NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - Langkah Pertama di Arena

"Pertandingan berikutnya! Sun Chen melawan Lin Feng!"

Pengumuman laras keras dari pembawa acara bergema di seluruh sudut arena batu Aula Persilatan Kota Gunung Hijau. Sorak-sorai penonton yang semula riuh mendadak mereda, berganti dengan bisik-bisik kebingungan di antara tribun.

Para penonton menatap heran ke arah sudut panggung. Seorang anak kecil berusia empat tahun, mengenakan jubah kain kusam yang kebesaran, melangkah pelan menaiki tangga batu. Tubuhnya yang mungil tampak sangat kontras dengan megahnya tiang-tiang naga di sekeliling arena.

"Apa panitia bercanda? Anak sekecil itu mendaftar turnamen?"

"Paling hanya anak orang kaya yang mencari perhatian atau tidak sengaja terdaftar."

Tawa meremehkan mulai terdengar dari beberapa sudut tribun. Sun Chen tidak memedulikan tatapan dan cibiran itu. Langkah kakinya tetap tenang, teratur, dan stabil saat ia berjalan menuju tengah panggung.

Di tepi arena, Chou Tian berdiri bersedekap. Mata pria tua itu menatap lurus ke arah muridnya.

"Sembunyikan benih Qi-mu," bisik Chou Tian pelan, suaranya tersapu angin namun sampai ke telinga Sun Chen. "Menang dengan kekuatan murni adalah hal biasa. Menang dengan teknik murni dan efisiensi raga adalah puncaknya seorang pendekar. Jangan biarkan mata musuh membaca kedalaman Dantianmu."

Sun Chen menoleh sedikit, mengangguk mantap. "Murid mengerti, Guru."

Di seberang panggung, lawan Sun Chen telah berdiri. Pria muda berusia sekitar sembilan tahun bernama Lin Feng itu mengenakan pakaian seragam biru khas perguruan bela diri lokal. Tubuhnya tinggi tegap untuk usianya, dan fluktuasi Qi dasar di dadanya menandakan ia telah mencapai tingkat Pendekar Biasa tahap awal.

Lin Feng menatap Sun Chen dengan senyum meremehkan. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Bocah, sebaiknya kau menyerah sekarang sebelum jariku mematahkan tulangmu," gertak Lin Feng dengan nada angkuh. "Arena ini bukan tempat bermain anak-anak."

Sun Chen tidak menjawab. Ia hanya mengambil posisi berdiri dasar: kaki diregangkan selebar bahu, lutut sedikit ditekuk, dan sepasang tangan kecilnya terangkat rileks di depan dada. Tatapan matanya yang sedingin telaga purba terkunci lurus ke arah Lin Feng.

"Mulai!" teriak juri panggung seraya mengayunkan bendera merah.

Lin Feng tidak menyia-nyiakan waktu. Mendorong tubuhnya dengan pijakan keras ke lantai batu, ia menerjang maju seraya melayangkan serangkaian pukulan lurus bertubi-tubi. Ia berniat mengakhiri pertandingan ini dalam satu gelombang serangan untuk memamerkan kehebatannya di depan penonton.

Wus! Wus! Wus!

Angin pukulan Lin Feng memotong udara secara terburu-buru. Namun, alih-alih panik atau mencoba menangkis, Sun Chen justru mundur setengah langkah.

Dengan pergerakan yang sangat efisien, Sun Chen memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, membiarkan tinju Lin Feng lewat hanya beberapa inci dari pipinya. Saat pukulan kedua melayang ke arah dadanya, Sun Chen menggeser tumit kakinya, membiarkan serangan lawan meleset menembus udara kosong.

Penonton yang semula bersiap melihat anak kecil terlempar mulai mengernyit bingung. Bocah empat tahun itu seolah memiliki mata di belakang kepalanya. Setiap tebasan dan pukulan Lin Feng selalu luput hanya selebar helai rambut.

Di dalam pikiran Sun Chen, seluruh gerakan Lin Feng berjalan sangat lambat. Berbekal pengalaman puluhan tahun bertarung di kehidupan lalunya, Sun Chen telah membaca alur napas, tumpuan pusat gravitasi, dan bahu Lin Feng sejak tiga gerakan pertama. Lawannya terlalu bernafsu, membuang-buang tenaga fisik tanpa koordinasi tubuh yang benar.

Lin Feng mulai jengkel karena serangannya selalu mengenai udara. Ia menarik napas dalam, memusatkan seluruh tenaganya ke tangan kanan, lalu menerjang maju dengan pukulan frontal yang ganas.

"Hancur kau!" teriak Lin Feng.

Serangan keras itu membuat pusat gravitasi Lin Feng terlempar terlalu jauh ke depan. Tubuhnya terdorong oleh kekuatannya sendiri, menciptakan celah menganga di area dadanya yang terbuka lebar.

Inilah saatnya.

Sun Chen tidak mengalirkan Qi sama sekali. Ia hanya memanfaatkan dorongan lecutan pinggul dan keseimbangan raga yang ditempa Chou Tian selama latihan neraka di lembah. Sun Chen melangkah masuk ke dalam jarak tembak lawan, menempelkan telapak tangan kecilnya tepat di titik tengah dada Lin Feng.

Brak!

Meskipun tanpa tenaga dalam, dorongan rantai raga dari tumpuan kaki menembus pinggul dan menyalur ke telapak tangan Sun Chen bekerja secara sempurna. Getaran dasar dari Tinju Penghancur Gunung menyalur seketika.

Lin Feng membelalakkan mata saat aliran napasnya terhenti mendadak. Tubuh sembilan tahun itu terdorong hebat ke belakang, meluncur melintasi lantai batu, dan jatuh terjerembap keluar dari garis batas arena.

Arena mendadak sunyi senyap.

Banyak penonton menahan napas, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Anak berusia empat tahun itu memenangkan pertandingan hanya dengan satu dorongan telapak tangan yang begitu tenang.

"Pemenang: Sun Chen!" teriak juri setelah tertegun beberapa detik.

Sebagian besar penonton bersorak kaget, mengira Lin Feng hanya terpeleset atau meremehkan lawan hingga terkena keberuntungan. Namun, di tribun atas tempat para peserta elit berkumpul, Su Miao mendadak menegakkan tubuhnya.

Gadis muda berjubah hijau dari Sekte Gunung Berbunga itu menatap Sun Chen dari kejauhan. Matanya yang jernih menyipit tajam. Sebagai jenius pedang muda, Su Miao menyadari bahwa dorongan tangan Sun Chen tadi sama sekali bukan keberuntungan. Gerakan bocah itu begitu bersih, sederhana, dan tanpa celah sedikit pun. Untuk pertama kalinya di turnamen ini, rasa penasaran yang mendalam mekar di dalam batin Su Miao.

Sementara itu, di sudut tribun yang gelap, pengintai organisasi pemburu bergaun hitam yang mengenakan caping bambu menggeser posisinya. Ia tidak memedulikan kemenangan Sun Chen di arena, melainkan fokus pada raut wajah dan ketenangan bocah itu. Seorang anak balita tidak mungkin memiliki kontrol emosi sedingin itu setelah menjatuhkan lawan.

Pengintai itu merogoh kantong jubahnya, menarik seutas kain merah kecil, dan melemparkannya pelan ke bawah tribun sebagai sinyal rahasia kepada rekannya di luar. Target ini jauh lebih berbahaya dari perkiraan awal.

Babak kedua berlangsung satu jam kemudian.

Lawan Sun Chen kali ini adalah seorang murid dari sekte kecil setempat yang berusia sepuluh tahun. Anak itu sudah memahami penggunaan Qi dasar dan membawa sebilah pedang kayu yang telah dialiri seutas energi tenaga dalam.

"Mulai!"

Wus!

Murid sekte itu menerjang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Pedang kayunya memotong udara, memancarkan gelombang angin Qi tipis yang mengincar tubuh Sun Chen.

Untuk mengimbangi kecepatan pedang kayu tersebut tanpa mengungkap kekuatan aslinya, Sun Chen terpaksa menyalurkan seutas benih Qi paling dasar ke telapak kakinya. Gerakan langkah kakinya mendadak berubah menjadi amat lincah dan fleksibel. Ia melompat dari satu sudut ke sudut lain, berpindah di atas lantai batu bagaikan sehelai daun yang tertiup angin.

Di tepi arena, Chou Tian memperhatikan dengan raut wajah sangat serius. Pria tua itu khawatir muridnya terdesak dan tidak sengaja melepaskan aura purba yang tersembunyi di dalam batinnya.

Namun, Sun Chen bertindak sangat cerdik. Ia sengaja memperlihatkan seolah-olah dirinya terdesak, berputar-putar di tepi garis arena untuk menghemat tenaga sambil memancing musuh terus melancarkan serangan beruntun.

Penonton terseret dalam ketegangan, bersorak riuh melihat anak kecil itu bertahan dengan gigih di bawah hujan tebasan pedang kayu.

Saat murid sekte itu mengeluarkan jurus andalannya, melayangkan tebasan melingkar dari atas kepala, Sun Chen menangkap celah kecil pada ketiak lawan yang terbuka sesaat setelah serangan dilepaskan.

Sun Chen merendahkan tubuhnya, menyusup ke bawah ayunan pedang kayu, lalu mengetuk pergelangan tangan lawan menggunakan dua jarinya.

Klak!

Pedang kayu itu terlepas dari genggaman lawan. Sebelum murid sekte itu sempat bereaksi, Sun Chen menyapu kaki belakang lawan menggunakan tumitnya. Lawan jatuh terlentang di atas panggung, dan ujung jari Sun Chen telah berhenti tepat di depan tenggorokannya.

"Pemenang: Sun Chen!"

Tepuk tangan dan sorak-sorai membahana di seluruh panggung. Banyak orang mulai menyadari bahwa bocah empat tahun ini bukanlah peserta biasa yang beruntung, melainkan seorang jenius yang memiliki fondasi teknik luar biasa.

Di tribun kehormatan, seorang Tetua dari Aula Persilatan yang bertindak sebagai juri utama mengelus janggut putihnya seraya menatap Sun Chen dari kejauhan. Matanya memancarkan ketertarikan yang sangat kuat. Ia melihat bagaimana struktur raga Sun Chen berdiri kokoh tanpa cela dan bagaimana teknik dasarnya tereksekusi secara sempurna.

Siapa sebenarnya ahli yang menempa anak ini? batin sang Tetua bertanya-tanya.

Saat perhatian seluruh penonton dan juri terfokus pada kemenangan Sun Chen di tengah panggung, Chou Tian yang berdiri sendirian di tepi arena mendadak membungkuk tipis.

Uhuk!

Pria tua itu menahan batuknya dengan sangat kuat. Ia menutup mulutnya menggunakan lengan baju dalam yang tebal. Ketika ia menarik tangannya kembali, bercak darah kental berwarna hitam pekat telah membasahi kain bajunya.

Urat-urat hitam Qi Racun Bayangan Hitam berdenyut semakin kencang di balik lehernya. Tekanan mental berada di tempat terbuka serta pengawasan musuh membuat pertahanan tenaga dalamnya melonggar, membiarkan racun itu terus merayap merusak meridian utamanya. Chou Tian menyeka sisa darah di bibirnya dengan cepat, memaksakan diri berdiri tegak sebelum Sun Chen berjalan mendekatinya.

Pertandingan hari pertama akhirnya usai. Saat para peserta mulai membubarkan diri, seorang pria berseragam mewah dari Rumah Dagang Angin Merah melangkah naik ke atas panggung utama. Ia membawa sebuah kotak kayu berukir yang tersegel rantai emas.

Suara pria itu bergema nyaring, menarik perhatian seluruh hadirin di Aula Persilatan.

"Pemberitahuan untuk seluruh pendekar di Kota Gunung Hijau! Besok sore, pelelangan di Rumah Dagang Angin Merah akan menghadirkan sebuah lot khusus! Sebuah barang misterius tak teridentifikasi yang ditemukan dari kawasan reruntuhan kuno!"

Mendengar pengumuman tersebut, mata Sun Chen yang baru saja turun dari panggung langsung menyipit tajam.

Lempengan besi berkarat itu. Barang yang kelak menjadi kunci konflik besar di dunia persilatan akhirnya resmi dilelang besok sore.

Namun, saat Sun Chen memalingkan wajahnya ke arah pintu keluar Aula Persilatan, indra spiritual dasarnya mendatangkan getaran niat membunuh yang amat pekat.

Di sudut gerbang gerbang keluar, pengintai caping bambu tadi tampak berlutut memberi hormat kepada sesosok pria berJubah Merah gelap yang baru saja memasuki Kota Gunung Hijau bersama belasan pembunuh elit.

Pelindung Merah telah tiba. Ancaman maut kini telah mengepung Kota Gunung Hijau dari segala penjuru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!