Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Manis Sebelum Badai
Belvina berhenti memotong rotinya, memutar wajahnya ke arah Alden.
Pria itu tetap makan seolah tidak terjadi apa-apa. Namun barusan… dia membelanya. Dan itu tidak ada dalam ingatan Belvina lama.
Ayah Alden, Andreas, menatap semua orang satu per satu.
“Bagus.”
Semua kepala menoleh.
Ia melipat serbetnya.
“Rumah ini akhirnya punya percakapan yang jujur.”
Lalu ia berdiri dan pergi begitu saja.
Ibunda Alden menghela napas.
“Itu pujian dari beliau.”
Mata Belvina tertuju pada punggung pria tua yang menjauh. Lalu refleks, beralih ke Alden.
Setelah sekian lama menikah, kini ia mulai bertanya-tanya.
Pria ini berubah… atau selama ini, Belvina memang tidak pernah benar-benar mengenalnya.
***
Setelah sarapan selesai, Alden dipanggil ke ruang kerja Andreas. Topik yang dibawa jelas bukan urusan keluarga.
Bisnis.
Tanpa banyak bicara, pria itu berdiri dan mengikuti ayahnya ke lantai dua.
Sementara itu, Fransisca mengalihkan pandangan pada Belvina.
“Temani Bunda ke dapur.” Nada suaranya hangat. Tidak memaksa.
Belvina mengangguk.
Dapur utama rumah itu luas dan rapi. Wangi mentega samar tertinggal di udara.
Fransisca sudah mengenakan celemek ketika membuka lemari bahan.
“Sudah lama Bunda ingin membuat ini,” katanya sambil mengeluarkan tepung dan telur. “Kue kesukaanmu.”
Belvina berhenti sesaat. Ingatan asing muncul samar
Belvina lama memang menyukai kue manis ini. Selalu meminta dibuatkan saat datang.
Fransisca mulai menakar gula. “Alden suka yang tidak terlalu manis.”
“Kalau begitu selera kami beda," sahut Belvina.
Bibir Fransiska melengkung, tapi cepat meredup. Ia memecahkan telur ke mangkuk besar. Sambil bekerja, ia bicara.
“Maafkan adik-adikmu.” Tangannya tetap mengocok adonan. “Mereka belum cukup dewasa untuk tahu cara menghargai orang.”
Belvina menyiapkan loyang. Tangannya mengoles mentega tipis dan rata di permukaan, lalu menaburkan tepung dengan gerakan ringan.
“Bunda tidak perlu khawatir,” jawabnya tenang. “Aku tidak apa-apa.”
Fransisca hendak menjawab, namun kalimat itu tertahan. Matanya turun ke tangan Belvina.
Gerakannya cekatan. Tidak kikuk ataupun ragu. Tepat di titik yang biasa dilakukan orang yang terbiasa bekerja di dapur.
Ia mengamatinya, dan merasa asing. Karena biasanya, menantu ini hanya berdiri manis di samping. Tersenyum, melihat, lalu bingung saat diminta membantu.
Tapi sekarang…
Belvina bahkan mengetuk sisi loyang untuk meratakan tepung berlebih tanpa diminta.
Fransisca mengerutkan dahi tipis.
“Kamu belajar membuat kue?”
Belvina mendongak.
Di kepalanya, ingatan Belvina lama muncul lagi. Wanita yang tak bisa memasak, bahkan takut minyak panas.
Sudut bibirnya terangkat kecil.
“Sedikit, Bun.”
Fransisca menatapnya beberapa detik.
Lalu senyumnya melebar, tulus dan jelas bahagia.
“Benarkah?”
Belvina mengangguk ringan.
“Kalau Bunda tidak keberatan… aku juga bisa bantu mixer berikutnya.”
Fransisca tertawa kecil.
“Keberatan?” katanya sambil menyerahkan mangkuk padanya. “Bunda justru mau lihat sejauh apa menantu Bunda berubah.”
Belvina menerima mangkuk itu. Hatinya menghangat. Bersama Fransiska, ia merasa diterima tanpa harus berusaha memohon.
Alden turun dari ruang kerja. Langkahnya terhenti saat melihat Belvina tertawa kecil di dapur bersama ibunya. Karena pemandangan itu… tidak pernah ia bayangkan.
Usai memanggang, Fransisca dan Belvina membawa beberapa piring ke ruang tengah.
Aroma mentega dan vanilla segera memenuhi ruangan.
Alena masih duduk di sofa panjang, sibuk menggulir layar ponselnya. Kakinya disilangkan santai, perhatian sepenuhnya tertuju pada media sosial. Namun begitu wangi kue sampai ke arahnya, gerakan jarinya melambat. Ia mengangkat kepala.
Di meja sudah tersusun kue favorit Belvina yang biasa dibuat ibunya setiap kali menantu itu datang.
Alena memutar mata tipis.
“Lagi-lagi ini.”
Namun pandangannya berhenti pada satu piring kecil lain di sisi meja.
Bentuknya berbeda. Lebih sederhana. Bagian atasnya keemasan dengan lapisan yang sedikit retak. Aroma butter bercampur kayu manis dan gula karamel naik samar.
Alis Alena terangkat.
“Bunda coba resep baru?”
Tanpa menunggu jawaban, ia meraih piring kecil, memotong satu bagian, lalu memasukkannya ke mulut.
Detik berikutnya, ekspresinya berubah. Ia berhenti mengunyah sesaat.
Bagian luar kue itu renyah tipis, tapi bagian dalamnya lembut dan hangat. Manisnya pas, dengan rasa kayu manis yang ringan dan aroma mentega yang kaya. Tidak berat, apalagi membosankan. Tangannya refleks mengambil suapan kedua.
Fransisca menahan senyum.
“Enak?”
Alena mengangguk cepat, mulutnya masih penuh.
“Banget.”
Ia mengambil lagi potongan berikutnya, kali ini lebih besar.
Fransisca melirik ke arah Belvina sebentar, lalu berkata santai, “Itu buatan kakak iparmu.”
“Uhuk—!”
Alena langsung tersedak. Ia menepuk dada sendiri sambil meraih gelas di meja. Wajahnya memerah. Bukan karena kepedasan.
Belvina duduk santai di samping Fransiska, tangan terlipat ringan.
“Pelan-pelan,” katanya lembut. “Kalau suka, bilang saja.”
Alena meneguk air cepat, lalu melirik ke Belvina seolah baru melihat makhluk aneh.
“Kakak… bikin ini?”
“Kenapa?” Belvina memiringkan kepala. “Kuenya terlalu pintar untukku?”
Fransisca tak mampu menahan tawa kecilnya.
Dari arah koridor, Arsen yang baru masuk ikut berhenti.
“Apa lagi sekarang?”
Alena menunjuk piring di meja.
“Itu… buatan dia.”
Arsen menatap curiga, lalu mengambil satu potong kecil. Digigit setengah hati. Beberapa kali kunyahan, ia diam.
Belvina menangkap perubahan itu dan sudut bibirnya melengkung samar.
“Kalau mau tambah, jangan malu-malu.”
Arsen melanjutkan kunyahannya tanpa terlihat terlalu menikmati, menjaga gengsi.
“Biasa aja.”
Namun tangannya diam-diam bergerak mengambil potongan kedua.
Fransisca menggeleng sambil tersenyum. Setelah sekian lama, ini adalah kali pertamanya ruang tengah rumah itu terasa hidup.
Dan di tengah semua itu, Belvina tidak lagi tampak seperti tamu yang ditoleransi. Ia mulai terlihat… seperti bagian dari rumah ini.
Saat semua makan, Alden memasuki ruangan. Ia melihat adiknya berebut kue buatan Belvina.
Lalu ibunya berkata, “Cepat sini. Kebagian kalau belum habis.”
Di momen itu, Alden merasa ia tertinggal dari rumahnya sendiri.
Ruang tengah dipenuhi aroma manis yang belum sepenuhnya hilang.
Di meja, piring hampir kosong.
Alena yang tadi mencibir kini diam-diam mengambil potongan terakhir bagian pinggir. Arsen pura-pura tidak tertarik, meski piringnya sudah dua kali terisi ulang.
Fransisca tersenyum puas.
Andreas duduk di kursi tunggal, menikmati potongan kecil terakhir sambil ditemani teh hangat.
Bahkan Alden, yang awalnya hanya berdiri di dekat jendela, akhirnya mengambil satu bagian. Lalu satu lagi. Ia tidak berkomentar. Dan itu justru paling mencurigakan.
Belvina menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Hangat. Santai. Nyaris seperti keluarga biasa. Ia meletakkan garpunya perlahan.
“Yah. Bun.”
Semua perhatian beralih padanya.
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Aku ingin berpisah dengan Alden.”
Suara sendok, napas, dan Gesekan piring seolah lenyap bersamaan.
Alden menahan cangkir di udara, berhenti di tengah jalan. Kendali di wajahnya retak. Ia kira yang paling mungkin terjadi di rumah ini adalah Belvina diterima kembali.
Bukan… ia ditinggalkan di depan keluarganya sendiri.
Fransisca memutar wajah cepat ke arahnya.
“Apa?”
Sendok di tangan Alena menggantung di udara.
Arsen membeku dengan mulut setengah terbuka.
Andreas yang semula bersandar mendadak menekan dada kirinya, napasnya tertahan sesaat.
Bukan ambruk. Lebih seperti napasnya tertahan oleh kejutan yang terlalu mendadak.
Fransisca langsung bangkit.
“Yah?”
Alden sudah berdiri lebih dulu.
Namun Andreas mengangkat satu tangan, memberi isyarat bahwa ia masih baik-baik saja.
Sorot matanya lalu beralih lurus ke Belvina. Tajam. Dan jauh lebih berat dari sebelumnya.
“Ulangi.”
-
...✨Dulu ia datang untuk diterima. Kini ia datang agar mereka menyesal meremehkannya.✨...
.
To be continued
Fransisca gembira, akan segera menimang cucu. Dan berterima kasih kepada Belvina.
Andreas juga bahagia, bersyukur dan terharu.
Seraphina tidak menyukai dengan apa yang Alden lakukan pada Belvina.
Belvina mau ke sofa menolak bantuan dari Seraphina.
Seraphina melangkah mendekat, Belvina menutup hidungnya, mundur selangkah
Belvina dan Alden sama isi batinnya - kehamilan. Belvina hamil.
Nasib Dimas kurang beruntung, ingin membantu Belvina berdiri, malah lengannya kena pukul Alden.
istri ama suami akur kuq g boleh... cari suami sendiri sanaa🤣🤣
Belvina tak tahan bau parfum Seraphina, pusing kepalanya, berakhir lari ke toilet - muntah dia.
Alden terkejut melihat Belvina yang seperti mau muntah. Spontan ia berdiri dari duduknya. Tak sadar kalau gerakan mendadak bikin rusuknya kembali nyeri.
Alden mengkhawatirkan Belvina yang sedang muntah-muntah di dalam toilet.
Apalagi ketika melihat Belvina tersenyum dan bicara begitu asyik. Alden semakin panas saja.
Belvina lugu amat. Jelas Alden cemburu. Sampai menyindir bilang - sepertinya senang sekali.
Alden bisa duduk sendiri di kursi kerjanya.
Malah ribut di kantor.
Seraphina datang masuk ke ruang kerja Alden. Baru selesai bicara - mengungkap rasa senangnya Alden sudah kembali ke kantor.
Alden belum menanggapi.
Eee..eeeehhh... Belvina 😄😄 suaramu dan kata-kata yang terucap ituuuu 😂😂😂 bikin kaget Seraphina.
Alden banyak alasan.
Belvina setuju ikut ke kantor.
Alden bisa bangun sendiri, ambil minum.
Senangnya Alden bisa peluk Belvina yang nyenyak tidurnya. Tidak terusik dipeluk.
Belvina bangun tidur baru sadar posisi tidurnya. Mana benda tumpul milik Alden berdenyut di pahanya pula. Untung tidak reflek mendorong Alden. Bisa semakin tidak sembuh-sembuh kalau itu terjadi.
Alden pusing tak bisa menyalurkan hasratnya.
Alden mandi sendiri. Kalau saat ini Belvina yang mandiin, Alden bisa semakin kacau wkwkwk..
Belvina tidak tahu kalau Alden jadi pusing tidak bisa menuntaskan hasratnya.
Wah - ada mata-mata Seraphina