NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Yang Baik

Baskara terdiam sejenak, seolah-olah baru menyadari hal itu. Dia menghela napas dan mengangguk perlahan. "Lanjutkan apa yang kamu mau katakan."

"Selain itu, Pak..." Yaya mengambil napas dalam untuk mengumpulkan keberanian. "Saya sudah lama ingin mengenakan hijab. Selain karena kewajiban untuk menutupi aurat sebagai muslimah, juga karena saya ingin menghindari tatapan aneh dari orang-orang yang melihat saya. Karena di desa juga sering ada orang yang melihat saya dengan cara yang tidak nyaman karena penampilan saya yang berbeda."

Dia menundukkan pandangannya lagi. "Saya juga ingin meminta izin untuk menggunakan uang mahar tersebut untuk keperluan saya sendiri. Seperti membeli mukenah, hijab, dan kebutuhan pribadi lainnya yang tidak mengganggu Bapak atau kesepakatan kita. Saya tidak akan mengambil uang dari Bapak selain mahar itu."

Baskara diam sebentar, merenungkan kata-kata Yasmin. Dia tidak pernah memikirkan hal semacam ini sebelumnya, bagaimana Yasmin mungkin merasa tidak nyaman atau tidak bisa menjalankan kewajiban agamanya dengan baik di apartemen ini. Bayangan tentang bagaimana Yasmin sholat dengan balutan selimut tiba-tiba muncul di benaknya.

"Aku tidak pernah melihat uang mahar itu sebagai milikku," ucap Baskara dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. "Itu adalah milikmu, Yasmin. Kamu berhak menggunakannya sesuai kebutuhanmu."

Dia berdiri dan mengambil dompetnya dari laci meja. "Selain itu, besok Saya akan menyuruh Ilham membawamu keluar untuk berbelanja. Kamu bisa membeli mukenah, hijab, dan apa saja yang kamu butuhkan. Tidak perlu hanya menggunakan uang mahar, Saya akan memberikan uang tambahan untuk itu."

Yasmin melihatnya dengan mata yang penuh rasa terima kasih, bahkan ada sedikit kebahagiaan yang muncul di wajahnya. "Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Bapak. Saya akan memilih yang sesuai dan tidak boros."

"Baiklah," ucap Baskara dengan sedikit mengangguk. "Tapi ingat, saat kamu keluar, kamu harus selalu bersama orang yang Saya kirim. Jangan berbicara dengan orang asing dan jangan menyebutkan hubungan kita pada siapa pun."

"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Yaya dengan senyum hangat. "Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya sangat berterima kasih."

Sebelum Yasmin keluar dari ruangan, Baskara berbicara lagi. "Yasmin... cari juga mukenah yang nyaman dan sesuai dengan standar di kota. Jangan membeli yang terlalu sederhana sampai membuat kamu terlihat tidak pantas beristrikan Saya. Meskipun kamu adalah pembantu, kamu tetap Istri Saya."

Meskipun kata-katanya terdengar kasar, Yasmin bisa merasakan sedikit perhatian yang tersembunyi di dalamnya. Dia mengangguk dan keluar dari ruang kerja dengan hati yang lebih ringan dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak datang ke apartemen itu, dia merasa bahwa mungkin ada harapan untuk hidup yang lebih baik di sini.

Di dalam ruang kerja, Baskara mengambil telepon dan menghubungi Ilham. "Ilham, besok perintahkan orangmu untuk membawa Yasmin keluar berbelanja. Pastikan dia aman dan tidak ada yang mengganggunya, jangan sampai ada kabar tentang ini yang sampai ke keluarga saya."

Setelah pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, Yasmin berdiri diam di lorong dengan tangan yang sedikit gemetar. Rasa bahagia yang luar biasa meluap dari dalam hatinya, membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, seolah ingin menahan senyum yang terus memuncak di wajahnya.

"Aku bisa membeli mukenah dan hijab..." bisiknya pelan, sambil melangkah perlahan menuju kamar tamunya. Setiap langkahnya terasa lebih ringan, seolah ada sayap di bawah kakinya.

Saat masuk ke kamar tamu, dia langsung berlari ke ranjang dan menjatuhkan diri di atasnya, menyelimuti wajahnya dengan selimut yang lembut. Hatinya penuh rasa syukur yang mendalam. Meskipun kata-kata Baskara terkadang begitu tajam dan menyakitkan hati, bahkan seringkali membuatnya merasa kecil dan tidak berharga, namun saat ini dia bisa merasakan bahwa pria itu juga memiliki sisi baik yang tersembunyi di balik lapisan kerasnya.

Yasmin duduk kembali dan menghadap kiblat, lalu mengangkat kedua tangan dengan penuh kerendahan hati. "Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat-Mu," ucapnya dengan suara yang penuh perasaan. "Meski pernikahan ini tidak sesuai dengan rencanaku dan hanya sekedar pernikahan siri, aku menerima semuanya dengan ikhlas. Semoga Engkau berikan kekuatan padaku untuk menjalani nya dengan baik."

Dia mengingat wajah ayah dan ibunya yang sudah tiada dari foto di kamarnya saat di kampung, pasangan yang tinggal bersama hingga diantaranya ada yang pergi lebih dulu, meski hidup dalam kesederhanaan di desa. "Seperti apa yang dilakukan ayah dan ibu, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup," gumamnya sambil menyentuh dada nya perlahan. "Meskipun statusku hanya sebagai pembantu di mata orang lain dan bahkan di mata suamiku sendiri, tapi di hatiku, aku adalah istri nya. Dan aku akan menjalankan tugasku sebagaimana mestinya."

Yasmin berdiri dan mulai merapikan kamar nya dengan semangat baru. Dia menyusun ulang pakaian-pakaian di lemari, menyapu lantai dengan lebih giat, dan bahkan menyeka jendela hingga bersinar kilap. Setiap gerakan nya penuh dengan kebahagiaan dan tekad yang kuat.

"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik," janjinya pada diri sendiri sambil menatap cermin. Wajahnya yang dulunya penuh kesedihan kini tampak lebih bersinar dengan harapan. "Aku akan melayani semua kebutuhan Pak Baskara, memasak makanan yang lezat untuknya, menjaga apartemen agar selalu rapi dan nyaman, bahkan akan belajar hal-hal baru yang mungkin beliau butuhkan. Seperti istri pada umumnya yang selalu menginginkan kebahagiaan dan kenyamanan suaminya."

Yasmin berdiri di depan jendela lagi. Menatap langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, suasananya membawa hawa dingin.

Dia mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen yang dia temukan di sudut kamar, lalu mulai menuliskan daftar kebutuhan yang akan dia beli besok, mukenah dengan warna yang sederhana tapi elegan, berbagai jenis hijab dengan bahan yang nyaman, serta beberapa kebutuhan pribadi lainnya. Setiap kata yang ditulisnya dipenuhi dengan harapan akan hidup yang lebih baik, serta tekad untuk menjadi istri yang baik bagi Baskara, meskipun mereka harus menyembunyikan hubungan sebenarnya dari dunia luar.

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!