hal yang sangat berharga dan rahasia yang jika jatuh ke tangan orang yang salah bisa merugikan banyak orang serta membahayakan nama baik keluarga kami. Seluruh rumah menjadi sibuk mencari ke mana perginya dokumen itu semua orang memeriksa setiap sudut ruangan setiap laci setiap tumpukan kertas yang ada di rumah.

Tiba tiba Vanessa datang dengan wajah yang tampak takut dan ragu ragu seolah olah ia tidak berani mengucapkan apa yang ada di pikirannya. Ia berkata dengan suara yang pelan dan gemetar bahwa kemarin sore ia melihat aku keluar dari ruang kerja Ayah dengan wajah yang tampak gelisah dan menyembunyikan sesuatu di balik punggungku. Ia berkata bahwa ia tidak berani bertanya saat itu karena ia takut aku akan marah kepadanya namun melihat Ayah begitu cemas ia merasa tidak bisa lagi diam saja. Seketika itu juga semua mata tertuju kepadaku tatapan yang penuh harapan sebelumnya kini berubah menjadi tatapan yang penuh kecurigaan dan kekecewaan yang dalam.

Aku langsung menjelaskan dengan jujur bahwa memang benar aku sempat masuk ke ruang kerja Ayah untuk mengambil buku yang tertinggal di meja namun aku tidak menyentuh satu lembar kertas pun di dalam lemari besi itu. Aku bahkan tidak tahu cara membukanya karena hanya Ayah yang memegang kunci dan kode rahasianya. Namun kata kataku seolah olah hilang begitu saja di udara tanpa didengar oleh siapa pun. Vanessa dengan cerdiknya langsung menambahkan perkataan yang seolah olah membela aku namun justru semakin memperkuat tuduhan itu. Ia berkata mungkin saja Maya tidak bermaksud mengambilnya mungkin saja ia tidak sengaja membawanya bersama buku yang diambilnya dan mungkin saja dokumen itu jatuh di suatu tempat tanpa ia sadari. Kata kata itu terdengar seperti pembelaan yang baik hati namun sebenarnya menanamkan pemikiran di dalam kepala mereka bahwa aku memang orang yang terakhir berada di ruangan itu dan kemungkinan besar akulah penyebab hilangnya dokumen tersebut.

Kakak Dika yang paling tua dan paling tegas datang menghampiriku dengan langkah yang cepat dan berat. Ia menatapku tajam dan berkata dengan suara yang keras dan penuh amarah mengapa kau selalu saja membuat masalah di mana pun kau berada Maya? Apa yang sebenarnya kau inginkan dari keluarga ini? Ayah sedang mengalami kesulitan besar dan kau justru menambah beban di pundaknya. Jika kau melakukan hal ini karena cemburu maka kau sudah melampaui batas kesabaran kami semua. Aku menatapnya dengan mata yang berkaca kaca dan berkata Kakak Dika percayalah aku tidak melakukannya. Aku tidak pernah menyentuh dokumen itu sama sekali. Tapi Kakak Dika memalingkan wajahnya seolah olah melihatku saja sudah membuatnya merasa kecewa. Ia tidak mau mendengar penjelasanku lebih lanjut dan berjalan pergi meninggalkanku yang berdiri sendirian di tengah ruangan yang penuh dengan orang orang yang tidak lagi percaya padaku.

Kakak Rizky yang selalu pendiam dan bijaksana juga ikut berbicara untuk pertama kalinya dengan nada yang dingin dan jauh berbeda dari biasanya. Ia berkata Maya aku selalu berusaha memahamimu dan selalu berusaha mencari alasan untuk setiap hal yang kau lakukan. Tapi kali ini aku tidak bisa lagi membela dirimu. Vanessa tidak memiliki alasan apa pun untuk berbohong. Ia baru berada di sini sebentar saja dan ia tidak tahu apa apa tentang urusan pekerjaan Ayah. Sementara kau kau sudah berada di sini sejak kecil kau tahu betapa pentingnya segala sesuatu bagi Ayah. Mengapa kau harus melakukan hal yang menyakitkan ini kepada kami semua? Mendengar kata kata dari Kakak Rizky yang selalu menjadi tempatku mencari nasihat hatiku terasa seperti dihantam batu yang besar. Jika bahkan Kakak Rizky yang paling sabar dan paling bijaksana sudah tidak lagi percaya padaku lalu kepada siapa lagi aku bisa berharap untuk didengarkan?

Sore itu juga dokumen itu ditemukan di dalam tas sekolahku sendiri. Vanessa yang menawarkan diri untuk memeriksa barang barangku dengan alasan ingin membantu mencari barang yang hilang itulah yang menemukannya terselip di bagian paling bawah tas yang tertutup rapat oleh buku buku dan alat tulis. Saat dokumen itu dikeluarkan dari tas dan diletakkan di atas meja di hadapan mereka semua tidak ada satu orang pun yang ragu lagi bahwa akulah yang melakukannya. Wajah Ayah terlihat sangat sedih dan lelah seolah olah ada sesuatu yang berat yang menekan dadanya. Ia tidak memarahiku tidak berteriak tidak mengucapkan kata kata kasar. Ia hanya menatapku dengan tatapan yang penuh kekecewaan yang begitu dalam sehingga jauh lebih menyakitkan daripada pukulan apa pun. Ia berkata Maya aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan sampai melakukan hal seperti ini. Aku selalu mempercayaimu sepenuh hati dan kau membalasnya dengan cara ini. Mulai sekarang jangan kau masuk lagi ke ruang kerjaku tanpa izin dariku. Dan tolong jangan buat masalah lagi biarkan kami tenang mengurus hal hal yang penting.

Ibu juga tidak memelukku atau menanyakan kebenaran kepadaku. Ia hanya menghela napas panjang dan berkata dengan suara yang terdengar lelah dan putus asa Maya kenapa kau tidak bisa seperti Vanessa? Ia selalu sopan selalu membantu selalu memikirkan perasaan orang lain. Mengapa kau harus selalu menyusahkan kami? Kata kata itu terasa seperti pisau yang tajam yang mengiris bagian terdalam hatiku. Selama bertahun tahun aku berusaha menjadi anak yang baik menjadi adik yang menyenangkan menjadi putri yang membanggakan. Namun semua itu seolah olah tidak pernah ada sama sekali. Semua kebaikan yang pernah kulakukan hilang begitu saja digantikan oleh satu tuduhan yang dibuat oleh gadis yang baru saja kami kenal beberapa bulan.

Malam itu aku duduk di lantai dekat pintu kamarku sambil memeluk lututku erat erat. Di luar pintu aku mendengar suara percakapan mereka yang sedang makan malam bersama tanpa memanggilku. Aku mendengar suara Ayah yang berkata mungkin saja kita terlalu memanjakan Maya sejak kecil sehingga ia tidak pernah menghargai apa pun yang kami berikan kepadanya. Aku mendengar suara Ibu yang menjawab mungkin saja kita harus lebih tegas kepadanya mulai sekarang supaya ia belajar menghargai orang lain. Dan aku mendengar suara ketiga kakakku yang menyetujui kata kata mereka satu per satu seolah olah semua hal yang terjadi adalah salahku sepenuhnya. Tidak ada satu orang pun yang bertanya bagaimana dokumen itu bisa masuk ke dalam tas sekolahku yang selalu aku bawa ke mana mana dan tidak pernah aku tinggalkan sembarangan. Tidak ada satu orang pun yang bertanya mengapa aku harus menyembunyikan sesuatu yang sebesar itu di tempat yang paling mudah ditemukan jika memang aku berniat membawanya pergi. Tidak ada satu orang pun yang bertanya siapa yang memiliki kesempatan untuk memasukkan dokumen itu ke dalam tas sekolahku saat aku sedang bermain di halaman belakang sendirian.

Aku segera mengeluarkan buku catatanku yang tersembunyi di bawah bantal tempat tidurku. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan rasa sakit di hatiku aku menuliskan setiap hal yang terjadi mulai dari saat dokumen itu dicari kata kata yang diucapkan Vanessa cara ia menyusun kalimat yang seolah olah membela aku namun sebenarnya memperkuat tuduhan tempat di mana dokumen itu ditemukan dan kata kata yang diucapkan oleh setiap anggota keluargaku satu per satu. Aku menuliskan semuanya dengan jujur dan lengkap tanpa menambahkan satu kata pun yang berlebihan karena aku tahu bahwa kebenaran itu sendiri sudah cukup kuat untuk berbicara pada waktunya nanti.

Hari hari setelah kejadian itu berubah menjadi masa masa yang penuh kesunyian dan kesepian bagiku. Setiap kali ada sesuatu yang hilang atau rusak di rumah nama aku selalu menjadi nama pertama yang disebut oleh siapa pun yang menemukannya. Setiap kali ada kesalahan yang terjadi aku selalu menjadi orang pertama yang disalahkan tanpa perlu diselidiki lebih dulu. Vanessa semakin hari semakin menjadi kesayangan mereka semua ia selalu ada di sisi Ayah saat ia pulang bekerja ia selalu membantu Ibu di dapur ia selalu mendengarkan cerita ketiga kakakku dengan penuh perhatian dan memberikan pujian yang tepat pada setiap hal yang mereka lakukan. Sementara aku semakin hari semakin tersisih semakin jauh dari mereka semakin diam dan semakin sendirian.

Aku sering duduk sendirian di beranda belakang menatap ke arah taman yang dulu penuh dengan tawa dan permainan kami berempat. Sekarang tempat itu sering dikunjungi oleh Vanessa dan ketiga kakakku yang sedang tertawa dan bercanda bersama tanpa mengundang aku ikut bergabung. Kadang kadang Vanessa akan menoleh ke arahku seolah olah ia menyadari keberadaanku lalu tersenyum tipis yang hanya bisa dimengerti oleh aku saja sebuah senyum kemenangan yang halus yang mengatakan lihatlah mereka semua sekarang milikku dan kau tidak memiliki siapa pun lagi.

Namun senyum itu juga memberiku kekuatan karena ia menunjukkan bahwa Vanessa mulai merasa nyaman dan mulai merasa bahwa ia sudah menang. Semakin ia merasa aman semakin lengah ia akan menjaga rahasianya dan semakin besar kemungkinannya untuk melakukan kesalahan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Aku tidak akan menyerah aku tidak akan pergi dan aku tidak akan diam saja. Setiap kata yang keluar dari mulutnya setiap langkah yang diambilnya setiap kebohongan yang diucapkannya semuanya akan tertulis di dalam buku catatan ini satu per satu sampai tumpukan kebenaran itu menjadi begitu besar sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa lagi mengabaikannya atau memalingkan wajah darinya.

Malam itu saat seluruh rumah sudah tertidur lelap aku masih duduk di dekat jendela kamarku menatap ke arah langit yang penuh bintang. Aku berjanji kepada diriku sendiri dan kepada langit yang melihat semuanya bahwa aku akan tetap bertahan meskipun tidak ada satu orang pun yang berdiri di sisiku. Aku akan tetap berdiri tegak meskipun tanah di bawah kakiku terasa semakin sempit dan semakin licin karena kebohongan yang disebarkan di sekelilingku. Karena aku tahu bahwa di ujung jalan yang panjang dan gelap ini ada cahaya kebenaran yang sedang menunggu untuk bersinar terang dan saat hari itu tiba tidak ada satu kebohongan pun yang mampu bertahan di hadapannya.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!