Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Akar Kedamaian Sementara
Beban berat di punggung langsung terasa ringan saat Yang Chan mengangkat keranjang anyaman raksasa itu. Bersama kedua orang tuanya, ia melangkah mantap meninggalkan batas desa. Mereka membawa muatan hijau yang berkilau segar di bawah lindungan kain rami tipis.
Sepanjang jalan setapak, kabut perlahan menipis diterpa sinar matahari pagi. Yang Wei berjalan di depan sambil memegang tongkat kayu penyangga lututnya yang pincang. Senyum tidak pernah lepas dari wajah tua pria itu.
"Chan-er, apakah menurutmu orang-orang di kota akan menyukai sayuran kita?" tanya Yang Wei, menoleh sedikit ke belakang dengan nada agak ragu.
"Tentu saja, Ayah," jawab Yang Chan dengan nada santai. "Mereka bahkan akan berebut untuk mendapatkan satu helai daunnya."
Mendengar itu, Bing Chan hanya tersenyum tipis di samping mereka. Ia tahu betul, energi murni yang terkandung di dalam keranjang itu terlalu mencolok untuk dilewatkan oleh mata yang tajam.
Pusat perdagangan kota hari itu sangat ramai. Bau tanah basah beradu dengan aroma dupa murah dari toko-toko obat di sepanjang jalan batu. Orang-orang berlalu-lalang mencari kebutuhan sehari-hari mereka.
Membuka lapak di sudut pasar yang agak teduh, Yang Wei menurunkan keranjangnya dengan sangat hati-hati. Begitu kain rami penutup ditarik, wangi manis yang murni langsung menguar ke udara. Aroma segar itu langsung memikat perhatian sekitar.
Tercengang seorang pedagang paruh baya yang kebetulan melintas di depan lapak mereka. Langkah kaki pria itu mendadak berhenti. Matanya menatap lurus ke arah kubis raksasa yang tampak seperti ukiran batu giok murni.
"Astaga! Energi spiritual macam apa ini?" teriak pedagang itu, mengundang perhatian orang banyak dalam sekejap.
Kerumunan orang mulai memadati lapak kecil keluarga Yang. Beberapa kultivator tingkat rendah yang sedang berbelanja bahan obat bahkan langsung mendekat. Mereka mendeteksi aliran energi bersih yang terpancar dari sayuran tersebut.
"Satu keranjang kubis ini ... aku beli dengan tiga puluh keping perak!" seru seorang pria berpakaian mewah, mencoba mendahului yang lain.
"Tiga puluh? Kau bercanda! Aku bayar dua keping emas untuk semuanya!" timpal kultivator lain dengan mata berbinar penuh gairah.
Mendengar tawaran itu, Yang Wei hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Tangannya yang memegang timbangan kuno bergetar hebat. Ia tidak percaya bahwa sayuran yang ia tanam bisa dihargai setinggi itu.
Tersenyum tipis, Yang Chan hanya mengamati keriuhan itu dari belakang. Sebuah jendela antarmuka hijau transparan mendadak muncul di sudut pandangnya, berkedip pelan menampilkan tulisan ringkas.
[Hadiah tersembunyi: Hasil panen melimpah. Hadiah reputasi aman, untuk saat ini.]
'Sempurna,' batin Yang Chan dengan puas.
Tanpa perlu mengangkat senjata atau memicu pertarungan berdarah yang merepotkan, lembaran uang kertas emas kini berpindah tangan ke dalam kantong kain Bing Chan. Seluruh sayuran ajaib itu ludes terjual hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
Sore harinya, suasana di dalam rumah kayu mereka terasa sangat berbeda. Kehangatan yang nyata mulai menyelimuti ruang tamu yang biasanya terasa dingin dan suram.
Suara ketukan pintu yang keras dan kasar memecah ketenangan ruang tamu rumah keluarga Yang. Utusan dari Klan Li melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Ia membawa gulungan kertas perjanjian hutang yang sudah menguning di tangannya.
"Hari ini adalah batas akhir," ucap utusan itu dengan nada merendahkan. Matanya menyapu seisi ruangan yang sederhana dengan pandangan jijik. "Jika kalian tidak bisa membayar seratus keping perak, tanah ladang itu resmi menjadi milik klan kami."
Berdiri tegak di samping meja kayu, Yang Wei tidak lagi tampak gemetar seperti beberapa pekan lalu. Ia meraba kantong bajunya dengan perlahan.
Sebuah kantong kain kecil diletakkan di atas meja kayu yang retak. Bunyi dentang logam yang berat langsung memenuhi ruangan sunyi itu.
"Hitung ini. Ambil bagianmu, lalu kembalikan surat tanah kami," tutur Yang Wei, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh penekanan.
Mata utusan klan Li terbuka lebar saat membuka kantong tersebut. Warna keemasan yang berkilau di dalamnya membuat tenggorokannya mendadak kering dan kaku.
"Ini... keping emas?" gumam utusan itu dengan nada tidak percaya.
'Bagaimana mungkin keluarga miskin ini mendapatkan emas sebanyak ini dalam semalam?' batin utusan itu, wajahnya berubah pucat karena rencana penyitaan lahannya gagal total.
Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan surat tanah milik keluarga Yang. Setelah itu, ia buru-buru melangkah keluar tanpa berani mengucapkan sepatah kata kasar lagi.
Melihat kepergian utusan itu, Bing Chan menghembuskan napas lega. Ia melirik suaminya, lalu beralih menatap Yang Chan dengan tatapan penuh kehangatan. Ia bersyukur karena rahasia kekuatannya sebagai praktisi terselubung tidak perlu terungkap hari ini.
Malamnya, suasana di halaman belakang rumah terasa begitu damai. Angin malam berembun berembus lembut, menggerakkan dedaunan pohon persik yang tumbuh di sudut pagar halaman mereka.
Menikmati secangkir teh hangat, Yang Chan duduk santai di atas kursi bambu kesayangannya. Dari jendela rumah, ia bisa mendengar tawa renyah kedua orang tuanya yang sedang menghitung sisa uang hasil penjualan di dalam kamar.
'Inilah yang aku cari selama ini,' gumam Yang Chan dalam hati, menatap uap teh yang perlahan menghilang ke udara malam yang dingin.
Tidak seperti kehidupanku sebelum reinkarnasi yang penuh dengan intrik, pengkhianatan, dan pertempuran tiada akhir demi takhta tertinggi. Di dunia baru ini, kenyamanan dan umur panjang adalah harta sejati yang paling berharga bagi dirinya.
Ia tidak butuh gelar pahlawan atau menjadi penguasa langit yang ditakuti semua orang. Cukup kebun yang subur, perut yang kenyang, dan keluarga yang utuh tanpa ada gangguan dari pihak luar yang menyebalkan.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan rutinitas yang menenangkan di Desa Perbatasan. Di bawah bimbingan rahasia dari ibunya, Yang Chan mulai melatih kelenturan fisiknya setiap fajar menyingsing. Ia mengalirkan energi hangat ke seluruh urat nadinya melalui gerakan-gerakan lambat yang teratur.
Sementara itu, Yang Wei selalu memberikan petuah-petuah bijak tentang kehidupan fana setiap kali mereka membersihkan sisa rumput liar di ladang mereka. Ladang yang kini semakin subur dan hijau royo-royo.
Mata Air Kehidupan dari sistem terus ia gunakan secara berkala dengan takaran yang pas. Hal itu menjaga kesuburan tanah tanpa menarik perhatian berlebih dari klan-klan besar di luar sana yang selalu haus akan sumber daya.
Daun-daun berguguran berganti dengan salju tipis yang dingin. Salju kemudian mencair menjadi aliran air jernih yang menyirami kuncup-kuncup bunga musim semi yang baru. Siklus alam terus berjalan dengan indah dan tenang.
Dan dua tahun pun berlalu begitu saja.