"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Donova
Surya sampai di Polda Metro Jaya sebelum pukul sembilan malam.
Gedung itu sudah tidak seramai siang, lampu ruang kerja Dittipideksus masih menyala seperti mesin yang tidak tahu tidur. Meilu menunggunya di ruang kecil dekat arsip, bukan di ruang pemeriksaan. Di meja ada dua gelas kopi, satu map biru, dan laptop yang layarnya menampilkan bagan kepemilikan perusahaan.
"Kamu datang cepat," kata Meilu.
"Kamu menyebut Mega Awan dan Sentana dalam satu kalimat."
Meilu menggeser laptop.
Di layar, Surya melihat nama yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Donova Capital Pte. Ltd.
Terdaftar di Singapura.
Di bawahnya, ada garis menuju beberapa entitas investasi. Sebagian memakai nama bersih, sebagian hanya nomor dan nominee director. Satu garis tipis berakhir di struktur pendanaan awal PT Mega Awan. Garis lain masuk ke kendaraan investasi yang pernah menyuntik dana ke firma Sentana bertahun-tahun lalu.
"Ini bukan pemegang saham langsung," kata Meilu. "Lebih seperti lapisan pendanaan lewat beberapa perusahaan perantara. Legal di permukaan, sulit dilacak di bawah."
Surya duduk pelan.
Mega Awan bukan jebakan kecil.
Sentana bukan kebetulan sederhana.
Ada tangan lain yang menanam benih di dua tanah berbeda, lalu menunggu seseorang seperti Surya tersandung di tengahnya.
"Handoko?" tanya Surya.
Meilu membuka file kedua. "Handoko beberapa kali menerima pembayaran konsultasi dari perusahaan yang berhubungan dengan salah satu lapisan Donova. Nilainya tidak terlalu besar untuk ukuran korporat, polanya rapi."
"Jadi dia perantara?"
"Mungkin. Atau hanya orang yang dipakai tanpa tahu seluruh gambar."
Ia membuka satu tabel lagi. Ada tanggal transfer, nomor invoice, keterangan jasa konsultasi, dan nama perusahaan perantara yang berganti hampir setiap enam bulan. Tidak ada satu transaksi pun yang terlihat cukup kotor untuk langsung disebut pidana. Justru itu yang membuatnya berbahaya.
"Kalau saya bawa ini sebagai tuduhan sekarang, pengacara mereka akan tertawa," kata Meilu. "Tapi sebagai pola intelijen keuangan, ini tidak normal. Perusahaan baru, alamat virtual office, direktur nominee, pembayaran jasa yang tidak jelas deliverable-nya. Semuanya terlalu bersih."
"Terlalu bersih berarti dicuci terlalu sering."
Meilu menatapnya. "Itu kalimat bagus. Jangan ucapkan di berita acara."
Surya membaca lagi nama itu.
Donova.
Kedengarannya asing, bersih, dan jauh. Nama yang cocok untuk bersembunyi di balik tanda tangan notaris Singapura, rekening bank luar negeri, dan direktur nominee yang tidak pernah muncul di Jakarta.
"Kenapa kamu menunjukkan ini kepadaku?" tanyanya.
Meilu menutup laptop setengah. "Karena Sentana tempatmu bekerja. Karena Mega Awan pernah memakai namamu. Dan karena kalau ada orang di firma itu yang sedang bergerak untuk Donova, kamu bisa jadi target berikutnya."
"Atau umpan berikutnya."
"Itu bukan lelucon."
"Aku tidak bercanda."
Mereka saling menatap. Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan mereka melewati terlalu banyak bentuk: penyidik dan saksi, sekutu dan risiko, calon pengantin palsu, pasangan palsu, lalu dua orang yang sama-sama pura-pura tidak merasakan apa pun setelah sandiwara selesai.
Meilu memalingkan wajah lebih dulu.
"Kita bicara di luar. Ruangan ini terlalu banyak kamera."
Sebelum keluar, Meilu mengunci laptop, memasukkan map biru ke lemari besi kecil, dan mencatat waktu akses arsip di buku register. Gerakannya rutin, hampir membosankan. Namun bagi Surya, justru rutinitas itu yang membuatnya percaya. Perempuan ini tidak membangun kepercayaan dengan kata manis.
Ia membangunnya dengan prosedur yang tidak bocor.
Di dunia mereka, itu lebih romantis daripada janji kosong.
Kafe kecil di dekat Polda hampir tutup ketika mereka datang. Pemiliknya mengenali Meilu dan tidak banyak bertanya. Mereka duduk di meja sudut, di bawah lampu kuning yang membuat wajah lelah terlihat lebih jujur.
Surya memesan teh panas. Meilu memesan kopi tanpa gula.
"Donova Capital," kata Surya, mengulang nama itu pelan. "Kalau mereka ada di Mega Awan dan Sentana, mereka mungkin tahu aku masuk Sentana sejak awal."
"Mungkin."
"Dan Irene?"
Meilu menatapnya. "Kenapa Irene?"
"Karena terlalu banyak hal di Sentana terasa diatur oleh seseorang yang tidak muncul di struktur resmi."
Meilu tidak menjawab. Ia bukan orang yang suka menebak tanpa bukti.
Surya menghargai itu.
"Aku akan hati-hati dengan Handoko," katanya.
"Hati-hati saja tidak cukup. Jangan bergerak sendiri."
"Kamu juga jangan bergerak sendiri."
Meilu mengangkat alis. "Aku polisi."
"Polisi juga bisa dijebak."
Kalimat itu membuat Meilu diam.
Hujan turun di luar kafe. Bukan hujan besar, hanya gerimis yang menempel di kaca. Surya menatap pantulan wajah Meilu di jendela. Ia terlihat kuat, mahal, dan jauh. Tetapi malam ini, di bawah lampu kuning, ia juga terlihat seperti perempuan yang terlalu lama diminta menjadi benteng.
"Meilu," kata Surya.
Ia menoleh. Bukan Bu AKP. Bukan Saudara. Hanya nama.
"Setelah hubungan palsu itu selesai, apa kamu lega?"
Pertanyaan itu membuat jari Meilu berhenti di cangkir.
"Harusnya iya."
"Tapi?"
Meilu menatap kopi hitamnya. "Tapi apartemenku jadi terlalu sepi."
Surya tidak bergerak.
"Aku terbiasa bekerja sendiri," lanjutnya. "Terbiasa pulang tanpa ditanya sudah makan atau belum. Terbiasa semua orang melihat pangkat, keluarga, atau mobilku sebelum melihat aku. Kamu menyebalkan karena tidak melakukan itu."
"Itu pujian?"
"Jangan merusak momen."
Surya menutup mulut.
Meilu menarik napas, seperti orang yang lebih mudah menghadapi tersangka pencucian uang daripada satu kalimat jujur.
"Aku... aku nggak mau pura-pura lagi, Surya."
Di luar, suara hujan menjadi lebih jelas.
Surya menatap tangannya sendiri di meja. Tangan yang pernah mencuci piring Nadia. Tangan yang menandatangani surat donor sebagai perangkap. Tangan yang memegang map akta cerai. Tangan yang sekarang gemetar sedikit karena seorang perempuan memilih berkata jujur.
Ia mengulurkan tangan.
Tidak cepat.
Tidak memaksa.
Meilu melihat tangan itu beberapa detik.
Lalu ia meletakkan tangannya di atas tangan Surya.
Hangat.
Sederhana.
Lebih menakutkan daripada semua perang yang pernah mereka susun.
"Kalau ini nyata," kata Surya pelan, "aku tidak bisa menjanjikan hidup tenang."
"Aku polisi. Hidup tenang bukan paket pekerjaanku."
"Aku juga masih punya terlalu banyak musuh."
"Aku tahu. Beberapa sudah masuk daftar saya."
Surya tertawa pelan.
Meilu menggenggam tangannya lebih kuat.
"Tapi satu hal," katanya. "Kalau kamu masuk lubang Donova, kamu tarik aku sebelum gelap, bukan setelah kamu berdarah."
"Aku janji."
Malam itu, mereka tidak berciuman. Tidak perlu. Tangan yang saling menggenggam di meja kafe kecil sudah cukup untuk mengubah seluruh garis antara mereka.
Saat Surya pulang, nama Donova Capital masih berputar di kepalanya.
Nama itu tampak seperti huruf asing di layar laptop.
Tetapi kelak, Surya akan mengerti.
Donova Capital bukan sekadar investor biasa.
Nama itu akan mengubah nasib semua orang.
Malam itu, Surya hanya belum tahu harga dari nama tersebut.