Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suara Zhao Heng memang selalu terdengar agak dingin. Ditambah lagi ia jarang tersenyum, jadi ia terlihat sangat serius. A Bao melesat berlari ke arah Zhao Heng, lalu menggelengkan kepala kecilnya tanda tidak setuju, "ayah, bisakah nada bicaramu lebih lembut sedikit?"
"tunggu bicaramu sudah jelas, baru menasehatiku," jawab Zhao Heng sambil menunduk menatap si kacang polong kecil yang sedang memeluk kakinya.
A Bao;".... " Kenapa ayah galak sekali?
"Kamu sekarang masih terlalu kecil, bahkan kalah kekar dibandingkan putriku" Wang chunniang ikut menimpali dari samping. "belum tentu kamu bisa hidup sampai dewasa untuk membalas dendam."
"Kalau kamu mau pergi, pergilah." tiba-tiba saja Zhao Heng berubah pikiran. Ia melontarkan kalimat itu lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
Begitu ia pergi, A Bao yang tadinya memeluk kakinya pun di tinggalkan begitu saja. A Bao memanyunkan bibir, menatap Zhao Heng lalu menatap Jiang Ting yang berdiri disana dengan tubuh kurusnya. Akhirnya ia duduk di tanah dan merengek pelan.
"Ayahnya A Bao sama sepertiku, niatnya baik, "Wang chunniang menggandeng tangan Jiang Ting kecil, lalu memanggil A Bao," A Bao, ajak kakak kecil ini makan."
Meskipun kepala desa jiao sebenarnya enggan ikut campur, namun karena orang dewasa di keluarga itu sudah meninggal semua, ia tetap mencari beberapa warga desa untuk membantu mengurus pemakaman ibunya Jiang Ting.
Saat orang-orang dewasa sedang sibuk, A Bao duduk manis di halaman sambil mengunyah roti daging. Ia tidak berani lari sembarangan saat banyak orang, takut ditangkap orang jahat seperti Wang jinya waktu itu.
Roti daging di tangan A Bao adalah buatan Wang chunniang. Karena tahu A Bao suka makan daging tapi tidak suka sayur, Wang chunniang mencincang sayuran liar sangat halus sampai hampir tak terlihat.
Anak-anak perempuan di desa hampir tidak pernah makan roti daging seenak itu. Jadi, ketika Laidi datang mencari kepala desa jiao namun malah melihat A Bao sedang makan roti daging, ia langsung merasa iri.
"Adik A Bao," panggil Laidi dengan suara manis sambil melompat keluar dengan wajah yang penuh senyum, seolah lupa pernah mendorong A Bao ke bawah jembatan.
A Bao menoleh. Begitu melihat Laidi, ia langsung membuka mulut hendak memanggil kakaknya.
"Adik A Bao, kamu makan apa? Roti apa itu?" Laidi seakan tidak melihat kewaspadaan di wajah A Bao. Ia tersenyum mendekati A Bao dan bertanya dengan nada sangat akrab.
"Kamu, Laidi ya?" tepat saat A Bao bersiap memeluk rotinya dan kabur, Zhao Xuan muncul dari belakang. Suaranya terdengar galak, "kemarin, kamu yang mendorong adikku ke bawah jembatan. Demi menghormati paman kepala desa, aku tidak memukulmu. Tapi kalau kamu berani mengganggu adikku lagi.. " Zhao Xuan langsung mengeluarkan belati tajam, dan dengan cepat menempelkannya ke leher Laidi. Laidi kaget setengah mati hingga hampir jatuh terduduk.
" Mulai sekarang kalau lihat adikku, menyingkirkan." ancam Zhao Xuan dengan belati itu. Setelah melihat Laidi lari terbirit-birit, barulah ia menyimpan kembali senjatanya.
Selesai memberi pelajaran pada Laidi, Zhao Xuan menatap A Bao. Dilihatnya mata A Bao berbinar menatapnya penuh kekaguman.
" Kakak, kamu hebat sekali! Bisakah kakak membujuk ayah agar kakak kecil itu boleh tinggal? Bagaimana kalau kakak kecil juga ditangkap orang jahat? "pinta A Bao sambil menarik lengan Zhao Xuan.
Zhao Xuan melirik ke arah ayahnya duduk, tidak menjawab.
Dulu, orang yang membuat ayahnya buta bukan hanya orang kepercayaan ayahnya, tapi juga orang yang diselamatkan ayahnya dari Medan perang... Kejadian itu meninggalkan trauma yang mendalam, ia tidak ingin sembarangan menyelamatkan orang lagi.
Sebab, harga yang harus dibayar untuk kebaikan itu terlalu mahal.
Melihat ekspresi kakaknya, A Bao cemberut dan bergumam pelan, "kakak tidak berguna! "
Zhao Xuan tertawa tak berdaya. Sambil berjalan keluar, ia berteriak pada Zhao Heng," ayah, tolong jaga A Bao, aku mau bantu ibu. "
Zhao Heng bergumam mengiyakan dengan dingin, ia duduk dibawah sinar matahari, dunianya gelap gulita. Tiba-tiba, sesosok makhluk kecil gemuk merayap naik ke pangkuannya melalui kakinya. Lalu terdengar suara manja, "ayah, tolong Kakak kecil itu, jangan biarkan dia pergi!"
Di dapur, Lin Xiang juga menjulurkan Kepala, mengamati adegan itu dengan seksama.
Zhao Heng memilih bungkam. Ia diam seribu bahasa, membiarkan A Bao memanjat sampai ke punggungnya sekalipun,ia tetap tidak bersuara.
"Ayah, aku.... Nanti aku bisa makan lebih sedikit," A Bao merasa menemukan solusi baru." aku makan sedikit saja, sisanya untuk kakak kecil makan."
"Makan, bukan makam." Zhao Heng dengan kesal memindahkan si kecil yang sudah memanjat punggungnya ke samping, lalu bangkit berdiri dan mengambil tongkatnya hendak pergi.
Namun detik berikutnya, langkahnya terhenti.
Karena ada seseorang yang berlutut di hadapannya dengan suara buk.
"Kakak Zhao, tolong.... Tolong izinkan Jiang Ting tinggal." pinta Lin Xiang dengan suara serak sambil mendongak menatap pria tinggi besar di depannya. "aku bisa menjahit pakaian untuk menambah penghasilan, aku bisa bantu menghidupinya."
"Apa air di otakmu belum kering?"ujar Zhao Heng dingin. Meski matanya buta, Lin Xiang tetap merasa seolah sedang di tatap tajam oleh pria itu.
"Mohon kakak Zhao mengabulkan," pinta Lin Xiang lagi. A Bao yang berdiri di samping melihat Lin Xiang berlutut, buru-buru ikut berlutut juga.
Saat itu, Wang chunniang, kepala desa jiao, dan Zhao Xuan baru saja kembali. Melihat pemandangan di halaman, Wang chunniang langsung panik. Ia segera menarik Lin Xiang dan A Bao berdiri, lalu memarahi Zhao Heng, "suamiku, kenapa kau biarkan mereka berlutut?"
Kepala desa jiao melirik Zhao Heng, lalu pandangannya beralih pada Lin Xiang yang sudah berdiri di belakang.
"Ah Xuan, inikah bibimu itu?" bisik kepala desa jiao kepada Zhao Xuan.
Zhao Xuan melirik Lin Xiang, lalu mengangguk," iya".
"Ada apa dengan mereka?" kepala desa jiao melihat situasi tegang itu, menduga keluarga Zhao sedang ada konflik internal.
Saat kepala desa bicara,a Bao memiringkan kepala kecilnya mencari-cari sosok Jiang Ting di belakang Zhao Xuan dan Wang chunniang. Namun sudah berputar beberapa kali,ia tidak melihat bayangan Jiang Ting.
Tidak melihat Jiang Ting, A Bao sangat sedih.
"Ayah,aku takut," A Bao tiba-tiba menerjang ke sisi Zhao Heng lagi,menangis dengan ingus dan air mata bercucuran. Suaranya yang memang lantang menjadi semakin keras saat menangis, sampai-sampai kepala desa jiao menutup telinganya." kakak kecil tidak punya rumah lagi, bagaimana kalau nanti aku juga tidak punya rumah?
A Bao sudah terbiasa dengan kehidupan di sini. Ia sangat menyukai keluarga ini. Siluman gingseng kecil ini tak bisa membayangkan betapa sedihnya jika suatu hari ia kehilangan keluarganya.
Zhao Heng bisa merasakan si kecil itu pasti sudah mengelapkan ingus dan air matanya ke bajunya.
Melihat A Bao menangis begitu hebat,Wang chunniang yang tak tega sekaligus geli maju mengusap kepala A Bao dan berkata," kakak kecil tidak akan pergi,dia akan tinggal di rumah kita."
Mendengar itu,Mata kepala desa jiao terbelalak menatap Wang chunniang. Dengan tak percaya ia berkata,"chunniang,kau cari mati? Ayah kandung Jiang Ting itu orang yang bisa membuat bupati pun membungkuk,kau benar-benar mau menampung Jiang Ting?"
"Kenapa dibilang menampung?" Wang chunniang tersenyum,"dulu rumah ini kami beli dari ibunya Jiang Ting. Waktu itu uang kami tidak cukup,jadi hanya membeli bangunan utama dan sayap barat. Sayap timur ini sebenarnya masih milik mereka. Jadi Jiang Ting tinggal di rumahnya sendiri,bukan kami tampung."
Zhao Xuan berdiri di samping sambil mengangguk-angguk, mendengarkan ibunya berbohong dengan sangat meyakinkan.
Mendengar penjelasan itu, kepala desa jiao tidak bisa membantah lagi.
Begitu mendengar ibunya sudah menyelesaikan masalah,A Bao langsung melepaskan pelukannya pada Zhao Heng dan berlari kencang menuju Wang chunniang.
Zhao Heng:"....."