Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL 12
DUNIA TAK SELEBAR DAUN KELOR
Hari-hari berikutnya mulai berjalan lebih tenang. Sedikit demi sedikit, kehidupan mereka kembali menemukan ritmenya setelah malam panjang yang menguras begitu banyak emosi.
Romi mulai menata hati sambil menjalani pengobatan seperti yang disarankan dokter. Begitu pula dengan Hannah. Meski dinyatakan sehat, ia tetap ikut menerapkan pola hidup sehat. Semua itu bukan semata-mata karena mereka ingin memiliki anak, melainkan karena keduanya ingin menjalani hidup yang panjang bersama dalam keadaan sehat.
Setiap pagi Hannah menyiapkan sarapan, sedangkan makan malam akan ia masak jika pulang lebih awal. Menu yang tersaji hampir selalu sehat. Sayur, buah, lauk tinggi protein, hingga camilan rendah gula perlahan menjadi bagian dari keseharian mereka.
Tak hanya itu, keduanya juga mulai rutin berolahraga di sela waktu luang. Kadang berenang, berlari, pergi ke pusat kebugaran, atau sekadar bersepeda mengelilingi taman kompleks ketika ingin olahraga yang lebih ringan.
“Mas, makan malam sebentar mau dimasakin apa?” tanya Hannah ketika mereka baru saja selesai melakukan peregangan. Keduanya memang memilih instruktur yang sama untuk melatih mereka, bukan karena ingin lebih hemat namun karena ingin lebih efisien saja.
“Gimana kalau malam ini kita makan di luar? Kamu nanti pasti capek habis latihan.”
“Beneran?”
Romi mengangguk mengiyakan.
“Gak apa-apa sesekali, lagi pula kamu juga pasti bosan kan masak terus?”
Hannah tertawa kecil. “Ya nggak dong, Mas. Bosan sih enggak, tapi agak pusing saja mau masak menu apa lagi.”
Sejujurnya jika disuruh memilih antara memasak atau bekerja, tentu ia akan lebih memilih bekerja dengan mengerjakan banyak berkas daripada disuruh memikirkan menu apa yang harus ia masak setiap harinya.
"Terima kasih ya, Mas."
"Semoga usaha kita selama ini membuahkan hasil,” lanjut Hannah.
Romi mengangguk pelan.
Entah mengapa perkataan Hannah serta dokter waktu itu membuatnya semakin bersemangat menjalani harinya. Ia kembali memiliki harapan, meski kecil, bahwa suatu hari nanti ia bisa memberikan buah hati untuk istrinya.
"Aamiin. Kita berusaha semampunya, doa juga jangan pernah putus. Tapi yang paling penting, kita harus ikhlas menerima apa pun takdir Allah. Mudah-mudahan kalau Allah melihat kita sudah siap, Dia berkenan menitipkan amanah itu kepada kita."
Romi menatap kagum istrinya. Ia tak bisa membayangkan jika bukan Hannah yang menjadi istrinya saat ia mendapatkan vonis yang seperti ini.
“Apa sih, Mas? Kok gitu banget natapnya?”
“Kenapa? Malu ya? Kan suami sendiri yang natap?”
Hannah tergelak.
“Iya kalau cuma natap. Itu tangannya juga dikondisikan, Pak.” Sikut Hannah yang entah sejak kapan sang suami sudah berada di sampingnya.
“Kenapa memangnya? Kan istri sendiri? Salah itu kalau peluk istri orang.”
“Astaga, Mas mulutnya. Ingat, ini tempat umum.”
Hannah geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd suaminya. Ya terserahlah kalau begitu. Walau sedikit malu, tapi ia juga sedikit bahagia karena sang suami tak malu atau gengsi memperlihatkan cintanya dihadapan orang lain.
Restoran…
“Mas yakin mau makan di sini?”
Bukannya menjawab, pria itu malah mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
“Kenapa? Restorannya nggak bagus? Mau pindah saja? Ayok!”
"Mas lihat deh... mereka pakaiannya rapi semua. Sementara kita cuma pakai kaus polo begini."
“Gak apa-apa yang penting ‘kan kita pakai baju? Yang salah itu kalau kita bugil kesininya!” seru Romi dengan santai, seolah ucapannya tak akan didengar oleh orang lain.
“Terserah deh, Mas .…”
Seusai makan malam, begitu masuk ke dalam mobil, Hannah langsung membuka mesin pencari di ponselnya. Ia tiba-tiba mendapat ide untuk mencoba membuat salad sendiri di rumah. Mungkin rasanya tidak akan seratus persen sama seperti yang mereka makan di restoran, tetapi cita rasa itu masih begitu membekas di lidahnya hingga membuatnya penasaran ingin mencoba membuatnya sendiri.
"Mau cari apa saja?" tanya Romi sambil menyalakan mesin mobil.
"Daun selada, dada ayam, tomat ceri, saus dressing dan... tunggu, aku buka resepnya dulu. Belum ingat banget resepnya."
Romi hanya menggeleng pelan melihat istrinya yang sudah begitu bersemangat. Alih-alih langsung pulang, ia membelokkan mobil menuju supermarket yang masih satu kawasan dengan pusat perbelanjaan tempat mereka makan malam. Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di area parkir. Setelah mengambil troli kecil di pintu masuk, keduanya mulai menyusuri lorong-lorong supermarket sambil sesekali melihat daftar bahan yang masih terbuka di layar ponsel Hannah.
"Mas, aku sudah tahu bahannya. Yuk ke bagian saus!"
Hannah berjalan lebih dulu, mendahului sang suami yang entah apa yang dia perhatikan.
“Mas ayo!” Hannah kembali memanggil ketika mendapati sang suami masih berdiri di tempat semula. “Mas lihat apa?” pandangan Hannah mengikuti kemana arah mata sang suami memandang. Namun tak ada siapapun disana kecuali stand buah-buahan.
“Mas mau buah?”
“Ah? Buah? Untuk?” kata Romi yang bingung dengan pertanyaan sang istri.
“Tadi Mas lihat kesana itu karena mau buah, kan? Gitu amat natapnya.”
“Ah? I-iya buah, Mas lagi pengen makan buah sebagai pencuci mulut nanti.”
“Oke, buahnya nanti ya, lagian standnya dekat kasir kok, daripada kita bolak balik ya kan?”
Romi mengangguk mengiyakan. Mungkin tadi ia salah lihat orang, tidak mungkin itu dia. Ia bahkan masih mengingat jelas ucapan rekan kerjanya yang mengatakan jika orang itu sudah pindah ke luar kota jadi tidak mungkin dia masih berada di kota ini. Tapi apa iya tadi ia salah orang?
“Iya ini Mas jalan.”
Walau penasaran, tapi ia cukup lega karena Hannah tak sempat melihat apa yang tadi ia lihat. Bisa kena masalah kalau itu terjadi.
Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan, Hannah menggiring sang suami yang sedang mendorong troli ke arah stand buah.
“Jadinya Mas mau buah yang mana? Apel, Jeruk, Pisang apa Nanas?” tanya Hannah menyebut nama buah satu persatu yang ada di stand buat tersebut.
“Ngg, apa ya? Kira-kira yang enak apa?”
Kening Hannah berkerut. “Bukannya tadi, Mas yang mau buah?”
“Eh!” Romi menggaruk belakang kepalanya mendengar penuturan sang istri. Sebenarnya ia memang bukan penyuka buah-buahan. Namun karena takut Hannah berpikir macam-macam, akhirnya ia asal menyebut buah pisang.
“Pilihan yang tepat, Mas. Yang aku baca buah pisang sangat bagus untuk laki-laki. Katanya kandungan vitamin, mineral, sama enzim bromelainnya bagus buat laki-laki. Kalau nggak salah juga bisa membantu meningkatkan kualitas sperma,” bisik Hannah sesaat setelah menyimpan satu sisir pisang ke dalam troli.
Romi berdeham pelan. Ujung telinganya mulai memerah.
“Kamu ini kalau ngomong di tempat umum nggak ada pelan-pelannya, ya?”
Hannah justru terkekeh kecil. “Kan aku bisiknya ke Mas.”
Romi hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis. “Iya, iya. Nanti kalau semua orang lihat ke sini gimana?”
“Ya biarin aja. Aku lagi kasih edukasi buat suamiku.”
Romi terkekeh pelan. “Dasar.”
“Masih ada yang mau kamu beli?” tanya Romi ketika mereka sudah berada di antrian kasir. Mungkin karena malam Minggu jadinya banyak orang yang sedang berbelanja.
“Hmm, kayaknya nggak ada lagi. Barang-barang di rumah masih aman kok. Kalau Mas, ada nggak yang mau dibeli?”
Romi menggeleng pelan. “Nggak ada.”
Mereka keluar dari supermarket dan berjalan menuju parkiran. Setelah memasukkan seluruh belanjaan ke bagasi, Romi menutup pintu belakang mobil. Baru saja hendak membuka pintu kemudi, langkahnya mendadak terhenti.
Deg!
Di antara deretan kendaraan yang memenuhi area parkir, seseorang berdiri beberapa meter di hadapannya. Pandangan mereka bertemu tanpa sengaja. Meski hanya berlangsung sepersekian detik, itu sudah cukup membuat napas Romi tercekat.
Jadi... sejak tadi ia memang tidak salah lihat.
Seperti kata pepatah, dunia memang tak selebar daun kelor.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐