NovelToon NovelToon
MY IDOL MY SUGAR DADDY

MY IDOL MY SUGAR DADDY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~MENIKMATI HIDUP SEBAGAI SUGAR BABY

Pagi itu, Disya duduk di tepi tempat tidur menatap catatan aturan. Kata Min Jae masih terngiang: "Jangan berharap lebih, jangan merasa memiliki, ini hanya saling menguntungkan." Ia menghela napas panjang, menutup buku itu perlahan.

Disya adalah gadis realistis. Ia tahu betul rasanya berjuang sendirian demi sepotong roti, betapa sakitnya berharap pada hal tak pasti. Jika cinta dilarang, ia tak akan mengejarnya. Lebih baik ambil apa yang nyata ada: kenyamanan, keamanan, dan segala kemudahan dari perjanjian ini. Ia akan menjalani perannya sepenuhnya—tanpa menyisakan ruang untuk perasaan.

Ia menatap cermin. "Mulai hari ini," bisiknya tegas. "Nikmati apa yang kau dapatkan. Itu hakmu sebagai ganti apa yang kau berikan."

Sore setelah kuliah, Disya melangkah masuk ke pusat perbelanjaan termewah di Seoul—tempat yang dulu hanya bisa ia lihat dari balik kaca. Kini ia berdiri di depan pintu, mengeluarkan kartu hitam pemberian Min Jae, lalu tersenyum lebar.

Berjam-jam ia berkeliling. Tak lagi ragu, tak lagi bandingkan harga, tak lagi letakkan barang kembali karena takut tak sanggup bayar. Ia pilih gaun sutra, setelan kuliah nyaman, sepatu kulit, tas elegan, dan perhiasan sederhana berkelas. Setiap kali kartu digesek, beban di dadanya makin hilang: tak perlu lagi makan seadanya, tak perlu cemas sewa, tak perlu takut jika ibunya sakit.

Setelah belanja, ia masuk salon ternama: perawatan wajah, pijat, tata rambut dan kuku. Dua jam kemudian, ia keluar lebih segar, bercahaya, dan penuh percaya diri—sosok yang pantas berdiri di samping Min Jae.

Malamnya, mobil Min Jae sudah menunggu. Saat Disya masuk, Min Jae terdiam sejenak, menatapnya dari ujung rambut hingga sepatu. Perubahannya mencolok: tak lagi canggung atau rendah diri, kini ia duduk santai dengan senyum tenang dan tatapan jernih.

"Kau terlihat sangat berbeda," ucap Min Jae pelan. "Ada acara penting?"

"Tak ada," jawab Disya santai pasang sabuk pengaman. "Saya hanya berbelanja dan merawat diri. Lagipula Oppa sendiri bilang saya harus tampil pantas. Jadi saya gunakan fasilitas yang diberikan. Saya mulai menikmatinya sekarang."

Min Jae menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—senyum yang jarang ia tunjukkan. "Bagus. Itu yang saya harapkan. Jangan merasa berhutang budi."

Di apartemen Min Jae, malam berjalan sesuai kesepakatan. Disya melayaninya dengan baik dan lembut, tapi matanya tak lagi mencari kasih sayang. Ia menjalankan tugasnya dengan tenang, seolah ini memang bagian dari perjanjian.

Saat hendak beranjak, Disya menahannya. Ia duduk bersandar, menatap Min Jae serius.

"Oppa, saya punya satu syarat tambahan."

Min Jae berhenti, bingung. "Syarat apa? Bukannya semua sudah disepakati?"

"Ya, tapi ini syarat dari saya," jawab Disya mantap. "Mulai sekarang, setiap kali kita selesai bersama seperti ini, Oppa harus beri saya hadiah. Bisa uang, barang, atau apa saja. Saya tak mau lagi berharap kata cinta atau janji kosong. Biar hubungan ini benar-benar murni transaksi: saya berikan waktu dan diri saya, Oppa berikan apa yang saya butuhkan. Tak ada lagi ruang salah paham."

Hening sejenak. Min Jae tak marah, justru menatapnya campur rasa hormat dan kagum. Ia paham: gadis ini sedang membentengi hatinya sekuat tenaga.

"Kau berubah jadi sangat materialistis ya?" tanyanya pelan, tak mengejek.

"Karena materi satu-satunya hal yang tak akan menyakiti hati saya," jawab Disya tenang. "Uang tak berubah, tak pergi tanpa alasan, tak buat saya menangis sendirian. Ini jauh lebih aman."

Min Jae mengangguk pelan. "Baik. Saya setuju. Ini justru membuat posisi kita makin jelas. Mulai malam ini, kau akan dapat apa yang kau minta."

Pagi harinya saat Disya bangun, Min Jae sudah berangkat. Di meja samping tempat tidur ada amplop tebal dan kunci berhias berlian, beserta catatan: "Hadiah pertama. Di dalam uang tunai, kunci ini untuk mobil baru di garasi. Gunakan dengan senang hati."

Disya tersenyum puas, tak lagi merasa bersalah menerimanya.

Hari-hari berikutnya ia jalani hidup baru: kuliah, jelajahi tempat yang dulu tak terjangkau, rawat diri rutin, dan datang saat dipanggil—pulang dengan hadiah baru.

Teman-teman dan Nara terkejut melihat perubahannya. Di kantin, Nara bertanya cemas: "Disya, kau berubah total. Terlihat bahagia menikmati hidup, tapi... makin dingin. Kau benar-baik saja?"

Disya menyesap jus pelan, tersenyum tenang. "Saya baik-baik saja. Saya hanya belajar nikmati apa yang ada. Hidup terlalu singkat menderita karena hal tak pasti."

Tak ada yang tahu—termasuk Min Jae—bahwa di balik sikap itu, Disya sangat berhati-hati. Ia tak menghamburkan uang: sebagian besar dikirim untuk pengobatan ibu di Jeju, sebagian ditabung masa depan, hanya sedikit untuk menyenangkan diri sendiri. Sikap materialistis itu hanyalah topeng pelindung hati.

Topeng itu menipu semua orang, tapi tak sepenuhnya menipu Min Jae. Justru sikap Disya yang tegas, mandiri, dan tak lagi mengejar perhatiannya membuatnya makin sering memikirkan gadis itu. Ia yang dulu minta Disya tak berharap lebih, kini sering menatapnya dengan tatapan yang perlahan melembut—tanpa sadar berubah menjadi rasa sayang.

Suatu malam, saat Disya merapikan pakaian hendak pulang, Min Jae bicara pelan dari arah jendela.

"Kau tahu... kadang saya rindu Disya yang dulu. Yang canggung dan takut-takut, tapi matanya tulus penuh harapan. Sekarang kau kuat dan aman, tapi rasanya jarak makin lebar di antara kita."

Disya berhenti sejenak, menoleh dengan senyum yang tak menyentuh mata. "Itu yang Oppa inginkan, kan? Jarak aman supaya tak ada yang terluka."

Ia melangkah ke pintu, lalu menambahkan nada bercanda namun tegas: "Dan ingat, besok janji temu dengan desainer perhiasan. Itu... pembayaran untuk malam ini."

Pintu tertutup. Min Jae duduk sendirian di ruang sunyi, menatap pantulan di kaca. Ia sadar satu hal aneh: semakin Disya berusaha menjauhkan hati dan berpura-pura hanya inginkan materi, semakin ia ingin mendekat, meruntuhkan tembok itu, dan mengenal siapa Disya yang sebenarnya di balik topengnya.

1
Eomma'Drakor 01
Alice😡
Eomma'Drakor 01
disya kenapa ga pacaran Ama Jack aj sih?
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya, nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Tere Rere
keren
Flm Rendom
kisah cinta yg Berawal dari transaksi..
Flm Rendom
kira2 siapa nih yang bakalan melanggar aturan transaksi...
Wae
suka dengan persahabatan Jack dan disya😍 ceritanya bikin baper
Wae
my idol may sugar Daddy 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!