"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
"Hahaha! Sudah kuduga!"
Suara tawa Xander yang menggelegar memecah keheningan ruang kerja mewahnya.
Tangannya menggebrak meja jati di depannya dengan penuh semangat, membuat cangkir teh di atasnya bergetar.
"Bocah genius kurang ajar yang sudah berani mengalahkan aku di catur kemarin ternyata benar-benar darah daging Leon! Pantas saja otaknya sama liciknya dengan pria sombong itu!"
Naomi melotot kaget. Ia setengah berlari menghampiri suaminya, lalu langsung merebut secarik kertas berlogo rumah sakit dari tangan Xander.
Matanya bergerak cepat membaca rentetan angka probabilitas di lembar hasil tes DNA tersebut.
"Astaga, 99,9 persen identik?!" gumam Naomi tak percaya, menatap suaminya dengan mulut sedikit terbuka.
Ya, sebelum menjemput Leon pagi tadi, Joni memang diam-diam membelot sebentar.
Asisten serba bisa yang malang itu pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tesnya dan menyerahkannya langsung kepada Xander tanpa sepengetahuan Leon.
"Tapi, Xander, bagaimana bisa Leon punya anak tanpa menikah?" sahut Naomi panik, meremas ujung kertas itu. "Apa yang harus kita katakan pada Diego nanti? Putramu itu sangat tegas. Dia bisa murka kalau tahu Leon punya anak di luar nikah, sayang!"
Xander tersenyum miring, menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertaut.
"Pikirkan soal Diego nanti saja. Sekarang, fokus kita adalah memegang kartu as Leon. Kita harus menemui bocah itu dan ibunya secepat mungkin. Kita jemput mereka kemari sebelum Leon sadar."
Naomi mengernyitkan dahi. "Kemari? Maksudmu, tinggal di mansion ini?"
Xander mengangguk mantap.
"Tentu saja. Jangan lupa rencana yang sudah kita bahas semalam, Sayang. Kita gunakan anak dan wanita itu sebagai sandera halus. Kita buat Leon tak bisa berkutik dan tunduk di bawah telapak kaki kita."
Mendengar rencana licik itu, kepanikan di wajah Naomi perlahan memudar, berganti dengan senyuman.
Naomi sudah tak sabar untuk menjalankan rencana mereka mengerjai cucunya.
*
*
Leon melempar tubuhnya ke atas sofa kulit mahal dengan napas terengah karena kelelahan. Matanya menyapu sekeliling ruangan besar yang tampak lengang.
"Dimana semua orang? Kenapa sepi sekali rumah ini?" tanya Leon curiga.
Joni, yang berdiri kaku di sudut ruangan sambil membawa koper bosnya, buru-buru menunduk.
"Tuan Xander dan nyonya Naomi sedang jalan-jalan keluar, Sir."
"Cih! Jalan-jalan?" Leon mendecih sinis, menyilangkan kakinya. "Tumben sekali. Selama tujuh tahun aku berada di sini, yang mereka lakukan hanya duduk bermesraan sambil minum teh di kebun belakang seperti pensiunan panti jompo."
Joni menelan ludah, berkeringat dingin mencari alasan yang aman.
"Mungkin mereka sedang ingin makan malam romantis berdua di luar, Sir. Oh iya..." Joni buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Apa perlu saya panggilkan dokter Handoko untuk memeriksa alergi anda? Anda semalaman tidur di tempat kotor, saya khawatir kulit anda melepuh."
"Tidak usah!" tolak Leon cepat, sedikit tersenyum bangga. "Aku sudah menemukan obatnya."
Alis Joni bertaut bingung. "Obat? Maksud anda, Sir?"
"Ada satu wanita bar-bar miskin yang berhasil menyentuhku tanpa membuatku alergi. Bahkan, anaknya yang menyebalkan itu juga tidak membuat kulitku gatal sama sekali saat menarik kerah bajuku," jelas Leon. Sedetik kemudian, rahangnya mengeras.
"Hanya saja, ucapan bocah itu membuat telingaku sangat gatal! Rasanya aku ingin merobek mulutnya yang pedas itu!" omel Leon berapi-api saat mengingat bagaimana Noah mengusirnya pagi ini.
Joni hanya mengangguk-angguk kaku.
"Jon!" panggil Leon tegas.
"Siap, Sir!"
"Kerahkan anak buahmu. Cari tahu siapa wanita itu dan bocah kecil yang wajahnya sangat mirip denganku. Aku sempat curiga kalau dia anakku, tapi aku tidak pernah tahu kalau wanita dari tujuh tahun lalu itu hamil."
Joni memucat. "Anda tahu nama mereka, Sir?"
Leon mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, mencoba mengingat.
"Kalau tidak salah, ibunya bernama Elena dan bocah kurang ajar itu bernama Noah."
Deg, jantung Joni rasanya baru saja copot dan menggelinding ke lantai marmer. Ia menelan ludah dengan sangat kasar hingga jakunnya terasa sakit. Matanya melotot menatap lantai.
"Jadi, emalaman sir Leon tertidur di rumah wanita yang mengaku punya hubungan gelap dengan tuan Xander?! Sementara di saat yang sama, tuan Xander baru saja menerima hasil tes DNA dan meyakini Noah adalah putra kandung sir Leon?!" batin Joni kebingungan.
Kepala Joni mendadak pening tujuh keliling. Asam lambungnya naik seketika.
"Kenapa anda menatap saya seperti itu, Sir?" cicit Joni saat sadar Leon sedang menatapnya tajam.
"Kenapa kamu berkeringat dingin begitu?!" bentak Leon curiga.
"Saya hanya sedang menahan buang air, Sir! Sakit perut!" dusta Joni kelabakan, kakinya gemetar.
Ia benar-benar pusing! Ia terjebak di antara dua bos besar mafia yang sedang saling menggali kubur.
Namun, Joni sadar ia tak boleh kelepasan bicara di depan Leon demi menjaga rahasia Xander, atau kepalanya benar-benar akan melayang hari ini juga.
"Saya permisi ke toilet dulu, Sir! Jika ada perlu apapun panggil saja pelayan," ucap Joni tergagap, lalu lari terbirit-birit meninggalkan bosnya yang menatapnya dengan tatapan sangat aneh.
"Dia itu kenapa? Seperti habis melihat hantu saja," gumam Leon dengan dahi berkerut, menatap punggung Joni yang menghilang di balik dinding.
Leon mengedikkan bahu, lalu memutar pinggangnya yang kaku hingga terdengar bunyi gemeretak tulang.
"Ah, sudahlah! Peduli amat dengan asisten kurang waras itu. Hari ini aku ingin berendam di bathtub. Mandi air hangat dengan taburan garam laut sampai pegal-pegal akibat kasur tipis sialan itu hilang dari tubuhku!" rutuk Leon sambil berjalan menuju kamarnya.
*
*
Di tempat lain, Elena menggandeng tangan Noah menyusuri jalan gang untuk berangkat ke sekolah. Namun, baru saja mereka sampai di depan gapura, sebuah mobil mewah berhenti mendadak, menghalangi jalan.
Pintu penumpang terbuka. Turunlah sepasang pria dan wanita paruh baya dengan gaya busana mantel bulu dan topi fedora. Di mata anak kecil, dandanan itu justru membuat mereka terlihat seperti sepasang kakek-nenek nyentrik yang mau ikut karnaval kelurahan.
Mereka adalah Xander dan Naomi.
Xander baru saja merapikan kerahnya, bersiap menyapa dengan elegan. Tapi, belum sempat ia bersuara, Noah sudah melebarkan matanya. Bocah enam tahun itu menunjuk wajah Xander dengan jari telunjuk mungilnya.
"Papa?!" seru Noah dengan suara lantang dan wajah polos tanpa dosa.
Uhuk!
Naomi yang baru saja memperbaiki letak kacamata hitamnya langsung tersedak ludahnya sendiri dengan sangat brutal.
"Papa?!" pekik Naomi histeris. Matanya melotot, menoleh perlahan layaknya adegan horor menatap suaminya. "Xander, apa maksud bocah ini memanggilmu papa?!"
Xander langsung pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di dahinya. Pria itu buru-buru melengos ke arah lain, pura-pura sibuk mengamati tiang listrik.
"Semoga istriku tidak terpancing semosi sebelum aku menjelaskannya," batin Xander.
asik nih gak sabar menunggu kelanjutannya
Oma Naomi saya mengagumi anda🤣
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣
meskipun namanya Leon tetap saja akan kupanggil singa yang alergi sentuhan🤣
hahaha Joni sampai menangis itu lho Leon 😂
habislah Leon setelah ini di tangan opa Xander 🤣
berani banget menghamili gadis sampai ada nya seorang anak yang menyebalkan